Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13: Ada Anak di Antara Mereka
Celah pintu kamar itu didorong terbuka sepenuhnya oleh Nayara.
Krek ...
Engselnya berbunyi, berderit pelan.
Adrian yang baru saja menjauhkan ponsel dari telinganya, tersentak hebat.
Pria itu memutar tubuhnya dengan sangat cepat. Wajahnya mendadak pucat, matanya membelalak lebar melihat sosok istrinya berdiri tegak di ambang pintu kamar.
"Anak siapa, Mas?" tanya Nayara, dengan nada parau menahan sesak.
Adrian membeku selama beberapa detik. Tenggorokannya bergerak naik turun, menelan ludah dengan susah payah. Pria itu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Ia mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat tenang, meski rasa panik sangat jelas terlihat dari matanya yang bergerak gelisah.
"Nay ... kamu belum tidur? Kenapa keluar kamar?" Adrian membalas dengan pertanyaan, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Nayara melangkah perlahan mendekati suaminya. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai ruang tamu yang dingin.
"Aku tanya, anak siapa yang baru saja kamu katakan di telepon?" ulang Nayara.
Kali ini ia berhenti, berdiri hanya berjarak dua langkah di hadapan suaminya.
Adrian mengusap wajahnya dengan sebelah tangan, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat sumbang dan dipaksakan.
"Anak? Anak siapa maksud kamu? Kamu pasti salah dengar, Nay. Aku tadi bahas masalah proyek sama klien ..."
"Berhenti memanggil dia klien, Mas!" potong Nayara tajam. Napasnya mulai memburu, menahan amarah yang menggelegak.
"Aku dengar dengan sangat jelas kamu menyebut nama Selena! Kamu bilang kamu akan bertanggung jawab atas semuanya, termasuk anak itu. Apa maksud dari ucapan kamu barusan?"
Wajah Adrian berubah tegang. Tawa canggungnya lenyap, digantikan oleh kilatan kemarahan karena merasa tersudut.
"Kamu menguping pembicaraanku?" tuduh Adrian keras.
Ia memajukan tubuhnya selangkah, menatap Nayara dengan tatapan menyalahkan.
"Sejak kapan kamu punya kebiasaan memata-matai suami kamu sendiri dari balik pintu?"
"Kamu yang keluar kamar sembunyi-sembunyi jam satu pagi, cuma buat menerima telepon dari dia!" balas Nayara tanpa rasa takut sedikit pun.
Matanya menantang tatapan Adrian. "Kalau kamu tidak menyembunyikan apa-apa, kenapa kamu tidak angkat teleponnya di depanku? Kenapa harus lari ke ruang tamu tengah malam?"
"Karena aku tahu kamu bakal bikin keributan seperti ini!" bentak Adrian.
Pria itu menunjuk ke arah kamar mereka dengan urat leher yang mulai menonjol. "Lihat, kan? Aku baru bicara sebentar saja, kamu sudah menuduh yang tidak-tidak! Ini alasan kenapa aku malas bicara sama kamu, Nayara! Otak kamu itu isinya cuma curiga ... curiga dan curiga!"
"Kalau begitu buktikan kalau aku salah!" tantang Nayara cepat. Matanya mengunci pandangan suaminya yang terus mencoba mengalihkan tatapan. "Buktikan kalau aku cuma mengarang cerita! Siapa anak yang kamu sebut tadi?"
Adrian mendengus kasar. Ia memutar tubuhnya, berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil membelakangi istrinya.
"Itu bukan urusan kamu. Itu urusan pribadi Selena," jawab Adrian membelakangi Nayara. "Temannya ada yang sedang hamil di luar nikah, dan dia minta tolong carikan bantuan hukum dari kenalan pengacaraku. Aku cuma menenangkan dia, bilang kalau aku akan bantu tanggung jawab mengurus biayanya. Sudah, puas kamu?"
Nayara menatap punggung suaminya dengan rasa muak yang memuncak sampai ke kerongkongan. Alasan itu terdengar sangat murahan, persis seperti skenario sinetron yang dibuat asal-asalan oleh orang yang panik.
"Bantuan hukum?" Nayara tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Selena menangis tengah malam, dan suamiku ... mantan pacarnya, berjanji akan bertanggung jawab mengurus anak temannya? Kamu pikir aku anak kecil yang bisa kamu bodohi dengan cerita konyol seperti itu, Mas?"
Adrian berbalik cepat. "Aku bicara jujur, tapi kamu yang tidak mau percaya! Selalu saja begitu! Aku ini suami kamu, Nayara! Kenapa kamu lebih percaya sama pikiran kotor kamu sendiri daripada kata-kataku?!"
"Karena kata-katamu tidak ada satu pun yang bisa dipercaya lagi, Mas!" suara Nayara akhirnya meninggi, memecah keheningan malam di rumah itu.
"Jaga bicaramu, Nay!" tegur Adrian dengan mata melotot.
"Kamu yang harusnya jaga perbuatanmu!" balas Nayara tidak kalah keras. "Kamu pulang membawa bunga yang sama persis dengan yang dia pegang. Kamu memeluknya di lobi hotel! Dan sekarang kamu menjanjikan tanggung jawab untuk seorang anak?! Tanggung jawab apa yang sedang kamu bicarakan sama perempuan itu, Mas Adrian?!"
Adrian terdiam. Matanya membesar saat Nayara menyebutkan soal lobi hotel. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada suara yang keluar.
"Lobi hotel ... K-kamu ..." Adrian tergagap, suaranya mendadak melemah drastis. Kepanikannya kini tidak bisa ditutupi lagi. Ia menelan ludah dengan kasar. "K-kamu bicara apa, Nay?"
"Kamu pikir aku tidak tahu?" ucap Nayara, suaranya kini kembali merendah, dipenuhi getaran kekecewaan yang sangat dalam.
"Kamu pikir aku tidak tahu ke mana kamu pergi di hari peringatan pernikahan kita? Kamu pikir aku tidak tahu kamu menghabiskan malam itu sama dia di hotel?"
Adrian mundur satu langkah tanpa sadar, punggungnya menabrak sandaran sofa. Napas pria itu memburu.
"Nay ... itu ... aku bisa jelaskan," ucap Adrian terbata-bata. Kedua tangannya terangkat ke udara, mencoba menenangkan istrinya. "Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Malam itu aku memang bertemu dia, tapi itu cuma—"
"Cuma apa?" potong Nayara cepat. Matanya mulai memanas, namun ia memaksa menahan air matanya agar tidak jatuh di depan pria pembohong ini.
"Cuma salah paham? Cuma urusan bisnis? Rekan bisnis tidak berciuman di depan umum, Mas!"
"Aku mabuk malam itu, Nay!" sangkal Adrian cepat, melempar alasan baru dengan wajah panik.
"Aku banyak pikiran karena pekerjaan! Selena kebetulan ada di sana dan ... dan itu terjadi begitu saja! Sumpah, Nay, itu cuma kesalahan satu malam! Tidak ada artinya apa-apa!"
"Kesalahan satu malam yang diakhiri dengan pemesanan kamar hotel?" desak Nayara, mematahkan kebohongan Adrian tanpa ampun. "Dan besoknya kamu membiarkan perempuan itu memegang bajumu di kantor seolah-olah dia berhak atas suamiku?"
Adrian terbungkam rapat. Ia menatap istrinya dengan sorot ketakutan. Ia menyadari bahwa Nayara sudah mengetahui semuanya, jauh lebih banyak dari yang ia perkirakan. Tidak ada lagi celah untuk menyangkal.
"Aku sudah muak, Mas," ucap Nayara, suaranya terdengar sangat lelah. Ia melipat kedua lengannya di dada, memeluk dirinya sendiri untuk menahan tubuhnya yang terus gemetar.
"Aku sudah muak dengan semua kebohongan kamu. Setiap kali kamu buka mulut, yang keluar cuma kebohongan untuk menutupi kebohongan yang lain."
"Nayara, dengarkan aku dulu, tolong ...," bujuk Adrian, mencoba maju mendekat dengan langkah ragu.
"Mundur!" sentak Nayara tegas. Ia menatap Adrian dengan sorot mata yang belum pernah ia tunjukkan selama dua tahun pernikahan mereka. Begitu dingin. Begitu jauh. "Jangan berani sentuh aku."
Adrian menghentikan langkahnya seketika, berdiri kaku dengan bahu merosot jatuh.
"Aku cuma minta satu hal malam ini," kata Nayara pelan, namun setiap kata-katanya diucapkan dengan sangat jelas. "Aku minta kejujuran kamu, Mas. Untuk yang terakhir kalinya."
Adrian menatap mata istrinya yang memerah. "Nay ...."
"Berhenti mengarang cerita. Berhenti mencari-cari alasan dan menyalahkan keadaan," potong Nayara tanpa memberikan celah.
Ia menarik napas panjang, menstabilkan suaranya. "Katakan padaku sekarang. Apa yang terjadi antara kamu dan Selena? Dan siapa anak yang kamu maksud di telepon tadi?"
"Kalau aku jujur ... apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Adrian pelan. Suaranya bergetar hebat. Pria itu tampak sangat putus asa.
"Aku tidak menjanjikan apa pun," jawab Nayara datar, wajahnya seperti tembok batu.
"Tapi kalau kamu berbohong lagi satu kata saja malam ini, besok pagi aku akan membereskan barang-barangku, keluar dari rumah ini, dan tidak akan pernah kembali lagi."
Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangan kanannya terangkat, meremas rambutnya sendiri dengan kuat hingga berantakan. Napasnya terdengar berat dan putus-putus di ruang tamu yang lengang itu.
Ia menyadari bahwa ia benar-benar sudah tidak punya jalan keluar lagi. Semua alasan dan kebohongan yang ia susun rapi kini sudah hancur berkeping-keping.
Ruang tamu itu hening selama lebih dari satu menit. Hanya terdengar suara detak jarum jam dinding dan helaan napas Adrian yang kacau.
Nayara berdiri mematung, menunggu. Meskipun dadanya terasa seperti diiris-iris pisau tajam, ia harus mendengar kenyataan itu langsung dari mulut suaminya.
Ia harus mendengarnya, agar ia tidak pernah punya alasan lagi untuk bertahan pada harapan kosong.
Perlahan, Adrian mengangkat kepalanya. Wajah pria itu terlihat sangat lelah, ketakutan, sekaligus pasrah. Mata Adrian merah, membalas tatapan tajam istrinya.
Adrian terdiam lama, lalu berkata, “Selena sedang hamil. Dan aku tidak bisa memastikan bahwa anak itu, bukan anakku.”
emang lu doang yang bisa 🤣🤣