Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Konser Panci Dapur dan Posisi Kayang Ekstrem
“Tapi lumayan juga sih, rasa rendangnya jadi berasa makin gurih kalau dimakan sambil ditontonin adegan pingsan komedi begini.”
Namun baru saja Adit berhasil menelan suapan terakhirnya dengan mulus, tubuh Reno tiba-tiba bergerak bangkit berdiri tegak lurus di atas lantai marmer. Kedua kelopak matanya masih dalam posisi terpejam rapat, namun seluruh pergerakan motorik tubuhnya mendadak berubah menjadi sangat cepat secepat kilat.
"Reno? Lo udah sadar dari pingsan lo? Eh, mau ke mana lo?!" tanya Adit tersentak kaget.
Adit benar-benar dibuat terkejut bukan main saat tubuh Reno yang matanya merem itu tiba-tiba melakukan aksi melompat ekstrem ke atas permukaan meja makan marmer mewah. Kakinya bergerak liar menyenggol deretan spatula besi, wajan, dan panci-panci masak di atas meja hingga menimbulkan suara kegaduhan yang sangat bising luar biasa, layaknya sebuah pertunjukan konser musik perkusi yang gagal total.
PRANG! PRENG! PRONG!
"Woy, Reno gila! Turun gak lo sekarang juga dari atas meja!" teriak Adit histeris.
Adit melompat dari kursinya dengan panik, mulai mengejar Reno yang kini malah melompat turun lalu berguling-guling di atas lantai dapur dengan tingkat kelincahan yang sama sekali tidak masuk akal bagi ukuran manusia normal. Reno berlari secara zig-zag, melompati jajaran kursi kayu jati, dan berputar lincah di balik kitchen island bagaikan seorang atlet kungfu profesional yang sedang dikejar oleh musuh imajiner dalam film laga.
"Heh! Temen lu olang kenapa ini, hah?! Kesurupan setan penunggu tanah mana dia?!" teriak Baba Hartono yang mendadak muncul kembali di ambang pintu dapur dengan napas tersengal-sengal. Cerutu besar di mulutnya hampir saja jatuh ke lantai begitu melihat kondisi dapurnya yang sudah berantakan hancur lebur.
"Nggak tahu, Ba! Kayaknya sepupu saya ini lagi simulasi jadi ninja purba yang tersesat!" balas Adit berteriak sambil terus berlari memutari meja dapur, napasnya mulai senin-kamis karena saking lelahnya.
Sebagai seorang CEO muda yang sehari-hari hanya duduk manis di kursi empuk dan jarang sekali melakukan olahraga lari, aksi mengejar Reno yang sedang dalam mode kesurupan gaib ini benar-benar menguras habis seluruh sisa tenaganya. "Ba, bantuin tangkap badannya! Jangan cuma berdiri menonton!"
Baba Hartono, meskipun kondisi pinggangnya sudah encok stadium akhir, terpaksa harus ikut serta dalam aksi maraton dadakan di dalam dapur tersebut. "Berhenti lu olang woy! Awas itu piring-piring porselen peninggalan Dinasti Ming milik oe! Jangan diinjek, mahal itu!"
Dapur mewah yang semula beraroma harum bumbu rendang itu kini resmi berubah fungsi menjadi arena balap liar. Adit bergerak nekat berusaha menyergap bagian kaki Reno, namun Reno justru melakukan gerakan melompat tinggi ke udara demi menghindari sergapan tangan Adit. Wajah Reno yang saat itu masih dipenuhi oleh lumuran bumbu rendang pekat kini terlihat semakin menyeramkan di bawah siraman lampu remang-remang dapur.
"Ren, sadar woy! Besok subuh lo jadwalnya nikah! Jangan sampai lo melakukan akad ijab kabul sambil melayang di depan penghulu KUA!" teriak Adit frustrasi setengah mati sambil melempar selembar serbet kain ke arah Reno.
Adit benar-benar merana lahir dan batin malam ini. Bayangan indahnya untuk bisa tidur nyenyak demi mempersiapkan mental sebelum hari pernikahan esok pagi kini telah hancur lebur tak bersisa. Ia justru terjebak di dalam dapur milik orang asing, sibuk mengejar sahabat sablengnya yang sedang pindah dimensi dengan wajah penuh bumbu rendang cokelat.
Sementara di belahan tempat lain, calon mertuanya yang mantan tentara galak itu mungkin saja saat ini sedang sibuk mengasah pedang samurai di rumah utama sambil menunggu fajar menyingsing. Sella, gadis 19 tahun yang seharusnya bersiap kuliah di Paris, pasti juga sedang meratapi nasib malangnya di dalam kamar.
****
Setengah jam berlalu dengan penuh kegilaan, dan Adit benar-benar merasa sisa umur hidupnya mendadak berkurang sepuluh tahun seketika. Ia terduduk lemas di atas lantai dapur yang dingin, menyandarkan punggungnya pada kaki meja marmer dengan napas yang masih tersengal-sengal memburu.
Kemeja katun mahal miliknya kini sudah basah kuyup oleh guyuran keringat, dan ekspresi wajah tampannya tampak pucat pasi—bukan karena takut melihat hantu, melainkan karena seluruh staminanya telah ludes dikuras habis oleh aksi kejar-kejaran antar galaksi melawan Reno. Di hadapannya kini, tubuh Reno mendadak terbangun dengan sebuah posisi kayang ekstrem yang sangat tidak manusiawi. Kedua matanya mendelik kosong menatap ke arah langit-langit plafon, sementara posisi kepalanya tampak terkulai dengan sudut yang aneh.
"Sadar! Woy, Reno, sadar lo!" teriak Adit dengan sisa suara parau yang ia miliki. Ia merangkak mendekat di atas lantai marmer, tangan kanannya bergerak menepuk-nepuk pipi Reno yang saat itu masih terasa lengket oleh sisa-sisa bumbu rendang yang sudah mulai mengering. "Jangan berani-berani lo mati di tempat ini, Ren! Besok subuh jadwal lo itu pergi nikah ke KUA, bukan pergi ke pemakaman umum!"
"Heh! Lu olang punya temen bener-bener sukses bikin oe punya asam urat langsung kambuh malam ini!" semprot Baba Hartono dari sudut ruangan, kedua tangannya sibuk memijat area pinggangnya yang encok berat. "Oe kira dia semalam cuma bertindak jadi atlet barongsai gadungan, tahunya aksi akrobatiknya malah melebihi Jet Li! Atlet sirkus internasional saja pasti minder kalau melihat lu olang lari-lari tadi!"
Adit hanya bisa meringis pasrah dalam hati saat teringat kembali adegan kegilaan setengah jam yang lalu. Ia harus rela tunggang-langgang melompati wajan, panci aluminium, hingga jajaran spatula besi yang berhamburan di atas lantai mirip seperti medan pertempuran, demi bisa menangkap tubuh Reno yang bergerak sangat licin seperti belut listrik dengan kondisi kedua mata terpejam rapat.
"Aduh, Dit... badan gue rasanya sakit semua... napas gue bengek... tolongin gue berdiri..." rintih Reno pelan dengan suara lemas saat tingkat kesadarannya mulai merayap kembali ke otaknya.
Dan...
BRUKKK! KRETEKKK!
"AKKKHHH MAU PATAH PUNGGUNG GUE!"
Begitu seluruh otot tubuh Reno mendadak melemas karena kesadarannya telah kembali utuh, hukum gaya gravitasi bumi pun bekerja tanpa ampun. Tubuh Reno yang tadinya melengkung sempurna dalam posisi kayang itu langsung menghantam permukaan lantai marmer yang keras dengan bunyi gesekan tulang yang terdengar sangat meyakinkan. Adit secara refleks langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat, ikut meringis ngeri seolah-olah dirinya sendirilah yang merasakan bagaimana rasanya tulang punggung itu beradu telak dengan dinginnya lantai marmer.
"Sadar juga akhirnya lu! Oe kira lu olang sudah mau mati berdiri di dalam oe punya dapur!" ucap Baba Hartono ketus, meskipun di balik nada suaranya terselip sedikit rasa lega. "Oe hampir saja tadi mau panggil pengawal di depan buat lempar lu olang ke dalam kandang anjing herder biar lu cepat bangun!"
Adit memandangi wajah Reno yang kini penampilannya tampak sangat mengenaskan—penuh dengan noda cokelat pekat dari bumbu rendang purba yang mengeras, membuatnya tampak seperti seorang korban kecelakaan kerja di dalam pabrik cokelat.
"Ssshh... tega banget sih ucapan Baba... orang saya ini lagi kesakitan menahan punggung mau patah begini," rintih Reno sembari berusaha payah untuk bangkit terduduk. Kedua tangannya bergerak gemetar hebat memegangi area punggungnya yang terasa sangat nyeri.
Adit menghela napas panjang, mencoba memaksakan dirinya untuk berdiri tegak dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada di tubuhnya. Ia melirik ke arah jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Waktu fajar hampir tiba, dan dirinya masih saja terjebak di dalam drama klenik mistis milik sahabatnya.
"Bangun lo, Ren. Cepat pergi ke wastafel buat cuci muka lo sekarang juga. Kita udah nggak punya banyak waktu lagi buat meladeni drama tulang retak lo itu. Inget ya, bapaknya Sella yang mantan tentara itu nggak bakal mau menerima alasan habis kayang kesurupan di dapur kalau sampai lo telat datang ke kantor KUA besok pagi!" tegas Adit seraya menarik paksa lengan Reno agar segera berdiri.