"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Semalam, Mama Sekar menelepon dan mengatakan bahwa pagi ini, sebelum berangkat kerja, aku harus menemuinya. Aku tidak tahu apa yang ingin beliau bicarakan, tetapi dari nada suaranya, masalah yang ingin disampaikan terdengar cukup penting. Hal itu terbukti sekarang. Begitu tiba di ruang keluarga, aku langsung melihat Mama Sekar sudah menungguku dengan wajah serius.
“Ma, ada apa?” tanyaku penasaran.
“Din, duduk dulu. Kita tunggu Ghina juga,” ucapnya.
Aku menurut dan mengambil tempat duduk di hadapannya. Rasa penasaranku justru semakin besar. Kenapa harus menunggu Ghina? Apa jangan-jangan Mama Sekar ingin membicarakan kejadian semalam, ketika Ghina membawa Belinda pergi? Bisa saja beliau juga ingin menyalahkanku karena kejadian itu. Aku hanya bisa menunggu sampai Mama Sekar mengatakan sendiri apa yang sebenarnya ingin dibicarakan.
Tak lama kemudian, Ghina datang dengan baju tidur yang masih melekat di tubuhnya. Gadis itu langsung duduk di samping Mama Sekar dengan pandangan tertunduk, seolah tidak mampu menatapku. Aku hanya diam sambil menunggu Mama Sekar berbicara terlebih dahulu.
“Ghina, apa tidak ada yang ingin kamu katakan pada kakakmu ini?” tanya Mama Sekar, seolah sengaja mendesaknya untuk bicara.
Ghina masih tertunduk. Setelah beberapa saat seperti mencari kata-kata yang tepat, akhirnya dia mengangkat wajah dan berkata, “Kak, Ghina mohon, kakak jangan pergi ke Ujung Kulon untuk menjadi relawan.”
Dahiku langsung mengerut mendengar permintaan itu. Mungkin Mama Sekar sudah mendengar bahwa keputusanku untuk pergi menjadi relawan sudah bulat. Bagaimanapun juga, keluarga Saliyo merupakan salah satu donatur utama rumah sakit tempatku bekerja. Apalagi sekarang aku sudah menjadi menantu keluarga ini. Tentu saja, ketika aku tetap memilih pergi, staf di rumah sakit mungkin tidak akan tinggal diam dan kabar itu akhirnya sampai pada mereka.
“Ghina... aku...” Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku ketika Ghina tiba-tiba maju dan bersimpuh di depanku.
“Kak, Ghina mau jujur. Sebenarnya Ghina yang meminta warga untuk menggerebek kakak dengan Kak Danu saat itu. Ghina nggak mau kakak pergi. Sekarang kakak sudah menjadi menantu keluarga ini, kenapa kakak masih mau pergi?”
Aku membeku mendengar pengakuannya. Jadi, semua ini ulah Ghina? Selama ini aku bahkan sudah cukup merasa bersalah karena pernikahanku dengan Danu menjadi penghalang bagi pernikahan Danu dan Belinda. Ternyata ada seseorang yang sengaja membuat semuanya terjadi hanya karena tidak ingin aku pergi.
“Din, Mama juga ikut salah karena tidak menghalangi Ghina. Tapi setelah Mama pikir-pikir, semua ini memang sudah menjadi takdir dari Yang Kuasa,” imbuh Mama Sekar.
Aku menarik napas perlahan. Jadi sekarang mereka mengatakan seolah semua yang aku alami, harga diri yang diinjak-injak, bahkan cacian yang kuterima dari anaknya sendiri, hanyalah bagian dari suratan takdir? Apa semua itu memang pantas kuterima hanya karena selama ini hidupku banyak bergantung pada belas kasih keluarga mereka?
Aku mencoba menahan semua perasaan yang kembali muncul dan memilih berbicara dengan tenang. “Maaf, Ghina, Mama, tapi aku tetap harus pergi. Lagipula, Danu juga sudah memberikan talak satu padaku. Pernikahan yang berdiri tanpa dasar, apalagi berawal dari sebuah kesalahan, tidak mungkin akan bertahan lama. Cepat atau lambat, semuanya juga akan rapuh.”
Aku memegang bahu Ghina agar gadis itu bangun dan tidak lagi bersimpuh di depanku. “Kakak nggak menyalahkan kamu, Ghina. Mungkin benar semua ini sudah menjadi takdir dari Yang Kuasa. Tapi lain kali kamu harus sadar, akan ada seseorang yang bisa sengsara karena keputusan sepihak seperti ini.”
“Kak...” Ghina hendak melanjutkan ucapannya, tetapi aku segera meletakkan telunjuk di depan bibirnya agar dia tidak berkata lebih banyak. Setelah itu, aku bangkit dan melangkah mendekati Mama Sekar, lalu bersimpuh di hadapannya.
“Ma, aku tahu Mama merasa bersalah padaku. Tapi aku tidak menginginkan apa pun dari keluarga ini. Jadi, tolong tarik kembali semua pemberian harta itu. Aku sama sekali tidak berhak mendapatkannya.”
Aku pikir Mama Sekar akan langsung Mengabulkan permintaanku. Namun, bukannya menjawab, beliau justru meraih tanganku dan membantuku bangkit hingga akhirnya berdiri menjulang di hadapanku.
“Tidak, Dinda! Aku tidak akan menarik kembali semua pemberianku. Kamu sebagai istri utama Danu seharusnya menyelamatkan dia dari istri keduanya, bukannya malah menyerah seperti ini.”
Aku terdiam. Otakku berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja diucapkan Mama Sekar. Namun, hanya satu kata yang terus terngiang di kepalaku, yaitu menyelamatkan. Apa maksudnya?
“Kak, Mama dan aku sudah menyelidiki semuanya. Ternyata Kak Belinda di luar sana bermain api dengan lelaki lain,” cetus Ghina. “Kakak mencintai Kak Danu. Ini kesempatan buat kakak untuk membongkar boroknya Kak Belinda.”
Aku tersenyum mengejek diriku sendiri. Jadi, sekarang keluarga ini ingin menjadikanku umpan untuk menghadapi cinta Danu? Semua orang tahu bagaimana Danu mencintai Belinda. Mana mungkin lelaki itu akan langsung percaya hanya karena aku mengatakan bahwa Belinda bermain api dengan lelaki lain? Bukannya mendapatkan kepercayaan, aku justru bisa saja kembali dianggap sebagai perempuan yang ingin menghancurkan hubungan mereka.
“Benar, Dinda. Jadi berjuanglah sekali lagi,” imbuh Mama Sekar.
Aku terdiam mendengar perkataan itu. Berjuang lagi? Bukankah selama ini aku sudah berjuang cukup lama? Aku sudah mencintai Danu dalam diam, menerima pernikahan yang tidak pernah dia inginkan, bahkan bertahan ketika dia tetap memilih Belinda. Sekarang, setelah akhirnya aku memutuskan untuk pergi, mereka justru memintaku berjuang sekali lagi. Masalahnya, aku sendiri tidak tahu lagi apa yang sebenarnya harus kuperjuangkan.
Dengan tegas aku menggeleng. “Mama Sekar, Ghina, maaf, aku nggak bisa. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi.”
Aku memandang Ghina dan Mama Sekar secara bergantian. Keduanya hanya diam. Entah mereka sudah menerima keputusanku atau sedang memikirkan rencana lain, aku tidak peduli. Sungguh, aku hanya ingin melepaskan semuanya dan hidup dengan tenang. Karena sepertinya tidak ada lagi yang ingin mereka bicarakan, aku mengucapkan terima kasih sebelum melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.
Namun, baru beberapa langkah, kakiku kembali terhenti ketika suara Ghina terdengar dari belakang.
“Pergilah, Kak, secara diam-diam. Kami nggak akan menghalangimu. Tapi kalau suatu hari Kak Danu mengejarmu, tolong beri dia kesempatan. Kami nggak meminta Kakak langsung menerimanya. Biarkan lelaki seperti Kak Danu berjuang untuk mendapatkan wanita sebaik Kakak.”
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...