Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Gaun
Adira tengah bermain bersama Aretha di ruang keluarga. Bayi kecil itu tertawa ketika Adira menggerakkan boneka di hadapannya.
Tidak lama kemudian, Soraya datang menghampiri mereka sambil membawa sebuah buku katalog yang cukup tebal.
“Adira,” panggil Soraya.
Adira menoleh. “Iya, Nyonya?”
Soraya duduk di sampingnya, lalu membuka katalog tersebut. “Coba lihat ini. Kamu bisa pilih gaun pernikahan yang kamu suka.”
Adira langsung menggeleng. “Maaf, Nyonya. Saya tidak perlu. Saya pakai baju sederhana saja.”
Soraya menatapnya tidak percaya. “Adira, jangan begitu. Ini juga pernikahan kamu.”
“Tapi yang hadir hanya orang-orang di rumah ini, Nyonya. Saya rasa tidak perlu memakai gaun pernikahan yang terlalu bagus.”
Adira tersenyum kecil. “Lagian... ini bukan pernikahan pertama saya, Nyonya.”
Soraya terdiam sesaat mendengar kalimat itu.
Ia tau Adira tidak mengatakannya untuk mengasihani diri sendiri. Perempuan itu memang sudah pernah menikah dan pernikahan pertamanya meninggalkan luka yang cukup dalam.
“Kamu benar-benar tidak mau memilih?”
Adira menggeleng. “Tidak, Nyonya.”
“Kalau begitu, biar Reksa yang pilih, Ma, kalau Adira tidak mau.” Suara Areksa terdengar dari belakang mereka.
Adira langsung menoleh. “Jangan, Tuan.”
Areksa berjalan mendekat, kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan mereka. “Kenapa?”
“Saya—”
“Ini pernikahan saya juga.” Areksa mengambil katalog dari tangan Soraya. “Jadi saya juga berhak memilih.”
Adira tidak menjawab. Percuma saja membantah. Kalau sudah seperti itu, Areksa pasti akan tetap melakukan apa yang dia inginkan.
Aretha yang berada di pangkuan Adira justru terkikik, seolah menikmati pertengkaran kecil di antara mereka.
Soraya tersenyum melihat keduanya. “Oh iya, Adira.”
“Iya, Nyonya?”
“Wali kamu siapa?”
Pertanyaan itu membuat senyum Adira perlahan menghilang. “Saya tidak tau, Nyonya.”
Soraya menatapnya.
“Waktu saya menikah dulu, wali saya wali hakim. Saya tidak pernah tau siapa orang tua saya.”
Soraya terdiam. Ia baru kembali teringat bahwa Adira tidak memiliki keluarga yang bisa dihubungi.
“Hem... baiklah. Kalau begitu, nanti biar saya yang mengurus semuanya.”
“Tidak perlu merepotkan Nyonya—”
“Bukan merepotkan.” Soraya tersenyum lembut. “Kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi biarkan saya mengurusnya.”
Adira hanya bisa mengangguk kecil.
Sementara itu, Areksa masih sibuk membolak-balik halaman katalog. Sampai akhirnya jarinya berhenti pada satu halaman.
“Sepertinya ini bagus.”
Ia menunjuk sebuah gaun pernikahan sederhana dengan potongan elegan. Di sebelahnya terdapat foto jas yang memiliki warna senada.
Soraya ikut melihat. “Ah, iya. Ini cantik sekali.” Soraya kemudian melirik Adira. “Sepertinya cocok untuk kamu.”
Adira memperhatikan gambar tersebut sekilas. “Tuan, saya rasa tidak perlu—”
“Perlu.”
Adira menatap Areksa.
Areksa menutup katalog itu dan menyerahkannya kepada Soraya.
“Dan jangan membantah.”
Adira terdiam. Ada sesuatu dalam cara Areksa mengatakannya yang membuatnya tidak bisa lagi berdebat.
Soraya tersenyum puas. “Kalau begitu, kita pilih yang ini.”
Adira menghela napas pelan.
Pernikahan yang awalnya hanya ingin ia jalani sesederhana mungkin ternyata mulai dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh keluarga Dirgantara.
Dan entah kenapa, hal itu justru membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Karena setelah sekian lama, ada seseorang yang memilihkan sesuatu untuknya bukan karena kewajiban sebagai seorang istri melainkan karena menganggap dirinya pantas mendapatkan sesuatu yang baik.
***
Siang harinya, keluarga Aruna datang bertamu ke kediaman keluarga Dirgantara setelah mengetahui bahwa Soraya dan Bayu telah kembali dari perjalanan mereka.
Kini semua berkumpul di ruang tamu.
Aretha berada dalam gendongan Bara. Pria itu tersenyum lebar melihat cucu kecilnya.
“Makin gemuk saja cucu Kakek,” godanya sambil menggoyangkan tubuh Aretha perlahan.
“Iya, gembul banget pipinya.” Felicia ikut mendekat dan menjawil pipi Aretha.
Aretha hanya mengeluarkan suara kecil, kemudian kembali memainkan jari-jarinya.
“Maaf ya, waktu itu kami tidak sempat hadir ke acara kalian,” ujar Soraya.
“Sebenarnya urusan kami sudah selesai, tapi pesawat malah delay,” lanjut Bayu.
“Tidak apa-apa, kami maklum.” Sisil terkekeh. “Namanya juga pengusaha besar. Kesibukan pasti banyak.”
Soraya hanya tersenyum.
Felicia yang sejak tadi memperhatikan sekeliling akhirnya bertanya. “Kak Reksa di mana, Tante?”
“Ada di atas.”
“Oh...” Felicia mengangguk kecil.
Kemudian ia memasang wajah seolah baru teringat sesuatu. “Waktu di acara kemarin, Kak Reksa seperti tidak enak badan. Apa sekarang sudah baik-baik saja?”
Pertanyaannya terdengar biasa. Namun di balik wajah polosnya, Felicia sebenarnya sedang menunggu jawaban.
Ia ingin tau bagaimana Areksa bisa kembali sadar setelah meminum minuman yang sudah ia campurkan sesuatu ke dalamnya.
Soraya tidak langsung menjawab.
“Oh, dia sudah baik-baik saja,” jawabnya santai. “Ada dokter yang menanganinya.”
Felicia berusaha tersenyum lega. “Syukurlah.”
“Tapi kata dokter, ada sesuatu yang dicampurkan ke minumannya.”
Soraya mengucapkannya sambil memperhatikan wajah Felicia.
Felicia sedikit terkejut. “Oh, ya?” tanyanya, pura-pura tidak tau. “Seperti apa?”
“Entahlah. Dokter juga hanya memberi tau Reksa." Kilahnya.
Soraya mengambil cangkir tehnya, lalu menyesap sedikit. “Yang penting Reksa sekarang sudah pulih.”
Felicia mengangguk cepat. “Iya, Tante. Aku jadi lega mendengarnya.”
Sisil yang duduk di sebelahnya ikut menyela. “Memangnya siapa yang tega melakukan hal seperti itu? Untung Reksa cepat mendapatkan pertolongan.”
“Ya.” Bayu mengangguk. “Kami juga masih mencari tau.”
Felicia menundukkan wajahnya, menyembunyikan kegelisahan yang mulai muncul.
Mereka tau minumannya dicampur sesuatu.
Tangannya yang berada di atas pangkuan perlahan mengepal. Namun ia segera mengendurkannya ketika Soraya kembali menatapnya.
“Felicia.”
“Iya, Tante?”
“Kamu kelihatannya cukup khawatir dengan keadaan Reksa.”
Felicia tertegun sepersekian detik.
Kemudian ia tersenyum. “Tentu saja, Tante. Kak Reksa kan keluarga saya.”
Soraya membalas senyum itu. “Begitu?”
“Iya.”
Felicia berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya.
Padahal dalam hati ia mulai bertanya-tanya.
Kalau mereka tau ada sesuatu di dalam minuman Kak Reksa, seberapa banyak yang sebenarnya mereka ketahui?
Di sisi lain, Bayu hanya diam sambil memperhatikan Felicia.
Tatapannya singkat, tetapi cukup tajam.
Sisil yang menyadari perubahan suasana segera mengalihkan pembicaraan. “Ngomong-ngomong, Aretha sekarang sudah semakin pintar ya. Lihat saja, sudah mulai aktif sekali.”
Bara tertawa kecil. “Anak ini memang cepat besar.”
Aretha tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya ke arah pintu, seolah mencari seseorang.
Bara mengikuti arah pandang cucunya. “Kenapa? Cari Papa?”
Aretha justru mengeluarkan suara kecil. “Ad...”
Felicia memperhatikan tingkah bayi itu. “Jangan-jangan cari Kak Reksa.”
Soraya tersenyum tipis. “Mungkin.”
Namun tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa dari tangga lantai dua, seseorang baru saja berhenti melangkah.
Areksa berdiri di sana. Ia mendengar percakapan mereka sejak beberapa saat lalu.
Dan ketika mendengar Felicia bertanya tentang kondisinya, sorot matanya berubah.
Ia tidak langsung turun. Untuk beberapa detik, Areksa hanya memandang keluarganya dari kejauhan.
Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Terutama cara Felicia bertanya.
Terlalu hati-hati. Terlalu ingin tau. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang ia pastikan.
Areksa akhirnya menuruni tangga.
Semua orang spontan menoleh.
“Kak Reksa!” Felicia tersenyum lega. “Kamu sudah lebih baik?”
Areksa berhenti di anak tangga terakhir. Tatapannya jatuh tepat pada Felicia.
“Sudah.”
Hanya satu kata. Tetapi entah kenapa, Felicia merasa tengkuknya mendadak dingin.
“Kemarin kamu kelihatannya benar-benar sakit. Aku sampai khawatir.”
“Terima kasih.”
Areksa berjalan mendekat, kemudian duduk di sofa yang masih kosong. Tatapannya sempat jatuh pada Aretha yang masih berada dalam gendongan Bara.
Begitu melihat sang ayah sudah duduk, Aretha langsung mengulurkan kedua tangannya.
“Sini sama Papa, Nak.”
Bara tersenyum, lalu menyerahkan Aretha kepada menantunya.
Begitu berada dalam pelukan Areksa, Aretha langsung menyandarkan kepalanya di dada sang ayah.
Bara memperhatikan menantunya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya,
“Kenapa tidak dicari tau ada apa di dalam minuman itu? Dan siapa yang mencampurkannya?"
Areksa terdiam sejenak. “Tidak perlu, Pa."
“Kenapa?”
“Mungkin pelayan yang memberikan minuman itu memang salah mengantar minuman. Saya rasa tidak perlu dibesar-besarkan.”
Bara masih terlihat tidak puas. “Bagaimana kalau memang ada yang sengaja mencampurkannya?”
Areksa tidak langsung menjawab.
Sebenarnya, pertanyaan itu juga sempat memenuhi pikirannya.
Tetapi ada hal lain yang jauh lebih berat memenuhi kepalanya.
Malam itu ia membuat kesalahan pada Adira.
Areksa menundukkan wajah, melihat putrinya yang masih nyaman berada dalam pelukannya.
“Iya, tidak perlu dibesar-besarkan,” sahut Soraya tiba-tiba. “Areksa sudah menemukan penyembuhnya.”
Soraya melirik putranya.
Areksa langsung memahami maksud tatapan itu.
Dan seketika wajahnya memanas. Ingatan tentang malam itu kembali begitu jelas.
Bukan tentang apa yang terjadi secara fisik, melainkan tentang wajah Adira setelah semuanya berakhir. Mata perempuan itu yang sembap. Suaranya yang bergetar. Dan kalimatnya yang meminta Areksa pergi.
Rasa bersalah kembali menghantam dadanya.
Ia menarik napas panjang. Mama, jangan mengingatkan aku tentang itu di depan semua orang.
“Maksudnya menemukan penyembuhnya?” tanya Sisil, penasaran.
Soraya sedikit salah tingkah. “Ya... dokter. Maksud saya dokter,” jawabnya sambil terkekeh.
Sisil mengangguk, meskipun tampak masih sedikit heran.
Areksa memilih tidak ikut dalam percakapan itu. Ia berdiri sambil menggendong Aretha.
“Permisi semuanya. Ini waktunya Aretha menyusu.”
“Pergilah, sepertinya Adira di taman." ujar Soraya.
Areksa mengangguk. Ia kemudian berjalan meninggalkan ruang tamu.
Namun semakin jauh dari ruang tamu, langkahnya justru terasa semakin berat.
Ia membawa Aretha menuju taman karena tadi Soraya mengatakan Adira berada di sana.
Di sepanjang perjalanan, pikirannya kembali dipenuhi kejadian malam itu.
Ia masih ingat bagaimana Adira memandangnya keesokan paginya.
Tidak ada kebencian dalam tatapan perempuan itu. Justru itu yang membuatnya semakin merasa bersalah.
Adira mengatakan bahwa ia memaafkannya.
Tetapi Areksa tau, dimaafkan bukan berarti apa yang dilakukannya menjadi tidak pernah terjadi.
Ia telah membuat Adira terluka. Dan sampai sekarang, perempuan itu masih harus melihat wajahnya setiap hari.
Areksa berhenti sebentar di dekat pintu menuju taman.
Ia memejamkan mata. Bagaimana mungkin aku bisa meminta dia menjalani hidup bersamaku setelah apa yang sudah kulakukan?
Tangannya mengusap lembut punggung Aretha.
Bayi itu mengeluarkan suara kecil.
Areksa membuka mata. “Papa tau, Nak. Papa harus bertanggung jawab.”
Dari kejauhan, ia akhirnya melihat Adira.
Perempuan itu duduk di bangku taman dengan sebuah buku di pangkuannya. Angin siang menggerakkan beberapa helai rambutnya.
Adira belum menyadari kehadirannya.
Areksa berhenti beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
Untuk sesaat, ia hanya memandang perempuan itu.
Ada rasa bersalah. Ada kekhawatiran. Dan ada sesuatu yang sampai sekarang belum mampu ia beri nama.
Kemudian Aretha bergerak dalam pelukannya.
Adira akhirnya menoleh.
Begitu melihat Areksa membawa Aretha, ia langsung berdiri.
“Tuan?”
“Ini waktunya dia menyusu.”
Adira mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”
Areksa menyerahkan Aretha kepadanya.
Namun sebelum benar-benar melepaskan bayi itu, pandangan mereka sempat bertemu.
Areksa ingin mengatakan sesuatu. Mungkin meminta maaf lagi.
Mungkin mengatakan bahwa ia menyesal. Tetapi pada akhirnya tidak ada satu pun kata yang keluar.
Adira menerima Aretha dalam pelukannya.
Dan Areksa hanya bisa berdiri di sana, menyadari bahwa mungkin selama sisa hidupnya, ia akan selalu mengingat malam itu sebagai kesalahan yang tidak boleh ia ulangi lagi.
***
“Shit!”
Tinju Areksa menghantam dinding kamar mandi.
Suara benturan itu menggema di ruangan yang sepi.
Setelah menyerahkan Aretha kepada Adira, Areksa langsung kembali ke kamarnya. Ia tidak sanggup berada terlalu lama di dekat perempuan itu.
Sejak kejadian malam itu, pikirannya seolah tidak pernah memberinya kesempatan untuk beristirahat.
Setiap kali melihat Adira, ingatannya kembali pada malam yang ingin ia lupakan.
Ia jadi terus membayangkan setiap inci tubuh Adira yang mampu membuat Areksa Dirgantara kecanduan.
“Kenapa gue begini...” gumamnya lirih.
Ia mengusap wajahnya kasar. Air shower terus mengguyur kepalanya hingga membasahi seluruh tubuhnya.
Ia berharap air dingin itu mampu membuat pikirannya kembali jernih.
Namun percuma. Semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas bayangan tubuh polos Adira.
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰