Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hujan deras
Langit sore menumpahkan airnya tanpa ampun. Suara gemuruh petir menyambar beruntun, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah mewah yang terkunci rapat itu.
Di balik keheningan yang mencekam, Vivian masih tergeletak meluruh di dekat pintu depan yang dikunci Radhit dari luar. Tubuhnya menggigil parah, bukan hanya karena dinginnya ubin marmer, melainkan akibat rasa sakit di perut bawahnya yang makin menjadi-jadi seolah ada jarum-jarum tajam yang secara konstan mencabik rahimnya dari dalam.
Aku nggak boleh mati di sini... Anakku nggak boleh kenapa-kenapa...
Dengan sisa kesadaran yang mulai berkunang-kunang, Vivian memaksa jemarinya merayap di lantai. Dia merangkak sangat lambat, menyeret tubuhnya yang tak berdaya menuju arah dapur mencari jalan keluar dari pintu belakang yang biasanya terhubung ke area cuci. Napasnya tersengal-sengal, meninggalkan jejak air mata dan peluh dingin di setiap marmer yang dilewatinya.
Begitu sampai di pintu kayu dapur, keajaiban kecil menyapa keputusasaannya: kait slot pintu belakang tidak dikunci dari luar. Dengan jemari yang gemetar dan tremor hebat, Vivian memutar slot besi itu, mendorong pintu kayu tebal tersebut dengan seluruh sisa tenaganya, dan melangkah keluar menembus derasnya air hujan.
Hujan angin langsung menghantam tubuh ringkih Vivian tanpa ampun. Dalam sekejap, gaun lusuh yang melekat di tubuhnya basah kuyup. Rambutnya lepek menempel di pipi tirusnya yang pucat pasi bagaikan mayat.
Luka bekas pecahan kaca di telapak kakinya yang belum sembuh kini kembali terbuka, menyengat perih saat beradu dengan air hujan dan kerikil tajam di lorong samping rumah.
Namun Vivian tidak peduli. Dia memeluk perutnya rapat-rapat dengan kedua belah tangan, menunduk dalam-dalam untuk melindungi calon buah hatinya dari terpaan angin malam yang menusuk tulang.
Dia berjalan tersok-seok keluar menuju jalan raya, berharap ada keajaiban kendaraan umum yang lewat di kompleks perumahan elit yang sepi itu.
Setiap langkah yang diayunkannya terasa bagaikan siksaan neraka. Kaki Vivian lemas, dadanya sesak luar biasa menahan dorongan mual dan tangis yang beradu di tenggorokan.
Di sudut jalan raya, setelah menunggu hampir setengah jam dalam guyuran hujan deras yang membutakan pandangan, sebuah angkutan umum tua akhirnya berhenti.
Dengan sisa tenaga yang nyaris abis, Vivian memanjat masuk, duduk gemetaran di sudut kursi yang basah, menjadi pusat perhatian beberapa penumpang lain yang menatapnya dengan pandangan kasihan bercampur heran.
Vivian hanya bisa menunduk. Dia meremas kedua tangannya di atas perut, menggigit bibirnya yang membiru hingga berdarah demi menahan jeritan kesakitan yang makin hebat di perut bawahnya.
Aroma karbol dan desinfektan yang menyengat menyambut Vivian begitu dia tiba di lorong Rumah Sakit Daerah. Tidak ada ruang VIP mewah seperti yang biasa Radhit gunakan, hanya koridor sesak berisikan pasien yang mengantre.
Vivian berjalan terseret-seret dengan gaun basah yang meneteskan air di sepanjang ubin rumah sakit, hingga akhirnya seorang suster berteriak kaget melihat kondisinya dan bergegas membawa kursi roda.
Di dalam ruang tindakan, suasana mendadak tegang.
Dokter wanita yang dulu memeriksa Vivian tampak terbelalak kaget saat melihat pasiennya datang dalam keadaan basah kuyup, tubuh menggigil hebat, dan wajah tanpa warna. Tanpa membuang waktu, dokter menyuruh suster mengganti pakaian Vivian dan menyuntikkan obat penguat kandungan serta vitamin melalui selang infus.
"Ibu Vivian! Apa yang terjadi?!" suara dokter terdengar amat cemas dan tegas saat mulai menjalankan alat USG di atas perut Vivian yang dingin. "Kenapa kondisi Ibu bisa separah ini?! Tekanan darah Ibu drop di angka yang sangat berbahaya!"
Vivian terbaring kaku di atas ranjang periksa. Selang infus terpasang di punggung tangannya yang pucat. Tangisannya yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah di dalam ruangan yang sunyi itu. Air matanya mengalir membasahi bantal ruang perawatan.
"Dok... tolong anak saya..." bisik Vivian dengan suara yang begitu parau, pecah, dan memilukan. "Tolong selamatkan anak saya... Dia satu-satunya yang saya punya..."
Dokter menatap layar monitor USG dengan raut wajah yang kian memburu dan prihatin. Di layar hitam-putih itu, garis gelombang detak jantung janin Vivian terlihat begitu lemah, naik-turun secara tidak teratur.
"Kondisi rahim Ibu mengalami kontraksi hebat akibat stres ekstrem dan trauma fisik!" tegur dokter dengan intonasi penuh penyesalan dan ketegasan. "Janin Ibu dalam kondisi sangat kritis, Ibu Vivian! Detak jantungnya sangat lemah! Kalau Ibu terlambat setengah jam saja datang ke sini, Ibu bisa mengalami pendarahan hebat dan keguguran!"
Kata-kata keguguran menghantam dada Vivian bagaikan godam besar yang meremukkan seluruh jiwanya. Vivian menutup wajahnya dengan kedua tangan, meraung dalam tangisan sunyi yang begitu memilukan.
Bagaimana bisa seorang ayah tega membiarkan darah dagingnya berada di ambang kematian hanya demi pergi berlibur dan memanjakan wanita lain? Bagaimana bisa Radhit tega menguncinya di rumah bagaikan binatang yang dibiarkan membusuk sendirian?
"Di mana suami Ibu?!" tanya dokter dengan nada marah yang tak lagi bisa ditahan. "Kondisi istri dan anaknya sudah kritis seperti ini, kenapa tidak ada keluarga atau suami yang mendampingi?!"
Vivian menggeleng pelan di tengah isak tangisnya yang sesak. Lidahnya terasa begitu kufur dan pahit untuk sekadar menyebut nama Radhit.
"Dia... tidak bisa datang, Dok..." sahut Vivian lirih, suaranya terdengar begitu hampa dan tak berdaya. "Dia... sangat sibuk..."
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Vivian dengan rasa iba yang teramat sangat. Beliau mengusap lembut bahu Vivian yang masih bergetar hebat.
"Ibu harus dirawat inap malam ini. Jangan memikirkan apa pun dulu. Fokus menyelamatkan nyawa anak ini. Kalau Ibu terus-terusan tertekan seperti ini, rahim Ibu tidak akan kuat menahannya lebih lama lagi."
Malam makin larut di ruang perawatan kelas tiga yang bising oleh suara mesin detak jantung. Vivian terbaring sendirian di balik tirai pembatas yang kusam. Cahaya lampu neon di atasnya terpancar temaram, membiaskan bayangan tubuhnya yang begitu kian mengurus.
Dengan tangan yang terpasang selang infus, Vivian merogoh ponselnya yang berada di atas meja nakas kecil. Layar ponselnya retak, memantulkan bayangan wajahnya yang mengenaskan.
Tidak ada satu pun pesan masuk dari Radhit. Tidak ada satu pun panggilan tak terbalas dari suaminya.
Pria itu benar-benar mengabaikannya secara mutlak. Di detik ini, ketika Vivian dan anaknya bertaruh nyawa di atas ranjang rumah sakit, Radhit mungkin sedang tertawa bahagia, menikmati kemewahan resor dan kehangatan bersama Clarissa tanpa ada sedikit pun rasa bersalah yang mengusik nuraninya.
Vivian memeluk perutnya dengan tangan kanannya yang gemetar. Di dalam keheningan kamar perawatan yang dingin, air mata Vivian terus mengalir tanpa henti, membasahi seprai rumah sakit yang kusam.
"Maafkan Ibu, Nak..." bisik Vivian lirih dengan dada yang serasa diremas kuat oleh keputusasaan. "Maafkan Ibu yang tidak bisa memberimu pelukan dari seorang Ayah... Tapi Ibu janji, Ibu akan bertaruh nyawa untuk menjaga kamu... walau harus sendirian..."
Malam itu, di dalam kesendirian yang membeku, Vivian menyadari satu hal yang teramat membakar batinnya Pernikahan ini bukan lagi sekadar neraka yang menyiksa jiwanya, melainkan sebuah tempat pembantaian perlahan yang siap merenggut nyawa buah hatinya.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian