NovelToon NovelToon
Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Ruang kerja CEO Wiliam Group siang itu terasa lebih hidup dari biasanya. Meja Nyonya Brenda yang berada di luar sudah kosong, dan Lia kini memindahkan sebagian besar pekerjaannya ke meja kerja kecil yang sengaja ditambahkan di sudut ruangan Marco, agar pria itu lebih mudah memantaunya.

Di atas meja, tumpukan map laporan triwulan menggunung. Kening Lia berkerut dalam saat menatap deretan angka dan kurva di layar laptopnya.

"Ini aneh..." gumam Lia pelan. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. "Aku harus menelepon Nyonya Brenda. Ada selisih nol koma lima persen di dana CSR bulan lalu yang tidak tercatat di buku besar."

Baru saja jarinya hendak menekan layar, sebuah tangan besar dengan jari-jari kokoh merebut ponsel itu darinya.

Lia mendongak kaget. Marco sudah berdiri di samping mejanya.

"Sudah kubilang, jangan ganggu Nyonya Brenda," tegur Marco dengan nada datar namun mutlak. Ia meletakkan ponsel Lia ke dalam sakunya sendiri. "Beliau sedang dalam masa pemulihan. Kalau kau tidak mengerti, tanyakan padaku."

Lia mengerjap di balik kacamata tebalnya. "T-tapi Tuan Maverick, ini laporan dari divisi keuangan yang sangat rinci. Bukankah Anda sedang sibuk merevisi draf kontrak?"

"Kalau CEO-nya saja tidak paham ke mana larinya dana nol koma lima persen perusahaannya, Wiliam Group sudah bangkrut dari sepuluh tahun yang lalu," balas Marco santai.

Pria itu menarik kursi kosong dan duduk tepat di sebelah Lia. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap layar laptop. Jarak mereka kembali dekat, dan aroma parfum mint maskulin dari tubuh Marco langsung menyeruak ke indera penciuman Lia.

"Lihat ini," Marco menunjuk sebuah kolom kecil di sudut layar. "Selisihnya bukan tidak tercatat, tapi dialokasikan ke sub-akun yang berbeda. Divisi keuangan sengaja memecahnya menjadi tiga bagian untuk menghindari pajak ganda pada donasi yayasan."

Marco mulai menjelaskan dengan runtut dan sangat sabar. Jari telunjuknya bergerak lincah menunjuk kurva dan angka, menguraikan kerumitan laporan itu menjadi logika bisnis yang sangat sederhana dan mudah dimengerti.

Namun, alih-alih menatap layar laptop, fokus Lia justru perlahan bergeser.

Diam-diam, dari balik lensa kacamatanya, sepasang mata cokelat itu mulai menelusuri fitur wajah Marco dari profil samping.

Hidung mancung yang kokoh. Garis rahang tegas yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Dan sorot mata biru laut yang begitu fokus dan tajam saat membahas bisnis. Ketampanannya sungguh tak terbantahkan. Bukan hanya itu, pria ini ternyata luar biasa cerdas, berani mengambil keputusan berisiko, dan... sangat baik.

'Dia rela mengajari sekretarisnya sendiri dari nol demi membiarkan Nyonya Brenda beristirahat tenang,' batin Lia, merasakan desiran hangat yang perlahan memenuhi dadanya.

Tanpa sadar, Lia terus menatap wajah pria di sebelahnya itu. Jantungnya mulai berdegup cepat, memompa darah yang membuat pipinya di balik bedak kusam itu terasa memanas.

Tuk!

Sebuah sentilan jari yang lumayan keras mendarat tepat di tengah dahi Lia.

"Aduh!" Lia terkesiap, refleks memegangi dahinya sambil menatap Marco dengan mata membulat kaget.

Marco sudah menarik tubuhnya sedikit menjauh. Pria itu bersedekap dada, menatap Lia dengan sebelah alis terangkat dan sudut bibir yang menyunggingkan senyum miring.

"Fokus ke layar laptopnya, Ensiklopedia Basah. Bukan pada wajahku," tegur Marco dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Aku tahu aku ini sangat tampan, tapi menatapku tidak akan membuat laporan keuangan itu selesai dengan sendirinya."

Wajah Lia seketika merah padam seperti kepiting rebus. Rasa malunya memuncak karena tertangkap basah sedang mengagumi bosnya sendiri.

"S-saya tidak menatap Anda!" kilah Lia panik, buru-buru memutar kursinya menghadap layar laptop. "S-saya hanya sedang memikirkan... um... pajak gandanya!"

Marco mendengkus geli, namun tidak mendesak lebih jauh. "Bagus kalau begitu. Perbaiki laporannya, lalu siapkan ruang rapat. Sebentar lagi ada sesi perkenalan pegawai baru dari anak perusahaan."

Lia mengangguk cepat, masih mengusap dahinya yang berdenyut pelan. 'Sialan', rutuknya dalam hati, 'jantungku ini benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama.'

Selang beberapa jam kemudian.

Ruang rapat utama Wiliam Group terasa sedikit lebih padat. Delapan orang pegawai baru yang terpilih dari program rekrutmen manajemen berbaris rapi. Marco duduk di kursi pimpinan meja bundar, didampingi Lia yang berdiri sigap di belakangnya membawa buku catatan.

Manajer HRD masuk dan mulai memperkenalkan mereka satu per satu.

Semuanya berjalan normal, hingga tiba giliran seorang wanita muda yang berdiri di urutan terakhir.

"Dan ini, Tuan Maverick, adalah staf ahli Public Relations kita yang baru," ucap Manajer HRD dengan senyum lebar.

Wanita itu melangkah maju. Mengenakan setelan blazer putih yang sangat elegan dan rok selutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambut panjangnya tergerai indah, dan senyum manis yang mematikan tersungging di bibir merahnya.

Napas Marco seketika terhenti. Tubuhnya menegang kaku di kursi.

"Selamat siang, Tuan Maverick," sapa Alana dengan suara merdu yang mendayu-dayu.

Lia yang berdiri di belakang Marco membelalakkan matanya. Jantungnya berdenyut kaget. 'Bagaimana dia bisa ada di sini?!' batin Lia tak percaya.

Marco mencengkeram lengan kursinya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah Manajer HRD. "Bagaimana bisa dia lolos kualifikasi staf ahli PR?" tanya Marco dengan nada dingin yang mengancam.

Manajer HRD gelagapan. "E-eh... Nona Alana mendapat rekomendasi langsung dari salah satu dewan direksi, Tuan. Dan hasil tes wawancaranya juga sangat memuaskan."

Alana tersenyum semakin lebar, menatap Marco dengan sorot sok akrab dan penuh kemenangan.

"Lama tak bersua dalam situasi formal, Tuan Maverick," ucap Alana manis, sengaja menekankan kata-kata itu untuk menunjukkan pada semua orang bahwa mereka saling mengenal. "Saya harap, kita bisa bekerja sama dengan sangat... sangat baik di perusahaan ini. Saya akan memberikan yang terbaik untuk Anda."

Keheningan melanda ruang rapat itu. Para pegawai baru lainnya saling berbisik, kagum melihat ada rekan mereka yang rupanya memiliki hubungan dekat dengan sang CEO jenius.

Namun, reaksi Marco justru menghancurkan ekspektasi Alana.

Alih-alih membalas sapaan sok akrab itu, Marco justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar. Pria itu menatap Alana dengan sorot mata yang luar biasa dingin, muak, dan membekukan. Tidak ada sedikit pun kehangatan atau pengakuan masa lalu di sana.

"Di perusahaan ini, 'yang terbaik' dibuktikan dengan hasil laporan, bukan dengan koneksi atau sapaan omong kosong," desis Marco tajam, membuat senyum di wajah Alana perlahan luntur.

Marco lalu menoleh ke arah Manajer HRD tanpa memedulikan wajah pias Alana. "Tempatkan dia di tim marketing lapangan. Kalau dalam sebulan dia gagal mencapai target, pecat dia tanpa pesangon."

Lia menahan napasnya, sementara Alana mematung dengan rasa malu yang luar biasa di depan seluruh rekan kerjanya. Tuan Maverick yang dulu mudah ia permainkan, kini telah berubah menjadi pimpinan berdarah dingin yang tak bisa lagi ia jangkau.

1
ryuka
ciieeee marcooooo 😍😍😍😍😍🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
aaa tuan marcoo mulai nyaman niih ma sekertaris baruu ny🤭🤭🤭
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau di colok liaaaa idung kamu 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Sastri Dalila
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
mau di colok tu hidung mu Lia 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
👍👍👍👍/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sastri Dalila
🤣🤣🤣💪💪
Sastri Dalila
👍👍👍
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
ryuka
🤣🤣😍🤣🤣 bagussss marco pecat aja itu ceewe parasittt itu
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
mau jdi kutu rambut di hidup Marco yx Alana ,,
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ryuka
lanjuuutttt thoooooerr
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
ryuka
eeeaaaa.. eeaaaaa...
Dew666
💝
Muft Smoker
dag dig dug nyeesss yx kalian 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😅😅😅
ryuka
ayooo semangattt marco & liiaaaaaa 🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!