namaku aurora. mungkin kalian akan terkejut mendengar nama lengkapku, ya aurora borealis.
aku tidak tau siapa yang memberikan nama ini, tapi yang ibu angkatku katakan, siapapun yang memberi nama ini adalah sebuah pengharapan agar hidup ku lebih berwarna seperti aurora yang menghasilkan cahaya menyala nyala dan menari nari..
aku hidup dalam kesederhanaan dan belum mempunyai pekerjaan tetap karena aku hanyalah tamatan SMA
bekerja serabutan untuk membantu keuangan keluarga. sampai suatu hari aku ikut temanku yang bekerja di make up artist lumayan selain uang yang aku dapat agak besar, aku bisa bertemu dengan beberapa artis yang biasa aku lihat di televisi.
berawal dari sini aku bertemu dan mengenal lelaki angkuh dan arrogant.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwatirta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku akan pergi
Bima POV
aku mencarinya seperti orang gila, dan dia.. sedang berpelukan dengan seorang pria. entah aku harus bersikap bagaimana? aku memilih pergi. apa pria tadi kekasihnya? apa karena kekasihnya itu, sampai dia tidak datang bekerja ke apartemenku? setidaknya pikiran itu yang ada dalam otakku saat aku kembali ke mobil.
harusnya siang ini, aku menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menumpuk. tapi aku meninggalkan semua pekerjaan ku karena aku tidak bisa menghubunginya. aku... hawatir.
perempuan yang belakangan ini membuat hari-hari ku lebih berwarna.
perempuan sederhana dengan sikap dewasanya.
perempuan bertubuh mungil namun selalu bekerja keras untuk hidupnya.
dia tidak mengetahui perasaanku, lebih tepatnya belum.
aku sadar dengan statusku, aku pria yang sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.
aku tahu sikapnya, yang pasti akan menolak saat aku mengutarakan isi hatiku. mungkin dia akan memilih menjauh dan bahkan pergi dari hidupku.
aku terlalu naif, karena aku berani mencintainya. tapi manusia punya kuasa apa? saat perasaan sudah bertahta, logikapun kadang tak berguna.
hubungan ku dengan lady saat ini hanya sebatas hubungan antara raga, namun perasaan kami, atau hanya perasaanku saja? rasaku hampa dan hambar, perasaanku sudah tak lagi sama.
aurora, lagi-lagi senyumnya terlintas dalam benakku. apa seharusnya tadi aku menghampirinya dan memukul pria yang memeluknya?
tapi siapa aku? dia hanya akan berpikir bahwa aku pria arogan yang menodongnya dengan hutang hanya karena kesalahan sepele.
aku tidak punya pilihan lain untuk mengikatnya agar tetap berada di sisiku. meskipun caraku salah, tapi aku bahagia.
aku tak pernah sebimbang ini, keinginanku menikah hanya satu kali dalam hidupku. aku menentang keluargaku, kemauan papa dan kedua kakakku. mereka memintaku meninggalkan lady, tapi aku tidak mau. seburuk apapun cerita yang mereka lontarkan, aku memilih tidak mempercayainya.
tapi entah kenapa, kali ini aku benar benar ingin membuktikan ucapan mereka. tapi kadang aku takut dengan kenyataan, kenyataan bahwa yang mereka ucapkan benar adanya.
"tuan, anda baik-baik saja?."
"em."
"siapa pria di taman tadi?."
"entahlah, aku tidak melihat wajahnya karena dia membelakangiku. aku hanya melihat wajah aurora."
"tapi kelihatannya tadi nona aurora sedang menangis."
"benarkah?."
"anda tidak memperhatikannya?."
aku mana sempat memperhatikan wajahnya, aku terlalu fokus dengan perasaanku. kalau memang benar dia menangis, ada apa sebenarnya?
Aurora POV
aku menangis, entah karena apa belakangan ini perasaanku berada di level terendah. dimana aku merasa, sekarang aku sangat cengeng.
aku memutuskan untuk menjauhi bima, aku tidak tau pasti ucapannya waktu itu. dia mencintaiku? atau aku hanya bermimpi?
entah kenapa aku bahagia saat mendengarnya mengucapkan hal itu. namun di sisi lain, aku merasa bersalah karena ada seorang wanita yang akan tersakiti hatinya.
aku memilih untuk menjauh, mengubur perasaanku. entah perasaan apa sebenarnya, aku tidak dapat memastikannya. aku nyaman berada di sampingnya, dan aku merasa sakit saat dia mengumumkan pernikahannya di televisi.
apa aku mencintainya? mungkin saja, itu yang aku dengar dari kak bintang. seorang pria yang wajahnya sebelas dua belas dengan bima, tentu saja karena mereka bersaudara.
aku memilih berhenti bekerja, bagaimana kehidupanku nantinya aku juga tidak tahu. yang aku lakukan saat ini, aku hanya ingin menjaga tiga hati. hatiku, hati bima, dan hati kekasihnya.
sungguh miris, ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta. tapi kenapa harus bima? pria yang berhasil memporak porandakan perasaanku, pria yang tiga hari lagi akan menikah.
tadi pagi aku menemui temanku, aku mencari pekerjaan. syukur, dia mempunyai banyak jaringan sampai aku bisa segera berangkat ke luar negeri. untuk apa? jelas aku akan menjadi seorang TKW, aku akan pergi sejauh mungkin.
begitu miris bukan? bahkan aku dan bima sama-sama tidak tahu bagaimana perasaan kami sebenarnya. tapi aku menyayangi ibuku, kalau wanita itu mengancam akan membahayakan ku, jelas tidak masalah. tapi dia mengancam akan menghabisi nyawa ibuku.
sampai siang tadi pikiranku kosong, aku memilih untuk duduk sejenak di bangku sudut taman kota. menikmati keindahan kota kelahiranku yang mungkin sebentar lagi tak bisa aku kunjungi untuk waktu yang lama.
lagi-lagi air mataku mengalir tak terbendung, kenapa begitu berat untuk meninggalkan bima? bahkan aku sudah berusaha keras menguatkan hatiku untuk melupakannya.
sampai suara itu mengagetkanku, dia calon kakak iparku. bukan, tepatnya mantan calon kakak iparku. dia yang kemudian duduk disampingku, melihat air mata ku terjatuh. aku gagal menyembunyikan kesedihanku.
sampai aku bercerita kepadanya, bagai seorang kakak yang menenangkan adiknya. dia bilang, dia senang bima mencintaiku, tapi tidak denganku. meskipun aku sedikit bahagia. tapi aku takut, aku takut kehilangan ibuku.
air mataku terus mengalir, mungkin dia tidak tega sampai ahirnya dia memelukku. menepuk lembut bahuku, jangan menangis! berulang kali ucapan itu ia lontarkan, dan... bukan berhenti, malah air mataku mengalir bertambah deras.
"terimakasih, kak bintang sudah mau mendengarkan ceritaku." aurora melepaskan pelukannya.
"kamu tetap akan pergi?."
"iya kak."
"aku akan mengatakan kepada bima...." aurora sontak menggelengkan kepalanya, dan mengatupkan kedua tangannya. memohon agar bintang tidak mengatakan apapun kepada bima.
"jangan kak, aku mohon."
"ra, kalian saling mencintai."
"tidak kak, ini semua salah! aku tidak boleh mencintainya."
"kamu menyiksa dirimu sendiri aurora, dan itu juga menyakiti bima."
"kak, bisakah aku pergi dengan tenang? membawa seluruh hatiku meskipun dengan jiwa yang rapuh? aku mohon kak...."
"baiklah, berhenti menangis lagi. matamu sudah bengkak."
"terimakasih," aurora tersenyum, bintang bisa melihat arti senyuman yang aurora berikan, banyak kesedihan disana. tapi dia bisa apa?
"kalau begitu, beritahu aku kemana kamu akan pergi!."
"untuk apa?."
"sudah, jangan banyak bertanya atau aku akan.. "
"oke, nanti aku akan memberi tahu kak bintang."
Bintang POV
terik siang matahari membuatku ingin menikmati minuman yang menyegarkan. aku putuskan untuk pergi ke mall X, mall yang dekat dengan tempat proyek yang sedang aku pantau.
tak lama setelah pesananku datang, aku melihat gadis kecil yang biasanya sangat ceria. tapi ada apa dengannya hari ini? apa dia menangis? aku melihatnya pergi terburu-buru, kakiku pun dengan entengnya mengikutinya sampai di bangku taman. benar, dia sedang menangis.
aku menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi. walaupun dia tidak sepenuhnya bercerita, tapi aku bisa mengambil kesimpulan kalau dia dan adikku saling mencintai. pasangan yang cocok, bima pria arogan sedangkan aurora gadis periang penuh dengan semangat dan energi positif.
tapi yang membuatku ikut bersedih, bima tiga hari lagi akan menikahi wanita pilihannya. dan aku tidak bisa berbuat banyak untuk itu.
aurora mengatakan dia ingin pergi, lagi lagi aku tidak bisa mencegahnya. tapi aku bertekad untuk mencari tahu kebusukan si wanita rubah itu. bima harus sadar, dan aurora berhak bahagia.
"kalau begitu aku mendukungmu untuk pergi ra. baik-baiklah disana. suatu hari nanti aku akan mengunjungimu." setidaknya kata-kata itulah yang aku ucapkan sebelum kami berpisah di taman kota. aku melihat tubuh gadis kecil itu menghilang. dan aku berdoa, semoga dia berjodoh dengan bima.
saya juga ingin tokoh yang tersakiti memperoleh kesempatan, sehingga kariernya gemilang melebihi tokoh yang merendahkanya sehingga tidak ada kesempatan lagi untuk diremehkan......
itu lady jangan biarkan wanita jahat itu menang moga bintang selamat dg bantuan yang tidak terduga ....... Aamiin