Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Kesembilan
Ditengah kebingungan Dio mencari kendaraan yang akan membawa Laras, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya dan menyerahkan sebuah kunci.
"Apa ini?" tanya Dio.
"Ini mobil milik dia. Kamu mau membawanya pulang, 'kan?" tanya wanita itu yang ditaksir sebaya Laras.
"Iya," jawab Dio.
"Kamu bisa menyetir, 'kan?" tanya wanita itu lagi.
Dio mengangguk mengiyakan.
"Pakai saja mobilnya!"
Dio sejenak berpikir.
"Sudah pakai saja!" desak wanita itu.
Dio pun mengambil kunci mobil milik Laras.
Wanita tersebut lalu menunjuk ke arah mobil berwarna hitam yang jarak parkirnya hanya 100 meter dari Dio dan Laras berdiri.
"Terima kasih!" ucap Dio setelah mengetahui mobil miliknya Laras.
Berjalan dengan pelan, Dio membuka pintu mobil dan memasukkan Laras ke bagian depan tak lupa memasangkan sabuk pengaman.
Mobil pun melesat ke rumahnya Laras. Sesampainya, Dio mencoba mencari keberadaan penjaga rumah yang biasanya berjaga di depan pagar. "Kenapa sepi? Di mana mereka?"
Dio lagi-lagi dibuat kebingungan.
Dio kembali ke mobil setelah membuka gerbang. Ia tak segera menurunkan Laras melainkan berlari kecil ke arah pintu utama. Ia menekan bel dan seorang wanita paruh baya membukanya.
"Bawa masuk ke kamar saja, Tuan!"
"Di mana orang tuanya?" tanya Dio sembari celingak-celinguk.
"Tuan dan Nyonya Besar lagi ke luar negeri," jawabnya.
"Hmm, kalau begitu pelayan wanita saja!" kata Dio karena dia tak mau mengantarkan Laras sampai ke kamar.
"Cuma ada saya di rumah ini, Tuan."
"Apa??" Dio cukup terkejut. Di rumah hampir sebesar lapangan bola hanya ada 1 orang pelayan saja yang menginap.
"Mereka pada libur," wanita paruh baya itu beralasan.
"Kalau begitu Bibi saja yang bawa dia ke kamar!" kata Dio.
"Saya tidak kuat merangkul nona."
Dio kembali terdiam.
"Ya sudah, biar saya saja yang membawanya ke kamar!" Dio berlari ke arah mobil dan mengeluarkan Laras lalu menggendongnya dan membawanya menuju kamar wanita itu yang berada dilantai atas.
Pintu kamar terbuka dibantu pelayan tua, Dio masuk dan merebahkan tubuh Laras di ranjang. Ia lalu buru-buru keluar keluar, meletakkan Laras begitu saja tanpa memakaikannya selimut atau membuka sepatunya.
Bugh....
***
Dio mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari menembus jendela kamar. Seketika ia terbangun dan melihat ke samping kanannya dan tubuhnya tak menggunakan baju.
"Apa yang aku lakukan?" Dio tampak panik.
Pintu kamar terbuka, orang tuanya Laras muncul dengan wajah serius. Membuat Dio semakin bingung dan ketakutan.
"Kenapa kamu ada dikamar Laras, hah??" tanya Karin dengan nada tinggi.
Dio turun dari ranjang dengan bertelanjang dada, "Aku juga tidak tahu, Tante."
"Bagaimana mungkin tidak tahu? Kamu yang ada sini?" Johan juga tampak marah.
"Aku benar-benar tidak tahu, Om. Kami juga tidak melakukan apa-apa!" Dio terus menyangkal tuduhan kedua orang tuanya Laras.
"Kamu harus menikahinya!" kata Johan dengan lantang.
"Apa? Menikah?" Dio sangat terkejut.
"Ya, karena kamu sudah berani meniduri anak kami!" sahut Karin.
"Ini pasti fitnah. Kami tidak melakukan apapun!" Dio membantah tuduhan.
"Bukti sangat jelas. Kamu berada di kamar Laras!" kata Johan.
"Kamu dan kedua orang tuamu malam ini harus ke sini dan melamar anak kami!" sahut Karin lagi.
Dio tak dapat menyangkal lagi. Ia kembali ke rumah dengan perasaan berkecamuk. Harus menikahi Laras dan meninggalkan wanita yang dicintainya.
Dio lalu menceritakan apa yang menimpa dirinya kepada kedua orang tuanya. Tentunya mereka juga terkejut mendengarnya.
"Kamu 'kan Ayah minta hanya menjemputnya dan mengantarkannya pulang. Bukan malah mengambil kesempatan tidur dengannya!" tuding Derry.
"Aku tidak mengambil kesempatan, Yah. Aku juga tak tahu siapa yang memukul aku dari belakang," kata Dio menjelaskan.
"Daripada mereka lapor polisi, kamu nikahi saja anaknya!" sahut Maya.
"Benar itu, Kak. Lebih baik kalian menikah!" Diana malah mendukung ibunya.
"Bagaimana dengan Sindy?" tanya Dio.
"Biarkan saja dia," jawab Maya.
"Aku sangat mencintai Sindy, Bu!" ucap Dio.
"Halah, biarkan saja!" kata Maya.
"Bagaimana jika itu terjadi kepada Diana, dia ditinggal kekasihnya buat menikahi wanita lain?" tanya Dio meminta pendapat ibunya.
"Anggap saja bukan jodoh dan bisa cari yang lain. Kami tak menyukai Sindy karena dia terlalu matre!" jawab Maya.
-
Sore harinya, Dio keluar dari rumahnya berencana ingin bertemu dengan Sindy dan mengatakan yang sebenarnya.
Belum sampai di kos-kosannya Sindy, pandangan mata Dio tak sengaja melihat kekasihnya itu masuk ke sebuah restoran kecil bersama seorang pria. Dio pun mendadak menghentikan laju kendaraannya.
Dio lalu memutar balik dan menuju restoran yang berada di seberang jalan. Memarkirkan motornya dan masuk ke restoran. Mengedarkan pandangannya mencari Sindy. Tak sampai 1 menit, ia menemukan Sindy duduk bersebelahan dengan pria lain sembari merangkul lengan.
Dio tak segera menghampirinya, ia memilih duduk dibelakang pasangan itu. Ketika seorang pelayan restoran menghampirinya ia memesan minuman tanpa suara hanya dengan menunjukkan foto di buku menu.
"Terima kasih, ya, kamu sudah membelikan aku tas baru!" ucap Sindy kepada selingkuhannya.
"Memangnya dia tidak pernah membelikanmu tas atau barangnya yang lain?" tanya sang pria.
"Traktir makan saja cuma mie ayam, soto ayam, kadang ayam bakar saja. Boro-boro mau belikan aku tas atau baju," jawab Sindy berdusta.
Mendengar jawaban itu membuat Dio mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa kamu masih bertahan dengannya?" tanya sang pria lagi.
"Cuma dia yang bisa ku harapkan dan aku andalkan kalau kamu tidak ada di kota ini," jawab Sindy.
"Benar juga, ya, nanti siapa lagi yang akan membantu urusanmu kalau aku tak di sini."
"Makanya aku mempertahankan dia!"
"Ya sudahlah, yang penting kamu jangan terlalu pakai hati dekat-dekat dengannya."
"Iya, kamu tenang saja. Hati dan tubuhku ini hanya untukmu!" Sindy memandang wajah kekasihnya.
Minuman yang dipesan Dio telah tersaji di meja, secara cepat ia meminumnya hingga kandas. Dadanya terasa panas mendengar semua pembicaraan wanita yang selalu dibelanya di depan keluarganya ternyata adalah seorang pengkhianat dan pendusta.
Selepas meneguk es teh manis, Dio berjalan ke meja kasir dan membayar tagihan belanjanya. Ia lalu meninggalkan restoran tanpa menghampiri ataupun melabrak kekasihnya.
Mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, Dio kembali ke rumah. Begitu sampai, Maya dan Diana yang sedang menikmati waktu sore di teras rumah menoleh ke arahnya yang sedang memarkirkan motornya.
"Sudah bicara dengannya?" tanya Maya.
"Apa yang dia katakan, Kak?" Diana juga ikut bertanya.
Dio tak segera menjawab, ia duduk di kursi menghadap ibu dan adiknya dengan wajah datar.
"Pasti mereka habis menangis berjamaah!" sindir Maya sembari melirik Dio.
"Namanya juga diputuskan secara mendadak, Bu!" kata Diana.
"Kapan kita datang dan melamar Laras, Bu?"