NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abang Gala

Hari ini, tepat empat bulan usia kandungan Revin, Ibunda Gala.  Membuat acara doa bersama di rumah, untuk keselamatan sang ibu dan jabang bayi.

Mengundang beberapa keluarga dan tetangga, acara itu berjalan lancar. Kini hanya tersisa beberapa sepupu Gala yang masih di sana, karena yang lain sudah memilih pulang.

Sejak tadi, Gala hanya diam bermain ponsel, duduk di bagian paling pojok. Tidak menggubris apapun ledekan dari para sepupunya.

"Cie ... Jadi Abang," goda Biru sambil mencolek dagu Gala.

"Abang Gala ...." Kini Reksa, pun ikut-ikutan menggodanya, sambil menusuk-nusuk pipi cowok itu.

"Abang, nanti dedeknya jangan ditendang ya, Bang." Kiara, yang berada di sebelah Reksa, pun ikut-ikutan melancarkan godaannya.

"Katanya mau diajak baku hantam. Iya, kan, Bang?" Cia ikut menimpali, diikuti tawa mereka semua.

Rea baru datang dari dapur, membawa beberapa gelas minuman untuk para sepupu suaminya.

Gala melirik ke arah Rea yang ikut tersenyum menimpali celetukkan para sepupu laknatnya itu.

"Re, gak ada niat buat lahiran bareng sama Ibu mertua?" Kali ini, Biru beralih meledek teman seangkatannya itu.

"Sudah sampai mana proses marga Ibra selanjutnya?"

"Sudah ada pertemuan ovum sama sperma, kan?" Seluruh pasang mata menatap ke arah Reksa yang baru saja berbicara demikian.

Gala dan Rea, pun sama-sama saling pandang, seolah tengah berbicara lewat telepati mereka.

"Hey, ayolah! Harusnya kita tuh bikin anak bareng-bareng, biar entar gede bisa bikin geng," kata Biru yang membuat Gala menatapnya tak suka.

"Gak ada! Anak gue gak boleh main geng." Gala menarik tangan Rea agar duduk di sampingnya.

"Ya elah, Bang. Geng di sini, tuh yang baik-baik gitu loh. Yang bantu orang-orang yang kesulitan, yang bikin acara sosial gitu. Bukan yang tukang ribut dan rusuh."

"Tapi benar juga kata Biru. Gimana kalau kita bikin bareng, jadi bareng, gede bareng, biar mereka sahabatan gitu. Seru kali, ya?" Reksa ikut-ikutan, sembari menerima uluran kue dari Kiara, menggunakan mulutnya.

"Nah, benar tuh, Bang!" Biru semakin antusias karena idenya disetujui oleh Reksa, si kakak sepupu tertua di antara mereka.

"Lo pikir, rezeki bisa datang bareng-bareng? Memangnya lo yakin, kalau anak-anak kita bisa jadi bareng, lahir bareng, tumbuh bareng? Belum tentu!"

Gala kesal, karena sejak tadi pembahasan mereka selalu tentang anak dan antek-anteknya. Tidak tahukah mereka, jika ia semakin kesal saat teringat akan kenyataan bahwa, ia sama sekali belum menyentuh istrinya secara lebih.

"Namanya rezeki seseorang itu beda-beda, sudah ada takaran masing-masing. Kapan rezeki itu datang, seberapa besar, seberapa banyak. Gak ada yang tau, kan?"

Semua terdiam menatap Gala yang tampak begitu kesal, padahal mereka tahu jika Gala adalah sosok paling santai di antara mereka.

"Gue itu paling benci ya, sama orang yang tanya-tanya, kapan nikah, kapan punya anak. Memang kalau gue tanya, lo kapan mati, lo bisa jawab? Enggak, kan?"

Lagi, mereka diam, mulutnya terkunci tak bisa menjawab ucapan Gala. Mereka bingung, apakah Gala memang tengah dalam mode baperan, atau memang candaan mereka yang keterlaluan.

Rea menatap sepupu suaminya tak enak hati, sembari bergerak mengusap lengan Gala dengan lembut.

"Maaf, ya. Lagi agak sensi," kata Rea meski sebenarnya tidak mengerti dengan hal yang terjadi pada suaminya saat ini.

"Jangan ada yang bilang, gue lagi PMS atau istri gue lagi hamil! Gue lagi kesal doang, dari tadi ngomongin anak. Gak tau, kan lo pada, gue tuh lagi nahan diri buat gak kasih keponakan adik gue secepatnya, karena pengin fokus kuliah dulu!"

Semua melipat mulut saat Gala berkata demikian, sebelum tawa mereka pecah setelahnya.

"Parah! Pantesan sensi, ternyata belum dapat jatah, toh," cecar Biru di tengah tawanya sampai memegangi perut.

"Pantesan ngamuk, ternyata belum dikasih makan," ledek Reksa dengan alis naik-turun.

Gala yang melihat tatapan penuh ledekan dari para sepupunya, pun semakin kesal. Ia bangkit dari duduknya, dan menarik tangan Rea agar ikut bersamanya.

"Berisik!"

"Abang Gala, baperan!"

Meski Gala sudah berlalu, ledekan mereka masih terdengar jelas. Gala hanya mendengkus sebal dan berlalu ke kamar bersama Rea.

"Kenapa sih, Kak?" Rea sedikit heran, karena yang ia tahu, Gala tidak pernah sesensitif itu hanya karena obrolan tadi.

Gala tak menjawab, melepaskan tangan Rea sebelum membanting tubuhnya ke atas ranjang.

Rea menggelengkan kepala, kemudian ikut duduk di samping Gala, mengusap kening laki-laki yang kini memejamkan matanya.

"Lo kenapa?"

Gala kembali membuka mata, membuat tatapan mereka beradu. Dapat Rea lihat, tatapan datar namun tersirat sayu di dalamnya.

"Apa gue harus nunggu selama itu?" tanya Gala dengan nada bergumam, namun masih didengar jelas oleh Rea.

"Nunggu apa?" Rea terus menatap mata Gala, dibalas tatapan dalam oleh suaminya.

Seolah mengerti akan maksud suaminya, Rea membulatkan mata. "Kak, lo ...."

Tidak bisa, lidah Rea terasa kelu hanya untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya merinding seketika.

"Lupakan!" Gala membalikkan tubuhnya, membelakangi posisi Rea duduk saat ini.

Rea menelan ludah, ia tahu maksud Gala. Laki-laki itu bertanya perihal perkataannya tadi, tentang memiliki anak setelah mereka lulus kuliah.

Tentu itu masih sangat lama, karena Rea pun baru saja masuk kuliah. Butuh waktu sekitar empat sampai lima tahun untuk dia bisa lulus.

"Kak--"

"Diam! Gak usah dipikirin. Lo mau keluar, keluar aja," kata Gala masih dengan posisi membelakangi Rea.

Rea diam, ia tahu Gala laki-laki normal. Sebagai laki-laki yang setiap hari tidur bersama perempuan, tentu itu berat bagi Gala. Terlebih, status Rea merupakan perempuan yang halal untuk ia sentuh.

"Kak, lo bisa minta kapanpun lo mau. Kalau gue siap, gue akan berikan itu buat lo."

Gala yang semula berusaha memejamkan mata, sontak membuka matanya. Namun, ia masih enggan membalikkan badan untuk menghadap istrinya.

"Kalau lo belum siap?" Gala menatap lurus ke arah depan, dengan tatapan datar.

Rea gelagapan, ia dibuat gugup atas pertanyaan Gala. "Ya ... Gue usahakan."

Gala segera berbalik dan berucap, "Ayo, sekarang!"

Rea melotot, lalu mengalihkan pandangan, menghindari tatapan Gala padanya saat ini.

"Em ... Memang mau sekarang?" Rea menatap Gala ragu, berharap Gala tidak serius dengan ucapannya.

"Iya! Gue mau sekarang."

Raut wajah Gala yang teramat datar, justru membuat Rea was-was. Ingin rasanya ia menangis, takut untuk di unboxing sekarang.

"Kak ...." Raut wajah Rea yang begitu melas, membuat Gala tertawa seketika.

Melihat Gala tertawa, Rea mengerjapkan mata bingung.

Gala segera menghentikan tawanya, terkekeh menatap perempuan itu. Tangannya tergerak untuk mengusap pipi Rea dengan lembut.

"Gue gak akan minta sekarang."

Rea tampak menghela nafas lega, bahkan senyumnya terlihat mengembang.

Gala menggigit bibit menahan senyum, melihat raut wajah Rea benar-benar menggemaskan.

"Tapi kalau nanti malam, boleh lah."

"Kak!"

Lagi, tawa Gala menggelegar setelahnya, karena melihat senyum Rea yang terganti dengan raut panik dan kaget.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!