NovelToon NovelToon
TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH TUJUH

Ayu melangkah masuk tanpa diundang, matanya langsung tertuju pada Bayu yang masih tertidur pulas di sofa, tubuhnya lemas dengan posisi yang jelas menunjukkan sesuatu yang tidak wajar. Ia berlutut sebentar di samping suaminya, mengguncang bahunya pelan.

"Mas! Bangun, Mas!" panggil Ayu, namun Bayu hanya mengerang pelan tanpa benar-benar tersadar sepenuhnya.

Ayu berbalik, menatap Wulan dengan mata menyala penuh amarah. "Kamu ngapain sama suamiku? Kenapa dia kayak gini?"

"Dia... dia cuma kecapean, Mbak. Tadi katanya abis kerja lembur," jawab Wulan, mencoba mempertahankan kebohongannya meski suaranya sendiri sudah mulai gemetar.

"Bohong! Ini bukan capek biasa! Kamu kasih dia apa?!" bentak Ayu, kali ini mendekat, mencengkeram lengan Wulan dengan kuat, jauh lebih beringas dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya.

"Nggak, Mbak! Aku nggak ngapa-ngapain dia!" Wulan mencoba melepaskan diri, namun Ayu tidak melepaskan cengkeramannya, kemarahan yang selama ini tertahan kini benar-benar meledak tanpa bisa dikendalikan lagi.

"Kamu jebak dia kan?! Kamu sengaja bikin dia kayak gini biar aku dateng ke sini?!" jerit Ayu, mendorong Wulan hingga terhuyung ke belakang, menabrak meja kecil di ruang tamu itu.

---

Suara ribut itu membangunkan Raka yang sebelumnya tertidur di kamar. Anak kecil itu terbangun, menangis ketakutan mendengar suara keras kedua perempuan dewasa di ruang tamu, lalu berjalan sempoyongan keluar kamar mencari ibunya, panik dan bingung dengan suasana yang tidak biasa itu.

"Raka, jangan ke sini dulu, Nak!" teriak Wulan, panik melihat anaknya mendekat ke tengah pertengkaran yang semakin memanas.

Namun peringatan itu terlambat. Dalam kepanikan mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Ayu, Wulan tanpa sengaja mendorong tubuh Ayu menjauh dengan cukup keras, membuat Ayu terhuyung ke belakang tepat ke arah Raka yang baru saja mendekat. Tubrukan kecil itu membuat Raka yang masih belum stabil berjalan, terjatuh keras, kepalanya membentur sudut meja kayu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Tangisan Raka yang tadinya keras karena ketakutan, berubah menjadi jeritan kesakitan yang jauh lebih memilukan, disertai darah yang mulai mengalir dari luka di bagian pelipisnya.

"Raka!" jerit Wulan, histeris, segera berlari menghampiri anaknya yang kini menangis kejer dengan darah yang terus mengalir, membasahi wajah kecilnya yang pucat ketakutan.

---

Seketika, suasana yang tadinya dipenuhi amarah dan tuduhan, berubah total menjadi kepanikan yang jauh lebih besar. Ayu, yang sesaat sebelumnya masih diliputi kemarahan, kini berdiri terpaku, menyaksikan darah yang terus mengalir dari kepala anak kecil itu, sebuah pemandangan yang seketika menghapus seluruh amarah dan tuduhan yang baru saja ia lontarkan.

"Ya Allah," gumam Ayu, tubuhnya gemetar menyaksikan kejadian yang sama sekali di luar dugaannya.

"Ini semua gara-gara kamu!" jerit Wulan, menatap Ayu dengan mata yang dipenuhi kepanikan sekaligus kemarahan, menggendong Raka yang terus menangis dengan darah yang semakin banyak membasahi bajunya.

Meski hati Ayu masih dipenuhi kebingungan dan syok, insting kemanusiaannya segera mengambil alih situasi. "Kita harus buruan bawa dia ke rumah sakit! Nggak ada waktu buat saling nyalahin sekarang!"

Ayu segera berlari ke arah Bayu, mengguncangnya dengan lebih keras, mencoba membangunkannya dari pengaruh obat yang masih menguasai tubuhnya. "Mas! Bangun! Raka luka parah, kita harus buru-buru ke rumah sakit!"

Kalimat itu, entah bagaimana, cukup kuat untuk sedikit menembus kesadaran Bayu yang masih terpengaruh obat. Ia membuka matanya perlahan, masih dalam keadaan linglung, namun cukup sadar untuk mendengar kepanikan dalam suara Ayu dan tangisan Raka yang memilukan.

---

Dengan susah payah, dibantu Ayu yang setengah menyeretnya, Bayu berhasil bangkit meski tubuhnya masih terasa berat dan limbung. Ayu segera mengambil alih situasi, memerintahkan Wulan untuk segera masuk ke mobilnya bersama Raka, sementara ia sendiri membantu memapah Bayu yang masih belum sepenuhnya sadar ke kursi belakang.

"Cepetan! Nggak ada waktu buat mikirin siapa yang salah sekarang!" teriak Ayu, suaranya penuh ketegangan, namun juga menunjukkan sisi kepemimpinan yang tidak terduga muncul di tengah situasi darurat seperti ini.

Wulan, yang masih histeris menggendong Raka yang terus menangis dengan luka di kepalanya yang tidak kunjung berhenti mengeluarkan darah, segera masuk ke mobil tanpa banyak protes, kepanikan akan keselamatan anaknya jauh mengalahkan rasa permusuhan yang sesaat lalu masih begitu kental di antara mereka.

Ayu menyetir dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat, tangannya gemetar mencengkeram kemudi, pikirannya dipenuhi kekhawatiran akan keselamatan seorang anak kecil yang, meski bukan darah dagingnya sendiri, tetap saja tidak bisa ia biarkan menderita akibat pertengkaran yang, sebagian besar, juga menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Di kursi belakang, Wulan terus menangis sambil mendekap Raka yang semakin lemas, sementara Bayu yang mulai sedikit lebih sadar, menatap kondisi anaknya dengan wajah pucat pasi, menyadari bahwa apa pun yang terjadi setelah malam ini, konsekuensi dari seluruh kebohongan dan kesalahan yang telah ia buat selama dua tahun terakhir, kini benar-benar telah mencapai titik yang paling menyakitkan dan tidak bisa lagi ia hindari.

---

1
Heny
Sampai disini baca nya blm ketahuan
Thewie
bosan
Thewie
terlalu bertele2 Thor ceritamu, jadi membosankan pembaca🙏
Thewie
oala Bayu Bayu.. masih naek motor aja binik dua. KLO naek mobil gimana lagi lah kau laki2 keparat
Thewie
lanjut thor
Thewie
no coment yu. nunggu kebohongan suamimu terbongkar aja🤭
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭 sabar yaaa
total 1 replies
Thewie
bangkai lama2 y kecium baunya. percayalah wanita yg tersakiti akan jadi wanita paling kejam sejagat raya
Nuna_Pena: bener banget. kalau sudah capek sabar,sekali meledak lelaki menyesal
total 1 replies
Thewie
dr Pulau Natuna mampir ya thor
Nuna_Pena: MasyaAllah. makasi sudah mampir.
total 1 replies
Ma Em
Selidiki Ayu jgn cuma nanya doang sama Bayu jgn bodoh kamu jadi istri percaya banget sama laki apapa tanya Bayu mana ngaku si Bayu sama kamu .
Ma Em
Ayu ini bodoh atau gimana sih masa tdk ada kecurigaan sama sekali sama Bayu terlalu percaya sama laki , nanti setelah Ayu tau kebenaran nya tentang Bayu yg sdh punya istri lagi bahkan sdh punya anak baru mati si Ayu bodoh itu .
Thewie: bodoh mmg Bun si ayu ini
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!