"WHAT?! QUEEN MAFIA!!!"
MAFIA, satu kata yang tak pernah terlintas dalam pikiran seorang gadis berparas cantik yang mendapat julukan badgirl di sekolahnya. Lalu, apa yang membuatnya terjerumus dalam dunia bawah? Bahkan harus menjadi Queennya.
Apa yang kalian pikirkan tentang seorang Tentara? Datar? Cuek? Serem? atau Sangar? Ohh... Salah besar, Karena tentara satu ini cukup humoris tapi jika saat di depan musuh, seketika sifat humorisnya hilang dan berubah menjadi dingin serta memiliki aura yang sangat kuat dengan sorot mata yang tajam.
Tentara tampan itu di perintahkan untuk menjalankan misi tertentu dan membuat kehidupannya berubah drastis karena dirinya terpaksa harus menyamar, Sungguh cobaan yang sangat berat baginya.
"Aku tidak akan berubah, karna ini jalan hidupku." Seru sang badgirl
"Sungguh diluar pemikiranku. Misi ini membuatku rasanya ingin mati." Kesal tentara tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
DWWAAARRR.....
"AAAAAAA....."
Tanpa dapat diduga, tiba tiba saja panggung besar tersebut meledak dengan begitu dahsyatnya. Hal itu tentu membuat beberapa orang di dekat panggung terkena ledakan tersebut, termasuk kedua orang tua Olive yang saat itu hendak turun dari panggung.
Semua orang yang berada disana seketika menjerit histeris, namun yang duduk di barisan paling depan bukan hanya menjerit saja, tapi juga sembari memalingkan wajah dan menutupinya dengan lengannya sendiri agar tidak terkena benda yang berterbangan akibat dari ledakan tersebut.
"AWAAASS..." Teriak Genta sembari beranjak dari duduknya
Berbeda dengan semua orang yang hanya melindungi dirinya sendiri, Genta malah langsung berlari ke arah Olive dan Shifa untuk melindungi mereka dengan cara menjadikan tubuhnya sebagai tameng perlindungan. Hal itu tentu membuat Punggung Genta mengalami luka karena terkena benda yang terlempar dari panggung, tapi sepertinya dia tidak mempedulikan itu semua karena baginya yang terpenting adalah keselamatan keluarganya. Sebenarnya ia juga ingin menyelamatkan kedua orang tuanya, tapi jarak mereka cukup jauh. Alhasil, diapun hanya bisa melindungi keluarganya yang berada dekat dengannya.
Cakra dan Gerry yang juga sangat terkejut, langsung bergegas menuju tempat Olive berada. Tapi langkah mereka terhenti saat tahu jika Olive sudah di lindungi oleh keluarganya dan itu membuat mereka berdua merasa lega, meski hanya sedikit. Sedangkan para tamu undangan yang lainnya hanya bisa menjerit histeris sembari menutup mulutnya karena sangat terkejut dengan kejadian tersebut, bahkan jantung mereka semua serasa ingin copot saat itu juga.
"MOMMYYY... DADDYYY...." Teriak histeris Olive dengan air mata yang sudah mengalir begitu derasnya saat melihat kedua orang tuanya terbaring tak berdaya dengan banyak darah yang berlumuran di sekujur tubuhnya. Meski sedikit terhalang oleh tubuh Genta, tapi Olive masih bisa melihatnya dengan jelas.
Hiks... hiks... hiks...
Tanpa pikir panjang lagi Olive beserta yang lainnya langsung bergegas menuju Adam dan Okta yang berada cukup jauh dari panggung, karena sepertinya mereka terpental akibat dari ledakan tersebut. Saat ini, di sekolahan tersebut hanya terdengar suara tangisan dari semua orang. Insiden tersebut juga mengakibatkan beberapa orang terluka, mulai dari luka ringan sampai yang paling parah. Bukan itu saja, bahkan saat ini panggung tersebut terbakar, tapi untungnya tidak merambat ke gedung sekolah karena memang halamannya sangat luas, jadi jarak panggung dengan gedung sekolah itu cukup jauh.
Bertepatan dengan itu, mobil yang dikendarai Sean beserta anggotanya telah sampai di sekolahan, dan mereka juga ber pas pasan dengan beberapa anggota kepolisian yang memang sudah mereka hubungi terlebih dahulu, polisi tersebut berjumlah lima orang dan juga menggunakan satu mobil saja.
"Kita terlambat." Ucap Sean yang sangat terkejut ketika melihat keadaan disana yang sangat kacau sembari turun dari mobil begitupun dengan yang lainnya
"Hubungi pemadam kebakaran dan ambulance segera." Titah salah satu polisi kepada polisi yang lain
"Laksanakan komandan." Balas polisi tersebut sembari memberi hormat sejenak dan langsung melakukan perintah atasannya itu
"Evakuasi warga secepatnya, dan bantu warga yang terluka." Titah Sean dengan tegasnya kepada keempat anggotanya
"Siap kapten." Balas keempat tentara dengan tegas dan juga memberi hormat sejenak
Kemudian mereka semua mulai melaksanakan tugas masing masing. Beberapa polisi memasang garis polisi agar warga tidak ada yang mendekat ke panggung yang terbakar. Diantara mereka juga mulai mengevakuasi warga dengan membawanya ke tempat yang lebih aman atau dalam kata lain adalah agar menjauh dari sana.
Kini Olive dan yang lainnya sudah sampai di hadapan Adam dan Okta yang terbaring tak berdaya. Tanpa menunggu lama, dengan segera Genta memeriksa denyut nadi milik kedua orang tuanya melalui tangan dan juga lehernya. Seketika raut wajah Genta berubah menjadi raut wajah yang tak dapat di artikan, setelah itu Genta memberi isyarat pada semuanya dengan menggelengkan kepalanya pelan dan dia juga mulai menitikkan air matanya.
"Ma-maaf.. Hiks..." Lirih Genta terbata sembari menatap adiknya yang berdiri dengan tatapan sendu dan air mata yang berderai
"Ha?!" Pekik mereka semua sembari menutup mulutnya tak percaya, mereka tak lain adalah Shifa, Via, Yuki dan juga kedua orang tua mereka, kemudian mereka langsung menangis sejadi jadinya meski masih dalam posisi berdiri
"Gak... Itu gak mungkin. Bang Genta pasti salah. Hiks... Mommy sama Daddy pasti baik baik aja." Seru Olive terisak karena tak percaya dengan semua ini, kemudian langsung berjongkok di samping jenazah orang tuanya
"Hiks... Daddy... Bangun Dad.... Bangun... Hiks... hiks..." Isak Olive yang kini sudah terduduk di samping ayahnya yang terbaring tak berdaya sembari mengguncangkan tubuh ayahnya dengan harapan agar terbangun, namun usahanya sangatlah sia sia karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia.
Kemudian dia pun beralih dengan duduk di samping ibunya yang juga lemah tak berdaya dengan banyak darah di bagian tubuhnya.
"Mom... Bangun mom... Hiks... Please, jangan tinggalin Olive. hiks... hiks..." Isak Olive tiada hentinya sembari membelai rambut ibunya yang terluka hingga membuat tangannya terkena noda darah, tapi sepertinya Olive sama sekali tidak mempedulikan itu semua
Kedua sahabat Olive berdiri di belakangnya sembari mencoba menenangkan Shifa yang juga terisak dalam posisi berdiri dan mereka juga sudah menangis sejak tadi. Meski Adam dan Okta hanyalah mertuanya saja, tapi Shifa juga sangat menyayangi mereka layaknya orang tua kandung. Jadi tidak heran, jika Shifa juga merasa sangat sedih saat ini.
Untuk Cakra dan Gerry, mereka hanya memperhatikan Olive dari kejauhan saja, karena mereka juga tidak mungkin untuk mendekat karena disana masih ada keluarga Olive yang lain.
"Aku baru liat Queen serapuh ini." Batin Cakra sendu
"Aku tahu, Queen pasti sangat terpukul atas kejadian ini. Aku mengerti bagaimana perasaannya saat ini." Batin Gerry yang juga menatap Olive sendu
Di tempat Sean berdiri, dia terlihat sedang memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan sendu karena memang disana sangatlah kacau. Mulai dari tempat yang berantakan, adanya orang yang tewas, bahkan selalu terdengar tangisan histeris dari beberapa orang yang mengalami luka di bagian tubuhnya dan juga tangisan dari keluarga korban.
Hiks... hiks... hiks....
"Mereka keterlaluan, Bisa bisanya menggunakan rakyat yang tidak bersalah sebagai pancingannya." Batin Sean yang merasa geram sembari mengepalkan kedua tangannya dengan kuat
Tiba tiba saja pandangannya terjatuh pada seorang gadis yang sedang menangis sejadi jadinya di hadapan dua jenazah. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Olive tentunya.
"Gadis itu..." Batin Sean menatap Olive dari kejauhan.
Jadi sekarang posisinya Sean berada di belakang Cakra dan Gerry dengan jarak beberapa langkah. Walaupun begitu, dia masih bisa melihat Olive dengan jelas, meski dari arah sampingnya.
"Hiks... Dad, Mom... Olive mohon, jangan pergi. Olive sayang sama kalian, Jangan tinggalin Olive sendirian. Hiks... hiks..." Ucap Olive semakin terisak dengan air mata yang berderai dengan derasnya dan terus menerus mengguncangkan tubuh mamahnya
"Kamu tenang dek. Masih ada Abang sama kak Shifa disini. Kamu gak sendirian." Ujar Genta lembut sembari memeluk Olive agar lebih tenang, padahal dia sendiri sudah menitikkan air matanya sejak tadi.
Tapi dia juga tidak bisa menunjukkan kerapuhannya saat ini di depan sang adik, karena itu bisa membuat Olive semakin sedih. Jadi dia harus berusaha tegar, meski hatinya sangatlah sakit dan begitu teriris.
"Hiks... Bang katakan, Ini pasti mimpikan? Ini gak mungkin, ini hanya mimpi bang. Hiks... hiks..." Isak Olive dalam pelukan Genta
"Kamu harus kuat dek. Abang yakin, mommy sama daddy tidak mau kalau kamu terlarut dalam kesedihan." Ujar Genta terus berusaha menenangkan Olive
"Olive, kamu jangan sedih. Kakak disini selalu ada untuk kamu." Ujar Shifa lembut yang kini duduk di samping Olive sembari membelai rambut Olive.
"Kak, aku gak sanggup. Hiks... Aku gak sanggup menghadapi semua ini. Lebih baik aku mat* sekarang dari pada harus merasakan sakit seperti ini." Isak Olive makin menjadi yang seketika Shifa pun memeluknya agar Olive bisa merasa tenang meski hanya sedikit
"Kamu jangan ngomong gitu. Kamu harus kuat, kita semua sayang sama kamu. Jadi jangan pernah merasa sendirian." Ujar Shifa sangat lembut sembari membelai rambut Olive dalam pelukannya
"Hiks... hiks... hiks...." Rasanya Olive tidak bisa berkata kata lagi, alhasil dia hanya bisa menangis tiada hentinya di dalam pelukan Shifa karena sepertinya dia enggan untuk melepaskan pelukannya, seketika Genta pun ikut memeluk Olive. Jadi saat ini Olive berada dalam pelukan Shifa dan juga Genta.
"Jadi korbannya adalah keluarga gadis itu. Sungguh, aku baru melihatnya serapuh ini. Padahal biasanya dia selalu ceria, tapi kali ini dia menunjukkan sisi lemahnya." Batin Sean sendu dengan menatap Olive sendu
Wiuuuww... wiuuww... wiuuuww....
Saat Sean hendak mendekat ke arah Olive, tiba tiba saja dia melihat beberapa mobil ambulance dan mobil pemadam kebakaran yang baru saja tiba di sana. Hal itu tentu membuat dia mengurungkan niatnya, karena beberapa perawat yang keluar dari mobil tersebut, dengan segera membawa kedua orang tua Olive masuk ke dalam ambulance. Sedangkan petugas pemadam kebakarannya langsung berusaha memadamkan apinya agar tidak merambat ke gedung sekolahan.
Saat sudah di bawa masuk ke ambulance, dengan segera ambulance tersebut melaju meninggalkan sekolahan untuk menuju rumah sakit. Olive, Genta dan Shifa hanya mengikutinya dari belakang dengan menggunakan mobil Genta dan dia juga yang menyetir, sedangkan Shifa terus berusaha menenangkan Olive sembari memeluknya karena memang mereka berdua duduk di kursi penumpang. Sebenarnya mereka ingin ikut masuk ke dalam ambulance, tapi ambulance tersebut sudah cukup sesak karena membawa Adam dan Okta sekaligus. Jadi mereka hanya bisa berpasrah dengan mengikutinya dari belakang saja.
Bukan mereka saja yang mengikutinya, tapi kedua sahabat Olive, Cakra dan Gerry juga mengikuti mobil ambulance tersebut dari belakang.
**Bersambung...
...----------------...
Bagaimana episode kali ini? Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaaa...
Salam manis dari author**...
Playboy abal abalan,udah kepergok juga masih gak mau ngaku 😏😏
masa iy dh tamat aj critanya
ngk seru lu mah 🙄🙄