Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petaka Cemburu 10.
Dari lantai dua, angin koridor siang itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Lilis masih berdiri di tempatnya, bersandar pada pagar pembatas besi yang catnya mulai mengelupas.
Di genggamannya, kotak susu stroberi itu sudah penyok. Sedotannya digigit kuat-kuat sampai pipih, menyisakan rasa manis yang mendadak terasa hambar di lidahnya.
Matanya tidak bisa lepas dari pemandangan di tengah lapangan basket bawah.
Kinar baru saja melemparkan botol minum ke arah Dafa. Dan Dafa? Cowok itu menangkapnya dengan cengiran lebar yang belum pernah Lilis lihat sebelumnya.
Ada binar yang berbeda di mata Dafa saat menatap Kinar—sesuatu yang hangat, lepas, dan tanpa beban. Berbeda jauh dengan tatapan panik dan penuh rasa bersalah yang Dafa berikan padanya di koridor gelap dua hari lalu.
Dada Lilis mendadak terasa sesak. Ada denyut aneh yang mencubit hatinya. Rasa tidak rela.
'Gila ya lo, Lis. Masa lo cemburu?' batin Lilis cepat-cepat menyangkal. Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa tidak nyaman itu. Lagipula, sejak awal dia tahu kedekatan mereka hanya karena kesalahpahaman konyol. Dafa salah nembak orang, dan Lilis telanjur terbawa suasana karena memang suasana kemarin agak norak namun sedikit.. Romantis.
Tapi, melihat bagaimana Dafa begitu mudah menemukan "rumahnya" yang asli pada diri Kinar, tetap saja membuat ego Lilis sedikit tergores.
Lilis membuang kotak susu yang sudah kosong ke tempat sampah di dekatnya dengan sekali sentakan.
Dia merapikan rok sakral anak pemandu sorak yang dipakainya, berniat segera pergi dari sana sebelum matanya makin panas.
Namun, baru saja dia berbalik, sebuah bayangan tinggi sudah menghadang jalannya.
"Lis? Ngapain di sini? Muka lo kusut amat," suara berat itu familier. Lilis mendongak dan menemukan Azril berdiri di depannya.
Kapten tim futsal sekolah itu masih memakai jersi latihan yang agak basah oleh keringat. Handuk kecil tersampir di bahunya yang tegap. Azril selalu punya radar yang tajam kalau menyangkut Lilis. Sebagai teman dekat namun protektif, Azril tahu betul kapan Lilis sedang dalam mode "tidak baik-baik saja".
Melihat Azril, sebuah ide impulsif mendadak melintas di kepala Lilis. Otak remajanya yang sedang gengsi dan sedikit terluka langsung menyusun rencana instan.
"Eh, Zril! Pas banget," Lilis langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi seceria mungkin, seolah-olah tidak ada beban. Dia melangkah mendekati Azril, bahkan dengan sengaja mengambil posisi berjalan di sisi kanan cowok itu, sangat dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.
"Kenapa? Mau ke kantin?" tanya Azril, alisnya bertaut heran melihat perubahan suasana hati Lilis yang drastis.
"Nggak, mau turun ke lapangan bawah aja. Temenin gue, yuk?" Lilis tersenyum manis, jemarinya tanpa ragu menarik ujung jersi Azril, menuntun cowok itu berjalan menuju tangga tengah— tangga yang posisinya paling strategis dan pasti akan melewati area tempat Dafa dan Kinar berdiri.
Azril menurut saja, walau matanya menyipit penuh selidik. Dia tahu Lilis kalau sudah bertingkah terlalu manis seperti ini, pasti ada udang di balik batu.
Mereka berdua berjalan menuruni tangga. Lilis sengaja mengeraskan suara tawanya, menanggapi cerita receh apa saja yang keluar dari mulut Azril sepanjang tangga. Dia ingin terlihat sangat sibuk, sangat bahagia, dan yang paling penting, tidak peduli pada apa pun yang terjadi di lapangan sana.
Begitu kaki mereka menginjak semen lapangan luar, Lilis melirik lewat sudut matanya.
Dafa dan Kinar masih di sana. Dan benar saja, suara tawa Lilis berhasil menarik perhatian. Dafa menoleh. Langkah kaki cowok itu yang tadinya hendak berjalan ke pinggir lapangan langsung terhenti saat melihat Lilis berjalan berdampingan dengan Azril.
Lilis sengaja memperlambat langkahnya saat jarak mereka mengikis menjadi hanya beberapa meter. Dia menatap Dafa lurus-lurus, memberikan senyuman tipis yang sulit diartikan—jenis senyuman yang berkata, 'Gue nggak peduli sama penjelasan lo.' Kemudian, dengan gerakan yang disengaja, Lilis menoleh ke arah Azril, tertawa lepas sambil memukul pelan lengan kapten futsal itu.
"Zril, lo kocak banget sih! Tar sore jadi kan anterin gue beli sepatu baru?" ucap Lilis dengan volume suara yang sengaja dinaikkan satu tingkat.
"Jadi. Jam empat gue jemput," jawab Azril. Namun, saat kalimat itu keluar, mata Azril tidak tertuju pada Lilis.
Pandangan Azril justru bertubrukan langsung dengan mata Dafa.
Di sana, di tengah terik matahari siang, atmosfer mendadak berubah keruh. Dafa yang menyadari taktik Lilis, bukannya merasa cemburu, justru memperlihatkan tatapan sinis. Dafa merasa Lilis sengaja memanfaatkan situasi dan menggunakan Azril untuk membalas dendam atas kesalahpahaman dua hari lalu.
Bagi Dafa, tindakan Lilis itu kekanak-kanakan. Dafa mendengus pelan, memalingkan muka dengan gestur meremehkan, lalu kembali fokus mengobrol dengan Kinar seolah-olah Lilis dan Azril hanya angin lalu.
Lilis membeku. Reaksi Dafa sama sekali tidak sesuai ekspektasinya. Bukannya merasa bersalah atau tidak enak, Dafa justru terang-terangan menunjukkan rasa tidak peduli yang berbatasan dengan kejengkelan. Targetnya meleset, dan rasa malu kini menjalar di pipi Lilis.
Mereka terus berjalan melewati lapangan hingga masuk ke koridor gedung utama.
Begitu figur Dafa dan Kinar hilang dari pandangan, Lilis mengembuskan napas berat. Bahunya merosot seketika. Topeng cerianya runtuh.
"Udah aktingnya?"
Pertanyaan dingin itu membuat Lilis tersentak. Dia menoleh ke samping dan mendapati wajah Azril sudah berubah total. Tidak ada lagi raut santai. Rahang cowok itu mengeras, dan tatapan matanya tajam menusuk.
"Zril... lo ngomong apa sih?" Lilis terbata, mencoba berkelit.
Azril menghentikan langkahnya secara mendadak di koridor yang sepi, memaksa Lilis untuk ikut berhenti. Dia berbalik, menghadap Lilis sepenuhnya dengan melipat tangan di dada. "Gue bukan anak kecil, Lis. Lo pikir gue nggak tahu lo lagi manfaatin gue buat manas-manasin si anak basket itu?"
Lilis menggigit bibir bawahnya, tidak berani menatap mata Azril. "Nggak gitu..."
"Terus gimana?" potong Azril cepat, suaranya rendah tapi penuh penekanan. "Gue tahu sifat lo. Kalau lo merasa tertekan, lo nggak bakal masang muka sekusut tadi di lantai dua. Dan lo nggak bakal serendah ini buat pamer di depan dia."
Azril menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosi yang mendadak membakar dadanya. Ada rasa kecewa yang mendalam di sana. Kecewa karena Lilis menggunakannya sebagai alat, dan jauh di lubuk hatinya, Azril merasa benci melihat Lilis harus mengemis perhatian dari cowok lain dengan cara seperti ini.
"Si Dafa..." Azril mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Mengingat tatapan meremehkan yang diberikan Dafa tadi di lapangan membuat darahnya mendidih. "Dia udah ngapain lo waktu salah tembak itu, Lis?"
"Nggak ngapa-ngapain, Zril. Sumpah. Ini cuma salah paham soal kejadian di koridor waktu itu," Lilis mulai panik melihat urat-urat di leher Azril yang menegang.
"Salah paham tapi dia natap lo kayak lo itu barang rongsokan?" Azril mendengus gusar, matanya menyalang. Rasa protektifnya sebagai cowok yang diam-diam menyimpan rasa pada Lilis selama dua tahun kini mengambil alih akal sehatnya. Dia tidak bisa mentoleransi siapa pun yang membuat Lilis terlihat menyedihkan, apalagi kapten dari tim basket yang berlagak sok keren itu.
Azril memajukan langkahnya, menatap Lilis dengan intensitas yang membuat cewek itu menciut.
"Dia pikir dia siapa bisa mainin lo kayak gini? Habis bikin rumor salah tembak, terus sekarang dia buang muka gitu aja di depan cewek lain?" Azril menahan amarahnya yang nyaris tumpah. Suaranya bergetar menahan geram. "Gue nggak suka cara dia natap lo tadi, Lis. Dan gue paling nggak suka ada orang yang bikin lo kelihatan bego di depan umum."
Lilis memegang lengan Azril, mencoba menenangkannya. "Zril, udah. Jangan diperpanjang. Gue yang salah karena tadi kekanak-kanakan—"
"Nggak," Azril menepis pelan tangan Lilis dari lengannya. Dia berbalik memunggungi Lilis, menatap lurus ke arah ujung koridor dengan mata yang menggelap penuh dendam. "Ini bukan cuma soal lo yang kekanak-kanakan. Ini soal si Dafa yang butuh dikasih pelajaran biar tahu cara ngehargain cewek."
Azril mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Skenario di kepalanya sudah terbentuk.
Besok, atau kapan pun ada kesempatan di jam istirahat, dia sendiri yang akan menyeret Dafa keluar dari zona nyamannya di lapangan basket. Urusan ini tidak akan selesai hanya dengan diam.
......................
...****************...
Tbc,