Hanan Arsman, Laki-laki baik yang telah menikahiku, membuatku nyaman dan aman, namun hatiku masih mencintai yang lain.
Seorang pria bernama Izqian Abraham.
Ia cinta pertamaku yang telah membuat sejuta kenangan dalam hidupku.
Butuh waktu bertahun-tahun aku melepaskan semua perasaanku padanya, namun gagal. Padahal aku telah terikat dengan sebuah tali pernikahan.
Aku mencintainya dan nyaman bersamamu. Maaf, aku tak bisa menahan hati dari rasa.
Apakah ini yang disebut Karma? Setelah aku berikrar sumpah janji cinta, ujian pernikahanku pun datang...
Bertahun-tahun, Kami berusaha agar memiliki buah hati. Apakah kami akan memilikinya? Ataukah kekandasan pernikahan yang ku dapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arak-arakan
Keluarga Inti ayah ku, membawaku dan suamiku berjalan mengelilingi kampung dengan iringan musik tradisional daerah ku. Suara gendang dan talempong serta biola dan seruling begitu indah dan unik terdengar, terkadang aku senyum sendiri mendengarnya.
Apalagi saat saluang berbunyi (musik daerah), suara mereka bernyanyi yang di buat-buat jelek, atau memang seperti itu kah teknik menyanyi Ronggeang (Nyanyi tradisional Sumbar)? Belum lagi, pengiring nya yang setiap saat bersorak-sorai tidak jelas.
Tepatnya seperti ini. “Yo, laaaaa, eeeee.... laaaa e maaaaak.” kadang seperti ini. “Ondeh, Maaaaaaak oiiiiiiiii.” kadang juga seperti ini. “O la laaaahh, oooooooo....” Dengan suara yang mendengung panjang.
Hah!!! Pokoknya, aku sendiri mendengarnya tersenyum, apalagi kalau aku praktekan, bisa-bisa aku terkencing dalam celana karena tertawa.
Begitu panjang dan ramai arak-arakan ini, dari yang tua sampai anak-anak. Mereka berdendang ria, dan terkadang anak-anak juga ikut-ikutan bersorak bersama para pengiring musik itu.
Pakaian pengiring musik juga berwarna merah menyala. Ya, baju mereka juga baju tradisional, dengan kepala pria yang memakai penutup kepala, di ikat di atas kepalanya berbentuk segitiga, berwarna merah menyala, dengan beberapa ukiran kuning ke emasan.
Sedangkan perempuan juga memakai baju berwarna merah dengan aksesoris berwarna ke emasan dan di atas kepala mereka seperti tanduk. Ya, di tempat ku disebut dengan baju Bundo kanduang.
Payung berwarna keemasan, terkembang diatas kepalaku dan suamiku.
Dia, pria asing yang menjadi suamiku itu menggenggam erat tanganku, mengiringi langkahku yang pelan dan hati-hati, agar aku tidak terjatuh.
Sepatu tinggi ini sungguh menyiksaku. Betisku rasanya ingin meledak dan kaki ku pun ingin patah rasanya. “Mak Uwo, apakah masih lama?” bisik ku kepada Kakak perempuan Ayah ku yang berdiri disamping ku, memegangi payung untuk ku.
“Dikit lagi, Ros. Kan muterin kampung.” jawab Mak Uwo.
Aku seperti artis dadakan sesaat. Semua orang berdiri di depan pintu masing-masing dan sebagian menyambung barisan di belakang menjadi pengiring arak-arakan. Intip mengintip di sepanjang perjalanan mengelilingi kampung.
“Kuno sekali orang di kampung ku ini!”
Setelah beberapa saat berkeliling, sampailah kami di mesjid Al-Mukmin. Di sana sudah ada yang menunggu dengan Sia besar (Nampan yang sangat besar, biasanya dipakai di acara tertentu, untuk menghidangkan makanan yang banyak, lebih dari 20 piring tersusun di dalam nampan itu)
Ada 7 Sia Besar yang ditutupi dengan kain berwarna warni, Aku mulai masuk ke dalam mesjid bersama suamiku. Satu sia besar di buka, di sana isinya ada rempah-rempah seperti bunga-bunga, jeruk, mangkok, kelapa muda.
Mangkok di isi air, irisan jeruk nipis, kemudian bunga. Lalu, semua diaduk-aduk dan sedikit di remas.
Induak Bako ku bergantian menggeletikkan air kearah wajah ku dan membasuh 10 jari tangan ku, lalu 10 jari kaki ku. Mereka juga melakukan hal yang sama kepada suami ku.
Setelah itu, kami disuruh meminum buah kelapa itu satu berdua.
Selanjutnya Sia Besar kedua, isi nya ada Carano (Wadah tradisional untuk acara penting). Mereka mengambil sirih dalam carano itu, lalu kami harus mengunyahnya.
Dan selanjutnya, beberapa ritual aneh lainnya yang tak perlu ku jelaskan. Aku lelah!!
Setelah melakukan semua ritual itu, Aku dan suami ku di sambut lagi dengan polesan jeruk nipis di kening, kuku tangan serta kuku kaki ku, oleh Tante. Ia juga melakukan hal yang serupa kepada suami ku saat kami melangkah keluar dari mesjid.
Setelah sampai di pekarangan halaman mesjid. Aku telah disuguhi kembali dengan lautan manusia yang berbaris membuka jalan untuk kami. Mulai mengiringi kami kembali pulang dengan arak-arakan panjang serta musik tradisional.
Aku jadi ingat nyanyi nya Boy Sandi yang bararak subaliak kampuang. Tapi, nyanyi itu ending nya sedih. Aku langsung menepiskan semua pikiran jelek ku. Aku tidak ingin berakhir seperti dalam nyanyi itu.
Aku bernafas lega, setelah tenda rumah ku terlihat. Kaki ku sungguh pegal sekali.
Saat sampai, kami langsung duduk di kursi kebesaran kami yang berwarna merah ke emasan itu. Pokoknya, serba merah ke emasan dan mencolok!
Cekrek, Cekrek, lagi dan lagi. Beberapa orang mengambil foto. Bukan hanya jalan tadi, tapi sekarang aku harus kembali dengan tersenyum palsu menghadap kamera.
Suara adzan berkumandang, semua musik di hentikan, dan yang berfoto pun akhirnya juga berhenti. Tepatnya, karena suami ku memilih masuk ke kamar sebentar, untuk melakukan sholat. Jadi mereka merasa tidak lengkap berfoto jika tidak ada mempelai pria nya.
“Alhamdulillah. Lega nya aku.” gumam ku menghembuskan nafas panjang.
Kaki ku benar-benar sakit sekali, karena berjalan mengelilingi kampung menggunakan pakaian yang norak lagi berat, dengan rok nya sepanjang tikar, yang dipegangi beberapa orang, sepatu tinggi, dan bagian kepala sangat lah berat, kepalaku terasa sangat sakit.
Suamiku sih enak, baju nya bisa di buka dan di pakai cepat. Ia juga berbedak tipis, bisa santai dan sholat. Sedangkan aku? Pipis aja susah, minta tolong orang-orang dulu buat pegangin rok dan bukain pintu toilet. Parah banget pokoknya!!!
Mungkin sekarang sudah jam 5 sore, pengunjung sudah sedikit sepi. Musik pun kembali di hidupkan, dengan lagu yang di bawakan oleh artis di atas pentas itu.
Tak lama, suamiku membawa 1 piring nasi penuh serta sendok, dan 2 buah air mineral dalam kemasan gelas.
Ia duduk di sampingku. “Ayo makan dulu, Dek.” ucap nya, lalu mengaduk-aduk nasi dan sambal.
“Buka mulut nya, biar Uda suapi,” katanya, menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauk ke mulut ku.
“Biar aku suap sendiri aja.” jawabku.
“Susah Dek, suntiang di kepalamu itu cukup berat, perhiasan ini juga ribet kalau makan sendiri. Uda suapi aja ya.” jelasnya sedikit memaksa.
Akhirnya aku pun membuka mulut dan menerima makanan yang ia suapi itu.
Aaaaahhh!!! Sudah 3 hari ini, aku menahan emosi. Kehidupan ku yang bebas hilang sudah. Aku mengunyah nasi itu dengan marah dan berdongkol dalam hati.
“Emangnya, aku ini anak-anak, kalau makan harus di suapi?” dongkolku dalam hati.
Setelah Ia menyuapi ku makan, Ia juga menyuap nasi untuk dirinya sendiri. Tepatnya, makan 1 piring dan satu sendok bersama. Sebenarnya, aku sangat malas satu sendok dengan orang lain, apalagi laki-laki yang belum aku kenal.
Apa boleh buat, sekarang pria ini suamiku kan? Jadi, jangan kan sendok, kedepannya akan banyak hal yang akan berbagi dengannya.
“Huuuuuufth!!”Aku menghela nafas panjang.
“Kenapa Dek? Apa makanannya pedas?” tanya pria asing yang berstatus suami ini pada ku.
Aku tidak menyangka, Dia akan mendengar jelas aku menghela nafas. “Atau... Sejak tadi, Ia memperhatikan ku?”
pada saat aku menikah, sudah tidak ada Abak disampingku, sanak..., hiks hiks 😰😰😰
mingkem ngomong Minang nyo apo yo sanak, hehehe 🤭🤭
ondee mande... dunia saleba telapak tangan, he-he-he 😆
singgah di sini kitah ❤️
Al-fatihah untuk Amak dan Abak
kampuang nan jauah di mato
salken author 👍🙏