NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Bel sekolah pembatas jam istirahat pertama berdering nyaring, mengakhiri pelajaran sejarah yang terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Aurelia. Gadis itu mengembuskan napas panjang, merapikan buku catatan di atas meja kelas XII IPS 2. Setelah pengakuan mengejutkan yang ia berikan di ruang penyimpanan OSIS tadi pagi, Aluna dan Aruna sempat menunjukkan rasa khawatir yang luar biasa. Namun, demi menjaga agar tidak ada kecurigaan lebih lanjut dari siswa lain atau bahkan dari anak buah Grayson yang mungkin mengawasi, mereka sepakat untuk bersikap senormal mungkin di hadapan publik.

"Yuk, Li, ke kantin bareng," ajak Aluna sambil merangkul pundak Aurelia dengan senyuman penuh dukungan, berusaha mengembalikan suasana ceria. Aruna berjalan di sisi sebelah kanan, siap menjadi benteng pelindung jika ada hal-hal yang mencurigakan.

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam area kantin sekolah yang ramai dan penuh sesak oleh suara gelak tawa para siswa, atmosfer di sekitar meja mendadak berubah drastis. Kantin SMA Tunas Bangsa yang tadinya bising perlahan-lahan meredup, menyisakan bisik-bisik tertahan dan pandangan mata penuh rasa penasaran yang tertuju pada satu meja di sudut ruangan—meja kekuasaan yang biasa dikuasai oleh kelompok Grayson Balindra.

Grayson duduk di kursi paling tengah dengan postur tubuh yang mendominasi. Di sisi kanan dan kirinya, duduk tiga orang kepercayaan sekaligus sahabat setianya sejak SMP: Rian, Bima, dan Satya. Ketiga pemuda itu dikenal sebagai lingkaran inti yang memegang kendali atas urusan di balik layar kelompok Grayson. Rian dengan gaya bicaranya yang santai namun tajam, Bima si pemilik seringai jahil yang hobi memprovokasi, serta Satya yang pendiam tapi mematikan dalam hal pengamatan.

Kehadiran Aurelia yang datang berjalan mendekati area kantin bersama Aluna dan Aruna langsung menarik perhatian penuh Rian, Bima, dan Satya. Ketiga pemuda itu menghentikan aktivitas makan siang mereka, menatap lurus ke arah Aurelia dengan sorot mata penuh arti.

Grayson sendiri mengangkat dagunya sedikit, manik mata *amber*-nya menatap tajam ke arah sang istri, memberikan isyarat tanpa suara agar Aurelia segera mendekat ke meja mereka.

Aurelia menelan ludah kelat. Kakinya terasa berat, namun ia tidak memiliki pilihan selain melangkah maju. Aluna dan Aruna mengantar Aurelia hingga batas meja kelompok Grayson, sebelum akhirnya pamit mencari meja lain dengan hati-hati.

"Duduklah, *Wife*," titah Grayson tenang namun mutlak, menepuk kursi kosong di sebelah kanannya—posisi tepat di samping sang suami iblis.

Aurelia duduk dengan kaku, merapatkan seragamnya. Suasana di sekitar meja itu mendadak menjadi pusat perhatian seluruh penjuru kantin. Bisik-bisik semakin santer terdengar.

"Wah, wah... lihat siapa yang datang," cengir Bima lebar, membuka percikan godaan sambil meletakkan garpunya di atas piring. Pemuda berambut agak bergelombang itu menatap Grayson dan Aurelia bergantian dengan mata menyipit usil. "Gila, Bos. Pengantin baru kita ini lengket banget kayak perangko. Baru juga jam istirahat pertama, udah nyariin suami tercinta ya, Li?"

Rian terkekeh pelan, menyesap minumannya santai. "Lu jangan gitu, Bim. Liat tuh muka Aurelia udah merah kayak udang rebus. Maklum lah, namanya juga pengantin baru yang lagi hangat-hangatnya menikmati malam pertama... eh, malam-malam selanjutnya."

Satya, yang duduk di ujung meja dengan tangan menyilang di dada, ikut tersenyum tipis. "Hati-hati ngomong, Rian. Kalau Bos ngamuk karena lu godain istrinya, besok nama lu tinggal kenangan di papan pengumuman sekolah."

Mendengar godaan blak-blakan dari para sahabat Grayson, sekujur wajah Aurelia berubah merah padam hingga ke pangkal telinga. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap lantai keramik kantin ini tiba-tiba terbelah dan menelannya bulat-bulat. Kenangan malam tadi—bagaimana Grayson merobek seragamnya, menyentuhnya dengan beringas, hingga ancaman mengerikan saat ia cemburu pada Galang—kembali berkelebat di kepalanya, membuat jantungnya berdegup panik.

Grayson tidak marah mendengar lelucon vulgar dari teman-teman dekatnya. Sebaliknya, bibir tipis pemuda itu justru terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang sangat jarang terlihat—sebuah senyuman penuh kemenangan mutlak.

"Kurangi omong kosong kalian, atau aku pastikan jatah jajan kalian bulan ini dipotong habis," ujar Grayson dengan suara baritonnya yang tenang namun sukses membuat Rian dan Bima langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah sambil tertawa geli.

"Ampun, Bos! Ampun! Nggak berani lagi kita godain ratu istana lu," balas Rian terbahak-bahak.

Meskipun Rian, Bima, dan Satya bersikap santai dan melemparkan candaan, Aurelia tahu persis di balik senyuman ramah mereka terhadapnya, ketiga pemuda itu adalah algojo-algojo setia yang siap menghabisi siapa saja yang berani mengusik ketenangan Grayson atau membahayakan posisi Aurelia di sekolah ini. Mereka tahu segalanya tentang pernikahan rahasia itu, dan mereka memperlakukan Aurelia bukan lagi sebagai teman seangkatan, melainkan sebagai nyonya muda yang harus dilindungi—atau lebih tepatnya, dijaga agar tidak kabur dari sangkar.

Di tengah riuhnya suasana kantin dan sisa-sisa gelak tawa teman-temannya, Grayson mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Aurelia, memanfaatkan kebisingan sekitar agar percakapan mereka tidak terdengar orang lain.

"Makanlah makananmu, Aurelia," bisik Grayson rendah, nadanya berubah lembut namun otoriter. Jemari kokoh pria itu menggeser piring berisi makanan sehat dan segelas jus buah segar tepat di hadapan istrinya. "Jangan biarkan perutmu kosong. Tubuhmu masih harus pulih dari kegiatan kita semalam."

Kalimat terakhir yang diucapkan dengan nada berbisik itu sukses membuat bulu kuduk Aurelia meremang seketika. Ia menggigit bibir bawahnya, mencengkeram sendok dengan jemari yang sedikit bergetar, lalu mulai menyuap makanannya dalam diam, tidak berani membantah sepatah kata pun.

 

Menjelang jam kepulangan sekolah berdering, suasana di ruang markas rahasia OSIS atau lebih tepatnya tempat biasa kelompok Grayson berkumpul di lantai atas gedung lama mendadak sunyi. Rian, Bima, dan Satya berdiri di dekat meja besar, menatap lembaran dokumen laporan keamanan wilayah yang baru saja dicetak.

Grayson duduk di kursi putar kulit hitam, sementara Aurelia duduk diam di sofa panjang sudut ruangan, menunggu suaminya menyelesaikan urusan kelompok sebelum mereka pulang bersama.

"Semuanya aman, Bos," lapor Satya tegas sambil meletakkan berkas di atas meja. "Wilayah sektor timur sudah bersih dari kelompok anak sekolah lain yang kemarin sempat cari masalah. Nggak ada pergerakan mencurigakan sejauh ini."

"Bagus," jawab Grayson dingin. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu menatap Rian dan Bima bergantian. "Ada satu hal lagi yang harus kalian urus mulai sore ini."

Rian mengangkat sebelah alisnya. "Apa itu, Bos? Jangan bilang ada mangsa baru yang harus kita bereskan?"

"Bukan," tukas Grayson tenang. "Mulai malam ini, aku dan Aurelia akan pindah kembali ke rumah utama keluarga Balindra di pusat kota."

Mendengar kata *rumah utama*, ekspresi Rian, Bima, dan Satya mendadak berubah serius. Ketiga pemuda itu saling bertukar pandang dalam keheningan singkat. Rumah utama keluarga Balindra bukanlah sembarang tempat—itu adalah kediaman besar peninggalan keluarga besar Grayson yang menyimpan sejuta kenangan kelam, tempat di mana Grayson dibesarkan seorang diri di tengah dinginnya dinding beton dan kemewahan tanpa kehangatan sebelum ia memutuskan pindah ke vila terpencil pinggiran kota.

"Rumah utama, Bos?" tanya Bima memastikan dengan nada serius yang jarang ia keluarkan. "Yakin? Bukannya di sana... fasilitas pengamanannya ketat banget, dan bayang-bayang keluarga besar masih sering lalu-lalang di sekitar sana?"

Grayson mendengus pelan, sorot mata *amber*-nya memancarkan ketegasan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Villa pinggiran itu terlalu sempit dan terlalu mudah diakses orang luar. Setelah insiden kemarin di rumah sakit—di mana ada orang tidak berguna yang berani mendekati istriku—aku memutuskan sudah saatnya kami kembali ke tempat yang jauh lebih aman dan privat."

Rian mengangguk paham, lalu melirik sekilas ke arah Aurelia yang duduk terpaku di sudut sofa. Rian tahu betul apa arti perpindahan ini bagi Aurelia: sang gadis akan dibawa masuk lebih dalam lagi ke dalam benteng pertahanan mutlak milik Grayson, terisolasi dari dunia luar di dalam rumah mewah yang megah namun mencekam.

"Baik, Bos. Kami akan kerahkan tim pengamanan tambahan untuk membersihkan rumah utama sore ini juga sebelum kalian tiba di sana," ucap Rian patuh.

"Bagus," kata Grayson berdiri dari kursi kerjanya. Pria itu merapikan kerah kemejanya, lalu berjalan menghampiri Aurelia di sudut ruangan. Ia mengulurkan tangan besarnya ke hadapan sang gadis. "Ayo pulang, *Wife*. Perjalanan kita masih panjang."

Aurelia mendongak, menatap telapak tangan kokoh suaminya yang terbentang di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang diliputi rasa cemas bercampur pasrah. Pindah ke rumah utama keluarga Balindra berarti babak baru dalam hidupnya—sebuah istana megah yang akan menjadi saksi bisu atas ikatan kelam yang semakin menguncinya rapat-rapat di sisi sang suami iblis.

Dengan tangan gemetar perlahan, Aurelia menyambut uluran tangan Grayson, membiarkan pria itu menariknya berdiri dan membawanya melangkah keluar menuju takdir yang tidak akan pernah bisa ia elakkan lagi.

Matahari sore di Kota Samarinda perlahan meredup, menyisakan semburat jingga keemasan di balik dinding kaca kamar VVIP Rumah Sakit Medika Utama. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan dari sekolah—yang diwarnai dengan ketegangan kepindahan barang-barang mereka menuju rumah utama keluarga Balindra—Grayson memutuskan untuk menyempatkan diri singgah sebentar ke rumah sakit sebelum malam benar-benar tiba.

Langkah kaki tegap Grayson menggema pelan di atas lantai marmer putih koridor ruang ICU. Di belakangnya, Aurelia berjalan mengekor dengan kepala agak menunduk, mengenakan kardigan rajut tipis menutupi seragam sekolahnya. Tangan besar Grayson terulur ke belakang, menggenggam pergelangan tangan Aurelia dengan erat, memastikan gadis itu tetap berada dalam jarak jangkauannya.

Sesampainya di depan ruang perawatan Bayu, tirai kaca memperlihatkan sosok Lila yang sedang duduk termangu di kursi samping ranjang sang suami. Wanita paruh baya itu tampak memegang sehelai handuk kecil, dengan lembut menyeka telapak tangan Bayu yang masih terpejam damai di bawah pengaruh alat-alat medis canggih.

Mendengar pintu bergeser pelan, Lila mendongakkan kepalanya. Begitu melihat sosok Grayson dan putrinya melangkah masuk, Lila segera bangkit dari duduknya. Ada binar kelegaan yang campur aduk dengan rasa canggung di wajah wanita paruh baya itu setiap kali berhadapan dengan sang menantu.

"Grayson... Aurelia..." sapa Lila lirih dengan suara serak khas orang yang kurang istirahat. Wanita itu merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. "Kalian... baru selesai sekolah?"

"Ya, Tante," jawab Grayson dengan nada datar yang terkontrol. Pria itu melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Aurelia, lalu berjalan mendekati ranjang tempat Bayu terbaring. "Bagaimana kondisi beliau hari ini? Apakah ada perkembangan dari dokter?"

Lila menghela napas panjang, berjalan mendekati suaminya sambil menatap sendu wajah Bayu yang pucat. "Dokter tadi sore memeriksa ulang. Katanya, fungsi organ vitalnya sudah mulai menunjukkan kestabilan yang bagus. Respon sarafnya juga mulai ada kemajuan meskipun sangat lambat. Tapi... dokter bilang kita masih harus sabar menunggu sampai kesadarannya benar-benar kembali."

Aurelia langsung menerobos maju, meninggalkan Grayson di sisi ranjang, dan memeluk tubuh ibunya erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di bahu Lila, menghirup aroma khas sang ibu yang selalu berhasil memberikan ketenangan di tengah badai hidup yang ia hadapi.

"Mama capek banget ya jagain Papa terus..." bisik Aurelia parau di pelukan ibunya.

Lila mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih sayang, jemarinya merapikan rambut Aurelia yang sedikit berantakan. "Mama nggak capek, Sayang. Selama Papa masih berjuang untuk sadar, Mama akan terus ada di sini." Lila kemudian melirik sekilas ke arah Grayson yang berdiri tegap di sisi seberang ranjang, memperhatikan mereka dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Terima kasih, Grayson... Semua fasilitas dan dokter terbaik yang kamu sediakan benar-benar menyelamatkan nyawa Om Bayu."

"Itu sudah kewajibannya, Tante," balas Grayson singkat. Pria itu menatap lurus ke arah tubuh Bayu yang dipenuhi kabel-kabel medis. Meskipun secara hukum dan moral Bayu adalah orang tua dari gadis yang kini telah menjadi istrinya, di dalam benak Grayson, keselamatan Bayu adalah alat tawar sekaligus rantai emas terkuat yang memastikan Aurelia tidak akan pernah bisa meninggalkannya.

Setelah beberapa saat terdiam di dalam ruangan yang hening, Grayson melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Pria itu menyadari hari sudah semakin petang, dan masih ada urusan lain yang harus diselesaikan malam ini—termasuk kepindahan mereka ke kediaman utama keluarga Balindra.

"Tante," panggil Grayson dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas, mengalihkan perhatian Lila dan Aurelia. "Malam ini, aku dan Aurelia tidak bisa terlalu lama di sini. Kami harus segera pergi ke rumah utama untuk membereskan beberapa hal."

Mendengar kata *rumah utama*, tubuh Aurelia sedikit menegang. Lila menangkap perubahan gestur putrinya itu. Wanita paruh baya tersebut menatap Grayson dengan sorot mata penuh tanya dan keraguan yang tertahan.

"Rumah utama... maksudmu rumah besar keluarga Balindra di pusat kota?" tanya Lila memastikan, nada suaranya menyiratkan kecemasan seorang ibu. "Kenapa kalian mendadak pindah ke sana, Grayson? Bukankah villa di pinggir kota itu sudah cukup?"

Grayson menatap mertuanya lurus-lurus tanpa keraguan sedikit pun. "Villa itu terlalu kecil dan kurang aman untuk standar perlindungan yang aku inginkan, Tante. Mulai malam ini, Aurelia akan tinggal bersamaku di rumah utama. Pengamanan di sana jauh lebih ketat, dan fasilitasnya lengkap. Tante tidak perlu khawatir, kebutuhan perawatan medis Om Bayu di rumah sakit ini akan tetap berjalan tanpa ada kekurangan satu hal pun; aku sudah menempatkan tim medis khusus yang siaga dua puluh empat jam di sini."

Lila terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh pemuda itu. Sebagai seorang ibu, ia tentu merasa berat hati melihat putri satu-satunya harus dibawa masuk lebih dalam ke dalam benteng keluarga besar Balindra—sebuah dinasti kaya raya yang terkenal dingin, penuh rahasia, dan dikuasai oleh pria-pria berdarah dingin seperti Grayson. Namun, Lila juga sadar diri; di dunia nyata yang kejam ini, mereka berhutang nyawa dan masa depan pada pria di hadapannya.

Dengan senyuman dipaksakan yang tampak begitu menyayat hati, Lila mengangguk pelan. "Baiklah... kalau itu keputusan kalian demi kebaikan bersama. Terima kasih karena sudah menjaga Papa dan Aurelia..."

Aurelia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu tatapan itu—tatapan seorang ibu yang merelakan anaknya terkurung demi keselamatan suami tercinta di atas ranjang rumah sakit. Hatinya terasa perih, namun ia tidak memiliki daya untuk menolak takdir yang telah digariskan oleh Grayson.

"Ma... aku pamit ya," cicit Aurelia lirih, meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim. "Besok sepulang sekolah, aku pastiin bakal langsung mari ke sini lagi nemenin Mama."

"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya," pesan Lila sambil mengecup kening putrinya penuh cinta.

Grayson tidak banyak bicara lagi. Ia menganggukkan kepalanya sopan kepada Lila sebagai gestur pamit, lalu meraih pergelangan tangan Aurelia dengan lembut namun pasti.

"Kita pergi sekarang," bisik Grayson di dekat telinga Aurelia.

Keduanya melangkah keluar dari ruang ICU, meninggalkan keheningan malam rumah sakit di belakang mereka. Di sepanjang koridor menuju lift, Aurelia hanya bisa berjalan mengikuti langkah lebar sang suami, merasakan genggaman tangan Grayson yang begitu erat—sebuah rantai pengikat tak kasat mata yang membawa Aurelia menuju istana megah, tempat di mana ia akan sepenuhnya menjadi ratu di dalam sangkar emas milik sang suami iblis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!