NovelToon NovelToon
OVERRATED

OVERRATED

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Penyesalan Keluarga / Romansa Fantasi
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.

Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.

Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Irysh Whitman menatap lekat-lekat gadis di sampingnya yang masih terus menenggelamkan wajah di balik kedua telapak tangan. Isak tangis Parrie terasa begitu menyayat hati, penuh dengan kepedihan yang teramat mendalam—sebuah reaksi yang terlalu emosional jika hanya berasal dari seorang mahasiswi baru yang baru sehari mendengar cerita tentang pria asing.

Dari titik itu, Irysh menarik sebuah kesimpulan yang sangat pasti: Parrie Rose memiliki hubungan yang jauh lebih dalam dengan Kaetos Ashford dari sekadar teman sekelas.

Irysh tersenyum tipis, sebuah ukiran senyum yang bijak di balik paras cantiknya. Sejak awal, saat Kaetos melontarkan kalimat bernada perintah di perpustakaan kemarin—memintanya untuk mendekati dan mengenalkan seluk-beluk kampus pada Parrie—Irysh sudah menaruh kecurigaan besar.

Pria sedingin dan seanti-sosial Kaetos tidak pernah peduli pada siapa pun, apalagi seorang mahasiswi baru. Dan malam ini, menyaksikan bagaimana Parrie menangis histeris meratapi masa lalu Kaetos, semua teka-teki itu terjawab sudah.

Irysh tahu ia baru saja ikut campur sangat jauh ke dalam ranah pribadi dua manusia yang rumit itu. Namun, ia sama sekali tidak menyesalinya. Ia bisa melihat betapa kedua jiwa itu saat ini sedang terperangkap dalam kebingungan, luka, dan tembok kesalahpahaman yang tebal.

Meski begitu, Irysh tidak menuntut atau menagih pengakuan jujur dari mulut Parrie. Ia sadar bahwa Parrie belum siap untuk terbuka sepenuhnya. Bagi Irysh, cukuplah ia berdiri sebagai pendengar dan pembicara yang baik kapan pun Parrie membutuhkannya.

Syukurlah aku bergerak lebih cepat, batin Irys lega seraya mengelus lembut punggung Parrie yang gemetar.

Jika saja ia terlambat sedikit saja merangkul Parrie, gadis polos di sebelahnya ini dipastikan akan langsung menjadi mangsa empuk dari kebencian dan intrik jahat Allenatore.

Duduk di sebelah Kaetos tanpa mendapatkan penolakan atau amukan fisik dari pria itu adalah sebuah 'keajaiban' sekaligus 'ancaman kematian' di mata komplotan Allen dan Jessica Vance.

Dengan kehadiran Irys di samping Parrie, setidaknya ada benteng pertahanan yang mampu menahan serangan ular-ular kampus tersebut.

"Sudah, Parrie... Tenangkan dirimu," bisik Irysh lembut, membiarkan Parrie menumpahkan seluruh beban di dadanya malam itu tanpa terus mendesaknya dengan pertanyaan lain.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam semakin menua menuju dini hari, namun Parrie Rose sama sekali tidak sanggup memejamkan matanya.

Di atas tempat tidur berkanopi mewah milik Irysh, dalam keheningan kamar yang hanya dihiasi temaram lampu tidur, air mata Parrie terus menetes perlahan membasahi bantal sutra yang ia tiduri.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Kaetos—pria yang paling ia cintai sekaligus pria yang paling banyak memberinya rasa sakit—kembali hadir dengan begitu nyata.

Dulu, ketika Kaetos memperlakukan nya kasar, menamparnya, dan melontarkan caci maki yang menyayat hati saat di penthouse, Parrie selalu beranggapan bahwa dirinya ditolak karena status sosialnya.

Parrie mengira Kaetos jijik padanya karena label dirinya sebagai anak haram, atau mungkin karena statusnya yang hanyalah seorang jalang dari keluarga miskin tanpa latar belakang keluarga terpandang.

Namun malam ini... seluruh persepsi itu hancur berantakan.

Parrie kini mengerti sepenuhnya.

Ia teringat kembali pada malam di mana ia jujur mengakui perasaannya—malam di mana ia dengan polos berbisik “Apa aku boleh mencintai mu, Kaetos”—yang berujung pada amukan histeris pria itu.

Saat itu Kaetos berteriak murka, menyebut Parrie tidak tahu diri dan melarang keras Parrie untuk mencintainya.

Sekarang aku mengerti, Kae... batin Parrie meraung dalam kepedihan yang membuncah.

Bukan Kaetos yang merasa Parrie tidak pantas untuknya.

Justru sebaliknya... Kaetos-lah yang selama ini merasa dirinya begitu rusak, cacat, dan tidak pernah pantas untuk dicintai oleh dirinya! Pria itu sengaja mendorongnya pergi, berpura-pura menjadi iblis yang kejam, hanya demi melindungi Parrie dari kegelapan jiwanya sendiri.

Rasa haru dan penyesalan yang luar biasa hebat menyelimuti seluruh dada Parrie.

Malam ini, Parrie benar-benar merasa sangat bersyukur kepada takdir. Jika bukan karena takdir yang mempertemukannya dengan Irys Whitman—gadis kaya yang ternyata berhati sangat tulus dan baik ini—mungkin Parrie akan terus hidup dalam pusaran prasangka buruk dan kebencian yang salah pada Kaetos.

Di tengah genangan air matanya yang belum mengering, perlahan-lahan sebuah senyuman tipis dan hangat terukir di bibir Parrie.

Parrie teringat kembali pada kejadian tadi siang di dalam kelas. Bagaimana pria pujaan hatinya yang terkesan dingin dan arogan itu tiba-tiba meletakkan kotak bekal makanan yang sangat banyak di atas meja. Pria itu sengaja menyiapkan dan membawa semua bekal itu dari rumah hanya demi memiliki alasan untuk menahan Parrie agar tetap berada di sisinya.

Mengingat hal itu, Parrie terkekeh pelan di dalam hati.

Momen makan siang bersama itu terasa begitu konyol sekaligus manis, mengingat Parrie sendiri sebenarnya belum Lapar. Namun demi menghargai niat terselubung pria gengsi tinggi itu, Parrie berpura-pura lapar dan menghabiskan makanan bersamanya.

Kau sungguh pria bodoh yang menggemaskan, Dimitriou Kaetos Ashford... gumam Parrie dalam hati, mengusap air mata di pipinya.

Bagaimana bisa kau berpura-pura menjadi monster, sementara perhatian kecilmu selalu membocorkan betapa besarnya cintamu padaku?

Malam itu, Parrie berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan lagi melarikan diri. Ia tidak akan lagi membiarkan tembok trauma Kaetos memisahkan mereka. Jika Kaetos merasa jiwanya terlalu gelap untuk disentuh, maka Parrie sendiri yang akan melangkah masuk ke dalam kegelapan itu untuk menggenggam jemarinya.

•••••

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai kamar Irys, menghangatkan ruangan yang megah itu.

Parrie terbangun dengan kelopak mata yang sedikit sembap, namun perasaannya jauh lebih tenang dan mantap dibanding hari-hari sebelumnya. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kuliah yang rapi, Parrie berjalan turun ke lantai dasar bersama Irys.

"Pagi, Parrie! Kau tidur nyenyak semalam?" sapa Irys riang seraya menyambar kunci mobil sports merahnya di atas meja koridor.

"Pagi, Irys. Sangat nyenyak, terima kasih banyak untuk semuanya," jawab Parrie tulus dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya.

Irys menatap Parrie sejenak, mengamati perubahan aura pada diri gadis itu. Meski matanya masih menyisakan bekas tangis semalam, tatapan mata Parrie kini terpancar sangat jernih dan penuh tekad. Irysh tersenyum puas, merasa lega melihat temannya tidak lagi diselimuti kerapuhan.

"Ayo, kita berangkat sekarang! Hari ini kita ada jadwal kuliah pagi, dan aku tidak mau terlambat lalu dihukum dosen killer itu," ajak Irys seraya mengedipkan matanya.

Mobil sports merah milik Irysh membelah jalanan kota New York yang mulai padat oleh kendaraan pagi.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih santai. Parrie dan Irysh mengobrol ringan, tertawa bersama, dan saling melempar lelucon.

Untuk pertama kalinya sejak rentetan tragedi yang menimpanya, Parrie merasakan kembali kebebasan dan keceriaan seorang gadis berusia awal dua puluhan.

Namun, saat mobil Irys memasuki area parkir khusus mahasiswa di kampus, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi tegang.

Beberapa mahasiswa yang berada di pelataran parkir tampak berbisik-bisik seraya melirik ke arah mobil Irys yang baru saja berhenti. Saat Parrie dan Irys melangkah keluar dari mobil, Parrie bisa merasakan puluhan pasang mata menatapnya dengan tatapan penuh selidik, beberapa di antaranya memancarkan rasa tidak suka.

"Jangan hiraukan mereka," bisik Irys santai seraya merangkul lengan Parrie dengan akrab. "Kabar bahwa kau duduk di sebelah Kaetos dua hari berturut-turut pasti sudah menyebar ke seluruh fakultas. Mereka cuma iri karena tidak punya keberanian yang sama."

Parrie mengangguk pelan, mempererat pegangannya pada tali tas punggungnya. Ia melangkah bersama Irys menyusuri koridor gedung utama universitas menuju ruang kuliah mereka.

Namun, baru beberapa meter mereka melangkah melewati lorong fakultas yang ramai, sebuah suara lembut yang sangat familiar terdengar memanggil nama Parrie dari arah depan.

"Selamat pagi, Parrie!"

Parrie dan Irysh menghentikan langkah mereka seketika.

Di ujung lorong, berdiri Allenatore dengan senyum manisnya yang tampak sangat polos dan tanpa dosa.

Gadis cantik berambut pendek itu mengenakan gaun kasual berwarna pastel yang anggun, melangkah mendekati Parrie dengan membawa sebuah buku catatan tebal di tangannya.

Di belakang Allen, tampak Jessica Vance—si rambut merah muda—berdiri dengan bersedekap dada, melemparkan tatapan tajam yang penuh ancaman ke arah Parrie.

"Pagi, Allen," sapa Parrie tenang, mencoba menjaga raut wajahnya agar tetap netral sesuai saran Irys.

Allen tersenyum kian lebar, namun mata jernihnya melirik tajam ke arah lengan Irys yang masih merangkul Parrie dengan erat. Ada kilatan rasa tidak suka yang melintas sangat cepat di mata Allen sebelum gadis itu kembali memasang topeng ramahnya.

"Aku mencari-carimu sejak tadi di gerbang depan, Parrie," ujar Allen dengan nada suara yang begitu manis dan penuh perhatian. "Aku khawatir kau kesulitan berjalan kaki ke kelas pagi ini. Oh ya, aku juga membawakanmu catatan materi kuliah kemarin, takutnya kau ada yang tertinggal."

Allen menyodorkan buku catatan itu ke arah Parrie dengan raut wajah seorang sahabat yang sangat baik.

Sebelum Parrie sempat menjawab atau mengulurkan tangannya, Irysh sudah lebih dulu melangkah maju satu langkah, memotong jarak di antara Parrie dan Allen.

Irysh melipat kedua tangannya di dada, menatap Allen dengan senyum miring yang penuh sindiran menohok.

"Wah, rajin sekali kau pagi-pagi begini, Allen," pangkas Irysh dengan nada suara yang cukup keras hingga terdengar oleh beberapa mahasiswa yang lewat. "Tapi maaf ya, Parrie sekarang bersamaku. Dia tidak butuh catatan darimu karena materi kuliahnya sudah aku lengkapi semalam di rumahku."

Raut wajah Allen sedikit membeku mendengar jawaban Irysh. Matanya menyipit pelan. "Oh... Parrie menginap di rumahmu semalam, Irysh?"

"Yup! Kami menginap berdua, mengobrol banyak hal yang sangat menyenangkan... termasuk membicarakan tentang ular-ular yang suka berpura-pura jadi domba di kampus ini," sahut Irysh tanpa ragu, melemparkan tatapan menantang lurus ke mata Allen.

Di belakang Allen, Jessica Vance mendengus keras dan hendak melangkah maju dengan wajah memerah murka. "Hei, Irysh! Apa maksudmu bicara seperti itu pada Allen?!"

"Cukup, Jessica," pangkas Allen cepat dengan suara tenang namun tegas, menghentikan langkah Jessica seketika.

Allen kembali menatap Parrie, mengabaikan provokasi Irys. Senyum manis di bibirnya kini terasa agak dingin dan memaksakan diri. "Begitu ya... Kurasa kau sudah menemukan teman yang 'tepat', Parrie. Tapi ingat pesanku kemarin, ya? Hati-hati dalam memilih lingkungan."

"Terima kasih atas perhatianmu, Allen. Aku akan selalu ingat," jawab Parrie singkat dan lugas, menatap Allen lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.

Allen tersenyum tipis, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri lorong bersama Jessica yang masih terus melemparkan tatapan membunuh ke arah Parrie.

Irysh mendengus sinis menatap punggung kedua gadis itu yang mulai menjauh. "Dasar wanita bermuka dua. Aktingnya benar-benar pantas dapat piala Oscar."

Parrie terkekeh pelan, merasa bersyukur memiliki Irysh di sisinya. "Terima kasih sudah membelaku, Irysh."

"Sama-sama! Nah, ayo masuk kelas sebelum Kaetos datang," ajak Irysh.

Mereka berdua berjalan memasuki ruang kuliah utama yang berundak-undak. Ruangan itu sudah mulai diisi oleh belasan mahasiswa.

Parrie berjalan menuju barisan kursi yang sama seperti kemarin—barisan sudut di dekat jendela. Parrie duduk di kursi yang sama, sementara Irys mengambil tempat duduk tepat di barisan depan Parrie untuk memberikannya ruang.

Parrie meletakkan tasnya di atas meja, lalu menatap kursi kosong di sebelah kanannya—kursi milik Kaetos.

Jantung Parrie mulai berdetak kencang dalam keantisipasian.

Ada rasa gugup sekaligus kerinduan yang mendalam yang membakar dadanya. Ia tidak sabar untuk melihat wajah pria itu pagi ini, ingin menatap mata tajamnya dengan pemahaman baru yang kini ia miliki.

Lima menit sebelum bel kuliah berbunyi, suasana di dalam kelas yang tadinya riuh mendadak berubah menjadi hening seketika.

Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar bergema dari arah pintu depan kelas.

Parrie menoleh cepat.

Di sana, di ambang pintu, berdiri Dimitriou Kaetos Ashford.

Pria itu mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan kulit lengannya yang putih pucat dan berurat tegap. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan raut wajahnya terlihat sangat dingin, pucat, serta dipenuhi oleh aura intimidasi yang pekat.

Di bawah matanya yang tajam, terdapat lingkaran hitam tipis—tanda bahwa pria itu sama sekali tidak tidur sepanjang malam akibat gejolak emosi di mansion orang tuanya.

Kaetos melangkah masuk ke dalam kelas tanpa memandang siapa pun. Pandangannya lurus ke depan, dingin dan tak tersentuh.

Namun, saat matanya beradu dengan Parrie yang sedang duduk menatapnya dari sudut jendela... langkah kaki Kaetos sempat terhenti selama satu detik.

Mata tajam Kaetos membelalak kecil saat melihat Parrie. Ada kilatan rasa kaget, linglung, dan emosi yang meluap di balik manik matanya yang kelam. Kaetos memperketat cengkeramannya pada tali tas di bahu, mencoba mempertahankan topeng dinginnya.

Kaetos kembali melangkah, berjalan menyusuri tangga berundak menuju barisan kursi belakang tempat Parrie berada.

Parrie tidak membuang pandangannya sedikit pun. Ia terus menatap Kaetos yang berjalan mendekat, menyalurkan seluruh rasa hangat, pemahaman, dan cintanya melalui tatapan mata yang lembut.

Kaetos tiba di depan meja Parrie. Pria itu berdiri kaku selama beberapa saat, menatap Parrie yang kini tersenyum tipis padanya—sebuah senyuman yang sangat tulus dan hangat, tanpa ada sedikit pun rasa takut, benci, atau prasangka di dalamnya.

Kaetos mengerutkan keningnya, merasa keheranan dan terguncang oleh perubahan tatapan gadis itu.

Kenapa... kenapa dia menatapku seperti itu? batin Kaetos bingung, dadanya berdenyut tegang. Bukankah dia seharusnya membenciku setelah apa yang terjadi di penthouse dan bentakanku kemarin?

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kaetos menarik kursi di sebelah Parrie dan mendaratkan tubuh tegapnya di sana. Aura dingin yang pekat seketika menyelimuti area di sekitar mereka.

Parrie menoleh pelan ke arah Kaetos yang kini duduk sangat dekat di sisinya.

"Selamat pagi, Kaetos," sapa Parrie dengan suara yang sangat lembut, hampir berupa bisikan halus yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

Kaetos membeku di tempatnya. Ia tidak menoleh pada Parrie, tetap menatap lurus ke arah papan tulis di depan kelas, namun rahangnya terlihat mengeras tegang. Kancing atas kemejanya terasa mendadak mencekik lehernya.

"Jangan mengajakku bicara," balas Kaetos dengan suara rendah, dingin, dan tajam—sesebuah benteng pertahanan yang sengaja ia bangun demi menyembunyikan jantungnya yang mendadak berdetak liar di dalam dada.

Bukannya takut atau tersinggung, Parrie justru tersenyum kian manis mendengar jawaban dingin itu. Ia tahu di balik suara tajam itu, ada seorang anak laki-laki kesepian yang sedang berjuang keras melawan ketakutannya sendiri.

Parrie mengambil sebuah kertas kecil dari dalam buku catatannya, menuliskan sesuatu di sana dengan pena, lalu menggeser kertas kecil itu pelan ke sisi meja Kaetos.

Kaetos melirik kertas itu dari sudut matanya. Dengan gerakan kaku, ia menunduk membaca untaian tulisan tangan yang rapi di atas kertas tersebut:

'Terima kasih untuk bekal makan siangnya kemarin. Dan... terima kasih karena sudah menyuruh Irysh menjadi temanku.'

DEG.

Dada Kaetos bergetar hebat. Pria angkuh itu meremas jemarinya di bawah meja. Ia menoleh perlahan, menatap wajah Parrie yang kini menatapnya penuh dengan kehangatan dan rasa cinta yang tak terbatas.

Di balik kegelapan malam yang selama ini mengurung jiwanya, untuk pertama kalinya... Kaetos Ashford merasakan sebuah titik cahaya kecil mulai menerobos masuk, meruntuhkan benteng es yang membungkus hatinya.

1
Mei TResna Rahmatika
kaya nya ntar parrie perlu ninggalin kaetos dan keluarga ashford biar nanti mereka ketar ketir pas udah tau sebenernya kaya dulu mommy Tessa merad dari Giovani 🤭
Hai Min Husna
/Ok/
Debu Nakal
butuh tambahan snack chap thor
Mei TResna Rahmatika
up lagi dong kak 🤭
Rosdianah 🌷: eh bentar² 🤣
total 1 replies
Lilla Ummaya
Thor cmn satu 😌
Rosdianah 🌷: bentar kak, Ini lagi Bikin huru hara dulu🤣
total 1 replies
safaana
ku harap kaetos mengetahui kehidupan parrie yang sebenar benarnya,meskipun parrie anak musuhnya tpi kenyataanya tak seperti yang di pikirkan kae
Rosdianah 🌷: Do'akan ya kak 🤭
total 1 replies
Vtree Bona
gimana nasib parie kak Thor,parie kan ga tau baru tau skr ini😭
Rosdianah 🌷: author minta maaf 🤭🥲
total 1 replies
Mita Paramita
😭😭😭 baru aja perrie dan kaetos bahagia udah ada badai topan datang menerjang... kaetos salah paham nih kalo perrie gak ada hubungannya sama rencana jahat ayah sih Gerald Ford 🫡🫡🫡 jangan sampai mereka pisah thot😭😭😭
Rosdianah 🌷: gimana dong 😭😭😭
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lagii
Rosdianah 🌷: besok kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget parrie ku yg malang jadi kambing hitam😭
Rosdianah 🌷: huhuhu kenapa nggak kambing putih kak😭
total 1 replies
Yusry Ajay
makin seruuuu Thor 🤭🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Lilla Ummaya
Co cuit,,lanjut yg banyak donk kaa
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Vtree Bona
akh kae sweet banget sih meleleh nih hati neng😍
Rosdianah 🌷: Itukan yg disenangi para Readers 🤭🤣
total 1 replies
Vtree Bona
aduh penjahat lagi penjahat lagi kak Thor please deh
Rosdianah 🌷: author minta maaf 🤣🤣
total 1 replies
Vtree Bona
penjahat nya banyak banget Kak Thor pusying saya kak Thor 🤣
Rosdianah 🌷: author juga pusing 😭🤣🤣
total 1 replies
Vtree Bona
kasian banget sih kaetos trauma nya banyak banget 😭
Vtree Bona
suruh parie cepet bilang sama kaetos kak Thor bahwa papa dia yg jahatin kaetos
Rosdianah 🌷: huhuhu ia nanti author sampaikan ya 🤭🤣
total 1 replies
safaana
meskipun di senggol gak akan marah dia karna lagi sama pawangnya
Rosdianah 🌷: hahha iya lagi🤣
total 1 replies
safaana
berat banget hidupmu kae,meskipun kaya TPI tetap saja menyedihkn
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
masalah kaetos lebih beratt drpd Leander
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!