Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Alexander yang penasaran, kali ini mengantarkan Char pergi bekerja. Perempuan itu menatap suaminya lamat-lamat.
"Kamu yakin sayang?" tanya Char memastikan.
"Iya!" angguk Alexander yakin.
Walau matanya tak lepas dari layar ponsel. Takut-takut ada berita atau foto yang menunjukkan dirinya pingsan di depan pabrik roti.
"Sayang!" protes istrinya kesal.
Char cemberut, ternyata sang suami ingin ikut untuk memastikan jika Palace dan Nataniel "bisu dan buta".
Merasa dirinya ditatap, Alexander menegakkan kepala dan langsung bertemu dengan wajah istrinya yang kesal.
Char melipat tangan di dadanya.
"Apa yang membuatmu malu? Pingsan atau gengsimu terusik. Beruntung Grandpa tidak ada kemarin di rumah. Andai ada, apa kamu bisa menghadapi rentetan pertanyaannya?" tanya Char.
Alexander menghela napas panjang, dunia Char dan dirinya sangat jauh. Char tidak berhadapan dan bertemu dengan para pemuka negeri, pejabat, pebisnis dan mafia kelas kakap. Tentu gengsi harus dikedepankan untuk menjaga marfahnya sebagai penguasa Seradam.
"Kau tahu siapa suamimu ini, Dear. Kalau satu musuh tahu aku pingsan. Maka seluruh jaringan bisnisku akan hancur," jawabnya beralasan.
"Kau bukan robot. Kau manusia!" seru Char.
"Memang aku manusia, Dear. Tapi di duniaku. Tak mengenal sakit," jawab Alexander.
"Aku harus tampil sempurna agar tak ada satupun yang berani merendahkan aku!"
Char diam, dulu waktu bekerja di perusahaan. Ia juga tak boleh melakukan kesalahan, tetapi satu fitnah dari Grace di keluarga. Malah membuat ia harus keluar tanpa bisa membuktikan jika dirinya tak bersalah. Gorgio mendatangi perusahaan tempatnya bekerja dan meneriaki dirinya menggelapkan data perusahaan dan memberikannya pada perusahaan lain.
Fitnah keji itu memang tak terbukti setelah para auditor memeriksa. Tapi citra Char tercoreng, tak ada permintaan maaf dari Gorgio ayahnya begitu juga tak ada pembelaan dari perusahaan tempatnya bekerja.
Semua staf dan manager menekan. Mereka tetap menolak dan beranggapan dirinya akan melakukan kesalahan itu.
"Jujur, kemarin aku juga tak percaya jika kamu pingsan. Palace memelukmu erat-erat seperti seorang ayah yang tidak mau kau terlihat lemah. Kau tidak jatuh ke tanah seperti pikiranmu," jelas Char.
Mata Alexander bergetar mendengar ucapan Charoen. Tatapannya melunak perlahan, beralih dari layar ponsel menuju iris jernih sang istri.
"Dia... tidak membiarkanku jatuh ke tanah?" bisik Alexander pelan, seolah tidak percaya.
"Tidak, Alex," jawab Charoen lembut. Ia mengulurkan tangannya, merengkuh jemari suaminya yang dingin.
"Palace menahan tubuhmu, memelukmu, dan terus memanggilmu 'Nak' sampai Raph dan Pak Odego datang. Bahkan saat Pak Odego menyuruh membawamu ke ruang kerja yang nyaman, Palace tetap mendampingimu dan memastikan tidak ada satu pun pekerja lain yang mengambil foto atau melihat kondisimu," jawab Char tenang.
Mereka ada di dalam mobil Rolls-Royce berbeda, Raph duduk di depan menyetir. Rasa penasaran sang atasan ikut menular padanya.
"Tuan, saya boleh bicara?" sahutnya kemudian.
"Katakan!" suruh Alexander.
"Kemarin saya melihat wajah Palace. Entah kenapa, hati dan otak saya berkata untuk berhati-hati dengan pria itu. Tetapi saat berdekatan dengannya, auranya, rasanya dan gestur tubuhnya. Saya meralat semua perkataan otak dan hati saya," ujar Raph lagi.
Alexander menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Ia yang berhadapan dengan Palace sangat tahu rasanya.
"Aku mengerti Raph. Kemarin, semua tekanan yang biasa membuat orang-orang mundur. Tetapi Palace begitu teguh menjaga miliknya dan kehormatannya," sahutnya salut.
Lalu mereka memasuki kawasan pabrik. Alexander begitu semangat, entah kenapa dia sangat ingin bertemu dengan pria security tua tersebut.
"Siapa Palace, Raph?"
"Security senior yang dipecat padahal berhasil menggagalkan pencurian di kawasan timur Montana," jawab Raph yang mengetahui siapa Palace.
"Apa?"
Kendaraan itu berhenti, mereka berhenti berbicara. Lalu Raph turun dan membukakan pintu untuk Alexander sementara Char membuka pintunya sendiri.
Para karyawan pabrik tentu terkejut melihat mobil mewah terparkir. Raph Palace segera memerintahkan mereka untuk segera masuk. Char ikut berlari menyusul rekan-rekannya.
"Palace!" panggil Alexander.
"Sebentar Tuan. Saya masih bertugas!" jawab Palace tegas.
Raph tertegun, tak ada satupun manusia yang mengabaikan panggilan tuannya. Tetapi kali ini, seorang pria berpakaian security menahan panggilan Alexander dengan alasan sedang bertugas.
"Mari duduk di pos jaga Tuan. Saya punya kopi untuk anda," ajak Palace setelah menyelesaikan tugasnya.
Bak anak ayam, Alexander dah Raph mengikuti Palace masuk ke sebuah pos jaga berukuran 6x7m² itu. Ada pendingin ruangan, sebuah sofa empuk, mesin kopi dan meja. Tempat jaga Palace ada di depan sofa dengan kaca besar. Semua bisa dilihat dari dalam.
"Silahkan duduk Tuan," ujar Palace ramah.
Alexander dan Raph duduk manis di sofa. Palace pergi ke sebuah rak di sana tasnya berada mengeluarkan serbuk kopi lalu membuatkan minuman dari mesin kopi.
Bau kopi tercium, entah kenapa Alexander merasa kopi buatan Palace lebih harum dari kopi mahal yang bisa ia minum.
"Silahkan diminum, Tuan."
Alexander langsung mengangkat gelas ke bibirnya. Raph dan Palace sampai berseru mengingatkan.
"Masih panas!"
Tangan Palace menahan lengan Alexander. Raph membola, Alexander malah menatap Palace polos.
"Tadi katanya disuruh minum."
Palace terkekeh geli melihat kepolosan spontan dari pria berambut perak yang biasanya dipuja sekaligus ditakuti seluruh Kota Seradam itu. Pria tua itu menggeleng-gelengkan kepala, menarik pelan cangkir dari tangan Alexander lalu meletakkannya kembali di atas meja.
"Maksud saya diminum santai, Nak... bukan langsung diteguk seperti orang haus usai berlari maraton," ujar Palace dengan nada jenaka yang hangat. "Kopi ini baru menyembur dari mesin, bibirmu bisa melepuh nanti."
Alexander berdehem canggung, membuang muka ke arah kaca besar sembari merapikan lengan jas mahalnya. Pipinya menyiratkan semburat tipis warna kemerahan—merasa gengsi karena tepergok bertindak ceroboh di depan asistennya dan seorang security.
Sementara Raph di sampingnya tetap datar tapi lega karena sang atasan tidak bereaksi keras.
Tak lama Nataniel datang, ia mengetahui kedatangan Alexander karena melihat mobilnya terparkir dekat pabrik rotinya.
Lalu entah siapa yang memulai, ruangan itu mendadak hangat dan santai diisi obrolan para pria. Bahkan Raph yang biasa kaku, duduk sambil terkekeh akibat candaan yang keluar dari Nataniel.
Lalu terdengar bel istirahat berbunyi. Hanya Char sendiri yang keluar pabrik memastikan suaminya sudah pergi. Tetapi melihat mobil masih terparkir rapi. Char tertegun, ia menoleh pos jaga. Walau matanya tak bisa menembus tempat itu, ia yakin suaminya ada di sana. Char akhirnya berjalan mendekati pos jaga.
"Hahahaha!" tawa keras Alexander terdengar, Char tentu membola. Tak pernah ia mendengar tawa lepas dari suaminya.
Lalu ketika ia membuka pintu, semua menoleh. Mata Char membola saat melihat wajah Raph yang penuh coretan tepung, begitu juga Nataniel hanya suaminya saja yang bersih dari coretan itu.
"Sayang apa yang kau lakukan?" tanyanya tak percaya.
"Sayang ... Lihat! Aku mengalahkan bossmu dan Raph!" seru Alexander seperti menemukan dunia lain yang lebih menyenangkan dibanding berondong senapan mesin.
Palace yang berjaga hanya menggeleng melihat kelakuan para boss yang seperti anak kecil.
"Biasa Nona Char. Para lelaki jika sudah ketemu. Mereka punya dunianya sendiri," kekehnya menjawab.
"Sayang, kamu nggak kerja?" tanya Char yang menghentikan bantingan kartu di tangan Alexander.
"Sekarang ada jadwal apa?" tanyanya pada Raph.
"Masih tentang jembatan," jawab Raph santai.
"Ah ... Aku malas menemui pejabat-pejabat penjilat itu!" seru Alexander kesal.
"Sama," sahut Raph juga malas.
"Tuan-tuan jika masih ada tanggung jawab pekerjaan. Kita bisa main kartu lain kali," ujar Nataniel menawarkan.
Walau malas, akhirnya Alexander berdiri bersama Raph. Mereka keluar bersama-sama. Nataniel mengantarkan dua pria dingin itu ke mobil mereka.
"Kita akan bertemu lagi!" ujar Alexander pasti.
Nataniel hanya mengangguk, Char kembali ke dalam pabrik. Mobil pun bergerak berjalan meninggalkan tempat hangat sebuah pos jaga.
"Raph," panggil Alexander.
"Saya Tuan," sahut Raphael fokus pada jalan raya.
"Kenapa mata Nataniel begitu terlihat tulus dan tidak ada kebohongan?" tanya Alexander.
Raph diam, perjalanan sedikit tersendat karena masih jam makan siang.
"Sejauh penyelidikan saya, Tuan Odego orang bersih. Ia pengusaha taat pajak dan perusahaannya hanya skala kecil yang tidak jadi incaran para pebisnis," jawabnya kemudian.
"Lalu apa lagi?"
"Tuan Odego menampung pada imigran yang butuh pekerjaan. Memberikan kehidupan yang layak. Membangunkan mess untuk para pekerja yang jauh dari rumah," jawab Raph lagi.
"Tidak mungkin itu saja!" sahut Alexander.
"Apa yang tidak mungkin?" tanya Raph.
"Bagaimana bisa ia mendapatkan kepercayaan banyak pekerjanya jika dia sebaik itu?" tanya Alexander tak percaya.
"Karena ketegasannya. Tuan Odego tak memberikan kesempatan dua kali pada para pengkhianat atau orang-orang yang memanfaatkannya. Salah satu adik kandungnya ada di penjara Losego karena pemerasan dan pencemaran nama baik," jawab Raph lagi.
Alexander mengangguk tanda mengerti.
"Bahkan sejak kita duduk. Mereka berdua tidak mengingat dan mengatakan hal yang kemarin. Itu bertanda mereka benar-benar membisukan mulut dan membutakan mata mereka!' lanjutnya salut.
bersambung
Ya ... orang-orang baik itu tidak akan menyudutkan orang lain dengan terus menerus mengungkapkan kelemahannya walau ia tahu itu.
next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung
bau bau akan keromantisan n kebucinan sang mafia akan segera menguar nh