Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Pesawat yang membawa Jovan dari Australia akhirnya mendarat di Indonesia. Begitu keluar dari bandara, pria itu tidak langsung menuju kediaman keluarga Narendra. Ia justru meminta sopir mengantarnya ke sebuah apartemen miliknya. Sejak turun dari pesawat, pikirannya tidak tenang. Berita tentang dirinya dan Serina masih memenuhi berbagai media sosial.
Foto dirinya bersama Farel, foto ketika Farel memeluk pinggangnya, foto dirinya berdiri bersama Serina di depan pabrik.
Semua foto itu kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita yang sama sekali tidak pernah terjadi.
Jovan Narendra memiliki istri dan seorang anak yang selama ini disembunyikan dari publik.
Jovan melemparkan ponselnya ke atas meja.
Ia mengusap wajahnya kasar.
"Brengsek..."
Pria itu berjalan menuju jendela.
Dari lantai tinggi apartemen, lampu-lampu kota Jakarta terlihat berkilauan.
Namun pikirannya justru kembali kepada sebuah kontrakan sederhana. Kepada seorang wanita yang setiap hari bekerja keras di pabrik. Dan kepada seorang anak kecil yang selalu menyambutnya dengan senyum lebar, yakni Farel.
Jovan menghela napas panjang.
"Kalau gosip ini terus dibiarkan..." Ia terdiam.
"Serina akan terus menjadi sasaran." Ia membayangkan wajah Serina ketika dikerumuni wartawan.
Membayangkan Farel yang mungkin akan tumbuh dengan mendengar orang-orang mengatakan bahwa ibunya memanfaatkan seorang pembalap terkenal.
Jovan mengepalkan tangannya. "Padahal mereka nggak salah apa-apa."
Ponselnya kembali bergetar. Satu berita baru muncul.
"Jovan Narendra Pulang ke Indonesia, Benarkah untuk Menemui Istri dan Anak Rahasianya?"
Jovan langsung mematikan layar. Dadanya terasa semakin sesak.
Kemudian sebuah pikiran yang sebelumnya tidak pernah berani ia pikirkan muncul begitu saja.
"Kalau mereka menganggap Serina adalah istriku..."
Jovan terdiam.
"Bagaimana kalau aku benar-benar menikahinya?"
Pikiran itu membuat dirinya sendiri terkejut.
Ia menggeleng cepat. "Jangan gila, Jovan."
Namun semakin ia mencoba menyingkirkan pikiran itu, semakin kuat pula alasan yang muncul di kepalanya.
Jika mereka menikah, tidak akan ada lagi ruang bagi orang lain untuk menuduh Serina sebagai wanita yang memanfaatkan rasa bersalahnya.
Farel juga akan memiliki perlindungan.
Dan yang paling penting...
Serina tidak perlu menghadapi semua masalah itu sendirian.
Jovan akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi Leo. Tak lama kemudian, Leo datang.
Begitu memasuki apartemen, Leo langsung melihat wajah sahabatnya yang serius.
"Jo."
"Hmm?"
"Lo manggil gue malam-malam begini kenapa?"
Jovan menunjuk sofa. "Duduk."
Leo mengernyit. "Waduh. Kalau sudah begini biasanya ada masalah besar."
Mereka duduk berhadapan. Jovan terdiam beberapa saat. Kemudian berkata,
"Leo."
"Apa?"
"Gue punya satu keputusan."
Leo langsung waspada. "Keputusan apa?"
Jovan menatapnya. "Gue mau nikahin Serina."
Leo membeku. "Hah?"
Jovan tetap diam. Leo menunjuk wajah sahabatnya. "Elo... elo yakin sama keputusan elo, Jo?"
Jovan mengangguk dan Leo langsung berdiri.
"Elo mau nikahin Serina?"
"Iya."
"Come on lah, Bro!" Leo berjalan mondar-mandir. "Gak begitu juga kali!"
Jovan menghela napas.
"Tenang."
"Gue yang harus tenang?" Leo menunjuk Jovan. "Elo itu pembalap terkenal. Elo bisa dapat wanita seperti apa pun yang elo mau!"
Jovan diam.
"Tapi bukan dengan wanita yang usianya hampir seumuran sama Kakak elo, Darren!"
Leo mengusap rambutnya. "Apalagi dia janda satu anak!"
Jovan langsung menatap tajam. "Jangan ngomong begitu tentang Serina."
Leo terdiam sedangkan Jovan menunduk.
"Dia bukan wanita seperti yang lo pikirkan."
"Gue tahu dia bukan wanita sembarangan."
Leo menghela napas. "Tapi keputusan menikah bukan sesuatu yang bisa lo ambil cuma gara-gara gosip."
Jovan menatap lantai. "Tapi gue ingin melindungi mereka."
"Siapa?"
"Serina dan Farel." Jovan menarik napas panjang.
"Berita ini sudah sangat meresahkan dan menyeret mereka. Nama baik Serina juga dipertaruhkan." Ia menatap Leo. "Setiap hari orang-orang ngomongin dia."
"Terus?"
"Gue ingin menikahi Serina hanya untuk melindunginya."
Leo terdiam.
"Dan Farel." Jovan menambahkan.
"Gue tidak mau anak itu tumbuh dengan mendengar ibunya dihina hanya karena mengenal gue."
Leo memandang sahabatnya cukup lama.Kemudian ia berkata perlahan,
"Elo yakin, Jo?"
"Iya."
"Hanya ingin melindungi?"
"Iya."
Leo menyipitkan matta. "Elo yakin cuma ingin melindunginya?"
Jovan mengangguk. "Iya."
Leo mendekat. "Atau elo sebenarnya memiliki rasa sama Serina?"
Deg!
Jovan langsung terdiam. Pertanyaan itu tepat mengenai bagian dirinya yang selama ini berusaha ia hindari.
Ia teringat bagaimana jantungnya berdebar ketika Serina tersenyum. Bagaimana dirinya merasa lega ketika Serina mulai berbicara tanpa kemarahan.
Bagaimana ia selalu mencari alasan untuk mengunjungi Farel. Dan bagaimana dirinya merasa berat ketika melihat Serina disakiti.
Namun Jovan segera menggeleng. "Gue cuma kasihan."
Leo tidak percaya. "Jangan bohong sama gue."
"Gue nggak bohong."
"Elo sahabat gue."
Leo menatapnya serius. "Gue tahu perubahan elo."
Jovan terdiam.
"Dulu lo datang ke kontrakan itu karena merasa bersalah." Leo melanjutkan. "Tapi sekarang setiap kali ngomongin Serina dan Farel, wajah lo berubah."
Jovan mengepalkan tangannya. "Gue cuma ingin bertanggung jawab."
"Atau lo sudah jatuh cinta?"
Jovan berdiri. "Cukup, Leo."
Leo tidak mengejar.
Jovan berjalan menuju jendela. "Aku tidak mencintai Serina." Ia sengaja menggunakan nada tegas. "Aku cuma ingin melindungi mereka."
Leo menghela napas. "Semoga elo tidak sedang membohongi diri sendiri."
Jovan tidak menjawab.
*
*
Keesokan harinya, Jovan mendatangi kontrakan Serina. Ia tidak membawa hadiah.
Tidak membawa mainan, tidak membawa makanan. Kali ini ia datang dengan satu tujuan yang sangat serius.
Serina yang sedang menjemur pakaian terkejut ketika melihat Jovan berdiri di depan pagar.
"Jovan?"
"Iya."
"Ada apa?"
Jovan memasukkan kedua tangannya ke saku. "Aku ingin bicara."
Serina memandangnya curiga. "Tentang apa?"
"Ini penting."
Serina akhirnya membuka pagar. "Masuklah."
Jovan duduk di kursi ruang tamu sedangkan Serina duduk berseberangan dengannya. Farel sedang bermain di kamar.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Jovan terlihat gugup. Serina sampai mengernyit.
"Ada apa sebenarnya?"
Jovan menarik napas panjang.
"Aku sudah melihat semua berita yang beredar."
Serina mengangguk.
"Aku juga."
"Aku tahu kamu sudah sangat terganggu."
"Memang."
"Aku juga tahu orang-orang sudah mulai menghakimi kamu."
Serina menatapnya.
"Lalu?"
Jovan menatap mata Serina. "Aku ingin menyelesaikan semuanya."
"Bagaimana?"
Jovan menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin menikah denganmu."
Serina membeku. "Apa?"
"Aku ingin menikahimu, Serina."
Serina akhirnya berdiri dari kursinya. "Kamu bercanda?"
"Tidak."
"Jovan, jangan bercanda soal hal seperti ini."
"Aku serius."
Serina menatapnya tidak percaya. "Kamu sadar apa yang kamu katakan?"
"Sangat sadar."
"Kenapa?"
Jovan berdiri. "Aku ingin melindungimu."
Serina terdiam.
"Dan Farel." Jovan melanjutkan. "Aku tidak ingin gosip ini menghancurkan kehidupan kalian."
Serina menggeleng. "Menikah bukan solusi untuk sebuah gosip."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kamu masih mengatakannya?"
Jovan terdiam beberapa saat. "Karena aku tidak ingin kamu terus menjadi sasaran hanya karena aku."
Serina menatap Jovan dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu pikir dengan menikahiku semuanya akan selesai?"
"Tidak."
"Kamu pikir aku mau menikah hanya karena orang-orang membuat gosip?"
"Tidak."
"Lalu apa?"
Jovan menelan ludah. "Aku ingin memberikan kepastian."
Serina tertawa getir.
"Kepastian?"
"Iya."
"Jovan..."
Serina mengusap wajahnya. "Suamiku baru meninggal." Suara itu membuat Jovan terdiam. "Aku masih berduka."
"Aku tahu."
"Aku bahkan belum benar-benar bisa menerima bahwa Riki sudah tidak ada."
Jovan menunduk. "Aku tahu."
"Dan sekarang kamu datang lalu mengatakan ingin menikah denganku?" Air mata mulai menggenang di mata Serina. "Aku tidak sedang mencari suami baru."
Jovan terdiam. Serina menarik napas panjang.
"Aku juga tidak ingin menikah karena rasa kasihan."
"Aku tidak mengasihanimu."
"Kalau begitu karena apa?"
Jovan menatapnya. "Karena aku ingin bertanggung jawab."
Serina menggeleng. "Jovan..."
"Aku tahu kamu tidak bisa melupakan Riki."
"Aku tidak meminta kamu melupakannya."
Serina menatapnya tajam.
"Kalau aku menikah denganmu, aku tidak ingin Farel menganggapmu sebagai pengganti ayahnya."
"Aku juga tidak pernah berniat menggantikan Riki."
"Dan aku tidak mau hidup bersamamu hanya karena rasa bersalah."
Jovan terdiam.
"Jadi..."
Serina mengusap air matanya.
"Kenapa kamu benar-benar melakukan ini?"
Pertanyaan itu membuat Jovan tidak mampu menjawab seketika.
Ia ingin mengatakan bahwa semua ini demi perlindungan. Namun suara Leo kembali terngiang di kepalanya.
Atau elo sebenarnya memiliki rasa sama Serina?
Jovan menatap wanita di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa mungkin alasan dirinya selalu ingin kembali ke kontrakan ini bukan hanya karena Farel.
Namun Jovan belum siap mengakuinya.
"Aku hanya ingin kalian aman."
Serina menghela napas.
"Aku butuh waktu."
Jovan mengangguk. "Aku akan menunggu."
"Jangan berharap aku langsung menerima."
"Aku tahu."
"Dan jangan pernah memaksaku."
"Aku tidak akan memaksamu."
Serina kembali duduk.
Jovan kemudian berjalan menuju pintu. Namun sebelum pergi, ia berhenti.
"Serina."
"Apa?"
"Kalau suatu hari kamu menerima tawaran ini..."
Jovan menoleh.
"Aku akan berusaha membuatmu merasa aman. Bukan karena aku ingin menggantikan Riki, tapi karena aku ingin menjadi seseorang yang bisa berdiri di sampingmu."
Serina tidak menjawab.
Jovan akhirnya pergi.
Begitu pintu tertutup, Serina masih duduk dalam diam. Pikirannya kacau. Ia menatap foto Riki yang tersimpan di atas meja.
"Mas..." Air mata jatuh di pipinya.
"Kenapa setelah kepergianmu, hidupku justru semakin rumit?"
Di kamar, Farel ternyata mendengar sebagian percakapan mereka.
Ia keluar perlahan.
"Bunda..."
Serina segera menghapus air matanya.
"Iya, Sayang?"
"Om Jovan tadi bilang mau menikah sama Bunda?"
Serina terdiam.
"Farel dengar?"
Farel mengangguk.
Kemudian ia bertanya polos,
"Kalau Om Jovan menikah sama Bunda..."
Ia tersenyum.
"Berarti Om Jovan tetap boleh jadi Doraemon Farel, kan?"
Serina menatap putranya. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Ia kemudian menarik Farel ke dalam pelukannya.
"Farel..."
"Iya, Bun?"
"Kita pikirkan semuanya pelan-pelan."
Farel mengangguk.
Di luar kontrakan, Jovan berjalan menuju mobilnya.
Ia menatap rumah sederhana itu beberapa saat.
Tangannya menyentuh dadanya sendiri.
Entah mengapa, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Kenapa gue segugup ini?"
Jovan menghela napas.
Kemudian ia teringat pertanyaan Leo.
Elo cuma ingin melindunginya, atau elo memang punya rasa sama Serina?
Jovan menatap jalan di depannya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu memberikan jawaban yang benar-benar meyakinkan kepada dirinya sendiri.
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭