Kehidupan seorang pengacara tampan yang sukses dan termuda begitu banyaknya rintangan untuk menghadirkan buah hatinya. Setelah sang istri mengalami keguguran dan hampir meninggal, membuat pria itu trauma untuk memiliki anak lagi.
Dan setelah banyaknya rintangan yang kedua pasangan itu lewati akhirnya Tuhan memberikan buah hati yang tidak terduga. Keluarga Syein begitu lengkap dengan hadirnya penerus keluarga Syein Biglous yang kembar tiga.
Bagaimanakah nasib Jeerewat ketika ia melewati masa-masa kehamilan yang di kelilingi dengan keluarga yang sangat posesif padanya ?
Apakah kehidupan mereka akan tetap bahagia kedepannya atau sebaliknya, silahkan simak cerita ini yah.
Cerita ini adalah lanjutan dari cerita "Istri Seksi Milik Pengacara Tampan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Yang Memenangi Kekuasaan
"Yasudah aku jadi harus bagaimana sekarang? bagaimana kalau aku tidak berangkat subuh lalu kau akan muntah-muntah lagi seperti kemarin?" tanya Jac pada istrinya yang menangis dalam pelukannya.
Sejak kapan suster Syanin kehilangan gengsinya hanya mereka yang tahu tanpa bisa menyadari. Jac merasa pusing sekaligus senang mendapat perlakuan seperti itu.
"Kau pintar sekali, Nak. Bisa saja mendekatkan Papahmu ini dengan Ibumu." gumam Jac tertawa dalam hati.
"Apa kau boleh tidak bekerja dulu hari ini?" tanya suster Syanin yang semakin melunjak.
Jac menatap seketika istrinya. "Bagaimana bisa kau meminta hal seperti itu padaku? Aku tidak enak dengan Tuan jika berdiam diri di rumah." ucap Jac yang membuat suster Syanin tampak menekuk wajahnya sedih.
"Tidak apa-apa, Jac. Kasihan anakmu turuti saja permintaan suster Syanin." Suara Tuan Reindra yang mengejutkan dari depan kamar mereka.
Entah sejak kapan Tuan Reindra dan Nyonya Syein datang di tempat mereka. "T-tuan." Suara Jac terkejut.
Tuan Reindra dan Nyonya Syein tersenyum pada Jac dan suster Syanin. Mereka tentu mengerti apa yang di rasakan wanita hamil. Sungguh hal yang membuat hatinya begitu sakit jika salah satu keinginan mereka tidak di penuhi.
Suster Syanin yang merasa begitu senang mendengar suaminya mendapat ijin tanpa malu berloncat-loncat memeluk tubuh Jac. Jac yang malu dengan dua orang di hadapannya hanya tersenyum menunduk seakan meminta maaf atas tingkah istrinya.
Pagi itu Alfy yang merasa sangat panjang tidurnya sejak malam kesulitan membuka matanya ketika Jee menepuk-nepuk pelan wajahnya.
"Anakku." Suara Alfy terkejut dan seketika terbangun dari tidurnya.
"Ada apa?" tanya Jee yang kaget.
"Papah sama Papi dimana? pasti mereka sudah mengambil kunci? iya kunci kamar anak kita kemana?" Alfy yang panik seketika menggeledah setiap sakunya.
Tidak ada ia temukan kali ini, Jee yang menggelengkan kepala melihat kepanikan suaminya hanya menghela nafasnya kasar.
"Kuncinya di kamar, mereka tidak ada yang menemui anak kita kok." jawab Jee dengan santainya.
Alfy bukannya bertanya lagi kini pria itu segera berlari menghampiri kamar anak kembarnya. Wajah yang masih kusam itu terlihat jelas pada pelayan yang menjaga anak-anaknya.
"Ada apa, Tuan?" tanya pelayan yang terkejut mendapati Alfy yang tiba-tiba berdiri di depan mereka.
"Huh syukurlah." ucapnya dengan nafas yang sudah memburu.
Alfy melangkah perlahan mendekati ketiga anaknya yang tengah wangi usai mandi pagi. Wajahnya tersenyum sunggu pemandangan yang indah memiliki anak yang lucu-lucu seperti mereka. Bergantian pria itu terus mendaratkan bibirnya pada wajah ketiga anaknya.
"Ada-ada saja kau, Sayang." gumam Jee yang tertawa kecil dari luar kamar dan melangkah masuk mendekati suaminya.
"Sudah, ayo sekarang bersiaplah kau akan pergi ke kantor." ucap Jee yang menggandeng tangan suaminya.
Alfy pun dengan penuh semangatnya bersiap. "Kau mengantarku, kan?" tanya Alfy lagi.
"Iya." jawab Jee yang memasangkan dasi di kera baju suaminya.
Alfy yang begitu bahagia pagi ini tanpa tahu apa yang sudah terjadi semalam. Pria itu kini memeluk tubuh Jee cukup lama sembari mengayun-ayunkan pelukannya begitu menikmati suasana paginya.
Jee yang tertawa melihat perlakuan suaminya hanya tersenyum membalas pelukan Alfy. Setelah cukup lama akhirnya Alfy beranjak keluar kamar untuk sarapan di lantai bawah bersama yang lainnya.
Zeyra dan Zidan sudah tampak hadir bersama Delon. Mereka selalu saja mencuri pandangan Alfy karena terlihat akur. Berbeda dengannya yang sering kali terlihat kaku ketika bersama Jee.
Sarapan terjadi seperti biasanya, mata Alfy yang menatap tajam pada istrinya seakan memberi isyarat jika ia meminta di layani. Jee tampak paham dengan tatapan Alfy yang sesekali menatap ke arah Delon dan Zeyra.
Akhirnya Jee melayani Alfy seperti yang di lakukan Zeyra pada Delon. Tuan Indrawan tertawa melihat Jee yang tampak kaku. Tangannya yang tidak mengerti ukuran makanan Alfy begitu banyak hingga Alfy sendiri yang melihatnya hanya meneguk kasar salivahnya.
"Kau sudah selesai, Sayang?" tanya Jee yang melihat Alfy menutup kedua sendoknya di piring.
"Iya," jawabnya singkat.
"Tapi makanmu masih banyak." sahut Jee yang kembali bertanya.
"Makanku tidak sebanyak itu, apa kau mau membuat perutku buncit?" tanya Alfy.
"Em iya maaf." jawab Jee terdiam seketika.
Alfy yang melihat wajah istrinya segera menggenggam tangannya. "Sudahlah, ayo kita temui anak-anak aku ingin kerja sebentar lagi." ucap Alfy yang menuntun tubuh istrinya ke kamar anaknya.
Di kamar Alfy menggendong bergantian ketiga anaknya setelah itu ia memeluk tubuh Jee cukup lama lalu mendaratkan bibirnya di keing sang istri.
"Jangan terlalu lelah yah. Aku pulang agak lambat karena besok adalah hari libur." ucap Alfy yang mengusap lembut kepala istrinya.
Jee mengangguk pelan dan tersenyum. Keduanya pun melangkah keluar kamarnya Alfy tampak mencari sosok satu pria yang sejak tadi tidak tampak di hadapannya.
"Delon, dimana Jac?" tanyanya yang penasaran.
Delon pun kebingungan entah mengapa Jac datang lebih lambat dari biasanya. Belum sempat Delon melangkah ke tempat Jac, Tuan Reindra sudah menyahut dengan cepatnya.
"Papah suruh dia libur hari ini." Suara Tuan Reindra mengejutkan Alfy seketika.
"Ada apa, Pah? Jac sakit?" tanyanya khawatir.
"Tidak, istrinya sedang mengalami hamil muda jadi sepertinya calon bayi mereka lagi ingin bersama Jac." jelas Tuan Reindra.
Alfy hanya mengangguk paham dengan maksud Tuan Reindra kali ini. Alfy dan Delon kini bergegas ke kantor di antar dengan istri mereka masing-masing. Jee yang mengantar Alfy hanya berdiri setelah memeluk tubuh suaminya.
"Apa ini?" tanya Jee yang melihat tangan Alfy di ulurkan padanya.
Alfy menggerakkan tangannya dengan menghadapkan punggung tangannya. Jee yang melihat Delon dan Zeyra akhirnya mengikuti permintaan suaminya dengan wajah canggung. Entah sejak kapan Alfy dan Jee mulai meniru gaya rumah tangga Delon dan Zeyra.
Zidan yang baru saja terbangun dari tidurnya menangis melewati keluarga yang masih duduk di meja makan.
"Eh Zidan, sini sama Kakek." ucap Tuan Reindra memanggil bocah itu.
Zidan pun mendekat. "Ada apa? mengapa Zidan menangis?" tanya Tuan Reindra.
"Zidan di tinggal Mamah." jawabnya terus menangis dan mengusap wajahnya yang basah.
"Mamah Zidan di depan, lagi antar Papah kerja. Zidan main sama Kakek di kamar atas sama dedek bayi yok." ajak Tuan Reindra pada Zidan dan segera di setujui oleh bocah itu.
"Pah, ingat jangan gila lagi dengan cucu, kalau tidak Mamah yang akan kunci kamar itu." ancam Nyonya Syein pada suaminya.
Tuan Indrawan yang terdiam memandangi tatapan tajam Nyonya Flora padanya. "Papi juga ingat itu." Suara Nyonya Flora terdengar mengikuti Nyonya Syein.
"iya Mi." jawab Tuan Indrawan patuh.
Kali ini kekuasaan berada di tangan wanita sepertinya. Semua di lakukan dua wanita itu tentu demi kewarasan kedua suami mereka. Jika tidak bisa saja ketiga cucunya akan mengalami cidera karena tidak henti-hentinya di gendong bergantian.
dengerin novel ini aja bisa nangis anjai
sedih banget menusuk hati kepergian jee
ya ampunn
jee
plis bikin prart ke 3 jee
bikin sakit keritis dan sembuh kembali aja
gak rela jee meningal ya tuhan