❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞
Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Me After You
"Sayang, buat tanda di leher aku juga, dong."
Ara tiba-tiba teringat bahwa sore nanti ia harus bertemu dengan calon pilihan papanya. Karena itu, ia sengaja ingin terlihat sedikit "nakal" di depan lelaki yang bahkan tidak dikenalnya itu. Ia ingin memperlihatkan bekas kissmark yang dibuat Bara di lehernya, sebagai tanda bahwa hatinya sudah menjadi milik orang lain.
Tanpa menanyakan alasannya, Bara langsung menuruti permintaan Ara. Ia dengan senang hati meninggalkan tanda di leher putih kekasihnya itu, sementara Ara hanya bisa menahan napas.
"Astaga! Kalian berdua! Masih pagi, loh! Udah ganas aja mainnya."
Bara terpaksa menghentikan aksinya ketika Sora tiba-tiba menyelonong masuk sambil membawa beberapa bungkus makanan. Padahal sebelumnya Ara sudah melarang siapa pun masuk ke kamar Bara. Namun, Sora memang sengaja ingin mengganggu keduanya.
"Ganggu aja lo. Padahal yang lain aja pada di luar."
"Di luar apaan? Itu lihat mereka! Lagi baris di depan pintu kayak mau rebutan sembako. Artinya, dari tadi kelakuan kalian berdua ditontonin sama mereka."
Ara mengikuti arah tangan Sora yang menunjuk ke depan pintu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Biru, Yohan, dan Yuvin berdiri berjejer di sana dengan ekspresi bengong. Rupanya, sejak tadi mereka menyaksikan semua kejadian dari balik pintu.
Wajah Ara seketika memanas. Ia buru-buru turun dari ranjang dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Ah, elah! Tadi aja urat malu lo kayaknya udah putus. Sekarang malu beneran, lo?" ledek Yuvin.
"Diem lo, Vin!"
Ara masih menyembunyikan wajahnya. Teman-temannya, bahkan kakaknya sendiri, malah semakin mengolok-oloknya.
Sementara itu, Bara sama sekali tidak berniat membela Ara. Lelaki itu justru terlihat sangat puas dengan hasil karyanya di leher Ara.
"Ternyata adekku udah nggak polos lagi. Abang kira selama ini kamu masih polos."
"Abang mendingan cepat cari pacar juga, deh. Biar nggak iri sama adek lo ini. Kelamaan jomblo, sih, Bang!"
"Sialan! Ayo, gelut sama gue."
Biru langsung berdiri tegap dan memasang kuda-kuda, siap menyerang Yohan.
Yohan tentu saja tidak mau kalah. Ia ikut memasang kuda-kuda andalannya dan bersiap meladeni Biru.
Namun, sebelum keduanya benar-benar berkelahi, Ara buru-buru berdiri di tengah-tengah mereka.
"Kalian ini lagi di rumah sakit! Kalian nggak lihat apa ada pasien di sini?! Kalau mau berantem, di luar aja, sana!"
Ara yang sudah kesal hanya bisa mengacak-acak rambutnya sendiri. Pandangan matanya kemudian beralih kepada Sora dan Yuvin yang sedang asyik bergosip sambil menyantap makanan yang mereka bawa.
Ara sempat mengira makanan itu dibawa untuk Bara. Ternyata tidak.
Amarahnya rasanya sudah sampai ubun-ubun. Kepalanya terasa ingin meledak melihat kamar Bara yang kini penuh dengan teman-temannya yang ribut sendiri.
Biru masih saja mengajak Yohan berduel. Sora dan Yuvin sibuk bergosip. Sementara Bara hanya duduk santai sambil menikmati keributan itu.
Ara menghela napas panjang.
"Ini rumah sakit, bukan pasar."
"Ara? Sayang?"
Ara menoleh.
"Hmm? Mereka berisik banget, ya? Perlu aku usir aja?"
Bara justru menggeleng pelan sambil tersenyum melihat teman-teman Ara yang sedang asyik dengan kesibukan masing-masing.
"Biarin aja. Aku malah senang karena ada mereka di sini."
Senyum Bara melebar.
"Aku jadi nggak merasa kesepian lagi. Aku juga udah nggak peduli dari mana kamu dan yang lainnya tahu tentang penyakitku. Malah, aku pengin kalian semua ada di sini terus."
Ara terdiam.
"Aku pikir kamu ngerasa keganggu karena mereka."
Ara menatap Bara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bara, kamu nggak perlu ngomong kayak gitu. Malah aku jadi terharu."
Ara mengusap sudut matanya sebelum kembali tersenyum.
"Mending sekarang aku suapin kamu makan aja, biar kita sama-sama kelihatan sibuk kayak mereka."
Tanpa perlu diminta dua kali, Bara langsung mengangguk antusias. Ia mendudukkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang sambil menunggu Ara menyuapinya.
Kebetulan sekali ia memang sudah lapar sejak tadi. Namun, Bara terlalu gengsi untuk mengakuinya karena ada teman-teman Ara di sana.
Padahal, mereka juga teman-temannya. Hanya saja, Bara masih merasa sedikit canggung dengan teman-teman sekelasnya sendiri.
Ara segera menyiapkan makanan rumah sakit yang sudah disediakan sejak pagi. Ia juga membuka bekal makanan yang dibawanya dari rumah dan menambahkannya ke meja.
Mata Bara langsung berbinar melihat begitu banyak makanan di hadapannya.
"Mulutnya dibuka."
Bara menurut.
Ara menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Sambil menunggu Bara mengunyah dan menelan makanannya perlahan, Ara mengambil ponselnya dan diam-diam memotret Bara.
"Aku mau unggah foto kamu lagi."
Ara tersenyum jahil.
"Aku mau nyindir Bang Biru."
Bara terkekeh, kemudian kembali menerima suapan dari Ara.
Karena Bara harus mengunyah dan menelan makanan secara perlahan, Ara kembali sibuk dengan ponselnya. Ia hendak mengunggah foto Bara ke Instagram.
"Sayang, tolong ambilin ponselku di atas nakas."
Bara menunjuk ke arah nakas.
"Kan kemarin aku udah bilang kalau aku pengin selalu jadi orang pertama yang bakal mencet tombol suka di setiap foto yang kamu unggah."
"Siap."
Ara berdiri mengambil ponsel Bara.
"Kalau gitu, aku bakal unggah foto kamu setiap hari. Kamu harus selalu mencet tombol suka di fotoku! Awas aja kalau sampai lupa."
Ara mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, lalu menyerahkannya kepada Bara. Bara mengangguk kecil dan langsung membuka aplikasi Instagram di ponselnya sambil menunggu Ara mengunggah foto.
Tak lama kemudian, notifikasi komentar mulai bermunculan.
aramoana_:
Makan yang banyak ya sayangku @barasamudera ❤️😘 sengaja mau buat si jomblo abadi kepanasan @biru_namaku jangan iri ya 😝
Comments:
yohan.dewa:
Ngakak! Sampai abang sendiri dinistain, wkwkwk. Bantu tag @biru_namaku 🙈
biru_namaku:
Sialan! Ngapain nge-tag abang segala, hah! Seneng banget perasaan bikin abang malu 😭
barasamudera:
Sayang, nggak boleh gitu 😅
sorazura_:
Tiada hari tanpa ngebucin, ya kalian 😒
vanonym:
Cowok lo sakit, Ra?
yuvindipt:
Untung gue jomblo tapi nggak di-tag 😆
"Rasain lo, Bang! Dinistain adek sendiri."
"Dek, jahat banget coba sampai nge-tag abang segala?! Abang perasaan nggak sengenes itu!"
"Aku nggak peduli! Sekali-kali aku pengin ngerjain abang sendiri juga nggak masalah, kan?"
Ara yang masih sibuk menyuapi Bara menjulurkan lidahnya ke arah Biru. Teman-temannya langsung tertawa, termasuk Bara.
Biru hanya bisa pasrah dan tabah. Sebagai orang paling tua di antara mereka, sepertinya ia memang harus memiliki tingkat kesabaran ekstra.
...---...
"Bara, aku pulang sebentar, ya? Aku mau ambil baju ganti biar bisa nemenin kamu di sini."
Bara menatap Ara.
"Kamu mau nginep di sini? Kalau orang tuamu nggak ngizinin, gimana?"
"Ara Moana yang keras kepala ini nggak menerima penolakan."
Ara tersenyum.
"Aku pulang dulu, ya, sayang? Sampai ketemu nanti."
Ara mengecup bibir Bara sekilas, lalu segera pergi. Bara hanya bisa tersenyum melihat kepergian kekasihnya.
Kini ia kembali sendirian di kamarnya karena yang lainnya masih kuliah. Sementara itu, Ara dengan seenaknya menitipkan absen kepada Sora.
Ara sengaja mengikat rambutnya tinggi-tinggi agar bekas kissmark di lehernya terlihat jelas.
Sesekali ia membuka Instagram dan membaca komentar-komentar yang masuk selama perjalanan menuju kafe yang sudah ditentukan papanya.
Sampai akhirnya, matanya berhenti pada satu nama yang terasa asing di telinganya.
"Ini vanonym siapa, sih? Padahal gue nggak ngerasa kenal sama dia. Tapi kenapa dia sok akrab banget?"
Ara mengernyitkan kening.
Begitu sampai di kafe, ia celingukan mencari lelaki yang dipilih papanya. Ara bahkan tidak tahu seperti apa rupa orang tersebut.
Namun, pandangannya kemudian tertuju pada seorang lelaki yang berdiri tidak jauh darinya sambil melambaikan tangan.
Ara langsung tahu. Itu pasti orangnya. Dengan malas, ia menghampiri lelaki tersebut, kemudian duduk di hadapannya dengan acuh.
Ara sengaja memandang ke luar jendela sambil menegakkan lehernya yang jenjang. Ia ingin lelaki di hadapannya itu melihat dengan jelas bekas kissmark yang sengaja ia pamerkan.
Namun, ternyata lelaki tersebut sama sekali tidak terpengaruh. Bukannya mengalihkan pandangan, ia justru terus menatap Ara sambil tersenyum santai.
"Gue nggak mau lama-lama. Gue sibuk. Kalau nggak ada yang mau dibicarain, gue mending balik."
"Perkenalkan, gue Revano Anggara. Panggil aja gue Vano atau apa pun terserah lo, Ara Moana."
Ara menatapnya datar.
"Lo kayaknya udah tahu semua tentang gue dari papa gue, kan?"
Ia menyandarkan tubuhnya.
"Asal lo tahu, gue nggak suka dijodoh-jodohin. Gue udah punya orang lain."
"Gue bisa nunggu lo, kok, Ra."
Senyum Vano tidak luntur sedikit pun.
"Cowok lo sakit, kan?"
"Sialan!"
Ara langsung menatap tajam.
"Lo nguntit gue?"
"Gue tahu dari Instagram lo."
Vano menunjuk ponselnya.
"Nama Instagram gue vanonym. Udah dua kali gue ninggalin komentar di akun lo, tapi nggak lo respons."
Ara terdiam sesaat.
Oh, ternyata dia si vanonym? Sok akrab banget.
"Ya, ngapain juga gue respons? Kenal lo juga enggak."
"Sekarang udah kenal, kan?"
Vano tersenyum santai.
"Pokoknya, gue bisa nunggu lo sampai kapan pun. Lagian, umur cowok lo udah nggak akan lama lagi, kan?"
Ucapan itu membuat tangan Ara mengepal kuat. Dadanya mendadak sesak. Ia mengambil gelas berisi air putih yang tersedia di atas meja, lalu tanpa berpikir panjang langsung menumpahkan seluruh isinya ke wajah Vano.
Byur!
Vano tetap diam. Anehnya, lelaki itu bahkan masih tersenyum.
Ara berdiri dan meraih tasnya.
"Gila itu orang!"
Ia berbalik meninggalkan meja.
Papa juga kenapa bisa-bisanya niat ngejodohin anaknya sendiri sama orang gila kayak dia, coba?!