Jangan lupa follow IG Author : tiwie_sizo08
Albern menyimpan sebuah perasaan yang dalam pada Lily, gadis yang berusia jauh lebih muda darinya. Bertahun-tahun dia memendam perasaannya tanpa membiarkan hal itu diketahui oleh orang lain.
Sebaliknya, Lily yang juga menyukai Albern sejak lama adalah seorang gadis pemberani dan bersifat terbuka. Dia tak pernah menyembunyikan setiap hal yang dirasakannya, termasuk ketertarikannya pada Albern.
Bagaimanakah jadinya saat Albern yang kaku disandingkan dengan sosok ceria dan jahil seperti Lily?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwie Sizo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Akan Segera Dimulai
Semua orang terpaku mendengar penuturan Albern, namun dengan ekspresi yang berbeda. Jika Aaron terlihat tak percaya, Zaya justru terlihat syok. Sedangkan Zivanna tampak tak terlalu terkejut, seakan dia telah mengetahui segalanya.
"Kamu sudah punya perempuan yang ingin kamu nikahi?" Tanya Zaya dengan ekspresi terkejut dan senang yang bercampur menjadi satu.
"Iya." Jawab Albern datar.
"Makanya setelah ini Mama dan Papa tidak perlu memusingkan tentang pasanganku. Aku sudah punya seseorang yang nantinya akan menjadi istriku, jadi tidak perlu mendorong perempuan manapun lagi untuk mendekat padaku. Pada saatnya nanti, aku pasti akan menikah." Tambah Albern lagi.
Zaya agak terperangah mendengar kata-kata putranya itu, sampai-sampai mulutnya sedikit terbuka. Dia sangat terharu mendengar Albern mengatakan tentang pernikahan, hingga raut wajahnya terlihat seperti terlalu didramatisir.
"Sudahlah, Ma. Tidak usah memperlihatkan ekspresi berlebihan seperti itu. Sudah aku bilang, aku ini sangat normal.
"Lalu siapa gadis itu?" Tanya Aaron dengan nada menyelidik. Meskipun Albern bukanlah orang yang suka berbohong, tapi tak lantas membuat Aaron percaya begitu saja pada pengakuan putranya itu.
Albern terdiam. Dia belum membicarakan pada Lily untuk mengekspos hubungi mereka atau tidak. Meskipun rasa-rasanya, bukan hal yang salah jika memberitahu orang tua sendiri.
"Jadi Kak Al benar-benar menjalin hubungan dengan Lily?" Belum sempat Albern menjawab pertanyaan Papanya, terdengar Zivanna bertanya juga. Pertanyaan yang justru menjadi jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya.
"Lily???" Aaron dan Zaya terkejut secara bersamaan.
Albern menoleh kearah Zivanna.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Albern pada adiknya itu.
"Aku bertanya pada Lily kenapa siang tadi dia menghilang dari kampus, katanya Kak Al yang mengajaknya pergi. Dia juga mengatakan jika Kak Al menyatakan cinta padanya. Aku kira dia hanya bercanda berlebihan. Lalu saat dia menelpon seseorang dihadapanku pun, aku juga mengira dia sedang berpura-pura jika yang ditelponnya itu Kak Al. Jadi ternyata dia tidak berbohong?" Zivanna yang tampaknya merasa terkejut menatap Albern, seakan sedang ingin meminta penjelasan.
Albern tampak tertegun selama beberapa saat.
"Dia tidak berbohong. Aku memang telah menyatakan perasaanku padanya, dan dia menerimanya. Sekarang kami sedang menjalin hubungan. Hubungan yang mengarah ke pernikahan tentunya," ujar Albern kemudian.
Zaya dan Aaron yang mendengar itu seketika membeku.
"Kak Al yakin? Apa Kak Al tahu seperti apa Lily? Dia gadis yang baik, tapi dia sangat sulit diajak serius. Meski saat ini Lily bilang serius terhadap Kak Al, tapi aku sebenarnya tidak begitu yakin dia benar-benar serius atau hanya sedang bermain-main."
Albern terdiam.
"Lily masih sangat muda. Dia cantik dan banyak yang menyukainya. Dia juga baik terhadap semua pemuda yang menaruh hati padanya. Apa Kak Al yakin bisa mengatasi semua itu? Belum lagi, Papanya sangat tidak suka pada setiap pemuda yang mendekati Lily selama ini." Ujar Zivanna lagi.
Albern masih terdiam. Dia tampak mencerna kata-kata yang diucapkan oleh adiknya itu. Zivanna benar, benar sepenuhnya malah. Lily memang tipe orang yang suka bercanda dan agak sulit ditebak. Siapapun akan sulit membedakan dia sedang serius atau sedang bercanda. Dia juga masih sangat muda, yang artinya emosinya masih sangat labil. Belum lagi Papanya yang sangat posesif pada putri semata wayangnya itu hingga begitu overprotektif.
Menjalin hubungan dengan Lily bisa dibilang seperti sebuah tantangan bagi Albern. Bisa jadi perasaan Lily saat ini pada Albern hanyalah rasa suka yang dia salah artikan sebagai cinta. Dan bisa jadi juga, suatu saat Lily akan terpikat pada pemuda lain yang seusia dengannya saat dirasa Albern sudah tidak lagi mempesona. Bisa jadi...
Tapi kemudian Albern mengangkat pandangannya sembari tersenyum tipis. Dia tidak peduli dengan itu semua. Yang terpenting baginya saat ini adalah Lily bersedia menjadi kekasihnya. Karena dengan begitu, dia jadi punya kesempatan untuk mengambil hati Lily sepenuhnya. Akan Albern pastikan setelah ini Lily tidak akan pernah berpaling darinya sedikitpun.
"Kamu benar, Zi. Semua yang kamu katakan itu benar. Tapi hanya Lily satu-satunya yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku. Meskipun saat ini dia tidak benar-benar mencintaiku, aku akan membuat dia jadi mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Dan mengenai Papanya, bahkan jika dia memiliki sepuluh Papa seperti Paman Evan, itu tidak akan menggangguku sama sekali. Lambat laun aku pasti akan mendapatkan restu darinya," ujar Albern kemudian dengan sepenuh hati.
Semuanya masih hening, tertegun mendengar penuturan Albern yang terasa benar-benar berasal dari dalam hatinya.
"Kalian sudah mendengar apa yang ingin kalian dengar, sekarang aku mau ke ruang kerjaku dulu. Ada beberapa dokumen yang harus aku periksa." Albern bangkit dari duduknya. Tanpa menunggu tanggapan dari adik dan orangtuanya yang masih terpana, Albern pun berlalu meninggalkan ruang keluarga
Aaron tampak menghela nafas panjang, sedangkan Zaya masih tertegun tanpa tahu harus bereaksi seperti apa. Pernyataan Albern tadi membuat perasaan pasangan suami istri ini menjadi bercampur aduk. Antara senang tapi juga cemas.
Yang Aaron tahu, untuk seseorang yang sulit jatuh cinta, sekalinya sudah cinta, maka perasaan itu akan sangat dalam, seperti halnya perasaannya pada sang istri. Akan sangat bagus jika Lily juga punya perasaan yang sama terhadap Albern. Tapi bagaimana kalau tidak? Akankah pewaris Brylee Group itu akan berakhir patah hati dan semakin menarik diri dari yang namanya perempuan?
Cukup seram untuk dibayangkan.
"Sepertinya Kak Al sangat menyukai Lily ...." Terdengar Zivanna bergumam, seakan berbicara pada dirinya sendiri.
Aaron dan Zaya menoleh kearah putri mereka itu secara bersamaan.
"Lalu bagaimana dengan Lily? Apa dia juga menyukai Kakakmu sebesar itu?" Tanya Zaya kemudian.
Zivanna tak langsung menjawab.
"Untuk saat ini, sih, iya. Tapi aku tidak tahu nanti." Ujarnya lirih.
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai Paman Evan tahu Lily menjalin hubungan dengan Kak Al. Berencana menikah pula katanya," gumam Zivanna lagi.
Zaya kembali tertegun. Terbayang diingatannya bagaimana Evan yang selalu lembut itu tanpa ragu menunjukkan sikap tak bersahabat jika Albern dan Lily berinteraksi. Lalu kemudian, ingatan yang paling membekas dihati Zaya adalah saat pesta kelahiran Lily dulu. Dimana Evan marah pada Albern yang baru berusia sembilan tahun hanya karena putranya itu mencium pipi Lily yang masih bayi.
Zivanna benar, ini tidak akan mudah bagi Albern.
"Jika Dokter Evan sampai marah karena putrinya berhubungan dengan putraku, maka dia akan berhadapan denganku." Gumam Aaron dengan nada serius.
Eh?
Zaya dan Zivanna menoleh kearah Aaron secara bersamaan.
"A-apa maksudmu?" Tanya Zaya dengan sedikit takut. Suaminya ini tidak sedang mengibarkan bendera perang, kan?
Aaron tak menjawab. Tapi tatapan matanya membuat Zaya menjadi agak merinding.
Dan tampaknya, perang akan segera dimulai.
Bersambung...
Hayo...mulai su'udzon....
Orang dibilangin jangan suka Su'udzon, masih aja bandel😅
Happy reading ❤️❤️❤️
DITUNGGU KARYA SELANJUTNYA🙏