NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI DI BALIK KERTAS LEBARAN

Keheningan yang menghujam ruang tamu utama mendadak berubah menjadi atmosfer yang sarat tegang. Ujung pena perak di jemari Ammar baru saja terangkat usai membubuhkan tanda tangan tegas di atas lembaran berkas pengajuan isbat nikah. Bunyi gesekan kertas itu berbunyi begitu nyaring, seolah menjadi ketukan palu yang memutus seluruh masa lalu dan impian perjodohan keluarga besar tersebut.

Kyai Dahlan berdiri seketika dari sofa marmer. Jubah putihnya berkibar pelan seiring dengan napasnya yang memburu menahan amarah yang begitu memuncak.

"Kurang ajar kamu, Ammar!" bentak Kyai Dahlan dengan suara berat yang menggelegar di seluruh sudut ruangan. Matanya yang tajam dan dipenuhi kilatan amarah menatap lurus ke arah Ammar, lalu beralih menatap Syekh Ali. "Ali! Apakah seperti ini caramu mendidik anakmu?! Mengabaikan kehormatan putriku demi wanita yang tak jelas asal-usulnya ini?!"

Syekh Ali menarik napas dalam-dalam. Wajah tuanya yang penuh wibawa memancarkan kepedihan mendalam, namun raut tegas seorang ayah dan pemimpin pesantren tetap bertengger di sana. Beliau bangkit berdiri perlahan, memegang tongkat kayunya.

"Dahlan, tenanglah dulu..." bujuk Syekh Ali halus, mencoba meredakan tensi yang kian memanas. "Saya paham kekecewaanmu dan Zahra. Namun Ammar adalah seorang pria yang harus bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi. Pernikahan ini sudah sah secara agama, dan mengesahkannya secara hukum negara adalah jalan terbaik agar tidak ada lagi fitnah di kemudian hari."

"Jalan terbaik untuk kalian, tapi hinaan untuk keluarga saya!" sahut Kyai Dahlan tajam.

Di sisinya, Zahra tak lagi mampu menahan bendungan air matanya. Bulir-bulir bening menetes deras membasahi pipi mulusnya yang pucat. Jemari tangannya yang memegang tas kecil bergetar hebat. Ia memandang Ammar dengan tatapan terluka sebuah tatapan yang membuat dadaku mendadak sesak oleh rasa bersalah yang mencubit tajam.

"Habib..." suara Zahra terdengar amat parau, hampir tenggelam oleh isak tangisnya sendiri. "Kenapa Habib tega membohongi Zahra? Kemarin Habib bilang dia sepupu... kemarin Habib menerima gulaisan dari Umi... Tapi kenapa sekarang..."

Ammar mendongak, menatap Zahra dengan pandangan jujur penuh penyesalan, namun genggaman tangannya pada jemariku tak sedikit pun melonggar.

"Maafkan saya, Zahra," potong Ammar datar namun sarat akan ketegasan. "Kebohongan kemarin adalah kesalahan terbesar saya karena berusaha menutupi kenyataan dari media dan jemaah. Tapi hari ini, saya memilih untuk jujur. Saya tidak bisa membiarkan Aisyah terus bernapas di dalam bayang-bayang kebohongan demi menjaga perasaan siapa pun. Aisyah adalah istri saya. Takdir saya ada bersamanya."

Kata-kata Ammar bagaikan belati yang menancap makin dalam. Zahra mundur satu langkah, meremas dadanya yang terasa sesak.

"Cukup, Zahra! Jangan merendahkan dirimu lagi di depan pria ini!" bentak Kyai Dahlan seraya menarik lembut lengan putrinya. Kyai Dahlan menunjuk Ammar dengan jari gemetar. "Ammarullah... ingat kata-kataku hari ini. Kamu telah menorehkan luka pada keluarga besar pesantren kami. Jangan salahkan saya jika kerja sama aset dan dukungan jemaah kami tarik sepenuhnya dari pesantren Abahmu!"

Syekh Ali hanya terdiam memejamkan mata, membiarkan ancaman itu melayang di udara tanpa sedikit pun berniat membalasnya. Bagi Syekh Ali, kejujuran sang putra jauh lebih berharga dibanding aset atau kekuasaan duniawi.

"Ayo pulang, Zahra!" perintah Kyai Dahlan tegas.

Zahra menatapku untuk terakhir kalinya lewat mata cantiknya yang basah. Ada rasa syok, ketidakpercayaan, dan luka mendalam di sana. Namun, alih-alih meluapkan amarah atau memaki seperti wanita pada umumnya, Zahra hanya mengusap air matanya pelan, mengangguk amat tipis ke arahku, lalu berbalik melangkah pergi menyusul ayahnya meninggalkan ruangan.

Langkah kaki mereka yang tergesa-gesa disusul oleh dentuman pintu depan yang tertutup rapat, menyisakan sunyi yang menyengat di dalam rumah.

Petugas KUA yang sejak tadi menyaksikan ketegangan itu berdeham pelan untuk memecah kecanggungan. "Ehem... Baik, berkas isbat nikah atas nama Habib Ammarullah dan Mbak Aisyah sudah lengkap disaksikan oleh Syekh Ali dan Pengacara Lukman. Dokumen ini akan segera kami proses ke Pengadilan Agama untuk penetapan sah secara hukum negara."

"Terima kasih, Pak," balas Ammar seraya menjabat tangan petugas KUA tersebut.

Setelah semua pihak luar dan Syekh Ali pamit meninggalkan rumah—dengan pesan mendalam dari Syekh Ali agar Ammar senantiasa membimbingku dengan sabar—suasana rumah mewah itu kembali hening.

Ibu yang sejak tadi menahan napas di sofa akhirnya bernapas lega. Beliau melangkah menghampiri kami, mengusap bahu Ammar dan kepala saya dengan linangan air mata haru. "Nak Ammar... Aisyah... Ibu benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih, Nak Ammar, sudah memasang badan dan menjaga kehormatan anak Ibu di depan semua ulama besar tadi."

Ammar tersenyum tipis, menggenggam tangan Ibu dengan penuh takzim. "Ini sudah menjadi kewajiban Ammar sebagai suami dan menantu, Bu. Ibu tidak perlu khawatir lagi. Mulai hari ini, Aisyah adalah istri Ammar yang sah di mata agama dan negara."

Sore harinya, matahari mulai menggelincir ke ufuk barat, memancarkan pendar oranye keemasan yang menerobos masuk lewat jendela kaca lantai dua.

Aku berdiri di balik jendela kaca kamar utama, menatap pekarangan rumah yang tenang. Gamis dusty rose yang kupakai masih membalut tubuhku dengan sempurna. Di dalam hatiku, perasaan campur aduk membuncah hebat. Ada rasa lega yang luar biasa karena status pernikahan ini tak lagi menjadi rahasia, namun ada pula bayang-bayang ketakutan akan beban besar yang harus kupikul sebagai istri seorang Habib terpandang.

Langkah kaki terdengar mendekat. Dua lengan tegap melingkar hangat di pinggangku dari belakang.

Ammar menyandarkan dagunya pelan di atas bahuku, menyalurkan aroma wangi minyak zaitun dan kehangatan tubuhnya yang menenangkan jiwa. Aku memejamkan mata, menikmati hembusan napas hangatnya yang menerpa leherku.

"Apa yang sedang dipikirkan, Hm?" bisik Ammar halus di dekat telingaku.

Aku menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya, meremas perlahan jemari Ammar yang bertaut di perutku. "Aku... aku cuma masih gak percaya, Mas. Mas Ammar benar-benar berani menyampaikan semuanya di depan Kyai Dahlan dan Kak Zahra tadi. Bagaimana kalau... bagaimana kalau pesantren Abah terkena dampaknya?"

Ammar terkekeh rendah, sebuah suara merdu yang menggetarkan dadaku. Ia memutar tubuhku pelan hingga kini kami berdiri berhadapan lurus.

Jemari tegap Ammar mengusap lembut pipiku, menatap tepat ke dalam manik mataku yang bulat jernih.

"Rezeki, martabat, dan pesantren adalah urusan Allah, Aisyah," tutur Ammar mantap, matanya berbinar penuh cinta yang utuh. "Tugas saya sebagai pria adalah menjaga wanita yang sudah saya ikahi. Saya tidak akan pernah menyesali keputusan saya pagi ini. Justru, saya merasa lega karena akhirnya bisa menggenggam tanganmu secara terbuka di depan dunia."

Air mata kebahagiaan menetes lagi di pipiku. Kali ini, tanpa rasa ragu sedikit pun, aku berjinjit pelan dan melingkarkan kedua tanganku di leher tegap suamiku.

Ammar menyambutnya dengan merengkuh tubuhku erat-erat ke dalam pelukannya, mendaratkan kecupan hangat dan lama di keningku. Di balik dinding kaca dan terbenamnya matahari sore itu, aku tahu badai belum sepenuhnya usai. Namun bersama Ammar di sisiku, aku siap menghadapi apa pun yang membentang di masa depan.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!