Bulan gadis 18 tahun terpaksa menikah dengan Bharata, majikan ibunya karena dijebak.
Karena tidak ingin ibunya dipenjara, Bulan terpaksa menjadi istri ke 3 Bharata yang sudah berusia 39 tahun.
Tetapi setelah menikah, Bharata justru kecewa karena dibalik wajah innocent Bulan, dia menyimpan rahasia besar.
Bulan ternyata adalah sugar baby sahabatnya sendiri yang bernama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPINDAHAN BIANCA
Satria mengenderai mobil mewahnya ditengah malam hujan lebat. Hujan yang sangat lebat ditambah gelapnya malam membuatnya tak bisa memacu mobilnya dengan cepat.
Samar samar Satria melihat seorang gadis berdiri dipinggir jalan. Dia memperlambat laju mobilnya.
"Moon." Betapa terkejutnya dia saat melihat gadis itu ternyata adalah Bulan.
Satria menghentikan mobilnya. Dia melepas jasnya untuk digunakan sebagai payung.
"Moon, kenapa kau hujan hujanan disini?"
Bulan menatap Satria, tapi dia hanya diam tanpa sepatah katapun.
Satria segera membawa masuk Bulan ke dalam mobil. Dia melihat tubuh Bulan yang menggigil kedinginan. Mukanya sangat pucat, bibirnya bahkan sudah terlihat biru.
"Kau kenapa Moon?" Satria memegang kedua tangan Bulan lalu menggosok gosoknya.
"Kenapa kau hujan hujanan malam malam?"
Bulan hanya diam, air matanya mulai menetes. Setelah itu, Bulan menutup matanya dan kehilangan kesadarannya.
"Moon, Moon, bangun Moon."
Satria terus memanggil nama Moon hingga dia terbangun.
"Astaga aku cuma mimpi. Kenapa rasanya begitu nyata. Apa terjadi sesuatu pada Moonku? Semoga kau baik baik saja dimanapun kau berada Moon. Aku sangat merindukanmu."
Satria berada diapartemennya di Singapura. Sudah hampir sebulan dia disini. Putra bungsunya yang bernama Arjuna divonis mengidap leukemia.
Satria dan mantan istrinya yang bernama Isabella serta Tiara, menjalani serangkaian pemeriksaan disini. Dokter melakukan pemeriksaan kepada mereka bertiga untuk dicari siapa yang cocok menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Arjuna.
...*********...
"Bagaimana keadaannya Ric?" tanya Bhara kepada Ricko yang merupakan dokter pribadinya.
"Dia mengalami hipotermia. Tapi pertongan pertama yang kau berikan sudah tepat. Sebentar lagi mungkin dia akan sadar. Berikan dia minuman hangat setelah sadar nanti." jawab Ricko.
"Baiklah."
"Dia siapa Bhar?" tanya Ricko penuh penasaran.
"Istri ke tiga ku."
Ricko mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Bhara. Dia tak ingin banyak bertanya kenapa gadis itu sampai mengalami hipotermia. Yang mengganjal di pikiran Ricko hanya satu. Saat memeriksa Bulan, dia mendengar Bulan meracau menyebut nama Om Satria. Bhara tidak mendengar karena dia duduk disofa yang jaraknya agar jauh.
"Ternyata kau sudah menikah lagi." Ricko menggeleng gelengkan kepalanya. "Aku saja istri satu tak habis habis."
"Sudahlah, jika sudah selesai lebih baik kau pulang."
"Baiklah, lagi pula aku juga tidak ingin berlama lama disini. Lebih baik aku pulang dan tidur bersama istriku."
Ricko segera mengemasi peralatannya dan pulang. Berdebat dengan Bhara hanya akan membuatnya lelah.
Bhara menyuruh Fatma menjaga Bulan dan menyiapkan minuman hangat. Sedang dia langsung kembali ke kamarnya.
Tak lama kemudian Bulan tersadar. Dia kebingungan melihat sekitar. Yang dia ingat tadi dia berada dikolam.
"Kau sudah siuman, minumlah dulu biar badanmu hangat." Fatma memberikan wedang jahe hangat untuk Bulan.
"Bulan ada dimana Bu?" tanya Bulan yang masih bingung.
"Dikamar tamu. Tadi kau pingsan di kolam."
"Siapa yang membawaku kesini, apa para bodyguard tadi?"
"Bukan, Tuan Bhara yang membawamu kesini."
Tiba tiba Bulan teringat Aryo. "Bagaimana keadaan Aryo Bu, apa dia baik baik saja?" Bulan nampak sangat khawatir.
"Keadannya sangat memprihatinkan. Tapi tadi ibu sempat mengobati lukanya dan memberinya makan. Dia dikurung digudang sekarang."
"Aku ingin melihatnya Bu."
"Lebih baik jangan, Tuan Bhara akan makin murka jika kau menemui Aryo. Apa yang sebenarnya terjadi Bulan?"
"Aku juga tidak tahu Bu. Tiba tiba saja Tuan Bhara mengamuk dan menuduhku macam macam dengan Aryo. Aku merasa bersalah pada Aryo Bu, dia seperti ini gara gara aku. Aryo akan kehilangan pekerjaan gara gara aku Bu." Bulan menangis terisak dipelukan Bu Fatma.
"Sudahlah jangan menagis. Jika situasinya sudah tenang, lebih baik kau jelaskan semuanya pada Tuan Bhara. Jangan biarkan dirimu disalahkan atas sesuatu yang tak kau lakukan. Sekarang tidurlah, kau masih lemah."
"Baik Bu, terimakasih karena Ibu menyayangi Bulan."
Bu Fatma memeluk gadis itu. Air matanya menetes, dia merasa kasihan melihat Bulan yang selalu mendapat perlakuan buruk dari Bhara.
*
Pagi itu semua sangat sibuk. Para pelayan menyiapkan sarapan untuk Bhara dan Bianca. Sedang pelayan laki laki dan pengawal sibuk memindahkan barang barang.
"Ada apa ini?" tanya Bulan pada Bu Fatma yang sedang memasak. Dia melihat rumah yang kacau balau karena banyak barang yang dibawa masuk.
"Nyonya Bianca akan pindah ke rumah ini." jawab Bu Fatma.
"Apa!" Bulan terperangah mendengar penjelasan Fatma. "Tidak, tidak bisa seperti ini, aku tak mau tinggal serumah dengan siluman ular itu." Bulan bergegas mencari Bhara. Dia ingin protes, dia tak mau tinggal bersama Bia. Bulan sangat yakin hanya akan terus dibully jika tinggal bersama Bia.
Brak Brak brak
Bulan menggedor pintu kamar Bhara dengan kasar.
Bukan Bhara yang keluar, melainkan Bia.
"Apa kau tidak punya sopan santun. Apa tidak bisa mengetuk dengan pelan?" bentak Bia.
"Aku ingin bicara dengan Tuan Bhara."
"Dia masih tidur, jangan ganggu dia."
Bulan tak mempedulikan Bia, dia mendorong tubuh Bia yang berdiri di pintu agar dia bisa masuk.
Bulan melihat Bhara yang masih tidur dengan hanya memakai boxer.
"Pria ini benar benar iblis. Bisa bisanya dia tidur dengan nyaman bersama Bia sedangkan aku hampir mati tadi malam." batin Bulan.
Bugh
Bulan melempar bantal ke wajah Bhara. Dia sudah tidak takut lagi. Baginya Bhara sudah sangat keterlaluan memperlakukannya tadi malam. Bulan juga akan dengan senang hati menerima jika Bhara menceraikannya.
"Kau, berani beraninya kau melempar bantal ke wajahku." teriak Bhara.
Bia tersenyum melihat drama pagi ini. Baginya ini tontonan yang luar biasa.
"Aku tidak ingin tinggal bersama wanita itu." Bulan menuju ke arah Bia. "Jika dia tinggal disini, lebih baik aku keluar dari rumah ini."
"Kau tidak ada hak mengatur siapa yang boleh atau tidak tinggal dirumahku. Kau hanya pembantu disini. Dan Bia akan menjadi Nyonya dirumah ini."
"Kalau begitu ceraikan aku, aku akan segera keluar dari rumah ini." Bulan sudah benar benar tak tahan menjadi istri Bhara.
"Tidak semudah itu. Kau sudah melakukan pengkhianatan besar. Aku akan menghukummu untuk itu. Aku akan membuat hidupmu seperti dineraka."
Bia benar benar merasa puas. Akhirnya dia menjadi nyonya dirumah mewah ini.
"Keluar dari kamarku." bentak Bhara.
Bulan benar benar frustasi. Ingin rasanya dia kabur dari sini. Tapi dia tak yakin hal itu bisa dia lakukan.
"Benar sekali yang kau katakan, rumah mewah ini bagai neraka bagiku." batin Bulan.
Bulan berjalan kekamar tamu lalu mengunci diri disana.
Bu Fatma beberapa kali mengetuk kamar tamu. Tapi Bulan pura pura tak mendengarnya.
"Bulan, Tuan Bhara memanggilmu."
Bulan menutup telinganya, dia tak ingin mendengar apapun saat ini. Dia lelah dengan hidupnya yang mengenaskan.