NovelToon NovelToon
Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dark Romance
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.

Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.

Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.

Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Dalam

Livia sudah sampai setelah bekejaran dengan waktu. Ia melirik jam tangannya sekali lagi. Pukul 18.58.

Hanya tersisa dua menit.

Saat mobil berhenti sempurna di depan lobi utama, seorang pengawal membukakan pintu dengan gerakan sigap. Livia melangkah keluar, tumit sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan langkah kaki seorang nyonya di sana. Ia menarik napas, menenangkan kegugupan di dadanya meskipun Ia tidak terlambat.

Begitu masuk ke dalam, suasana di dalam mansion itu terasa ganjil. Tidak ada sosok Morenzo yang berdiri angkuh di puncak tangga atau duduk di sofa kulit hitamnya sambil menyesap wiski. Yang menyambutnya hanyalah barisan pelayan yang tertunduk diam, dipimpin oleh seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan yang sangat rapi.

"Selamat datang kembali, Nyonya," sapa Lucia tanpa ekspresi.

Livia mengedarkan pandangan, merasa gelisah oleh keheningan ini.

"Tuan Morenzo... di mana dia? Aku sampai tepat waktu, kan? Aku tidak terlambat, jadi aku tidak perlu mendapat hukuman, bukan?"

Wanita itu hanya memberi isyarat agar Livia mengikutinya menuju lantai atas. "Mari, Nyonya. Segala sesuatunya telah disiapkan."

Livia mempercepat langkahnya agar sejajar dengan sang pelayan. "Tolong jawab aku. Apakah Tuan Morenzo marah? Mengapa beliau tidak ada di sini? Aku mendapatkan pesan bahwa aku harus menghadapnya."

Pelayan itu berhenti sejenak, tapi tidak menatap mata Livia. "Bukan kewenangan saya untuk menjawab apa yang Anda lontarkan, Nyonya. Jawaban atas pertanyaan Anda hanya Tuan Morenzo yang tahu. Kami para pekerja di sini, hanya menjalankan perintah untuk memastikan Anda siap."

"Siap untuk apa?" tanya Livia.

Tak ada jawaban.

Livia digiring masuk ke dalam sebuah ruangan yang luasnya hampir menyamai luas rumah yang pernah dibelikan Axel untuknya. Tapi ini bukan sekadar kamar.

Tanpa banyak bicara, para pelayan mulai bekerja. Livia merasa seperti sebuah boneka porselen mahal yang sedang dipugar. Ia direndam dalam bak mandi besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar hitam dan minyak aromaterapi. Tubuhnya dilulur, dipijat dengan keahlian yang membuat otot-ototnya yang tegang karena menghadapi Elena tadi menjadi lemas. Rambutnya dicuci, dikeringkan, dan diberi wewangian yang manis namun memiliki sentuhan musk yang menggoda.

Di tengah semua perawatan itu, pikiran Livia berkelana. Ia mengingat pesan Morenzo. Rindu. Kata itu terdengar sangat asing keluar dari mulut seorang mafia yang bisa membunuh orang semudah membalikkan telapak tangan. Bagi Morenzo, rindu bukanlah sebuah perasaan romantis, tapi lebih ke sebuah perintah.

Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di benaknya hingga ia refleks membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang masih beraroma bunga.

Ya ampun, aku sedang dipersiapkan seperti hidangan utama.

Livia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Kulitnya nampak mulus putih bersih, rambutnya jatuh dengan indah di bahunya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di dunia Morenzo, tidak ada yang gratis. Perlindungan yang ia terima, kemewahan yang ia nikmati, dan kalung yang berhasil ia ambil kembali dari Elena, semuanya memiliki harga. Dan malam ini Morenzo datang untuk menagihnya.

Selesai dengan ritual perawatan tubuh, seorang pelayan membawakan sebuah kotak hitam panjang. Di dalamnya terletak sepotong pakaian yang lebih mirip jaring-jaring tipis daripada baju tidur. Sebuah lingerie hitam transparan dengan renda-renda rumit yang hanya menutupi bagian-bagian paling vital, justru mengekspos lekuk tubuhnya dengan cara yang sangat provokatif.

"Tuan meminta Anda menunggu di tempat tidur," ucap pelayan itu sebelum akhirnya membungkuk dan keluar, meninggalkan Livia sendirian dalam kamar yang hanya diterangi oleh beberapa lampu temaram.

Livia duduk di tepi tempat tidur king size. Ia merasa sangat kecil di dalam kamar itu. Dinginnya AC mulai menusuk kulitnya yang hanya tertutup kain tipis.

Setiap detik terasa seperti jam. Setiap suara kecil membuatnya tersentak. Sampai akhirnya, suara pintu besar itu terbuka.

Morenzo masuk.

Morenzo tidak lagi mengenakan jas lengkapnya. Kemeja hitamnya tidak dikancingkan di bagian atas, memperlihatkan sedikit otot dadanya yang kokoh. Lengan kemejanya digulung hingga siku, menampilkan tato naga yang melilit lengannya. Aroma wiski mahal dan tembakau menyertai kehadirannya, seketika mendominasi oksigen yang dihirup Livia.

Pria itu tidak langsung mendekat. Ia berdiri di dekat pintu, matanya yang tajam seperti elang memindai sosok Livia dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Kau tepat waktu," seru Morenzo.

"Aku mematuhi aturanmu, Tuan."

Morenzo berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat jantung Livia berpacu lebih kencang. Ketika ia sampai di depan Livia, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh rahang Livia, memaksa wanita itu menatap matanya yang kelam.

"Bagus. Karena aku benci menunggu, dan aku jauh lebih benci ketidakpatuhan," bisik Morenzo. Ia membungkuk menempelkan hidungnya di leher Livia, menghirup aroma tubuh wanita itu. "Kau wangi sekali, membuatku ingin menggigitmu. Bau-bau sampah yang tadi kau temui sudah menghilang."

Livia memejamkan mata saat merasakan napas panas Morenzo di kulitnya. "Tuan tahu aku menemui mereka?"

"Aku tahu segalanya, Livia. Aku tahu bagaimana kau menjatuhkan mental wanita itu. Dan aku suka caramu mengklaim apa yang menjadi milikmu." Morenzo menarik diri sedikit, senyum miringnya muncul. "Tapi sekarang, kau harus ingat siapa yang memiliki dirimu."

Tanpa peringatan, Morenzo mendorong Livia perlahan hingga wanita itu berbaring di atas tempat tidur. Tubuh besar Morenzo segera mengukungnya.

"Tuan... Morenzo..." desah Livia.

"Panggil namaku." Perintah Morenzo.

"Mo-ren-zo..."

Dan setelah itu, tidak ada lagi ruang untuk kata-kata. Morenzo menguasai bibir Livia dengan ciuman yang tidak menuntut kelembutan. Itu adalah penyatuan yang intens, sebuah deklarasi kepemilikan.

Morenzo bergerilya dengan dominasi yang menakutkan namun memabukkan. Di tengah pergulatan gairah yang membuat napas Livia terengah-engah, Morenzo meracaukan kata-kata dalam bahasa asing yang tidak Livia mengerti. Suaranya penuh dengan damba yang menyakitkan.

"Katakan padaku, Livia, sudah seberapa dalam pria itu memasukimu?" tanyanya, merujuk pada Axel.

Livia menggeleng lemah, matanya terpejam erat. Ia merasa tersinggung, merasa harga dirinya dipertanyakan di saat krusial seperti ini. Namun ia tahu, berdebat dengan seorang mafia di tempat tidur adalah kesia-siaan. Ia hanya ingin malam ini cepat berlalu, ingin rasa sakit dan kenikmatan yang bercampur aduk ini segera mencapai puncaknya.

Saat Morenzo akhirnya melakukan penyatuan itu, ia merasakan hambatan. Gerakannya terhenti seketika.

Morenzo menatap Livia dengan pandangan yang sulit diartikan. Senyum lebar terbit di bibir laki-laki itu.

"Kau masih suci. Hanya aku yang sudah merobeknya hingga dalam." Gumam Morenzo.

"Bukankah kau tahu segalanya tentangku, Tuan Morenzo. Kenapa kau kaget saat kau orang pertama yang mengambilnya?..shh..."

Morenzo menyeringai. Ia kembali bergerak, lebih dalam dan makin dalam, meskipun kuku Livia tanpa sadar mencengkram bahu laki-laki itu.

Permainan semakin panas.

Bersambung.

1
Tevina Anggita
lanjuttt🤣🤣💪
aleena
Saya Baru tau mallah
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
Tevina Anggita
lanjutt💪
〈⎳ FT. Zira
sekerang jijik,, sebelumnya ngejar🤧
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: munafik sih si axel.
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
kann dugaanku bener🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
vitamin subur mungkin🤭
〈⎳ FT. Zira
mana bisa gitu Livi/Facepalm//Facepalm/
Dewi Payang
sakit memang kalo dianggqp gak lwbih berharga dari harta🤭🤭🤭
Dewi Payang
dan sayangnya Axel gak jadi dpt warisan🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah emang bs gt?
Zenun: mbuh, mungkin pikir Livia bisa🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk apa itu puncaknya yah, apa kyk bukit teletubbies? 🤔
Zenun: kurang lebih segede gitu😁
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
seketat isi celananya si morenzo y liv
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: yah si livia ampe perih2 gt 🤣🤣
total 2 replies
Dewi Payang
11 12 si daddy sama anaknya🤭
Zenun: betul tu🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Biar kagak malu dudukan ajanAxel sama Elenan🤣
〈⎳ FT. Zira
mungkin Livi pernah nyelametin morenzo🤔
Zenun: iyeu keuh?
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sampe gak sadar gimana itu
〈⎳ FT. Zira: antara tidur terlalu nyaman atau emang senuhannya yg gak berasa..ehh/Silent//Silent/🤣
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
morenzo mungkin lagi anuu🤭
Zenun: anu apa nih😁
total 1 replies
aleena
bagian yang mana morenzoo
apakah Livia pernah menolongmu
Zenun: bagian yang paling sensitif dari Morenzo, gak sengaja di sentuh Livia
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
dirimu gak kelihatan El🤣🤣
aleena
🤣🤣kau hadir dengan penuh kebohongan, sekarang rasakan
betapa sakitnya diabaikan dan di lupakan🤭🤭
Zenun: uhuuuy, udah mulai ngerasain dicuekin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!