Bagi Roselia, musuh dia hanya satu: Gabriel, putra Adipati saingan keluarganya.
Dua keluarga Adipati itu sudah bermusuhan turun-temurun, jadi tontonan seluruh istana.
Sampai sebuah fitnah keji dari Pangeran Ke-4 menjatuhkan keluarga Roselia. Ia dibuang ke perkebunan terpencil yang kumuh.
Roselia pikir hidupnya sudah berakhir.
Sampai takdir mempertemukan mereka lagi.
Ia menemukan Gabriel — sang musuh bebuyutan yang sombong itu — hanyut pingsan di sungai dekat perkebunannya.
Saat terbangun, Gabriel menatapnya kosong.
"Siapa... aku?"
Dia hilang ingatan!
Dendam Roselia membara. Inilah kesempatannya!
Ia menjadikan pewaris Duke yang angkuh itu sebagai pesuruh kebunnya. Disuruh mencuci, memanen, tidur di gudang!
Balas dendam kecilnya terasa manis... sampai Roselia sadar, Pangeran Ke-4 yang menghancurkan keluarganya, ternyata juga dalang di balik kecelakaan Gabriel.
Mereka dijebak. Diadu domba sejak awal.
Kini, saat ingatan Gabriel perlahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
Kabut tebal semalam perlahan terurai disapu angin pagi yang dingin. Fajar merekah malu-malu di ufuk timur, membiaskan sinar keemasan yang menembus embun di dedaunan pinus.
Roselie dan Gabriel tiba di pintu belakang mansion saat seluruh penghuni rumah masih terlelap. Dengan gerakan yang teramat senyap, mereka menyusuri lorong pelayan menuju ruang kerja Roselie di lantai dua.
Begitu pintu jati tebal itu tertutup dan terkunci rapat, hembusan napas lega keluar dari mulut Roselie. Dia melepaskan mantel hitamnya yang basah oleh embun, memperlihatkan gaun berburunya yang agak kotor di bagian pinggir.
Roselie berbalik, menatap Gabriel yang berdiri kaku di dekat pintu. Cahaya lilin yang tersisa memantulkan luka goresan merah di leher jenjang pria itu—bekas sabetan dingin pedang Kapten Vane semalam. Darah yang sempat membeku tampak mengering di sekitar kerah kemejanya.
Roselie melangkah menuju lemari kecil di sudut ruangan, mengambil wadah kaca berisi salep herbal serta gulungan kain kasa bersih.
"Duduklah di situ," perintah Roselie seraya menunjuk kursi kayu di depan meja kerjanya. Suaranya datar, namun ada nada tegas yang tak menerima bantahan.
Gabriel menatap wadah obat di tangan Roselie sejenak, lalu melangkah patuh dan duduk di kursi yang ditunjuk. Postur tubuhnya yang tegap membuat tinggi mereka hampir sejajar saat Roselie berdiri di sampingnya.
Roselie menarik napas panjang, membasahi kain kasa dengan air hangat, lalu mendekatkan tangannya ke leher Gabriel.
Deg!
Jarak mereka kini teramat dekat. Gabriel bisa merasakan hembusan napas halus Roselie yang menerpa pipinya, serta aroma lembut Bunga Lavender yang menyeruak hangat dari rambut sang putri—sangat kontras dengan aroma darah dan lumpur yang melekat pada tubuh mereka sejak semalam.
Jemari lentik Roselie menyentuh kulit leher Gabriel dengan lembut, membersihkan sisa darah yang mengering dengan gerakan yang teramat teliti.
Gabriel membeku. Dada pria itu berdesir hebat. Di balik ingatan amnesianya yang makin memudar, insting tubuhnya memberikan reaksi ganjil setiap kali wanita ini berada begitu dekat padanya.
"Sakit?" bisik Roselie pelan, matanya fokus menatap luka goresan itu tanpa menoleh ke iris mata biru Gabriel.
"Tidak, Nona," jawab Gabriel serak, suaranya agak berat dan dalam. "Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding serangan Nona pada Vane semalam."
Roselie tertawa kecil—tawa dingin yang samar. Dia mengoleskan salep herbal dengan ujung jarinya, menekan luka itu sedikit lebih keras secara sengaja.
"Jangan memujiku, Gabriel," tegur Roselie halus, matanya kini bergulir menatap lurus ke dalam iris mata biru Gabriel yang jernih. "Jika aku tidak mengayunkan belati itu semalam, Kapten Vane sudah membawa kepalamu ke hadapan Pangeran Cedric. Dan jika kau mati, panggung sandiwara yang kususun ini akan hancur."
Gabriel menatap balik mata hijau zamrud milik Roselie. Bibir tebalnya mengukir senyuman tipis—senyuman yang sarat akan ironi dan kepatuhan yang pura-pura.
"Nona selalu memikirkan segalanya dengan sempurna," puji Gabriel lembut, sengaja menyuntikkan nada mesra seperti kebohongan rahasia yang dikarang Roselie. "Saya sangat beruntung... memiliki 'tunangan' yang begitu cekatan melindungiku."
Jleg!
Jemari Roselie mendadak terhenti di leher Gabriel. Sudut matanya menyipit penuh kewaspadaan.
‘Pria ini... kenapa semakin hari ucapan manisnya makin terasa seperti duri yang menusuk?’ batin Roselie menegang, mendadak merasa canggung dengan jarak mereka yang terlalu dekat.
Roselie buru-buru menempelkan kain kasa bersih ke leher Gabriel lalu melangkah mundur dua tindak, menetralkan raut wajahnya seraya merapikan gaunnya.
"Sudah selesai," ucap Roselie dingin. "Sekarang bersihkan dirimu dan bergantilah dengan pakaian pekerja biasa. Sebentar lagi ksatria Serigala Hitam di gerbang luar akan menyadari bahwa komandan mereka telah menghilang."
"Baik, Lady Roselie," sahut Gabriel mantap seraya berdiri dan membungkuk hormat.
---
Dua jam kemudian, kekacauan gila pecah di halaman depan gerbang perkebunan Hazel!
Puluhan prajurit berzirah hitam berlarian panik di sekitar kemah mereka. Kuda-kuda meringkik nyaring saat para wakil komandan menyisir pinggiran hutan utara. Kapten Vane—pemimpin kelompok mereka—tidak kembali sejak patroli malam dan tidak ditemukan di mana pun!
"Cari Kapten Vane! Periksa setiap sudut bukit!" teriak salah satu pengawal berzirah dengan wajah pucat pasi.
Paman Bret yang mengamati keributan itu dari balik pagar teras mansion segera berlari menuju ruang kerja Roselie di lantai dua.
Ketuk, ketuk, ketuk!
"Lady Roselie!" panggil Paman Bret terengah-engah dari balik pintu.
Roselie membukakan pintu, tampak sudah berpakaian anggun dengan gaun biru laut. "Ada apa, Paman Bret?"
"Pasukan Serigala Hitam di luar gerbang gempar, My Lady! Kapten Vane menghilang tanpa jejak sejak semalam. Mereka mencurigai ada serangan dari kelompok pemberontak dan sekarang barisan mereka mulai kacau!"
Roselie menyunggingkan senyuman dingin yang sangat puas. Taktik pengeliminasian senyap mereka di tebing utara bekerja dengan sempurna. Tanpa Kapten Vane yang memimpin, pasukan Serigala Hitam tidak memiliki wewenang sah atau keberanian untuk memaksakan penggeledahan ke dalam mansion Hazel.
"Biarkan mereka panik, Paman Bret," sahut Roselie tenang. "Perintahkan pengawal perkebunan untuk menutup rapat gerbang dan tidak mengizinkan satu pun dari mereka menginjakkan kaki di area dalam. Jika mereka bertanya, katakan kita tidak tahu apa-apa soal hilangnya Kapten mereka."
"Baik, Lady Roselie!"
---
Sementara itu, di bawah rindangnya pohon maple di samping kandang kuda...
Gabriel berdiri memegang kapak kayu, berpura-pura membelah kayu bakar untuk kebutuhan dapur mansion. Setiap tebasan kapaknya menghantam batang kayu dengan kekuatan yang sangat presisi dan efisien.
Dari balik jendela lantai satu, Lily berdiri mendengarkan irama tebasan kayu tersebut. Gadis kecil itu melangkah pelan keluar menuju teras samping, dituntun oleh pengasuh tuanya.
"Kak Gabriel...?" panggil Lily dengan suara halus.
Gabriel menghentikan ayunan kapaknya, mengusap keringat di dahi dengan lengan kemejanya, lalu menghampiri adiknya.
"Iya, Lily. Jangan berdiri terlalu dekat, nanti serpihan kayunya kena wajahmu," bujuk Gabriel lembut, memegang bahu adiknya.
Lily mengangkat tangan kecilnya, menelusuri leher Gabriel hingga jemarinya menyentuh kain kasa yang menutupi luka goresan semalam.
"Leher Kakak... kenapa dibalut kain?" tanya Lily cemas, alis tipisnya bertaut. "Bau obat di leher Kakak... ini salep racikan racikan Lady Roselie, kan?"
Gabriel tersenyum kecil, memegang tangan adiknya. "Hanya tergores ranting pohon saat mengurus kuda semalam, Lily. Nona Roselie yang mengobatinya."
Lily diam sejenak, memiringkan kepalanya seraya berbisik pelan agar tidak terdengar oleh pengasuhnya, "Kakak... tadi pagi aku mendengar pengawal luar berteriak-teriak mencari Komandan mereka yang hilang. Apakah... apakah ini ada hubungannya dengan luka di leher Kakak?"
Dada Gabriel berdesir. Kepekaan Lily lagi-lagi membuatnya takjub.
Gabriel berlutut di hadapan adiknya, berbisik tepat di samping telinga Lily dengan nada suara yang sangat mantap dan sarat akan perlindungan seorang Ksatria Valerius.
"Apapun yang terjadi di luar sana, Lily... tidak ada yang bisa menyakitimu lagi," janji Gabriel serak. "Prajurit yang membakar rumah kita dulu... satu per satu akan menerima pembalasannya."
Lily menahan napasnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka melarikan diri dari ibukota, Lily mendengar nada suara asli kakaknya—nada suara Komandan Pengawal Gabriel von Valerius yang perkasa dan tak kenal takut.
"Kakak... Kakak sudah ingat...?" bisik Lily dengan mata berbinar haru di balik kain penutup matanya.
Gabriel menyunggingkan senyuman tipis nan dingin seraya menatap ke arah jendela lantai dua—tempat Roselie berdiri memperhatikannya dari kejauhan.
"Belum semua, Lily..." bisik Gabriel penuh intrik. "Tapi cukup untuk tahu siapa kawan dan siapa lawan dalam permainan ini."
panik Khan Rosalie..
kebayang malunya gimana 🥲. Rosalie udh donk jangan sandiwara trus. Gabriel udh inget itu 😭😭😭
eeehhhh🤭🤭🤭
trus gimana donk.. satu2nya jalan keluar Gabriel terjun ke sungai.. tapi..... 😮💨😮💨
. Gabriel udh inget lagi...🤭🤭🤭 gmNa nasib Rosalie yang mentah2 membohongi Gabriel..🤣🤣🤣 aduuhh pasti abis ini Gabriel pura2 deh sama Rosalie.. mau ngapain coba dia🤣, nggak mungkin kalo nggak balas dendam