"Kenapa kau suka sekali ikut campur dengan urusan pribadiku?"
"Karena aku sedang mencari celah untuk mendekatimu dan merebut dirimu dari suamimu yang brengsek itu," jawab Hansel blak-blakan.
Jatuh cinta pada seorang gadis bukanlah hal yang memalukan. Tapi bagaimana jika ternyata kau jatuh cinta pada seorang wanita yang berstatus sebagai istri dari pria lain?
Hal inilah yang dirasakan oleh seorang Hansel Abraham. Hansel jatuh cinta pada Hanni, perawat pribadinya yang saat ini menyandang status sebagai istri dari Raymond Damara.
Langkah apa yang akhirnya akan diambil oleh seorang Hansel Abraham?
Apakah Hansel akan merelakan Hanni tetap bersama Raymond?
Atau Hansel akan menggunakan segala cara untuk merebut Hanni dari pelukan Raymond?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAPAN KAU AKAN TIDUR?
"Hanni akan menemui Raymond besok. Dia sudah mengatakannya kepadamu?" Tanya Alex mengalihkan topik pembicaraan.
Pembicaraan mengenai pekerjaan sudah selesai sejak tadi.
"Siapa Raymond?" Tanya Hansel yang kini menatap tajam pada Alex.
"Suami Hanni. Bagaimana kau bisa tidak tahu?" Alex balik bertanya bingung.
"Untuk apa aku harus tahu? Aku tidak mengurusi suami dari perawat atau pelayanku," sahut Hansel ketus.
Hanni sudah selesai mandi dan kembali masuk ke kamar Hansel. Wanita itu mengenakan baju terusan warna biru muda dengan motif bunga-bunga. Baju dengan panjang sebetis tersebut terlihat sangat pas di tubuh kurus Hanni.
Hansel dan Alex tak mengalihkan pandangan mereka dari sosok Hanni yang terlihat mempesona.
Hanni tampak salah tingkah.
"Kau akan menemui suamimu besok?" Pertanyaan dari Hansel segera mencairkan suasana yang sebelumnya terasa tegang.
Hansel menatap tajam pada Hanni.
"Iya, saya baru akan minta izin pada anda," jawab Hanni seraya menundukkan wajahnya.
"Apa suamimu ada di kota ini?" Tanya Hansel lagi masih tak mengalihkan tatapan tajamnya pada Hanni.
"Iya. Saya masih menyimpan alamat kantornya," jawab Hanni lagi yang kali ini mendongakkan wajahnya dan mencoba membalas tatapan Hansel.
"Alex akan mengantarmu besok," ucap Hansel seraya memutar kursi rodanya membelakangi Hanni.
"Dan waktu cutimu hanya satu hari. Jadi kau harus kembali ke rumah ini sebelum matahari terbenam," imbuh Hansel lagi tanpa menatap pada Hanni.
"Terima kasih, Hans," ucap Hanni tulus.
Hansel hanya mengangguk samar dan tidak menjawab sepatah katapun.
Alex menepuk punggung Hanni seraya tersenyum.
"Urusanku disini sudah selesai. Aku akan pulang sekarang," ucap Alex berpamitan.
Hanni segera mengantar Alex ke arah pintu.
"Terima kasih sudah membantuku bicara pada tuan muda pemarah itu," ucap Hanni yang langsung membuat Alex terkekeh.
"Aku akan menjemputmu besok pagi. Bye!" Pamit Alex sekali lagi.
Sahabat Hanni itupun segera keluar dan meninggalkan kamar Hansel.
Hanni menutup kembali pintu kamar.
Hansel masih di posisinya semula dan belum mengalihkan pandangannya dari jendela kamar yang menghadap ke taman.
Di luar sedang gerimis, mungkin Hansel sedang menikmati pemandangan air hujan yang jatuh dari langit. Hanni tidak akan mengganggu tuan muda tersebut.
****
Pukul 21.00
Hansel sudah mengenakan piyama dan sedang duduk diatas ranjangnya. Pria itu kini fokus pada layar laptop dipangkuannya. Sepertinya Hansel tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Hanni masih duduk di sofa seraya membaca novel. Wanita itu berulang kali menguap dan menahan kantuknya.
Biasanya jam segini Hansel sudah tidur nyenyak. Tapi kenapa malam ini pria itu tak kunjung tidur?
Hansel melirik sekilas pada Hanni yang kembali menguap. Hansel hanya tersenyum licik dan kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya. Sepertinya Hansel tengah merencanakan sesuatu.
Rasa kantuk Hanni semakin tak tertahankan. Berulang kali Hanni melirik ke arah Hansel yang masih fokus pada laptopnya.
"Apa tuan muda sialan itu tidak akan tidur malam ini? Bagaimana aku akan istirahat, jika dia tak kunjung tidur?" Hanni bergumam kesal dalam hati.
Hanni memejamkan matanya sejenak dan berusaha mengusir rasa kantuknya. Wanita itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Oh!
Hanni hanya ingin tidur di kasur empuknya sekarang.
Kenapa tuan muda ini tidak pengertian sekali?
"Hanni!" Panggil Hansel yang langsung membuat mata Hanni terbelalak dan terbuka. Tadinya Hanni sudah tertidur sambil duduk.
Buru-buru Hanni menghampiri Hansel.
"Air minumku habis," ucap Hansel seraya menunjuk pada gelas kosong yang ada di atas nakas.
Segera Hanni mengisi gelas tersebut dengan air putih dan meletakkannya kembali ke atas nakas.
Hanni melirik sekilas pada layar laptop Hansel. Tuan muda itu masih memeriksa banyak pekerjaan ternyata.
Hanni duduk di sofa, dan kembali menguap entah sudah yang keberapa kalinya. Hanni benar-benar mengantuk sekarang.
Hanni mungkin akan tertidur di sofa ini, jika tuan muda itu tidak kunjung menyelesaikan pekerjaannya.
Duarrr!
Suara petir yang menggelegar, membuat Hanni yang sudah setengah terpejam menjadi terlonjak kaget.
Hujan memang sudah mengguyur sedari sore. Dan sekarang, sepertinya semakin deras saja ditambah suara petir yang menggelegar.
Hanni beranjak dari duduknya dan memberanikan diri untuk bicara pada Hansel yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Ini sudah larut, Hans. Apa tidak sebaiknya pekerjaanmu itu kamu lanjutkan besok," saran Hanni dengan suara sehalus mungkin.
Hanni sebenarnya tidak mau membuat tuan muda ini marah atau tersinggung. Tapi saat ini Hanni juga sudah benar-benar lelah dan mengantuk.
Hansel menatap ke arah Hanni.
"Kau ingin tidur?" tebak Hansel dengan nada ketus.
"Aku hanya memberi saran," sanggah Hanni mencoba mengelak.
Hanni kembali menguap lebar. Cepat-cepat wanita itu menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.
"Tidur sana!" Perintah Hansel seraya menyodorkan bantal pada Hanni.
"Tidur di sini?" Tanya Hanni ragu.
"Tidur di sofa!" Ulang Hansel lebih keras.
"Apa aku bisa tidur di kamarku saja?" Tanya Hanni takut-takut.
"Jika aku bilang tidur di sofa, ya tidur saja di sofa! Tidak perlu membantah atau mencari-cari alasan!" Gertak Hansel galak.
Hanni langsung diam dan tak menyahut lagi. Wanita itu mengambil bantal yang disodorkan Hansel dan segera menuju ke sofa.
"Selimut ada di lemari. Kamu mau menggigil kedinginan?" Sergah Hansel lagi yang matanya masih fokus ke layar laptop.
Hanni kembali beranjak dan mengambil selimut di lemari.
"Anda tidak tidur, Tuan muda?" Hanni yang sudah siap-siap untuk tidur berbasa-basi pada Hansel.
"Aku akan tidur saat pekerjaanku sudah selesai," jawab Hansel dingin.
Hanni hanya mengendikkan bahu dan segera merebahkan tubuh lelahnya. Tak butuh waktu lama, dan Hanni sudah terlelap.
Hansel tersenyum simpul seraya memandangi wajah Hanni yang kini sudah terlelap.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like dan komen.
Untuk yang ingin vote karya ini, bisa klik pita ungu bertuliskan "lomba update tim" agar vote kalian masuk dan terhitung sebagai dukungan untuk othor. Terima kasih 😙