Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Hari kedua Alina dirawat dia melakukan panggilan video dengan bundanya. Saat ditanya dia sedang apa Alina mengatakan jika dia sedang berada di rumah mertuanya. Bunda percaya dengan perkataan Alina.
Sama dengan bunda, kedua sahabatnya juga mengajukan berbagai pertanyaan yang Alina jawab dengan 'kalau ketemu aku kasih tau '
Dan hari ke tiga Alina sudah diperbolehkan untuk pulang. Farhan sedang melakukan pelunasan pembayaran perawatan Alina. Sementara Alina merapihkan barang yang akan di bawa pulang.
Farhan datang menghampiri Alina yang sedang memasukkan barang kedalam tas kemudian Farhan membawa tas tersebut, mereka berjalan bersisian.
Farhan menyuruh Alina untuk menunggu di lobi, sementara dia mengambil mobilnya.
"Kamu tunggu disini dulu,aku ambil mobil." Alina mengangguk, selama tiga hari ini hubungan mereka jauh lebih mengalir, mereka memutuskan untuk mengganti kata aku dan kamu.
Saat melihat mobil Farhan, Alina langsung berjalan mendekat, Farhan keluar membuka pintu mobil untuk Alina.
Diperjalanan pulang Farhan menawarkan berbagai jenis makanan tetapi tidak ada yang menggugah selera Alina.
"Mau mampir beli sesuatu?." tanya Farhan.
Alina menggeleng," langsung pulang aja mas." Alina juga membiasakan panggilan itu untuk Farhan.
Alina menyadari jika jalan yang di lewati bukan jalan menuju rumahnya.
"Bukannya kalau mau ke rumah lewat jalan tadi ya." Alina melihat spion mobil.
"Udah bener kok jalannya." saut Farhan.
"Salah mas, kayaknya kamu kelewatan." Alina berusaha meyakinkan Farhan.
"Udah benar,ini jalan ke rumah aku." pantas saja Alina merasa aneh.
"Kenapa? Mas mau ambil barang?." Alina belum menyadari kenapa Farhan membawa dia kerumahnya.
"Mau nitip sesuatu ke mama." ucap Farhan.
Alina pikir Farhan memang menitipkan sesuatu, padahal yang mau dititipkan adalah dirinya.
Sesampainya di rumah,mama Farhan sudah berdiri menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Farhan membantu Alina turun.
"Pelan-pelan." tangan Farhan berada di atas kepala Alina agar dia tidak terbentur.
"Akhirnya kalian sampai,mama udah satu jam nunggu di luar." seperti biasanya mama Farhan selalu excited saat menyangkut Alina.
"Ma." Alina mendekat.
Mama Farhan langsung memeluk menantu kesayangannya.
"Akhirnya anak mama sembuh, muali sekarang kamu tinggal di sini biar mama selalu memperhatikan kamu."
Alina terkejut mendengarnya perkataan mama Farhan. Menyadari keterkejutan Alina mama langsung menatap Farhan dengan garang.
"Kamu belum bilang sama Alina ya." ucapan mama terdengar mengintimidasi.
"Sudah." jawab Farhan seenaknya.
"Kapan?." bukan mama yang bertanya melainkan Alina.
"Tadi, waktu aku bilang mau nitipin sesuatu."
"Aku kita kamu mau nitipin barang." Alina ingin mencubit Farhan tetapi tidak akan dia lakukan didepan mertuanya.
"Udah, Alina ayo masuk kamu ga beh kecapean dulu." mama Farhan membawa Alina masuk sementara Farhan merasa diabaikan.
"Sebenarnya yang anak mama itu siapa? Aku? Atau Alina?." meskipun sambil menggerutu Farhan tetap mengekor dibelakang mereka berdua.
Sesampainya diruang tamu mama Farhan menyuruh Alina untuk istirahat.
"Farhan bawa Alina ke kamar." perintahnya.
"Kamar siapa?." tanya Farhan.
"Ya ampun Farhan,ya kamar kamu lah,masa kamar mama." mendengar jawaban mama Farhan mereka langsung membelalakkan mata.
"Ma, kenapa kamar aku." rengek Farhan.
"Kalian ini udah suami istri emangnya salah kalau tidur satu kamar." Mama yang tidak mengetahui situasi sebenarnya tetap menyuruh mereka satu kamar.
"Di kamar tamu aja ya ma." Kali ini Alina yang membuka suara, di balas anggukan dari Farhan.
"Tidak boleh, Farhan bawa istri kamu ke kamar." setelah mengatakan itu mama langsung pergi meninggalkan dua pengantin baru yang diliputi kecanggungan.
Mau tidak mau Farhan membawa Alina ke kamarnya. Pertama kali memasuki kamar Farhan kesan yang diberikan adalah rapi. Selayaknya interior pria dewasa yang minimalis dan maskulin.
Farhan menyuruh Alina untuk istirahat di ranjangnya.
"Kamu istirahat aja dulu." Alina mengangguk sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kalau butuh sesuatu langsung bilang, aku mau menyelesaikan pekerjaan yang sempat aku tinggal." tutur Farhan.
Farhan berbalik meninggalkan Alina, sebelum itu Alina berkata," Terima kasih untuk semuanya." Farhan tidak berbalik tetapi dia mengangguk.
...----------------...
Alina tertidur lelap efek obat yang ia konsumsi. Saat membuka mata yang pertama kali di cari adalah jam. Mata Alina membelalak saat melihat pukul berapa sekarang.
19.00
Alina langsung bergegas turun, dia mencari penghuni rumah ini, ternyata mereka sudah berkumpul di meja makan. Awalnya Alina hendak berbalik karena malu jika tiba-tiba bergabung, ternyata papa Farhan melihatnya.
"Alina kamu sudah bangun,sini makan bersama." suara papa Farhan menghentikan langkah Alina, ia langsung berbalik sambil tersenyum dengan muka khas bangun tidur.
"Sini sayang, tadi mama ngecek kamu masih tidur jadi mama ga mau ganggu." Alina mendekat.
Alina duduk di sebelah Farhan.
"Kamu kok ga bangunin aku si." Alina berbisik kepada Farhan.
"Tidur kamu nyenyak,jadi aku tidak mau menganggu." jawab Farhan dengan pelan.
"Sama aja,aku kan ga enak sama mama papa." kembali Alina berbisik.
Tingkah laku mereka tidak luput dari perhatian mama dan papa.
Setelah itu mereka makan dalam keheningan.
Tetapi tidak mengurangi perhatian mama Farhan kepada Alina yang sedari tadi menyodorkan berbagi lauk pauk ke piring Alina.
"Makan yang banyak." kata itu sudah di ulang berkali kali sampai perut Alina terasa begah.
Farhan yang menyadari jika Alina kekenyangan langsung mengambil piring Alina.
"Dari tadi mama cuma perhatian sama Alina,jadi biar aku yang habisin makanan ini." Alina menatap Farhan.
"Itu makanan Alina kenapa kamu yang makan." omel mama.
"Biarin." seolah tidak memperhatikan ucapan mamanya, Farhan menyantap makanan dengan lahap, sampai habis.
Senyum Alina terbit saat melihat perlakuan Farhan kepadanya.
'sadar Alina jangan terbawa perasaan'
Namun seberapa besar Alina menyangkal perasaan nya mulai tumbuh untuk suami sementara nya.
...----------------...
Setelah makan malam mereka berbincang di ruang keluarga. Melihat hari semakin malam mama menyuruh Farhan membawa istrinya untuk istirahat.
Sesampainya di dalam kamar mereka kembali diliputi kecanggungan masalah tempat tidur.
"kamu tidur aja." ucap Farhan
"Terus kamu gimana?." tanya Alina.
"Aku tidur di sofa." jawab Farhan sembari menunjuk sofa yang dia gunakan untuk bersantai.
"Tapi aku ngerasa tidak enak mas." ucap Alina dengan suara pelan.
"Tidak apa-apa, aku tau kamu pasti merasa tidak nyaman jika harus tidak dengan orang lain." ucapan Farhan tidak salah tetapi Alina merasa sungkan membiarkan pemilik kasur tidur di sofa.
Akhirnya keputusan untuk tidur secara terpisah teratasi. Alina memejamkan mata.
Sama dengan Alina Farhan juga memejamkan matanya yang terasa lelah.
Tetapi ponselnya tiba-tiba berdering.
Renata menelpon.
"Halo sayang." Farhan menyapa dengan suara lembutnya.
Alina sebenarnya belum tidur jadi dia mendengar suara Farhan yang ia yakini sedang menelpon Renata.
"Kenapa belum tidur?." tanya Farhan.
"Hari ini aku ga bisa pulang dulu, mama nyuruh aku tidur di rumah." sepertinya Renata bertanya kenapa Farhan tidak pulang ke rumah mereka.
"Maaf ya sayang,besok aku pulang." setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka.
Alina menyadari jika selama ini Farhan dan Renata tinggal bersama. Dengan hubungan yang sudah sejauh itu sepertinya Alina harus membuat batasan agar hatinya tidak terluka terlalu dalam.