NovelToon NovelToon
Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Selamat datang kembali, Pembaca Setia!

Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.

Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.

Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTURAN DUA PREDATOR

Devan mencoba menelepon kembali, namun hanya suara operator yang menyambutnya dengan nada datar yang menjengkelkan. Panggilan telah diblokir. Ia mengepalkan tangan begitu keras hingga urat-urat di lengannya menonjol seperti akar pohon yang membelit. Amarahnya mencapai titik didih; ego yang selama ini ia agungkan terasa diinjak-injak oleh suara Mavin di ponsel istrinya.

Ia tidak butuh waktu lama untuk menggerakkan informannya. Dalam hitungan menit, sinyal ponsel itu terlacak ke sebuah rumah sakit swasta eksklusif di pinggiran Nordigo. Devan memacu mobilnya membelah malam seperti kesetanan.

Bugh!

Satu pukulan mentah mendarat telak di wajah Mavin yang baru saja keluar dari ruang administrasi setelah menyelesaikan seluruh deposito perawatan Scarlett. Bau amis darah seketika memenuhi rongga mulut Mavin. Ia terhuyung, kepalanya tersentak ke samping, namun ia tetap berdiri tegak dengan sisa kekuatannya.

Mavin menyeka darah di sudut bibirnya dengan ibu jari, gerakannya sangat tenang hingga terasa menghina. Ia menatap Devan dengan tatapan sedingin es. Hawa dingin malam Nordigo masih melekat kuat pada mantel panjang Devan, menandakan pria itu baru saja menerjang badai—baik badai cuaca maupun badai emosi—demi sampai ke sini.

Mavin melirik jam di dinding. Baru sepuluh menit sejak ia memutus telepon. Luar biasa cepat. Devan benar-benar seperti predator yang mencium bau mangsanya sedang disentuh pihak lain.

"Apa yang kamu lakukan padanya?!" raung Devan, suaranya menggelegar di lorong VIP rumah sakit yang biasanya sunyi. "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit? Jika aku tahu kamu menyentuh orangku, aku bersumpah akan membuat hidupmu lebih buruk dari kematian!"

Mavin terkekeh pelan, tawa yang pendek dan penuh penghinaan yang menusuk. "Orangmu? Pak Devan, kamu yakin masih punya hak untuk menyebutnya begitu setelah apa yang kamu biarkan terjadi padanya?"

"Jangan main-main denganku, Mavin!" Tatapan Devan semakin tajam, aura membunuh terpancar kuat dari tubuhnya yang tegang. Ia tahu Mavin bukan lawan yang mudah, namun obsesinya untuk memiliki kendali atas Scarlett membutakannya.

Mavin menangkap kemarahan itu, namun ia tidak gentar sedikit pun. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa inci.

"Kamu mungkin belum tahu tentang kondisi tubuh Scarlett yang sebenarnya, bukan? Kamu terlalu sibuk menjadi pahlawan bagi wanita lain, terlalu sibuk memuja 'genius' palsu milik Vivian, sampai lupa bahwa istrimu sendiri sedang sekarat di dalam akibat luka lama yang kamu ciptakan."

Dulu, saat Mavin kembali dari luar negeri, ia sempat ragu apakah api cinta Scarlett pada Devan benar-benar sudah padam. Namun kini, melihat kehancuran fisik Scarlett yang terabaikan, ia sadar bahwa cinta itu tidak hanya padam, tapi telah menjadi abu yang menyesakkan. Lima tahun lalu, mata Scarlett terang seperti bulan purnama. Sekarang? Matanya hampa dan penuh luka, seperti lautan mati.

"Dia kenapa?!" Devan mendesak, suaranya sedikit bergetar. Ia selangkah maju dan mencengkeram kerah mantel Mavin dengan kasar.

Mavin menatapnya dengan tatapan mencela yang seolah menelanjangi semua dosa Devan. "Pak Devan, bukankah sangat menyedihkan jika seorang suami harus mencari tahu kondisi kesehatan istrinya sendiri melalui mulut pria lain di lorong rumah sakit?"

Kata-kata itu menghantam Devan tepat di ulu hati. Ia ingin membalas, namun lidahnya mendadak kelu. Ia teringat bagaimana selama ini ia selalu menutup telinga setiap kali Scarlett ingin bicara, membuang muka saat Scarlett tampak pucat dengan alasan itu hanya taktik mencari perhatian. Dua tahun terakhir, ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia menyentuh Scarlett tanpa rasa benci.

Devan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, mendorong Mavin menjauh. Ia merapikan jasnya, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa martabatnya yang runtuh. "Istriku bukan urusanmu. Jauhi dia. Jika tidak, aku tidak keberatan menghapus nama UME dari peta bisnis Nordigo malam ini juga."

Setelah peringatan dingin itu, Devan berbalik dengan angkuh, bersiap menuju ruang rawat Scarlett.

"Tunggu," panggil Mavin dengan nada datar.

Devan berhenti, mengira Mavin akan memohon atau memberikan penjelasan tambahan untuk menyelamatkan perusahaannya. Namun, sebelum ia sempat menoleh sepenuhnya, sebuah tinju yang jauh lebih bertenaga dari miliknya menghantam rahang Devan.

BAM!

Pukulan itu begitu mendadak dan presisi. Devan terhuyung mundur dua langkah, darah mulai menetes dari bibirnya yang pecah.

"Itu pembalasan untuk semua rasa sakit yang kamu berikan padanya selama lima tahun ini," ucap Mavin dengan senyum tipis yang mematikan. "Satu nasihat terakhir untukmu, Pak Devan: Jika kamu tidak sanggup menghargainya, lepaskan dia sekarang. Masih ada banyak orang di dunia ini yang mengantre hanya untuk melindunginya, dan aku berada di barisan paling depan."

Mavin berbalik pergi dengan langkah tenang dan punggung tegak, meninggalkan Devan yang berdiri terpaku. Rahang Devan mengeras, rasa panas menjalar di wajahnya—rasa panas yang bukan hanya berasal dari luka pukulan, tapi juga dari rasa malu dan kecemburuan yang membakar jiwanya hingga ke dasar.

1
Sweet Girl
Klo kalian saling mendukung, Khan keren ya...
Sweet Girl
Telat...
Sweet Girl
Menyayat hati.
Sweet Girl
Hhaaaa Gantle kali kau Mavin...👍
Sweet Girl
Sak bahagiane persepsi mu terhadap Aulia, Van...
Sweet Girl
Semoga kamu bisa menyelesaikan semua proyek mu dan bisa operasi, Aulia.
Sweet Girl
Bwahahaha kapok Lu.... ngerasa Ndak kamu...
Sweet Girl
Mantap...👍
Sweet Girl
Sengkuni mulai beraksi.
Sweet Girl
Harus menyadari lho Tor...
Sweet Girl
Enak aja Hak Melati di klaim Aulia.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
Sweet Girl
Bwahahaha tau Ndak pintunya... klo Ndak tau tak anter... tak gandeng sampai pintu.
Sweet Girl
Tor... bikin mereka yg akan menghancurkan Aulia, gagal semua ya...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
Sweet Girl
Jangan percaya sama mereka Aulia, kamu harus tetep pantau tuuu pergerakan Jin iprit sama Henry.
Sweet Girl
Oooaaalah baru mudeng ini si Jin iprit Khan adik tiri nya Aulia ya...
weeeesss angel... angel...
Sweet Girl
Semoga kopinya ada Sianidanya🤣
Sweet Girl
Yo mbok wes toh Tor... penderitaannya Aulia...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Sweet Girl
semangat aja dalam memperbaiki SDM, Aulia.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
Sweet Girl
Buruk Hatinya.
Sweet Girl
Bagaimana ceritanya Tor... kok Violetta sampai Ndak tau klo Pamela habis minum obat perangsang.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!