Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : HADIAH YANG TAK PERNAH BERHENTI
Sore itu, Laura baru saja pulang dari kampus. Setelah seharian mengikuti beberapa kelas dan menyelesaikan tugas, tubuhnya terasa cukup lelah. Begitu sampai di rumah, Laura langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri.
Setelah mandi, Laura mengenakan pakaian rumahan yang nyaman. Rambutnya masih sedikit basah ketika dia duduk di depan meja rias sambil mengeringkannya. Namun, pikirannya masih dipenuhi berbagai kejadian yang belakangan ini terjadi.
Tentang Aurel tentang Rafael Valencia dan terutama tentang Hero.
Laura sudah mengetahui bahwa Hero tidak pernah menyetujui pertunangan dengan Aurel. Semua pembicaraan yang pernah dilakukan keluarga Valencia dan keluarga Hero ternyata tidak pernah menjadi keputusan Hero.
Meski begitu, ada satu hal yang masih belum bisa Laura berikan kepada Hero.
Cinta.
Laura tahu Hero sangat menyayanginya. Pria itu selalu memperhatikannya, melindunginya, dan berusaha membuatnya merasa berharga. Namun, luka dari masa lalu membuat Laura masih takut membuka hati sepenuhnya.
Dia pernah percaya kepada seseorang dan akhirnya dikhianati. Keluarganya sendiri juga berkali-kali membuatnya merasa tidak cukup berharga.Karena itu, Laura tidak ingin terburu-buru.
Tiba-tiba suara kendaraan terdengar dari halaman depan. Laura menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah pintu kamar.
“Hero sudah pulang,” gumam Laura.
Dia kemudian keluar dari kamar. Namun, begitu sampai di ruang utama, langkah Laura langsung terhenti.
Hero baru saja masuk bersama beberapa pelayan. Di belakang mereka terdapat banyak barang yang langsung membuat Laura mengernyitkan kening. Ada buket bunga besar, beberapa kotak cokelat, boneka berukuran cukup besar, beberapa tas belanja, dan beberapa kotak kecil yang terlihat seperti kotak perhiasan.
Laura memandangi semua barang tersebut dengan tatapan tidak percaya.
“Kenapa lagi?” tanya Laura sambil berjalan mendekati Hero. “Setiap kali kamu pulang, selalu ada saja hadiah yang kamu bawa. Kemarin bunga dan cokelat, sebelumnya boneka, sekarang sebanyak ini. Kamu sebenarnya sedang berusaha memenuhi rumah ini dengan hadiah?”
Hero yang baru saja menyerahkan jasnya kepada pelayan langsung tersenyum ketika mendengar keluhan Laura. Dia kemudian menghampiri Laura dan memperhatikan rambutnya yang masih sedikit basah.
“Kamu baru selesai mandi?” tanya Hero sambil menyentuh ujung rambut Laura dengan lembut.
Laura mengangguk. “Iya. Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku.”
Hero melihat ke arah meja yang sudah dipenuhi berbagai hadiah. Dia kemudian kembali menatap Laura dengan santai.
“Aku tadi melihat beberapa barang yang menurutku cocok untukmu. Karena itu aku membelinya. Aku tidak berpikir akan menjadi sebanyak ini.”
Laura langsung mengangkat alisnya. “Tidak berpikir akan sebanyak ini? Hero, lihat meja itu. Bahkan aku sendiri tidak tahu harus mulai membuka yang mana.”
Hero tertawa kecil. Dia mengambil salah satu kotak kecil dari meja dan menyerahkannya kepada Laura.“Kalau begitu, buka yang ini terlebih dahulu.”
Laura menerima kotak tersebut sambil menggelengkan kepala. “Masih ada lagi?”
“Masih.” jawab hero.
Laura menghela napas, tetapi akhirnya membuka kotak tersebut. Begitu melihat isinya, ekspresi Laura berubah. Di dalamnya terdapat sebuah gelang dengan desain sederhana dan elegan.
“Cantik sekali,” kata Laura sambil mengangkat gelang itu. Dia memperhatikannya beberapa saat sebelum menatap Hero kembali. “Tapi kamu benar-benar tidak perlu memberikan hadiah sebanyak ini kepadaku. Aku bahkan masih belum menggunakan semua hadiah yang kamu berikan sebelumnya.”
Hero mengambil gelang itu dari tangan Laura, lalu memasangkannya dengan hati-hati ke pergelangan tangan Laura.
“Aku tahu kamu tidak meminta semua ini,” jawab Hero sambil tersenyum. “Aku juga tidak memberikan hadiah karena ingin kamu membalas sesuatu kepadaku. Aku membelinya karena ketika melihat barang ini, aku langsung teringat kepadamu. Kalau kamu menyukainya, itu sudah cukup membuatku senang.”
Laura memperhatikan gelang di tangannya. Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Kalau begitu, berapa harganya?” tanya Laura dengan rasa penasaran.
Hero langsung menggeleng. “Tidak penting.”
Laura menatap Hero dengan curiga. “Hero.”
“Aku tidak akan memberitahumu,” jawab Hero sambil tersenyum kecil. “Kalau aku memberitahunya, kamu pasti akan memarahiku karena menganggap harganya terlalu mahal.”
Laura menghela napas panjang. “Berarti benar mahal.”
Hero hanya tertawa. Dia kemudian menarik Laura agar duduk di sofa bersamanya.“Yang penting kamu suka.”
Laura duduk sambil melihat gelang di pergelangan tangannya. “Aku memang suka. Tapi aku tetap merasa tidak enak. Kamu terlalu banyak mengeluarkan uang untukku.”
Hero menatap Laura dengan lembut. “Jangan merasa tidak enak. Aku melakukan semuanya karena aku ingin. Aku tidak pernah menganggap semua ini sebagai beban.”
Laura terdiam mendengar jawaban tersebut.
Hero kemudian mengambil salah satu kotak cokelat dan meletakkannya di pangkuan Laura.“Ini juga untukmu. Kamu bisa memakannya nanti.”
Laura tersenyum kecil. “Kamu benar-benar memanjakanku.”
“Memangnya salah?” tanya Hero sambil tersenyum.
“Tidak salah,” jawab Laura sambil tertawa kecil. “Aku hanya belum terbiasa mendapatkan perhatian sebanyak ini.”
Hero kemudian mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Laura.“Kalau begitu, biasakan.”
Laura menoleh ke arah Hero. “Kamu ini pemilik perusahaan atau anak kecil?”
Hero justru tersenyum manja. “Kalau sedang bersamamu, aku tidak peduli harus menjadi apa.”
Laura tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Sikap Hero memang sering membuatnya bingung. Di luar rumah, pria itu dikenal dingin dan sulit didekati. Namun, ketika hanya berdua dengannya, Hero bisa berubah menjadi sangat manja.
Laura kemudian terdiam senyumnya perlahan memudar ketika sebuah pikiran kembali muncul di dalam kepalanya.
Dia memang mulai merasa nyaman bersama Hero.Namun, nyaman belum tentu berarti cinta.Laura masih belum mampu mengatakan bahwa dia mencintai Hero.
Hero menyadari perubahan ekspresi Laura. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Laura dan menatap wajahnya.
“Kamu sedang memikirkan sesuatu?” tanya Hero.
Laura tersadar dan segera tersenyum. “Tidak. Aku hanya sedikit lelah setelah kuliah.”
Hero masih memperhatikan wajahnya. “Kalau begitu, kamu harus lebih banyak beristirahat.”
Laura mengangguk. “Nanti aku istirahat.”
Beberapa saat kemudian, Laura teringat sesuatu yang lain. Dia menatap Hero dengan sedikit penasaran.
“Tadi ketika kamu pulang, aku merasa wajahmu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ada masalah di kantor?” tanya Laura sambil memperhatikan ekspresi Hero.
Hero terdiam sesaat.
Masalah Varel Corporation memang masih ada di pikirannya. Pihak Varel telah memutuskan untuk menarik saham mereka dan memilih bekerja sama dengan Exco. Hero sudah memberikan perintah kepada Valen untuk menarik seluruh investasi Valdren International dari Varell Corporation.
Namun, Hero tidak ingin membawa masalah bisnis ke rumah.
“Tidak ada masalah,” jawab Hero sambil kembali menyandarkan kepalanya di bahu Laura. “Aku hanya sedikit lelah setelah bekerja. Jangan memikirkan urusan kantor.”
Laura menatap Hero beberapa detik. “Kamu yakin tidak ada masalah? Kalau memang ada sesuatu, kamu bisa menceritakannya kepadaku. Aku mungkin tidak terlalu mengerti tentang bisnis, tetapi aku bisa mendengarkan.”
Hero mengangkat wajahnya dan tersenyum.“Aku tahu. Justru karena itu aku tidak ingin membuatmu ikut memikirkan pekerjaan. Kamu baru pulang kuliah dan seharusnya menikmati waktu istirahatmu.”
Laura akhirnya mengangguk. “Kalau begitu, aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi kalau masalahnya besar, jangan terlalu memaksakan diri.”
Hero menggenggam tangan Laura dengan lembut.“Aku akan berhati-hati. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.”
Laura menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Entah kenapa, perhatian sederhana itu kembali membuat hatinya terasa hangat.
Hero kemudian tersenyum dan kembali bersandar di bahu Laura.“Kalau begitu, temani aku sebentar,” kata Hero kepada Laura sambil tetap memegang tangannya.
Laura menatap Hero dengan sedikit bingung. “Mau ditemani ke mana?”
Hero tertawa kecil. “Tidak ke mana-mana. Aku hanya ingin duduk seperti ini bersamamu.”
Laura akhirnya ikut tersenyum. “Kamu benar-benar manja kalau sudah di rumah.”
“Karena hanya di depanmu aku bisa seperti ini,” jawab Hero sambil mempererat genggaman tangannya.
Laura tidak lagi membalas dengan kata-kata. Dia hanya membiarkan Hero berada di sisinya. di dalam hati, Laura masih belum mampu memberikan cinta yang Hero inginkan.
Namun, tanpa dia sadari, sesuatu perlahan berubah. dulu Laura selalu merasa takut ketika seseorang mendekatinya. sekarang, ketika Hero mendekat, Laura justru merasa aman.
"Mungkin cinta belum tumbuh sepenuhnya."
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Laura mulai membiarkan seseorang masuk perlahan ke dalam hatinya.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯