Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Pintu kamar hotel terbuka perlahan. Alina melangkah masuk lebih dulu, matanya menyapu sekeliling ruangan yang temaram dan tenang. Tirai blackout tertutup rapat, menahan teriknya siang di luar. Revan menutup pintu di belakangnya, berdiri terpaku sejenak di balik bingkai pintu, sebelum ia berbalik dan menatap sosok Alina di tengah ruangan. Ia melangkah cepat mendekat, lalu menarik lengan wanita itu ke arahnya.
Alina terkejut secara refleks, tubuhnya terhuyung ke depan dan menabrak dada Revan. Sebelum sempat ia bereaksi, bibir Revan menyentuh bibirnya. Matanya terbelalak sejenak, tas yang digenggamnya terjatuh ke lantai dengan bunyi berderit pelan. Lalu ia memejamkan mata, kedua tangannya mencengkeram erat kain kemeja hitam milik pria itu.
Revan melepaskan ciumannya sejenak, napasnya terengah-engah. Ia melepas jas hitamnya dengan gerakan tergesa-gesa dan melemparkannya ke kursi di sudut ruangan, lalu kembali mencium bibir Alina dengan penuh kerinduan.
Kedua tangan Revan memeluk pinggang Alina erat, keduanya berjalan perlahan menuju ranjang tanpa melepaskan ciumannya. Saat sampai di tepi ranjang, Revan berhenti sejenak, melepaskan ciumannya. Bukan karena nafsunya hilang, tapi karena ia takut Alina akan menyesalinya nanti.
"Sebelum kita melangkah lebih jauh," ucap Revan dengan suara rendah, matanya menatap lurus ke mata Alina. "Aku ingin kamu melihat dengan baik, bahwa aku ini bukan Rafael."
Alina menatapnya balik, napasnya masih memburu. Tidak ada ragu di matanya.
"Aku tahu," bisiknya mantap, jari‑jemarinya masih mencengkeram erat kain kemeja hitam Revan. "Dari awal aku tahu kamu Revan. Makanya aku tetap di sini."
Keraguan yang selama ini bersembunyi di tatapan Revan akhirnya hilang. Ia menatap wajah Alina lama, seolah ingin mengingat setiap garis wajah wanita itu sebelum ia mendekat kembali. Ia menautkan bibirnya ke bibir Alina, kali ini penuh keyakinan dan kerinduan yang sudah lama ia sembunyikan.
Alina membalas sentuhan itu, seluruh beban kesal dan sakit hati yang ia rasakan sejak malam ulang tahun pernikahan itu seolah sedikit terangkat. Di balik tirai tertutup, suara kendaraan dan keramaian siang hari tidak lagi terdengar oleh mereka. Yang ada hanya detak jantung mereka yang berdegup kencang, berirama bersama di ruangan yang tenang itu.
-
-
-
Rafael duduk bersandar di kursi kulit besar di balik meja kerjanya, tatapannya tertuju ke luar jendela namun pikirannya tertahan pada kejadian semalam. Rasa bersalah yang berat terus menghantam dadanya, teringat bagaimana ia terjebak di apartemen Amara, melupakan janji ulang tahun pernikahan yang sudah disiapkan Alina dengan penuh harapan.
Terdengar bunyi ketukan pelan di pintu ruangan.
"Masuk," ucapnya dengan nada rendah.
Pintu terbuka perlahan, Sita sekretarisnya melangkah masuk membawa map dokumen tebal dan tablet kerja di tangannya. Ia meletakkan map di tengah meja kerja Rafael, lalu menyalakan layar tablet untuk menampilkan jadwal harian.
"Ini dokumen kontrak yang perlu Tuan tanda tangani sebelum jam tiga sore," lapornya sopan.
Rafael mengangkat wajahnya, matanya tampak lelah dan murung.
"Agendaku sore ini apa saja?" tanyanya.
Sita menggeser layar tabletnya.
"Jam tiga ada board call dengan investor dari Singapura, Tuan. Mereka menunggu keputusan final Anda soal ekspansi. Jam lima ada brief 10 menit dengan Finance soal laporan kuartal — mereka hanya butuh approval Anda. Dan jam tujuh malam ada private dinner dengan Mr. Mike di Grand Hotel, untuk finalisasi akuisisi."
Rafael terdiam sejenak, menatap jam di pergelangan tangannya.
"Batalkan makan malam dengan Mike," ucapnya.
Sita terlihat terkejut. "Tapi Tuan, itu sudah dijadwalkan dari minggu lalu. Tuan Mike—"
"Reschedule jadi besok siang. Bilang saja saya ada urusan keluarga mendadak," potong Rafael cepat. Matanya kembali menatap keluar jendela. "Saya ingin pulang lebih awal hari ini."
"Baik, Tuan."
Sita mengangguk sopan, lalu berjalan keluar ruangan kerja sambil membawa tablet dan map dokumennya, menutup pintu perlahan di belakangnya.
Begitu pintu tertutup, Rafael meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Jari-jemarinya menekan nomor Revan, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. Hanya terdengar nada panggil berulang-ulang, tidak ada jawaban. Ia mencoba menelepon sekali lagi, tapi sama saja, tidak diangkat-angkat.
Rafael menghela napas kasar. Ia melempar ponselnya kembali ke atas meja.
"Kemana perginya anak itu," gumamnya pelan.
Ia segera menekan nomor Alina. Nada panggil kembali terdengar panjang, tak ada jawaban juga. Rasa cemas mulai merayap di dadanya. Ia menekan nomor telepon rumah.
Tak lama terdengar suara Bi Hani di seberang telepon.
"Halo, selamat siang."
"Bi Hani, ini Rafael. Apakah Alina sudah pulang ke rumah?" tanyanya dengan nada tegang.
Ada jeda sejenak dari seberang.
"Belum, Tuan. Nyonya belum pulang sejak tadi pagi. Mas Revan juga belum ada di rumah."
Rafael menahan napas sejenak. Rasa bersalah bercampur khawatir semakin membelit hatinya. Sepertinya Alina masih sangat marah padanya hingga pergi begitu lama tanpa pesan apa pun. Tapi, kenapa Revan juga tidak mengangkat telepon. Kemana mereka sebenarnya?
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰