Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Semangkuk Bubur Asin dan Hati yang Berperang
Matahari baru saja tenggelam, menyisakan warna ungu gelap di langit kota ketika suara decit engsel pintu rumah memecah keheningan.
Maya, yang sedang asyik memilah-milah pensil warnanya di atas meja kayu, langsung melompat girang. "Ibu pulang!"
Namun, senyum di wajah Maya pudar seketika saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Clara melangkah masuk dengan tubuh terhuyung-huyung, berpegangan pada kusen pintu agar tidak ambruk. Wajah wanita itu sepucat kertas, rambutnya basah oleh keringat dingin, dan napasnya terdengar sangat pendek dan kasar. Di tangannya terdapat sebuah kantong plastik kecil berisi obat-obatan dari klinik murah.
"Ibu!" Maya menjerit tertahan, berlari secepat kilat dan menopang tubuh ibunya dengan bahu kecilnya. "Ibu kenapa? Ibu sakit?!"
Clara tidak sanggup menjawab. Tubuhnya menggigil hebat. Suhu badannya memancar menembus pakaiannya, terasa membakar saat bersentuhan dengan kulit Maya. Dengan susah payah, Clara membiarkan dirinya dituntun oleh anak berusia tujuh tahun itu menuju kasur tipis di sudut ruangan. Ia ambruk ke atas kasur, memejamkan mata sambil mengerang pelan menahan ngilu di setiap persendiannya. Pekerjaan kasarnya hari ini, ditambah dengan stres dan dendam yang menggerogoti jiwanya, akhirnya membuat pertahanan fisiknya runtuh.
Maya tidak menangis, meski matanya sudah berkaca-kaca karena panik. Insting bertahan hidup yang ditempanya selama bertahun-tahun langsung mengambil alih. Ia berlari ke kamar mandi, mengambil sebuah baskom kecil, mengisinya dengan air kran, dan memungut selembar kain bersih pudar yang biasa digunakan untuk mengelap meja.
Gadis kecil itu berlari kembali ke sisi kasur. Ia memeras kain itu sekuat tenaga dengan tangan kecilnya, lalu menempelkannya dengan sangat lembut ke dahi Clara.
"Ibu, kompres dulu ya. Biar panasnya hilang," bisik Maya, tangannya yang gemetar merapikan selimut usang agar menutupi tubuh ibunya hingga ke leher.
Clara membuka matanya sedikit. Melalui pandangannya yang kabur oleh demam, ia melihat wajah mungil Maya yang penuh ketakutan namun memancarkan tekad yang luar biasa kuat untuk melindunginya. Hati Clara berdesir aneh. Ini adalah anak Vera. Anak dari wanita yang telah merampas segalanya dari hidupnya. Namun di saat ia ambruk tak berdaya, justru tangan kecil berdarah musuhnya inilah yang merawatnya.
"Ibu pasti lapar," gumam Maya berbicara pada dirinya sendiri. Ia menatap ibunya lekat-lekat. "Ibu jangan ke mana-mana. Jangan bangun. Maya akan buatkan makanan untuk Ibu."
Sebelum Clara sempat melarang, Maya sudah berlari menuju dapur kotor. Ia mengambil sebuah panci aluminium yang pantatnya sudah menghitam. Dengan berjinjit, ia membuka kaleng beras. Hanya tersisa sedikit di dasar kaleng. Maya menakar beras itu dengan gelas plastik, mencucinya di wastafel hampir menjatuhkan sebagian beras karena tangannya tidak cukup besar untuk menahan tumpahan air.
Maya menyalakan kompor gas dengan hati-hati seperti yang pernah ia lihat ibunya lakukan. Ia memasukkan beras, lalu menuangkan air dari teko. Karena takut berasnya hangus, ia menuangkan air terlalu banyak.
Selama hampir dua puluh menit, gadis kecil itu berdiri di depan kompor yang panas, berjinjit sambil mengaduk-aduk isi panci menggunakan sendok kayu panjang. Keringat membasahi dahinya. Sesekali ia meniup jarinya yang terkena percikan air mendidih. Ketika ia merasa nasinya sudah cukup hancur, ia mengambil mangkuk plastik dan menuangkan bubur itu.
Bentuknya lebih mirip air tajin bercampur nasi encer daripada bubur. Maya mencicipinya sedikit dengan ujung sendok. Wajahnya langsung mengerut.
"Hambar sekali," bisiknya. Ia meraba-raba rak bumbu, menemukan toples garam yang sudah mengeras. Tanpa takaran yang jelas, ia mengambil sejumput besar garam dan mengaduknya ke dalam mangkuk panas itu. Ia mencicipinya lagi, dan kali ini wajahnya semakin berkerut karena rasa asin yang menyengat lidah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Beras mereka sudah habis.
Maya membawa mangkuk panas itu dengan kedua tangannya yang dialasi serbet usang. Berjalan sangat pelan agar isinya tidak tumpah, ia menghampiri kasur ibunya.
"Ibu, bangun sebentar. Makan dulu," bujuk Maya dengan suara lembut, membantu menyangga punggung Clara agar wanita itu bisa duduk bersandar ke dinding.
Clara menatap mangkuk di tangan Maya. Uap panas mengepul dari cairan encer yang sama sekali tidak menggugah selera itu. Clara mengambil mangkuk tersebut dengan tangan gemetar, lalu menyendok sedikit bubur itu ke mulutnya.
Rasa asin yang luar biasa tajam langsung menghantam indra pengecapnya, membuat tenggorokannya tercekat. Bubur itu rasanya sangat mengerikan. Terlalu asin, terlalu encer, dan nasinya masih ada yang keras. Namun, saat Clara menunduk, ia melihat kedua tangan Maya yang memerah akibat memegang panci panas, dan mata besar gadis itu yang menatapnya dengan penuh harap, seolah nyawanya bergantung pada suapan bubur tersebut.
"Bagaimana, Bu? Enak?" tanya Maya cemas, meremas ujung bajunya.
Clara menelan bubur asin itu dengan susah payah. Sesuatu yang hangat tiba-tiba mendesak naik ke kelopak matanya. Bukan karena demamnya, melainkan karena sebuah pukulan psikologis yang sangat telak.
"Enak," jawab Clara dengan suara parau yang bergetar. "Ini enak, Maya."
Mendengar pujian itu, senyum Maya mekar seketika. "Syukurlah! Maya belum pernah masak sendiri, Bu. Maya janji, besok Maya akan belajar masak yang lebih enak lagi supaya kalau Ibu sakit, Ibu bisa makan banyak."
Clara terus memakan bubur yang nyaris tak bisa ditelan itu dalam diam, menahan air matanya yang nyaris tumpah. Batinnya sedang berperang hebat. Monster dendam di dalam kepalanya berteriak: Dia anak Vera! Dia hanya menipumu dengan wajah polosnya! Jangan lupakan pengkhianatan itu! Namun, hati nurani keibuannya yang telah lama mati, perlahan berdenyut kembali saat melihat kasih sayang yang begitu murni tanpa pamrih dari anak ini.
Setelah memaksakan diri menghabiskan setengah mangkuk, Clara kembali berbaring. Demamnya semakin tinggi menjelang tengah malam. Maya tidak tidur sedetik pun. Ia duduk bersila di samping kepala Clara, terus-menerus memeras kain kompres dan menggantinya setiap kali kain itu terasa panas.
Di keheningan malam yang hanya diisi oleh detak jam dinding, Clara membuka matanya yang berat. Ia melihat bayangan Maya yang tertidur dalam posisi duduk, kepalanya terangguk-angguk kelelahan, namun salah satu tangannya masih menggenggam erat ujung daster Clara, seolah takut ibunya akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Maya..." panggil Clara lirih.
Maya langsung terbangun, matanya membelalak panik. "Iya, Ibu?! Ibu butuh minum? Atau Ibu mau ke kamar mandi?"
"Tidurlah. Kau lelah," bisik Clara.
Maya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang sejak tadi ia pendam. Air mata akhirnya tumpah membasahi pipi kotornya. "Maya tidak mau tidur. Maya takut... Maya takut kalau Maya tidur, Ibu akan pergi meninggalkan Maya."
Gadis kecil itu merangkak maju, menyandarkan kepalanya dengan sangat hati-hati di lengan Clara, menumpahkan ketakutan terbesarnya. "Ibu jangan mati... jangan tinggalkan Maya sendirian. Kalau Ibu tidak ada, Maya harus memeluk siapa saat malam? Maya janji tidak akan nakal lagi. Maya akan ngepel lebih bersih. Tolong, Ibu... jangan pergi..."
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa pertahanan emosional Clara. Benteng kebencian yang ia bangun selama tujuh tahun runtuh berkeping-keping di bawah tetesan air mata anak ini. Anak ini tidak tahu apa-apa. Maya tidak ikut mengkhianatinya di apartemen malam itu. Maya tidak pernah memilih untuk dilahirkan dari rahim Vera. Maya hanyalah seorang korban dari keegoisan dan kejahatan orang dewasa.
Tanpa sadar, tangan Clara yang gemetar karena demam terangkat, mengelus rambut Maya yang berantakan dengan penuh kelembutan. Belaian pertama yang ia berikan sebagai seorang ibu sungguhan.
"Terima kasih, Maya," bisik Clara, air matanya akhirnya luruh, membasahi bantalnya. "Terima kasih sudah menjaga Ibu."
Maya mendongak, menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. Kata 'terima kasih' dari mulut ibunya terdengar seperti sihir yang paling indah di dunia. Gadis kecil itu tersenyum lebar di tengah tangisnya, menenggelamkan wajahnya di lengan Clara, merasa dirinya adalah anak paling beruntung di dunia malam itu.
Clara memejamkan mata, membiarkan rasa bersalah mencabik-cabik jiwanya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari kejahatan luar biasa yang telah ia lakukan pada anak tak berdosa ini. Ia mencintai Maya. Ia benar-benar mencintai anak ini.
Namun tragisnya, cinta itu sudah datang terlalu terlambat, di saat bayangan masa lalu kembali mengejar mereka untuk menagih hutang yang tak bisa dibayar.