Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~
" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~
Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak terusik
Jam istirahat seharusnya jadi waktu paling bising di sekolah. Tapi buat Hamka, semuanya terasa mengganggu.
Di mejanya sudah menumpuk beberapa kotak cokelat, snack mahal, dan minuman kemasan lucu dengan pita warna-warni. Ada kartu kecil bertuliskan welcome back—ucapan selamat datang untuk si flay boy yang baru masuk sekolah lagi setelah beberapa hari sakit.
“Wah, rezeki anak sakit,” kata Edo sambil nyengir, tangannya sigap meraih satu cokelat.
“Bagi dua, Ka,” sambung Faris tanpa dosa.
Zordan malah sudah sibuk menata kiriman itu seperti barang rampasan perang.
Hamka tidak protes. Bahkan nyaris tidak peduli. Ia hanya mendorong kotak-kotak itu ke tengah meja.
“Ambil aja,” gumamnya malas.
Padahal biasanya, hal seperti ini selalu jadi bahan candaan. Tapi hari ini tidak. Kepalanya justru penuh oleh satu hal lain.
Naura.
Di kantin, Hamka melihat seseorang menghampiri meja tempat Naura duduk. Seorang laki-laki berkacamata, rapi, dengan tas selempang dan buku tebal di tangan. Siswa berprestasi. Anak olimpiade. Yang namanya selalu muncul di papan pengumuman.
Laki-laki itu duduk di sebelah Naura.
Dan Naura… tersenyum.
Bukan senyum sopan yang biasa ia tunjukkan ke semua orang. Tapi senyum kecil, santai. Seolah ia nyaman.
Hamka menegakkan punggungnya tanpa sadar.
Di meja seberang, Edo masih tertawa menerima kiriman cewek-cewek yang bar-bar itu. Tapi Hamka sama sekali tak mendengar.
Matanya terpaku pada kantin.
Laki-laki itu mendorong kotak makan ke arah Naura. Naura terlihat sedikit terkejut, lalu mengangguk kecil. Mereka bicara. Naura tertawa pelan.
Ada sesuatu yang mencubit dada Hamka.
“Ngapain lo senyum sama dia sih, Naw,” batinnya tajam, rahangnya mengeras.
“Dasar centil lo.”
Wajahnya muram. Alisnya mengernyit.
Padahal—dan Hamka sadar betul akan ironi itu—Naura tidak pernah bereaksi berlebihan saat melihat ia dikerubungi hadiah dan perhatian dari banyak gadis. Tidak pernah cemberut. Tidak pernah sinis.
Biasa saja.
Dan justru itu yang membuat Hamka semakin kesal.
Ia bangkit berdiri tiba-tiba.
“Ke mana, Ka?” tanya Faris.
Hamka tidak menjawab. Langkahnya sudah mengarah ke kantin, sebelum pikirannya sempat mengejar perasaannya sendiri.
Karena entah sejak kapan, melihat Naura diperhatikan laki-laki lain terasa… salah.
Dan Hamka tidak siap mengakui kenapa.
Hamka berhenti tepat di sisi meja kantin itu.
Naura yang pertama menyadarinya. Senyumnya memudar sepersekian detik sebelum ia menoleh. “Hamka?”
Laki-laki berkacamata itu ikut mengangkat wajah. “Oh, Hamka,” sapanya ramah. “Mau duduk?”
" Nggak ." jawabnya dingin dengan tangan di saku celana, wajah datar tapi sorot matanya mengunci.
" Ngapain sih Lo kamari ,biasanya juga Lo ngumpul sama geng rumpi Lo ," dagu Naura mengarah pada teman-teman Hamka yang berjalan ke arah kantin .
Ngapain sih lo kemari?” suara Naura tertahan, matanya menyipit kesal.
“Biasanya juga lo ngumpul sama geng rumpi lo.”
Dagu Naura mengarah ke seberang kantin, ke Edo, Faris, dan Zordan yang baru saja masuk sambil tertawa keras, menenteng sisa kiriman cokelat para penggemar Hamka.
Hamka melirik sekilas ke arah mereka, lalu kembali menatap Naura.
“Kenapa?” tanyanya datar.
“Lo nggak suka?”
Nada suaranya tenang, seolah kehadirannya di meja itu adalah hal paling wajar.
Di sisi Naura, laki-laki berkacamata yang sejak tadi duduk menemani tampak ikut terdiam. Kotak makan masih terbuka di depannya, sendoknya terhenti di udara. Ia melirik Hamka sebentar,cukup lama untuk membaca situasi..lalu menunduk lagi.
Belum sempat Naura menjawab, Hamka meraih gelas minuman di depan Naura yang bahkan belum disentuh .Dengan gerakan santai ia menyeruputnya sampai habis.
Naura terpaku.
“Sorry,” kata Hamka ringan, meletakkan gelas kosong di meja.
“Gue haus.”
Wajahnya tak berdosa. Terlalu santai untuk membuat darah Naura mendidih.
“Wah… parah lo,” sentak Naura.
“Itu punya gue, kampret!”
Tangannya mengepal. Umpatan lain hampir keluar, tapi ia menahannya..mereka masih di sekolah.
Laki-laki berkacamata itu berdiri pelan. Ia menutup kotak makan, lalu menoleh ke Naura dengan senyum kaku.
“Kayaknya gue balik dulu ya,” katanya hati-hati.
“Lo… selesaikan aja.”
Naura menoleh cepat. “Eh..”
Tapi laki-laki itu sudah melangkah pergi, bahunya sedikit tegang. Tidak menoleh lagi.
Hamka mengikutinya dengan pandangan sekilas, lalu kembali ke Naura.
“Kenapa?” katanya santai.
“Gue ganggu?”
Naura berdiri mendadak. Kursinya berderit keras.
“Lo puas sekarang?”
Hamka mengangkat bahu. “Gue cuma duduk.”
“Duduk sambil bikin orang lain nggak nyaman,” balas Naura dingin.
Hamka mencondongkan badan ke meja, jaraknya terlalu dekat.
“Atau dia yang gampang ngerasa kalah?”
Kalimat itu jadi pemicu.
Naura mengambil tasnya dengan gerakan kasar.
“Pergi, Ka. Gue nggak mau ribut.”
Hamka berdiri, memberi jalan setengah hati.
“Iya,” katanya pelan.
“Kelihatan.”
Naura melangkah pergi tanpa menoleh.
Hamka menatap punggungnya menjauh, lalu menatap gelas kosong di meja.
Entah kenapa, minuman itu terasa lebih pahit dari yang seharusnya.
Baru saat kantin kembali bising, satu hal menyusup pelan ke dadanya..
bukan puas.
Melainkan rasa bersalah yang tak ingin ia akui.
Tak lama geng rumpinya datang menghampiri Hamka. Lalu Edo menyodorkan sebungkus cokelat ke arahnya.
“Nih,” katanya santai.
“Hadiah perdamaian.”
Hamka tidak menyentuhnya. “Apaan.”
Edo menyeringai.
“Lo sadar nggak sih, Ka,” ujarnya pelan, “lo barusan kayak antagonis sinetron jam sore.”
Zordan terkekeh kecil. “Iya. Datang, bikin tegang, minum punya orang, terus orangnya kabur.”
Faris ikut nimbrung, nada suaranya lebih hati-hati.
“Yang pergi itu anak pinter, kan? Yang sering olimpiade?”
Hamka mengangkat bahu. “Kenapa emang?"
“Ya… kasihan aja,” kata Edo sambil duduk.
“Dateng niat baik, pulang kayak habis diintimidasi.”
Hamka menoleh tajam. “Gue nggak ngapa-ngapain.”
“Justru itu,” balas Edo cepat.
“Lo nggak ngapa-ngapain, tapi auranya ngomong banyak.”
Zordan mengangguk setuju. “Tatapan lo tuh, Ka. Bisa bikin orang nyerah sebelum mulai.”
Hamka mendengus. “Lebay.”
Faris menyender ke meja.
“Bukan lebay. Kita aja ngerasain. Apalagi dia.”
Hening sejenak.
Edo menyenggol lengan Hamka pelan.
“Lo cemburu ya?”
Hamka langsung berdiri. “Nggak.”
Cepat. Terlalu cepat.
Edo mengangkat dua tangan. “Santai. Cuma nanya.”
Zordan menyeringai. “Tapi jawabannya udah keliatan.”
Hamka mengambil tasnya. “Ngaco.”
Saat ia melangkah pergi, suara Edo menyusul, lebih rendah tapi jelas.
“Ka… kalau lo nggak punya perasaan, lo nggak bakal repot-repot bikin orang lain menjauh.”
Langkah Hamka terhenti sesaat.
Ia tidak menoleh.
Tapi kalimat itu menempel di kepalanya, seperti noda yang susah dihapus.
Dan untuk pertama kalinya, sindiran itu bukan datang dari Naura,
melainkan dari dirinya sendiri.