Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SKANDAL DI KAMPUS DAN KARTU HITAM TAK TERBATAS
Setelah tiga hari yang melelahkan di mansion keluarga Wijaya di Bandung, akhirnya kami kembali ke Jakarta.
Tiga hari itu adalah tiga hari terpanjang dalam hidupku.
Tiga malam aku harus tidur seranjang dengan Arga Wijaya di kamar yang sama. Tiga malam aku harus pura-pura mesra di depan Kakek dan keluarga besarnya yang seperti serigala. Dan tiga malam aku harus menahan diri agar tidak melewati garis bantal lagi, padahal setiap malam aku terbangun dan mendapati diriku sudah memeluk pinggang Arga lagi.
Arga tidak pernah protes lagi soal itu. Dia hanya diam dan membiarkanku memeluknya, bahkan kadang menarik selimut untuk menutupiku jika aku kedinginan. Tapi setiap pagi dia akan kembali dingin dan kejam seolah malam itu tidak pernah terjadi.
Dasar pria bipolar.
Kini, Rolls-Royce Phantom itu sudah memasuki area kampusku, Universitas Negeri Jakarta.
Aku akhirnya bisa kembali kuliah! Setelah seminggu tidak masuk karena drama pernikahan kontrak ini, aku sangat rindu skripsiku.
"Turun di sini saja Pak, saya bisa jalan ke dalam," kataku pada sopir.
"Tidak," suara Arga yang duduk di sampingku memotong. "Masuk sampai depan gedung fakultas. Biar semua orang lihat siapa yang menurunkan kamu."
"Jangan Pak! Nanti jadi gosip!"
"Itu memang tujuannya," Arga tersenyum miring. "Saya mau semua orang di kampus ini tahu bahwa Sinta Maharani sekarang adalah istri Arga Wijaya. Jadi tidak ada laki-laki sampah yang berani mendekati kamu. Ingat Pasal 4 di kontrak, kamu tidak boleh dekat dengan Alpha lain selain saya."
Cemburu? Tidak mungkin. Dia hanya posesif karena aku adalah propertinya.
Mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan gedung Fakultas Bahasa dan Seni, tempat mahasiswi-mahasiswi berkumpul. Semua mata langsung tertuju pada mobil itu.
Pintu mobil dibuka oleh sopir. Arga keluar lebih dulu, dengan setelan jas Armani hitamnya yang membuat semua mahasiswi menjerit histeris.
Lalu dia mengulurkan tangannya padaku.
Aku turun dengan gaun sederhana tapi elegan berwarna putih yang harganya 20 juta, pemberian stylist kemarin. Kalung berlian masih melingkar di leherku karena Arga melarangku melepasnya. Katanya biar semua orang tahu aku kaya.
"Ya Tuhan itu Sinta?! Sinta yang miskin itu?!"
"Sama CEO Wijaya Group?! Yang ganteng itu?!"
"Dia pakai berlian asli! Gila!"
Bisik-bisik itu langsung menyebar seperti api. Aku menunduk malu.
Arga tidak peduli. Dia merangkul pinggangku erat dan mengecup keningku di depan semua orang. Lagi-lagi akting untuk menjaga image.
"Belajar yang rajin, istriku. Nanti jam 4 sore saya jemput. Jangan pulang dengan laki-laki lain," katanya dengan suara keras yang sengaja dibuat mesra agar semua orang dengar.
Aku mengangguk cepat dan langsung berlari masuk ke dalam gedung, meninggalkan Arga yang masih menjadi pusat perhatian.
Di dalam kelas skripsi, teman-temanku langsung mengerumuniku.
"Sinta! Gila! Kamu nikah sama Arga Wijaya?! Yang di Forbes 30 under 30 itu?!"
"Kamu hamil ya? Makanya buru-buru nikah?"
"Berliannya asli gak? Pinjem dong!"
Aku bingung harus jawab apa. Aku hanya tersenyum kaku.
Dosen pembimbing skripsiku, Bu Ratna, memanggilku ke ruangannya.
"Sinta, saya dengar kamu menikah? Selamat ya. Tapi skripsi kamu bagaimana? Kamu sudah seminggu tidak bimbingan. Kalau begini kamu bisa tidak lulus."
"Maaf Bu, saya janji minggu ini saya kejar Bu..."
Bu Ratna menatap kalung berlianku dengan tatapan sinis. "Sinta, Ibu tahu kamu dari keluarga susah. Jangan sampai pernikahan mendadak ini membuat kamu lupa diri. Banyak mahasiswi yang gagal sarjana karena menikah dengan orang kaya lalu dimanja. Ibu tidak mau kamu seperti itu."
Nasehat itu menamparku. Benar, aku tidak boleh lupa diri. Aku harus tetap lulus.
Selesai bimbingan jam 12 siang, aku keluar gedung dengan perasaan lega. Skripsiku masih bisa diselamatkan.
Tapi di parkiran kampus, sudah ada pemandangan yang membuat darahku mendidih.
Arga Wijaya bersandar di mobil Rolls-Royce nya, dikelilingi oleh 5 mahasiswi cantik dari fakultasku yang terkenal genit. Mereka tertawa-tawa genit sambil menyentuh jas Arga.
"Kak Arga, main dong ke kafe kampus, Sinta kan masih bimbingan lama..."
"Kak Arga ganteng banget sih, pantes Sinta mau..."
Arga terlihat tidak nyaman, tapi dia tidak mengusir mereka karena menjaga image sebagai CEO yang ramah.
Aku tidak tahu kenapa, tapi melihat Arga dikerubungi wanita lain membuat dadaku sesak dan panas. Padahal dia bukan suami beneran, tapi rasanya... cemburu?
Aku berjalan cepat menghampiri mereka.
"Maaf, Mas Arga, bimbingannya sudah selesai," kataku dengan suara yang sedikit ketus.
Arga langsung menoleh padaku dan senyumnya langsung berubah. Dia langsung melepaskan diri dari kerumunan mahasiswi itu dan berjalan cepat ke arahku, merangkul pinggangku.
"Sayang, lama sekali. Saya kangen," katanya, lagi-lagi akting, tapi kali ini matanya menatapku lekat.
Para mahasiswi itu langsung mencibirku dengan tatapan iri.
Arga membuka pintu mobil untukku. Aku masuk dengan kesal.
Di dalam mobil, aku tidak bicara. Aku menatap keluar jendela.
"Kenapa cemberut?" Arga bertanya setelah mobil jalan.
"Tidak apa-apa."
"Kamu cemburu?"
"ENGGAK! Ngapain cemburu sama Bapak! Bapak kan bukan suami beneran saya!"
Arga tertawa kecil, tawa pertamanya yang aku dengar sejak kami menikah. Tawa itu sangat tampan.
"Jelas-jelas cemburu. Wajahmu merah."
"Saya tidak cemburu! Saya hanya... malu Bapak dikerubungi di kampus saya! Merusak reputasi saya!"
"Reputasi? Kamu sekarang Nyonya Wijaya. Reputasi kamu adalah reputasi saya. Dan saya tidak suka istri saya cemberut karena hal tidak penting."
Arga kemudian mengambil sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kartu hitam mengkilap dengan tulisan Platinum Infinite.
"Ini untuk kamu."
"Apa ini?"
"Kartu kredit hitam saya. Limit tidak terbatas. No limit. Kamu bisa pakai untuk apa saja. Beli baju, beli buku skripsi, bayar UKT, traktir teman-temanmu. Bibi Sari bilang kamu tidak pernah jajan di kantin mewah karena tidak punya uang. Mulai sekarang, jangan malu-maluin saya dengan tidak punya uang."
Aku menatap kartu itu dengan kaget. Kartu hitam tak terbatas! Kartu yang hanya dimiliki orang super kaya!
"Saya tidak mau Pak, saya tidak butuh uang Bapak..."
"Kamu butuh. Ayahmu butuh obat, ibumu butuh uang kontrakan. Kamu butuh uang untuk print skripsi. Ambil. Ini bukan hadiah, ini kewajiban saya sebagai suami kontrak. Di dalam kontrak Pasal 7, saya wajib menafkahi kamu."
Lagi-lagi kontrak. Semua diukur dengan kontrak.
Aku akhirnya mengambil kartu itu dengan tangan gemetar. Kartu itu terasa berat.
"Pin nya adalah tanggal pernikahan kita. 280926. Jangan sampai hilang. Jika hilang, saya akan potong uang jajan ayahmu."
Ancaman lagi.
Mobil berhenti di depan sebuah mall mewah, Plaza Indonesia.
"Kenapa berhenti di sini Pak?"
"Kita belanja. Kakek telepon tadi, minggu depan ada gala dinner perusahaan Wijaya Group. Semua direksi dan media akan datang. Kamu harus tampil paling cantik, lebih cantik dari semua wanita di sana. Karena kamu adalah wajah saya sekarang."
Arga keluar dan menggandeng tanganku masuk ke mall. Semua pelayan toko langsung membungkuk hormat melihatnya.
Hari itu, Arga membelikan ku 10 gaun baru, 5 pasang sepatu hak tinggi, 3 tas Hermes, dan semua itu dibayar dengan kartu hitamnya tanpa melihat harga.
Aku seperti Cinderella yang dipaksa menjadi putri.
Tapi di tengah kemewahan itu, aku tidak bisa melupakan tatapan benci Arga saat pertama kali dia melihatku.
Apakah uang bisa menghapus benci? Apakah berlian bisa menutupi dendam masa lalu?
Aku melihat pantulan diriku di cermin toko. Aku cantik, berkilau, mewah. Tapi mataku kosong.
Aku adalah boneka mahal milik Arga Wijaya.
Dan boneka tidak boleh punya perasaan.
(Bersambung...)
""Enjoy gess ^_^^_^""