Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"KAK KAYLA!!!"
Jeritan Freya memecah keheningan. Gadis itu merangkak menuju Kayna, air mata mengalir deras di wajahnya, dan memeluk Kayna dengan begitu erat hingga Kayna kesulitan bernapas—kali ini bukan karena rencana bunuh diri, tapi karena Freya benar-benar meremas paru-parunya.
"Kau menyelamatkanku! Kau benar-benar menyelamatkanku!" isak Freya, air matanya membasahi gaun Kayna yang sudah rusak. "Aku pikir kau membenciku! Aku pikir kau ingin membunuhku! Tapi kau... kau mempertaruhkan nyawamu untukku!"
Kayna menatap langit-langit, ekspresinya datar sempurna. "Freya," ucapnya pelan. "Tolong lepaskan. Kau meremas organ dalamku. Dan untuk catatan, aku tidak menyelamatkanmu. Aku mencoba menarikmu ke bawah lampu gantung itu agar kita berdua mati bersama. Ini adalah kesalahpahaman terbesar dalam sejarah kerajaan."
Tapi tentu saja, tidak ada yang mendengarnya. Suara Freya yang menangis terlalu keras, dan para bangsawan sudah mulai bertepuk tangan.
Tepuk tangan itu dimulai dari satu orang, lalu dua, lalu sepuluh, lalu seluruh ruang perjamuan bergemuruh oleh tepuk tangan dan sorak-sorai.
"Nona Kayla menyelamatkan Nona Freya!"
"Dia mempertaruhkan nyawanya sendiri!"
"Pahlawan! Pahlawan House Ardent!"
Kayna menutup matanya. Ini mimpi buruk. Ini pasti mimpi buruk.
Sebelum ia sempat merencanakan cara mati berikutnya, mungkin dengan menelan pecahan kristal yang berserakan di lantai, sebuah tangan mencengkeram bahunya dan membalikkan tubuhnya.
Adrian.
Pria itu berlutut di atas reruntuhan kristal, tidak peduli bahwa seragam kebesarannya yang mahal kini robek dan berdarah di bagian lengan. Wajahnya pucat pasi, matanya yang biasanya sedingin es kini berkaca-kaca, dan napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari melintasi seluruh kerajaan.
"Kayla," suara Adrian terdengar serak, pecah, nyaris tidak bisa dikenali. Tangannya yang gemetar memegang wajah Kayna, memeriksa setiap inci kulitnya. "Kau terluka? Di mana? Tunjukkan padaku. Tunjukkan..."
"Aku baik-baik saja, Tuan Duke," jawab Kayna datar, mencoba menepis tangan Adrian. "Hanya beberapa goresan kecil. Tidak cukup dalam untuk mengenai arteri. Sangat mengecewakan, sebenarnya."
Adrian tidak tertawa. Ia tidak marah. Ia tidak mengatakan hal-hal dingin tentang reputasi.
Sebaliknya, pria itu menarik Kayna ke dalam pelukannya. Pelukan yang begitu erat, begitu putus asa, seolah Kayna adalah satu-satunya hal nyata di dunia yang sedang runtuh. Kayna bisa merasakan detak jantung Adrian yang berpacu liar di dadanya, bisa merasakan getaran halus di bahu pria itu.
"Jangan," bisik Adrian di telinganya, suaranya terdengar seperti doa. "Jangan pernah melakukan itu lagi. Jangan pernah membuatku melihatmu hampir mati di depan mataku. Aku tidak bisa... aku tidak bisa..."
Kayna terdiam. Tangannya yang tadinya hendak mendorong Adrian menjauh, kini menggantung di udara, tidak tahu harus berbuat apa.
Dia menangis, batin Kayna, merasakan sesuatu yang basah di bahunya.
Duke Adrian yang membunuh ratusan orang di medan perang tanpa berkedip... sedang menangis di bahuku?
Ini sangat tidak nyaman. Ini sangat tidak sesuai skrip. Dan yang paling menjengkelkan, ini membuat sesuatu di dalam dada Kayna terasa... hangat.
"Yang Mulia Duke Adrian! Nona Kayla!"
Suara berat Raja memotong momen itu. Adrian reluctantly melepaskan pelukannya, tapi tetap menjaga satu tangannya di pinggang Kayna, seolah takut wanita itu akan menghilang jika dilepaskan.
Raja melangkah turun dari singgasananya, diikuti oleh para pengawal dan penasihat. Wajahnya yang tua tampak sangat terharu, matanya berkaca-kaca.
"Nona Kayla," ucap Raja, suaranya bergema di seluruh ruangan yang kini hening kembali. "Aku telah mendengar banyak hal buruk tentangmu. Tentang insiden dengan Nona Freya. Tentang hukuman yang seharusnya kau terima."
Kayna menatap Raja. Akhirnya, hukuman mati. Silakan, Yang Mulia. Aku siap.
"Tapi malam ini," lanjut Raja, suaranya bergetar oleh emosi, "kau telah membuktikan bahwa hatimu jauh lebih mulia daripada yang dikatakan orang-orang. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan Nona Freya, gadis yang konon kau benci."
...Apa?
"Oleh karena itu," Raja mengangkat tangannya, "aku hereby menyatakan bahwa semua tuduhan terhadap Nona Kayla von Ardent dibatalkan. Hukuman mati yang direncanakan oleh Duke Adrian dicabut secara resmi. Nona Kayla adalah pahlawan kerajaan, dan siapa pun yang berani menyakitinya akan berhadapan langsung dengan Mahkota."
Seluruh ruangan bertepuk tangan lagi. Freya menangis semakin keras. Para lady istana mulai menyeka air mata mereka dengan kipas.
..gagal terus🤣