NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Krieet.

Suasana di dalam kelas langsung membuat siapa pun ingin segera memutar balik.

Tiga orang siswa sedang asyik bermain kartu di atas meja guru sambil merokok.

Beberapa siswi sedang memoles kuku dan tertawa keras di pojok ruangan tanpa memedulikan sekeliling.

Dua orang siswa lainnya sedang saling cekik di dekat jendela sambil berteriak.

Tidak ada satu pun dari mereka yang mengenakan seragam sekolah dengan benar dan rapi.

Husen melangkah masuk dengan tenang dan berdiri tepat di depan meja guru.

Tap.

"Turun dari meja saya sekarang juga."

Suara Husen tidak terlalu keras, tapi cukup tegas untuk memotong suara tawa mereka.

Ketiga siswa yang sedang bermain kartu itu menoleh secara perlahan ke arah Husen.

Salah satu dari mereka menghembuskan asap rokok sengaja tepat ke arah wajah Husen.

Fuuuh.

"Siapa lu?"

"Tukang kebun baru di sekolah ini?"

Siswa dengan rambut dicat merah itu tertawa mengejek sambil menunjuk wajah Husen.

"Saya Husen Alkhafi, wali kelas kalian yang baru mulai hari ini."

"Turun dari meja, matikan rokok kalian, dan kembali ke tempat duduk."

Siswa berambut merah itu malah berdiri tegak di atas meja dan menatap Husen menantang.

"Gimana kalau gue nggak mau, Pak Guru?"

"Lu mau nangis ke kepala sekolah kayak guru yang kemarin pagi?"

Seluruh murid di kelas itu serempak menertawakan ucapan berani temannya.

Husen sama sekali tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri.

Dia hanya menatap tajam tepat ke bola mata siswa kurang ajar di atas meja itu.

"Saya beri waktu tiga detik."

"Satu."

Siswa itu malah meludah ke lantai tepat di dekat ujung sepatu hitam Husen.

Cuih.

"Dua."

"Lu budek ya, gue bilang gue nggak mau!"

Siswa itu mengangkat kaki kanannya bersiap menendang dada Husen dari atas meja.

"Tiga."

Sebelum kaki siswa itu mendarat, Husen bergerak jauh lebih cepat dari dugaannya.

Sraat!

Husen menarik kursi kayu di dekat meja itu dan menghantamkannya ke kaki meja dengan sangat keras.

Brakkk!

Meja guru itu langsung kehilangan keseimbangan dan ambruk ke arah depan.

Siswa berambut merah itu kehilangan pijakan dan jatuh terguling ke lantai dengan bunyi tabrakan keras.

Gedebuk!

"Aduh, bangsat!"

Siswa itu mengerang kesakitan sambil memegangi punggungnya yang menghantam lantai kelas.

Dua temannya yang tadi duduk di pinggir meja langsung mundur ketakutan ke arah papan tulis.

Suasana kelas yang tadinya sangat berisik mendadak hening seketika seperti kuburan.

Semua murid menatap Husen dengan pandangan terkejut sekaligus marah melihat kejadian itu.

"Apa kalian dengar saya bilang tiga detik?"

Husen merapikan kerah kemejanya yang sama sekali tidak berantakan sedikit pun.

"Saya bukan guru yang akan lari ke ruang kepala sekolah sambil merengek minta tolong."

Dari bangku paling belakang, seorang siswa bertubuh sangat besar perlahan bangkit berdiri.

Siswa itu memiliki bekas luka memanjang di sudut bibirnya dan tatapan matanya terlihat sangat buas.

"Lu cari mati ya, Pak?"

Siswa itu berjalan perlahan mendekati Husen sambil membunyikan buku-buku jarinya.

Krek krek.

Husen tahu dengan sangat jelas siapa identitas siswa yang sedang mendekatinya ini.

"Kamu pasti Bara, ketua kelas di ruangan ini."

"Kembali ke bangkumu sebelum kamu menyesal."

Bara tertawa remeh mendengar peringatan itu dan terus melangkah maju mendekati Husen.

"Di kelas ini, gue yang bikin aturan dan hukumnya."

"Bukan guru buangan dari sekolah elite kayak lu."

Bara mengepalkan tangan kanannya erat-erat dan bersiap melayangkan tinju maut ke wajah Husen.

Wush!

Angin dari pukulan Bara terasa sangat kencang, menunjukkan tenaga yang tidak main-main.

Husen menggeser kakinya bersiap menangkis serangan itu dengan kedua tangannya.

Namun, tepat sebelum tinju keras itu mengenainya, waktu di ruangan itu seakan berhenti.

Semua suara bising di dalam kelas langsung lenyap begitu saja dari pendengaran Husen.

Gerakan Bara terhenti melayang di udara seperti sebuah patung kayu mati.

Sebuah cahaya biru redup mendadak muncul dari udara kosong tepat di depan wajah Husen.

Ting!

Husen melebarkan matanya melihat panel layar transparan menyala dan melayang di depannya.

[Sistem Guru Legendaris Diaktifkan]

[Memindai host...]

[Host dikonfirmasi: Husen Alkhafi]

[Status: Mengikat jiwa dengan sukses]

Husen mengerjap beberapa kali untuk memastikan dia tidak sedang berhalusinasi di siang bolong.

"Sistem?"

"Benda aneh apa ini?"

Husen berbicara sendiri dalam pikirannya karena otot mulutnya terasa sangat kaku untuk digerakkan.

Layar biru itu kembali berkedip cepat memunculkan deretan teks baru.

[Sistem ini dirancang untuk menciptakan pendidik paling sempurna di dunia]

[Mendeteksi ancaman fisik di depan host]

[Target: Bara Ketua Kelas]

[Potensi Tersembunyi: Atlet Bela Diri Tingkat Nasional]

[Kelemahan: Cedera pergelangan kaki kiri yang disembunyikan]

[Misi Darurat Muncul!]

[Nama Misi: Tundukkan Sang Pemimpin]

[Deskripsi: Buat Bara menyerah dan mengakui Anda sebagai guru tanpa memukul wajahnya]

[Hadiah: 100 Poin Pengalaman, Skill Mata Penilai Pasif]

[Hukuman jika gagal: Patah tulang rusuk dan reputasi hancur total]

[Apakah Host menerima misi?]

[Ya / Tidak]

Husen membaca informasi detail di layar itu dengan detak jantung yang berpacu kencang.

"Kelemahan di pergelangan kaki kiri?"

Husen melirik sekilas ke arah kaki Bara yang sedang mengambil kuda-kuda pukulan di udara.

Memang terlihat ada sedikit beban tubuh yang bertumpu pada kaki kanannya untuk menahan rasa sakit.

"Aku tidak punya pilihan lain saat ini."

"Lagipula aku tidak mau tulang rusukku patah berantakan di hari pertama bekerja."

"Aku terima misi ini."

Begitu Husen mengkonfirmasi keputusannya dalam hati, waktu kembali berjalan normal seperti semula.

Wush!

Tinju Bara kembali melesat sangat cepat ke arah wajah Husen.

Alih-alih menangkis atau mundur menghindar, Husen menunduk tajam ke bawah dengan gerakan mulus.

Husen memutar tumpuan tubuhnya dan menyapu kaki kiri Bara dengan tendangan rendah yang telak.

Brak!

"Argh!"

Bara berteriak kesakitan saat pergelangan kaki kirinya yang sudah cedera terhantam dengan keras.

Tubuh besar Bara langsung kehilangan keseimbangan dan dia jatuh berlutut tepat di depan kaki Husen.

Husen dengan cepat mencengkeram kerah seragam Bara dan menekan bahunya kuat-kuat ke arah bawah.

"Saya bilang, kembali ke bangkumu sekarang."

Suara Husen terdengar sangat dingin dan mengancam di telinga Bara.

Bara meringis menahan sakit di kakinya namun masih mencoba memberontak dengan kasar.

"Lepasin gue, bangsat!"

Husen malah menekan bahu Bara jauh lebih keras sampai murid itu kesulitan untuk menarik napas.

"Kalau kamu masih mau bisa berjalan normal besok pagi, berhentilah bertingkah seperti preman."

"Saya tahu persis pergelangan kaki kirimu belum sembuh dari pertarungan minggu lalu."

Mata Bara membelalak terkejut mendengar ucapan pelan wali kelas barunya itu.

"Darimana dia bisa tahu soal kakiku yang cedera?"

"Padahal aku tidak pernah cerita ke siapa pun di kelas ini."

Batin Bara mulai goyah dan tenaga perlawanannya perlahan mengendur karena rasa sakit dan kaget.

"Sekarang, saya minta kamu kembali ke tempat dudukmu dengan tenang."

"Atau saya sendiri yang akan mematahkan kaki kirimu secara permanen hari ini juga."

Husen melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak menatap Bara dari atas ke bawah.

Bara terdiam selama beberapa detik sambil memegangi pergelangan kakinya yang berdenyut ngilu.

Dia menatap Husen dengan campuran rasa marah, bingung, dan sedikit rasa segan yang baru saja muncul.

Akhirnya Bara menundukkan wajahnya dan berdiri dengan susah payah sambil menahan berat badannya.

"Oke, lu menang kali ini, Pak."

Bara berjalan terpincang-pincang kembali ke bangkunya yang berada di deretan paling belakang.

Seluruh murid di kelas XI-7 menatap kejadian singkat itu dengan mulut menganga lebar.

Ketua kelas mereka yang tidak pernah kalah dari guru mana pun baru saja ditundukkan dalam satu gerakan.

Suara layar biru kembali terdengar berdenting di telinga Husen.

Ting!

[Misi Darurat Selesai!]

[Bara telah menyerah secara fisik dan mental untuk saat ini]

[Hadiah diklaim: 100 Poin Pengalaman didapatkan]

[Hadiah diklaim: Skill Mata Penilai Pasif berhasil dipelajari oleh Host]

Husen merasakan sensasi hangat yang aneh mengalir ke kedua matanya selama beberapa detik.

Saat dia menatap para murid yang terdiam di depannya, informasi kecil mulai bermunculan melayang di atas kepala mereka.

Husen menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri melihat pemandangan baru tersebut.

"Baiklah, anak-anak."

"Mari kita mulai pelajaran pertama kita hari ini."

"Pelajaran tentang rasa hormat."

1
Dewiendahsetiowati
hajar mereka Husein dan team buat mereka langsung koit
Dewiendahsetiowati
Bima salah lawan boz
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!