"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Iblis
"Dasar Jalang kecil! Nyalimu ternyata tidak sebesar omong kosongmu!"
Yasmin berdiri diam di sisi ranjang, matanya yang tajam menatap wajah Ara yang tidak sadarkan diri dengan campuran perasaan yang kompleks.
Di satu sisi, rasa marah dan dendam yang telah tumbuh besar di dalam hatinya selama beberapa hari terakhir ini membuat Yasmin ingin melihat Ara menderita.
Semua kesusahan yang Yasmin alami, mulai dari perceraian yang hampir terjadi dengan Jacob, hingga kehilangan kepercayaan dari rekan kerja dan pasien lainnya karena tuduhan Ara, membuat Yasmin merasa bahwa Ara layak mendapatkan hukuman berat.
Namun di sisi lain, sebagai seorang Dokter Spesialis Kandungan yang telah berkomitmen untuk menyelamatkan nyawa pasien sejak Ia pertama kali mengenakan jas putih, hatinya tidak bisa benar-benar tega melihat seorang Ibu dan janin dalam kandungannya dalam bahaya.
Ingatan tentang dirinya yang merupakan seorang pejuang garis 2 dan betapa sulitnya Ia berjuang untuk memiliki sang buah hati, membuat Yasmin memahami bahwa setiap kehidupan adalah sesuatu yang sangat berharga.
Yasmin punya dua pilihan sekarang, menjadi malaikat penolong untuk Ara atau menjadi malaikat pencabut nyawa untuk pelakor kecil yang telah merusak hidupnya. Tangan kanan Yasmin masih menggenggam tepi meja dengan erat, kuku nya hampir menusuk ke dalam kulit telapak tangannya.
Saat tangan Yasmin hampir menyentuh tabung obat yang masih berada di atas meja, tiba-tiba suara mesin monitor tanda vital Ara mulai berbunyi dengan cepat dan tidak teratur. Bunyi bip yang keras itu membuat Yasmin terkejut dan segera melihat layar monitor, denyut jantung Ara semakin cepat dan tekanan darahnya terus turun. Kondisi Ara semakin memburuk dengan cepat, dan jika tidak segera ditangani, tidak hanya janinnya yang akan terancam, tapi juga nyawa Ara sendiri.
"Tidak bisa seperti ini. Aku bukan iblis. Aku seorang Dokter yang sudah terikat sumpah untuk menyelamatkan nyawa pasiennya." Bisik Yasmin dengan suara yang bergetar. Tanpa berpikir panjang lagi, Yasmin segera mengambil alat bantu medis yang ada di dekat ranjang dan mulai melakukan tindakan pertama untuk menstabilkan kondisi Ara.
"Suster! Segera ambil alat untuk penanganan darurat, sekarang juga!" teriak Yasmin dengan suara yang kuat dan jelas, membuat perawat yang baru saja memasuki ruangan tersebut langsung berlari untuk memenuhi permintaan Dokter Yasmin.
"Tunggu!"
Langkah perawat bernama Sri itu terhenti kala mendengar suara Dokter Yasmin lagi. Sri memutar arah dan kembali berjalan ke arah Dokter Yasmin yang auranya terlihat menakutkan kali ini.
"A-ada yang bisa saya bantu lagi, Dokter yasmin?" tanya Sri dengan suara tergugup.
"Bawa obat itu jauh-jauh dari tempat ini dan jangan sampai ada yang menyentuhnya!" Titah Yasmin dengan lugas. Jemari lentiknya menunjuk tabung berisikan obat peluruh kandungan di atas meja.
"Baik Dokter." Patuh Sri, Ia mengambil obat tersebut lalu menyimpannya di dalam saku untuk nanti Ia simpan di laboratorium khusus.
Saat Yasmin mulai melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan perawatan yang tepat untuk Ara, pikiran Yasmin justru tertuju pada Janin yang sekarang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.
"Maafkan Mama nak, Mama mama memang lemah, Mama tidak bisa membiarkan kamu memiliki Ibu seperti Iblis. Semua anak berhak hidup di dunia ini, tanpa terkecuali," bisik Yasmin pelan, seolah sedang berbicara pada janin dalam kandungannya.
Setelah beberapa jam penuh perjuangan dan keringat berlalu, akhirnya suara mesin monitor mulai kembali normal dan kondisi Ara mulai stabil. Tak lama kemudian, mata Ara perlahan terbuka, dan hal pertama yang Ara lihat adalah Dokter Yasmin yang sedang duduk di sisi ranjangnya dengan wajah yang fokus pada catatan medis. Air mata kembali mengalir di pipi Ara. Air mata penyesalan dan ketakutan.
"Terima kasih Dokter." ucap Ara dengan suara yang sangat pelan dan lemah. Kata-kata itu keluar dari bibirnya dengan penuh rasa syukur dan penyesalan yang mendalam.
"Jangan senang dulu Ara! Aku belum memberi perhitungan padamu, aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu!" Ucap Yasmin tanpa menatap ke arah Ara. Tangannya masih terus menulis di buku catatan.
"Kesalahanmu tidak bisa diterima begitu saja, Ara. Kamu telah merusak banyak hal dan menyakiti banyak orang dengan tindakanmu. Kau harus mendapat hukuman yang setimpal." Lanjut Yasmin dengan suara yang tenang tapi tetap tegas.
"Tapi anak dalam kandunganmu tidak bersalah. Dia tidak memilih untuk datang ke dunia dalam keadaan seperti ini."
Yasmin menutup buku catatan dan melihat langsung ke mata Ara yang penuh dengan air mata.
"Satu hal yang harus kamu ingat, Ara. Kata maaf saja tidak akan bisa mengubah keadaan, dan kamu harus bersiap untuk menerima konsekuensi dari setiap tindakanmu!" Ucapan Dokter Yasmin terdengar seperti ancaman di telinga Ara.
Ara mundur ke belakang, jantungnya yang sudah stabil kembali berdebar kencang. Tapi setidaknya, sekarang Ara punya harapan hidup, harapan yang diberikan oleh orang yang paling tidak mungkin Ia harapkan akan memberikannya.
Bersambung...