Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Ya ampun demi apa, kata-kata Bumi semakin tidak bisa mengkondisikan otaknya, dan langit hanya diam, berbalik tak menjawab lagi perkataanya, Bumi semakin membuat nya lelah saja, lelah yang indah, batinnya.
Langit memekik kecil saat sebatang jarum pentul tercabut agak kasar.
"Aduh! Pelan-pelan, Bumi!"
"Ini sudah paling pelan, langit Rambutmu ini disasak seperti sarang burung tawon. Banyak sekali lemnya. Ini kalau kena percikan api bengkel, bisa langsung meledak" gerutu Bumi, namun jemarinya tetap bergerak dengan sangat hati-hati, helai demi helai melepaskan jepitan hitam yang menahan sanggul berat itu.
Langit mendengus, namun ia tidak bisa menahan senyumnya. "Ini namanya hairspray, Bumi. Tren kecantikan kelas atas, begitu sih yang mereka bilang."
"Tren kecantikan yang membingungkan," sahut Bumi dengan nada datar yang terkesan sangat percaya diri. Gaya cool-nya yang tidak pernah luntur itu justru membuat ucapan konyolnya terdengar makin lucu.
Langit tertawa, Rasa canggung yang membeku sejak mereka menginjakkan kaki di penthouse perlahan mencair.
"Narsis banget sih kamu. Tapi, omong-omong soal tadi, kamu benar-benar hebat pas bikin Galang diam. Kamu tahu tidak apa yang sempat dia katakan padaku saat di pesta tadi?"
"Kebahagian hubungan dengan selingkuhannya itu, dan keadaaan sok kaya padahal duit entah dapat dari mana, padahal perekonomiannya sedang di ujung tanduk setelah kamu melepaskannya" tebak Bumi asal sambil meletakkan segenggam jarum pentul di atas meja kaca.
"Kok kamu tahu?" Langit menoleh dengan cepat, membuat Bumi hampir menusuk kulit kepalanya lagi dengan jarum terakhir.
"Hem, jangan gerak dulu, okey selesai," Bumi menghela napas, menepuk pundak Langit pelan.
Sekarang rambut hitam panjang Langit terurai bebas, berantakan namun justru memancarkan kecantikan yang jauh lebih alami, Bumi sempat tertegun beberapa saat.
Bumi bergeser kembali ke posisinya semula, meluruskan kakinya di atas meja kaca.
"Tentu aku tau, Mobil yang dia bawa ke pesta itu tipe Porsche lama yang dimodifikasi biar kelihatan baru. Suara mesinnya pincang di silinder tiga. Kelihatan kalau jarang diservis karena tidak ada duit. Gaya elite, ekonomi sulit."
Langit tertawa sampai matanya berair. Seorang CEO sukses yang biasanya hanya bicara soal grafik saham dan akuisisi korporasi, malam ini mendengarkan analisis sebuah mobil sport dari sudut pandang seorang montir jalanan. Dan itu adalah hal paling menghibur yang pernah ia alami sepanjang tahun ini.
"Kamu benar-benar tajam, Bumi," kata Langit setelah tawanya mereda. "Dia bilang padaku kalau aku tidak akan pernah menemukan laki-laki yang sekelas dengannya. Dia pikir dia itu pangeran berkuda putih. Pas kamu datang dengan setelan jas itu, terus langsung merangkulku, mukanya langsung berubah jadi abu-abu."
"Galang, mantanmu itu seleranya rendah," sahut Bumi tenang. "Selingkuh dengan wanita yang hanya bisa menguras uangnya, saya tidak akan lepas wanita seperti kamu."
Langit tertegun sejenak. Mata mereka bertemu. Ada kilat ketulusan di mata Bumi yang membuat dada Langit berdesir. Namun, Bumi dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke langit-langit.
"Maksud ku, sayang saja sahamnya. Kan banyak," tambah Bumi dengan nada lempeng dan canda.
"Sialan kamu, Bumi! Kupikir kamu mau memujiku!" Langit melempar bantal sofa kecil tepat ke wajah Bumi. Bumi menangkapnya dengan mudah, lalu menjadikannya bantalan kepala saat ia merebahkan tubuhnya sepenuhnya di atas sofa.
"Tapi setidaknya aku melihat kakek bahagia, itu sudah lebih dari cukup, aku tidak peduli dengan yang lainnya"
"Kakek Jaka Dewanta, aku melihat dia sangat menyayangi mu dengan caranya" ucap Bima.
"Hem, dia cukup keras padaku, di depan publik terutama, tapi saat hanya berdua dengan ku, kakek suka bercanda, membuatku tersenyum dan membuatku tak kekurangan kasih sayang, walau sebenarnya aku kadang iri dengan mereka yang masih punya orang tua langkap"
"Masih mending kamu, lihat aku, bahkan saat aku dilahirkan di dunia ini, sudah dari awal tak tau siapa orang tua kandung ku" sahut Bima.
Langit terdiam, dia tau di balik kata-kata Bumi yang sepertinya tenang, ada luka yang di sembunyikan, dan langit memahami semua itu.
Malam pertama yang dalam bayangan orang-orang di luar sana dipenuhi dengan gairah romantis, kemewahan, atau mungkin ketegangan intim, bagi Langit dan Bumi justru berubah menjadi ajang diskusi paling konyol.
Mereka membicarakan bagaimana Paman Hendra yang tersenyum palsu sepanjang acara, sampai-sampai Bumi curiga kalau paman Langit itu memakai suntik botoks murahan karena pipinya tidak bergerak sama sekali saat tertawa.
Mereka terus mengobrol, bergantian mengejek para tamu undangan yang bermuka dua.
Langit bercerita tentang tekanan yang ia hadapi di perusahaan, tentang bagaimana rasanya menjadi wanita di puncak pimpinan yang selalu diragukan oleh dewan direksi yang kolot.
Sementara Bumi mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyela dengan logika-logika sederhananya yang anehnya sering kali masuk akal dan menenangkan.
"Jadi, intinya mereka itu cuma takut sama kamu, Langit," kata Bumi, suaranya mulai terdengar agak serak karena kantuk yang menyerang. "Orang kalau sudah takut, cara bertahannya cuma dua, menggonggong atau menggigit dari belakang. Pamanmu itu tipe yang menggigit dari belakang. Makanya kita pasang pagar yang kuat. Dan pagar itu salah satunya ya pernikahan ini."
Langit memandangi Bumi yang kini sudah memejamkan mata, namun napasnya masih teratur. Langit sendiri merasakan matanya semakin berat.
Rasa lelah setelah berdiri berjam-jam di atas sepatu hak tinggi setinggi dua belas sentimeter akhirnya mengalahkan segalanya.
Tanpa terasa, posisi duduk Langit semakin merosot. Rasa kantuk yang hebat menyerang tanpa ampun, membuat pertahanannya runtuh.
Ia menyandarkan kepalanya di ujung sofa yang lain, berlawanan arah dengan posisi kepala Bumi.
Sofa beludru panjang berwarna abu-abu gelap itu kini menjadi saksi bisu gencatan senjata dari ego mereka masing-masing.
Tidak ada perdebatan tentang sikap yang berlebihan, , tidak ada pembahasan mengenai kontrak pernikahan, dan tidak ada lagi kepura-puraan di depan kamera fotografer seperti yang terjadi di dalam pesta pernikahan beberapa jam yang lalu.
Di atas sofa ruang tengah yang luas itu, di bawah temaram lampu penthouse yang hangat, kedua manusia dari dua dunia yang bertolak belakang ini akhirnya tertidur lelap, melakukan tour mimpi bersama setelah hari yang melelahkan.
Dalam lelapnya, tangan langit yang terkulai di atas bantal sofa bergerak perlahan, seolah mencari kehangatan, hingga jemarinya menyentuh ujung baju Bumi, tangan itu menjalar masuk tanpa permisi, merasakan kehangatan kulit seseorang.
Di dunia nyata, mereka mungkin harus kembali memakai topeng masing-masing saat matahari terbit nanti.
Namun untuk beberapa jam ke depan, di dalam dimensi mimpi yang tidak mengenal status sosial, kedua jiwa yang lelah ini berjalan beriringan, melepaskan seluruh beban keduniawian yang melekat pada nama mereka.
Jangan lupa komen ya gaes, Like dan HADIAHnya jug