NovelToon NovelToon
Retak Di Antara Kita

Retak Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Priska Heriska

Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.

sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.

dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad baru dari sebuah luka

Langkah kakiku membawaku menyusuri jalan-jalan yang biasa ku lewati, tak lama berjalan kaki sekolah sudah di depan mata. Gerbang besi biru muda itu terbuka lebar, menyambut riuh rendah suara teman-teman yang saling menyapa. hari itu, konsentrasi ku penuh. Setiap penjelasan dari bapak dan ibu guru ku serap dengan baik. Rasa lelah, malas yang sempat mengintai langsung sirna begitu mengingat senyum ibu dan peluh bapak demi menyekolahkan ku. Aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan mereka.

Bel sekolah berbunyi nyaring, memotong keriuhan di koridor dan memaksaku segera masuk ke dalam kelas. Teman-teman berhamburan ke bangkunya masing-masing, masih sibuk tertawa dan melanjutkan obrolan seru yang terputus. Sementara mereka begitu luwes bertukar cerita, aku duduk di bangku tempat ternyaman bagi orang sepertiku yang tidak pandai memulai pembicaraan.

Saat suasana kelas berangsur tenang dan guru mulai membuka buku pelajaran, aku membuka buku catatanku sendiri. Di sekelilingku, ada teman yang berbisik-bisik, ada yang aktif mengacungkan tangan sambil bercanda, namun aku tetap nyaman dengan caraku sendiri. Menyimak, mencatat, dan mengangguk pelan setiap kali paham. Menjadi pendiam bukan berarti aku tidak peduli, melainkan cara terbaik bagiku untuk tetap fokus pada tujuanku dan menghargai setiap tetes keringat orang tuaku.

Sementara itu, jauh dari riuhnya suasana sekolah, suasana di rumah mulai sibuk. Ibu berdiri di dapur, menatap meja kayu yang kosong. Hari akan beranjak siang, dan ibu akan memasak untuk makan siang. Namun, persediaan bahan makanan di dapur ternyata habis tidak ada bawang, tidak ada bumbu untuk dimasak. Karena ibu belum sempat berbelanja.

Ibu mengelap mengelap tangannya yang basah pada celemek, lalu melangkah maju menuju ruang tengah mencari kakak yang sedang merapikan buku.

"Vita, tolong ibu sebentar," panggil ibu lembut.

Kakak menoleh, menghentikan kegiatannya.

"iya, Bu? Ada apa?"

"Ibu belum sempat belanja di pasar tadi pagi padahal sebentar lagi bapak pasti pulang. Tolong belikan sayur dan lauk di tukang sayur keliling yang biasa lewat di depan gang," ujar ibu sambil merogoh saku celananya mengeluarkan beberapa lembar uang.

"Oh, boleh, Bu. Mau dibelikan apa saja?" tanya kakak sambil menerima uang tersebut.

"Beli bayam satu ikat, tahu kuning satu bungkus, sama tempe ya. Kalau tukang sayurnya ada ayam potong yang segar, beli seperempat saja untuk digoreng. Biar adikmu semangat makannya setelah pulang sekolah nanti," jelas ibu terperinci.

"Siap, Bu. Bayam, tahu, tempe, sama ayam seperempat, kan? Uangnya cukup kok ini. Ke depan sekarang ya, mumpung jam segini biasa baru lewat," kata kakak sambil berpamitan.

"Iya, hati-hati. Jangan lupa lihat-lihat dulu sayurnya, cari yang masih segar ya". Pesan ibu mengingatkan.

"Iya, Bu tenang saja!" sahut kakak riang sembari melangkah keluar halaman rumah menuju jalan utama gang. kakak berjalan dengan menggenggam uang.

Di ujung gang, terdengar seruan akrab pada tukang sayur keliling itu, yang langsung di serbu oleh kerumunan ibu-ibu kompleks. Kakak mempercepat langkah, mencoba membela keramaian untuk mencari bayam dan ayam pesanan ibu.

Namun, baru saja kakak mendekat dan mengulurkan tangan hendak mengambil seikat bayam, sebuah suara melengking memotong suasana.

"Ehh, ada Vita . Kok jam segini malah keluyuran bawa uang? Enggak sekolah hari ini? Apa sudah keluar dari sekolah?" tanya tetangga setengah paruh baya yang bernama wanti, salah satu tetangga, yang disusul tawa renyah berderai di mulutnya.

Tertawa itu renyah bagi yang mendengarnya, namun terasa seperti sembilu yang menyayat tepat di ulu hati kakak. Ibu-ibu lain ikut tersenyum tipis, beberapa menatap dengan pandangan menilai yang menusuk.

Tenggorokan kakak tiba-tiba tercekat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena marah, melainkan karena rasa perih yang teramat sangat. Kata "keluar sekolah" itu bukan sekedar pertanyaan remeh. Bagi keluarga mereka yang harus memeras keringat setiap subuh, siang demi biaya pendidikan, kalimat itu adalah sebuah hinaan yang menghancurkan hari diri. Kakak teringat bagaimana bapak harus memanggul beban berat dan bagaimana ibu yang berkerja keras setiap hari di dapur sampai tangannya kasar terkelupas. Agar bisa mendapatkan uang dan menghidupi.

Air mata kakak merebak di sudut kelopak matanya, panas dan mendesak untuk keluar. kakak mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku, menahan getaran hebat ditubuhnya agar tangisnya tidak pecah di hadapan wanita-wanita yang menganggap kemiskinan sebagai lelucon ini.

Kakak hanya terdiam, tukang sayur itu merasa iba segera membungkus pesanan kakak dengan cepat. "ini, sayurnya. Pas semuanya dua puluh lima ribu."

Kakak langsung memberikan uangnya, menyambar kantong plastik itu. Ia membalikkan badan dan berjalan cepat setengah berlari menuju rumah. Sepanjang jalan setapak, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lulur membasahi pipi. Ia sedih bukan hanya karena dirinya dihina, tapi karena ia tahu, dibalik senyum tegar ibu dan bapak, ada luka yang disembunyikan dari dunia yang terkadang teramat kejam ini.

Begitu kakinya melangkah melewati pintu rumah, pertahanan kakak benar-benar runtuh. Kantong plastik berisi sayuran dan tahu, ayam itu diletakkannya bagitu saja di atas meja dapur. Detik berikutnya, tangis kakak keluar sejadi-jadinya.

"Loh, kenapa nangis? Ada apa?" ibu terkejut, langsung mendekap erat tubuh putrinya dengan rasa cemas.

Di sela-sela tangisnya yang sesak, kakak menceritakan setiap kata, setiap tawa, dan setiap sindiran yang dilontarkan tetangga di tukang sayur tadi. Mendengar cerita itu, air mata ibu perlahan ikut luruh. hati ibu bagai diiris sembilu. Sebagai seorang ibu, tidak ada yang menyakitkan dari pada melihat anaknya terluka karena kemiskinan keluarga mereka. Ibu mengusap punggung kakak dengan tangan gemetar, mencoba menyalurkan kekuatan yang tersisa.

"Maafkan ibu dan bapak ya, karena belum bisa memberikan kehidupan yang berkecukupan untuk kalian. Sampai-sampai harus mendengar kata-kata itu," bisik ibu lirih, suaranya parau menahan kesedihan yang mendalam.

Namun, di tengah badai air mata dan rasa sakit yang mendera, ada sesuatu yang mendadak berkobar di hati kakak. Rasa sedih itu tidak membuatnya lemah, melainkan bertransformasi menjadi sebuah tekad yang sangat teramat kuat.

Kakak perlahan melepaskan pelukan ibu, lalu mengusap air mata di pipinya dengan kasar. ia menatap mata ibu dengan pandangan yang tidak lagi rapuh, melainkan penuh dengan keyakinan.

"Tidak, ibu dan bapak tidak salah. Jangan pernah minta maaf," ujar kakak, suaranya kini terdengar mantap meski masih ada sisa serak akibat menangis.

Kakak menatap ibu sambil berkata

"Aku berjanji akan mengubah nasib keluarga kita. Akan belajar lebih keras dari siapa pun, akan mengangkat derajat bapak dan ibu!"

Kakak mengucapkan sumpah setulus hatinya

"Suatu hari akan ku buktikan kepada semua orang yang meremehkan kita, bahwa anak seorang kuli dan buruh juga bisa sukses!."

Mendengar itu tangis sedih ibu berubah menjadi tangis haru. Ibu memeluk kakak kembali dengan erat, mengamini doa dan tekan besar yang baru dari sebuah luka.

1
Priska
Betul! Jangan salah, yang diam-diam biasanya menghanyutkan haha/Joyful/
WER★♪♪♪
ingat pendiam bukan berarti dia tidak bisa melakukan apapun, jadi jangan diskriminasi teman yang pendiam /Smile/
Priska: Terimakasih kk sudah mampir 🤗
total 1 replies
WER★♪♪♪
aku pun di sekolah cuman nunggu guru masuk tapi kalo jam kos aku tidur.
Priska: 🗿 Tidur sama 😂😂
total 1 replies
Huang ying308
❤️😘🍒🍒🍒 semangat KK ❤️❤️❤️❤️❤️
Priska: iya 💖🤗
total 1 replies
Huang ying308
cerita ini aku juga pernah 👍
Huang ying308
saya hadir semangat KK ❤️😘👍👍👍
Huang ying308
saya hadir semangat KK ❤️😘
Huang ying308
sangat menyentuh hati
Huang ying308: 😭😭😭😭😭😭
total 5 replies
Huang ying308
aku sedih aku mau nangis 😭😭😭😭
Gunadi Hudaya
priska, bisa ikuti aku? ada beberapa bagian yg ingin aku review dari novelmu kalo kamu tidak keberatan
Priska: Tentu saja boleh kakak
total 1 replies
Gunadi Hudaya
dulu aku memang pernah menikmati pendidikan di sekolah dasar. tp sdh lama sekali. dan ternyata saat berhadapan dengan keponakanku yg sd juga ga bisa related. sd dulu dan sd sekarang beda sekali
Priska: Benar SD sekarang berbeda, terimakasih kk udah mau mampir 🙏
total 1 replies
Jiayou
semangat ya kak
pokoknya harus Sampek ending
Priska: iya terimakasih kakak udah mampir 🙏
total 1 replies
Bayu Aksa
Berasa nostalgia jaman sekolah dasar 🤭💪semangat terus ya👍
Priska: siap, terimakasih kk
total 1 replies
Dino Prayoga
seruuu😍😍
Priska: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Dino Prayoga
💪
Huang ying308
halo kak , semangat👍
Priska: hai, terimakasih kak
total 1 replies
Pae Karjo
bagus semangat 💪💪
Priska: terimakasih
total 1 replies
jinggaarundari
waduhh, sedih juga ya jadi Riska...
Priska: iya, terimakasih sudah mampir kk
total 1 replies
Huang ying308
💪💪💪 semangat KK ⭐⭐⭐⭐⭐
Priska: terima kasih
total 1 replies
Rahman Ncusbre
yo tetap semangat
Priska: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!