Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 Reza mengamuk
Pintu besi gudang tua di pelabuhan lama itu terbuka dengan dentuman keras, berkarat, dan berderit nyaring memecah keheningan malam.
Angin laut yang dingin berembus masuk, membawa bau amis air laut bercampur debu gudang.
Di tengah ruangan yang diterangi satu lampu gantung goyang, Maya mengangkat wajahnya yang pucat. Matanya langsung menangkap sosok tinggi tegap yang berdiri di ambang pintu.
Reza.
Pria itu datang seorang diri seperti ancaman yang berjalan. Kemeja hitamnya sedikit berantakan, lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengannya yang menegang kaku.
Tidak ada sisa ketenangan di wajah tampannya; yang ada hanyalah ekspresi gelap gulita, dingin, dan mematikan—aura seorang iblis yang siap mencabik-cabik siapa saja yang berani menyentuh miliknya.
Bram, pemimpin geng yang menyekap Maya, menyeringai lebar sambil berdiri di samping kursi Maya. Ia memegang sebilah pisau lipat yang tadi ia mainkan, lalu menempelkan mata pisau itu tepat di leher Maya.
"Wah, wah... Lihat siapa yang datang tepat waktu," ledek Bram dengan nada suara mengejek, melirik ke arah pintu.
"Hebat juga nyalimu, Reza. Datang sendirian ke sarang musuh tanpa pasukan. Kamu benar-benar sudah hilang akal karena perempuan ini?"
Reza tidak langsung menjawab. Langkah kakinya terus melangkah masuk ke dalam gudang, lambat namun berirama penuh tekanan.
Setiap kali sepatu botnya menghantam lantai semen, suaranya menggema di seluruh ruangan yang sunyi.
"Lepaskan dia, Bram," ucap Reza rendah. Suaranya terdengar sangat datar, tapi setiap suku kata yang keluar mengandung ancaman maut yang membuat bulu kuduk merinding.
"Lepaskan?" Bram tertawa sinis. "Kamu pikir posisi tawar ada di tanganmu, hah? Lihat dia! Satu gerakan salah dari kamu, dan pisau ini bakal mengoyak leher mulusnya!"
Maya menggelengkan kepalanya lemah dari balik ikatan tali tambang, air matanya menetes makin deras.
"Reza... jangan... ini jebakan... Kenapa kamu ke sini...?" rintih Maya dengan suara parau penuh ketakutan.
Reza menghentikan langkahnya, jaraknya kini hanya tersisa beberapa meter dari kursi tempat Maya diikat.
Ia mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Maya, menatap gadis itu dengan sorot mata yang melunak dalam sepersekian detik sebelum kembali menajam menatap Bram.
"Maya, tenanglah. Saya ada di sini," kata Reza lembut, berusaha menenangkan gadis itu meski rahangnya masih mengeras menahan amarah. "Kamu tidak akan kenapa-kenapa."
Bram mendengus kesal melihat ketenangan di wajah Reza. "Kurang ajar! Masih sempat-sempatnya kalian berdua drama romantis di hadapanku! Anak buah, keluar semuanya! Habisi dia!"
KREK... KREK...
Dari balik tumpukan peti kemas tua di sudut-sudut gelap gudang, selusin anak buah Bram yang memegang pipa besi dan pentungan langsung bermunculan, mengepung Reza dari segala penjuru.
"Bunuh bos mafia sombong ini!" teriak salah satu anak buah Bram.
Tanpa aba-aba, tiga orang penyerang langsung menerjang ke depan secara bersamaan, mengayunkan senjata mereka ke arah kepala Reza.
Reza bergerak secepat kilat. Ia tidak menghindar, justru menyambut serangan itu. Dengan satu gerakan tangkas, Reza menepis hantaman pipa besi, lalu melayangkan tendangan telak ke dada penyerang pertama hingga tubuh pria itu terpental jauh dan menabrak tumpukan kardus.
Baku hantam pecah dalam hitungan detik. Reza benar-benar mengamuk berat.
Setiap pukulan, tendangan, dan bantingan yang ia lepaskan dipenuhi oleh tenaga kemarahan yang luar biasa besar.
Tidak ada ampun dan tidak ada keraguan. Pria itu menjelma menjadi mesin pembunuh yang tak terhentikan.
"Awas! Keroyok dia ramai-ramai!" teriak Bram panik melihat anak buahnya tumbang satu per satu dalam waktu singkat.
Lima orang sekaligus menyerang Reza dari belakang. Seorang penyerang berhasil menghantam bahu Reza dengan balok kayu.
Reza sedikit oleng, namun rasa sakit itu justru makin memicu kemarahannya. Dengan brutal, Reza membalikkan badan, mencengkeram kerah baju penyerang itu, lalu membantingnya ke lantai semen hingga pingsan seketika.
Darah segar menetes dari sudut bibir Reza, tapi ia tidak memperdulikannya. Matanya tetap fokus menatap lurus ke arah Bram yang mulai pucat pasi melihat pasukannya kocar-kacir.
"Sialan... sialan!" caci Bram gemetar, makin menekan mata pisaunya ke kulit leher Maya hingga sedikit darah merah segar mulai merembes keluar.
"Berhenti bergerak, Reza! Atau perempuan ini mati sekarang juga di depan matamu!"
Reza yang hendak melangkah maju seketika menghentikan langkahnya.
Napasnya memburu naik turun. Ia menatap tetesan darah di leher Maya, dan saat itulah kontrol emosinya nyaris putus total.
"Jangan sentuh dia, Bram," desis Reza dengan suara serak yang sangat menakutkan.
"Kalau kamu berani menggores kulitnya lagi, saya pastikan kamu tidak akan mati dengan cara yang mudah."
Bram menelan ludah dengan susah payah, mencoba menutupi rasa takutnya di balik seringai kejam.
"Kalau begitu, berlutut! Berlutut di hadapanku sekarang juga kalau kamu mau perempuan ini selamat!"
Maya membelalakkan matanya, menggelengkan kepalanya histeris.
"Jangan, Reza! Jangan lakukan itu! Biarkan aku mati saja!"
Reza menatap Maya lekat-lekat. Tanpa ragu sedikit pun, pria berwibawa yang selama ini ditakuti oleh seluruh dunia hitam itu perlahan menekuk lututnya, lalu berlutut di atas lantai semen yang dingin di hadapan Bram.
Bram tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan itu.
"Ha-ha-ha! Lihat ini! Bos besar dunia mafia berlutut di kakiku demi seorang cewek pelayan! Kamu benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi, Reza!"
Maya menangis histeris melihat pengorbanan Reza. Harga diri pria itu diinjak-injak hanya demi menyelamatkan nyawanya.
"Reza... kenapa kamu bodoh sekali..." rintih Maya tersedu-sedu.
"Diam kamu!" bentak Bram, lalu menendang kursi Maya hingga gadis itu terdorong ke belakang.
Bram melangkah maju mendekati Reza yang masih berlutut, mengarahkan pisau tajamnya tepat ke arah wajah Reza.
"Sekarang, ucapkan selamat tinggal pada—"
DOR!
Satu suara letupan tembakan yang sangat nyaring mendadak meledak dari atap kaca gudang.
PRANG!
Kaca langit-langit pecah berkeping-keping. Sebelum Bram sempat bereaksi, sebuah peluru tajam meluncur deras dan menembus tepat pergelangan tangan Bram yang memegang pisau.
"ARGHHH!" teriak Bram histeris saat pisau di tangannya terlepas jatuh ke lantai, darah segar mengucur deras dari tangannya yang tertembak.
"Tiarap, Tuan Besar!" teriakan lantang Rian terdengar dari atas atap gudang, disusul oleh puluhan pasukan elit pengawal setia Reza yang meluncur turun menggunakan tali pengaman.
Dalam hitungan detik, seluruh sisa anak buah Bram yang tersisa langsung dilumpuhkan tanpa bisa melawan.
Reza yang tadinya berlutut langsung bangkit berdiri dengan cepat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia berlari menerjang ke arah Bram yang sedang mengerang kesakitan, lalu melayangkan satu pukulan telak yang membuat Bram tersungkur pingsan tak berdaya di lantai.
Reza tidak peduli pada Bram lagi. Ia segera berbalik, menghampiri Maya yang masih terikat di kursi dengan tubuh gemetar hebat.
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena adrenalin, Reza merobek tali tambang yang mengikat tubuh Maya, lalu langsung menarik gadis itu ke dalam dekapan dadanya.
"Maya... Kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Reza cemas, memeriksa setiap inci tubuh Maya.
Maya langsung memeluk leher Reza erat-erat, menangis sejadi-jadinya di dada bidang pria itu.
"Reza... aku takut... aku pikir aku tidak bakal ketemu kamu lagi..."
Reza memeluk tubuh Maya makin erat, mencium puncak kepala gadis itu berulang kali untuk menyalurkan rasa tenang.
"Sudah aman... Saya ada di sini. Tidak ada yang boleh menyakiti kamu lagi."
Setelah ketegangan mereda, Rian mendekati mereka dengan napas terengah-engah. "Tuan Besar, semua area sudah kita amankan. Tapi... kita menemukan satu hal penting di ponsel Bram yang tadi tertinggal."
Reza menoleh, menatap Rian dengan tatapan tajam. "Apa itu?"
Rian menyerahkan sebuah ponsel rusak dengan layar yang masih menampilkan pesan masuk.
"Pesan itu dikirim dari seseorang di lingkaran dalam dewan... Seseorang yang sengaja memberikan informasi lokasi persembunyian ini kepada Bram untuk menjebak Anda."
Maya mendongak dari pelukan Reza, menatap Rian dengan kening berkerut. "Siapa... siapa orangnya?"
Rian menelan ludah sebelum menyebutkan nama pengirim pesan tersebut. "Sora."
Mendengar nama itu, rahang Reza mengeras seketika. Sorot matanya berubah menjadi sangat gelap dan dingin, menyadari kalau istrinya sendiri benar-benar sudah berniat membunuhnya lewat tangan musuh.
Belum sempat Reza merespons, ponsel di saku jasnya mendadak bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk dari nomor tak dikenal.
Reza menggeser layar, dan wajah Sora terpampang jelas di layar ponsel dengan senyuman dingin yang mengerikan.
"Bagaimana kejutan malam ini, suamiku?" suara Sora terdengar sangat manis namun penuh racun.
"Sayang sekali rencana pembunuhannya gagal... Tapi jangan khawatir, pertunjukan sesungguhnya baru saja dimulai di pusat kota."
Bersambung......