Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELAMAR RANIYA
Haruskah aku bahagia dengan keputusan Raniya menerima tawaranku? Bukankah aku sendiri menyadari bahwa dia melakukan itu hanya demi anak-anak? Tidak lebih. Dia bahkan begitu mencintai almarhum suaminya. Dia sama sekali tidak memandangku sebagai sosok lelaki yang menunggu dirinya lebih lama.
Ya Allah... Apa ini bagian dari cara dan rencana-Mu menyatukan aku dengan perempuan yang selama ini selalu aku minta dari-Mu? Kalau iya... Tunjukkan jalan-Mu ya Allah... Aku akan sabar menunggu sampai waktunya tiba, untuk hati kami saling menyatu.
Taufiq termangu. Pandangannya kosong ke luar jendela kaca kamarnya. Dia bimbang saat itu. Pikirannya kembali ke suasana beberapa jam yang lalu.
*****
"Demi mereka, aku mau, Fiq..." Jawab Raniya pelan.
Tanpa disadari Taufiq, air mata Raniya mengucur deras di pipinya. Suaranya terdengar serak, tapi lagi-lagi Taufiq tidak menyadari bahwa itu karena ulahnya sendiri. Permintaannya terlalu kejam bagi Raniya. Raniya hanya merasa dimanfaatkan oleh Taufiq.
Demi kepentingan pribadinya. Demi ke tiga anaknya, dan demi pekerjaannya.
Ya... Ok, baiklah... Hanya demi mereka aku mau jadi orang bodoh lagi, Fiq. Hanya demi mereka... Hanya demi mereka... Tapi bodohnya aku, aku tidak bisa menolakmu... Aku masih berharap bahwa kamu adalah jodohku, Fiq...
"Buka pintunya, Fiq... Bicaralah dengan ayahku, dan lamarlah aku..." Ucap Raniya tegas. Sesak di dalam dadanya, ditahannya sebisa mungkin.
"Eh? Se-secepat itu?" Taufiq tergagap. Dia gugup dan canggung, padahal itu adalah permintaannya sendiri.
"Kenapa? Bukankah ini semua demi anak-anak? Atau kamu akan menunggu sampai kamu bisa move on dari Renima, istrimu?" Tanya Raniya sedikit keras. Emosional dalam dirinya tak tertahankan lagi. Dia marah jika mengingat itu, jika tentang ibu dari anak-anak Taufiq.
"Bu-bukan begitu, Raniya... Ini sudah malam. Aku takut mengejutkan ayahmu..." Bantah Taufiq cepat.
"Aku tidak tahu besok masih ada kesempatan atau tidak, Fiq..." Ucap Raniya melunak. Lunak dalam artian mengancam batin Taufiq yang sebenarnya. Raniya memegangi gagang pintu mobil mengisyaratkan agar Taufiq segera membukanya.
Pintu terbuka. Raniya keluar dengan terburu-buru tanpa menoleh dan terus berlalu ke dalam rumahnya.
Belum lama Raniya masuk dan sedikit menyapa ayahnya, terdengar suara Taufiq mengucap salam dari luar.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah..." Sahut Ayah Raniya sembari melongok ke ambang pintu. "Loh... Nak Taufiq?"
"Selamat Malam, Om..." Sapa Taufiq tampak malu dan gugup.
"Malam, Nak... Ayo masuk..." Ajak Aziz segera mendekati Taufiq dan menyambutnya untuk masuk ke dalam.
"Terima kasih, Om..." Sahut Taufiq. Dia menurut dan mengikuti langkah ayah Raniya ke kursi tamu di ruang itu.
Dia? Dia mau ngapain? Apa dia benar-benar berani melamarku kepada ayah malam ini juga?~ Batin Raniya. Raniya berubah gugup. Di tampak tidak percaya dengan keberanian Taufiq untuk menemui ayahnya sesegera itu.
"Raniya..." Seru Aziz membuyarkan rasa ketidakpercayaannya saat itu.
"I-iya, Ayah..." Sahut Raniya gugup.
"Buatkan tamu kita minum, Nak..." Perintah Aziz dengan lembut.
"Ba-baik, Ayah..." Raniya menurut. Dia segera ke dapur untuk membuatkan minum.
"Jadi Raniya diantar oleh Nak Taufiq, barusan?" Tanya Aziz berbasa-basi untuk memulai percakapan di antara mereka.
"Benar, Om..."
"Terima kasih, Nak..."
"Tidak, Om... Seharusnya saya yang berterima kasih, Om. Om sudah mengizinkan Raniya ke rumah. Anak-anak sangat senang dengan Raniya..." Ucap Taufiq malu-malu.
"Owh... Tidak begitu, Nak... Raniya memang butuh teman yang bisa mengerti dirinya saat ini. Jika membandingkan keadaannya dengan beberapa waktu lalu sebelum pertemuan kalian, banyak orang-orang memberi saran agar Raniya dibawa pskiater. Tapi Alhamdulillah... Semua Allah yang sudah mengaturnya. Raniya jauh lebih baik sekarang." Tutur Aziz terlihat mengenang dan bersyukur.
"Iya, Om... Saya mengerti... Dan pertemuan ini juga berdampak baik untuk saya. Anak-anak jauh juga lebih baik semenjak bertemu Raniya. Mereka terlihat melupakan kesedihan mereka dengan adanya Raniya." Imbuh Taufiq.
Aziz mangut-mangut.
"Sebenarnya... Tujuan saya menemui Om, Saya ingin melamar Raniya..."
PRANKKK...
"Astaghfirullah..." Ucap Aziz dan Taufiq secara bersamaan. Mereka bangkit dan mengejar posisi Raniya yang berdiri di sekeliling serpihan kaca.
"Sayang... Kamu tidak apa-apa, Nak?" Pekik Aziz cemas.
Raniya tidak menyahut. Dia sedikit menggigil menatap beling yang berserkan di sekitarnya saat itu.
Taufiq begitu cemas. Dia segera menyapu pandangannya dan menemukan sapu di sudut ruangan itu.
"Kamu jangan bergerak ya... Aku akan membersihkan pecahan kaca ini dulu." Ucap Taufiq.
Raniya mengangguk. Matanya dengan sayu menatap tajam wajah Taufiq.
Ternyata kamu benar-benar berani, Fiq... Seberapa banyak lagi kamu akan menyakitiku tanpa sadarmu nantinya? Dengan menikahiku, kamu sama saja melukai aku dengan sangat, Fiq...
Air mata Raniya kembali menetes.
"Raniya? Kamu kenapa menangis, Sayang?" Tanya Aziz semakin cemas. Taufiq ikut menoleh, memastikan jika Raniya benar-benar menangis saat itu. "Apa kamu terluka?" Tanya Aziz lagi.
Raniya tidak menjawab. Dia masih bergeming menatap Taufiq dengan dalam.
"Ya Allah... Kaki kamu merah, Nak... Ini pasti karena air panas ya? Apa sakit?" Aziz semakin cemas dan mengelap kaki Raniya dengan slayer miliknya.
Melihat itu, Taufiq segera menggendong Raniya dan membawanya ke sofa.
"Maaf, Om..." Ucap Taufiq sungkan.
Aziz mengangguk kecil.
"Kok bisa begini, Nak?"
"Maaf, Yah... Tadi airnya sedikit tumpah mengenai tangan Raniya. Jadi, nampannya terjatuh..." Ucap Raniya berbohong.
"Terus... Bagaimana dengan kakimu?" Tanya Aziz lagi.
"Sudah tidak apa, Yah." Jawab Raniya. "Raniya ke belakang lagi ya, Yah... Mau membuatkan minuman lagi."
"Biar Ayah saja..." Ucap Aziz menahan Raniya.
"Tidak perlu repot-repot, Om. Saya juga harus pulang. Kasihan anak-anak di rumah." Cegat Taufiq cepat.
"Tapi, Nak..."
"Tidak apa, Om... Saya hanya butuh jawaban dari Om perihal maksud saya tadi..." Ujar Taufiq mengembalikan Topiq pembicaraan mereka yang sempat terputus.
"Oh... Sebenarnya Om setuju saja, Nak Taufiq... Tapi semua keputusan ada pada Raniya. Dia yang akan menjalaninya nanti." Tutur Aziz seraya menoleh ke arah putrinya.
Taufiq juga ikut menoleh. Dia berharap mendapat jawaban yang menyenangkan dari Raniya saat itu.
Lama mereka terdiam.
"Bagaimana, Sayang? Kamu bersedia menerima lamaran Nak Taufiq?" Tanya Aziz terdengar mendesak.
Raniya mengangguk. "Raniya bersedia, Ayah..."
Taufiq bernafas lega.
"Tapi ada syaratnya..." Sambung Raniya yang membuat wajah Taufiq kembali menegang.
"Taufiq harus melamar Raniya ke Papa dan Mama..." Ucap Raniya menyambung perkataannya.
"Papa dan Mama?" Dahi Taufiq mengkerut.
"Maksud Raniya, orang tua almarhum suaminya, Nak..." Ucap Aziz menjawab kebingungan Taufiq.
"Owh... Baiklah... Saya akan melakukannya..." Sahut Taufiq cepat.
"Ya sudah... Besok, Ayah akan mengantar kamu dan Nak Taufiq ke sana ya..." Ujar Aziz. "Bagaimana, Nak Taufiq? Nak Taufiq bisa?"
"Insya Allah, Om..." Angguk Taufiq.
.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍