Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 24
Langkah kaki bertiga membelah sunyinya selasar batu di luar Balai Disiplin. Sinar matahari sore telah sepenuhnya tenggelam di balik tebing barat, menyisakan guratan warna jingga tua yang perlahan terbilas kegelapan malam. Udara pegunungan Akademi Canglan mendadak merayap dingin, menghembuskan aroma tanah basah dan daun pinus yang gugur dari pepohonan sekitar.
Ruan Xi'er berjalan melompat-lompat kecil di sisi kiri Shen Jue, tak sanggup menyembunyikan rasa puas yang terpancar terang di wajah cantiknya.
"Kau hebat sekali, Shen Jue!" seru Xi'er sambil menepuk kedua tangannya gembira. "Kau lihat tidak bagaimana wajah Lu Ming dan Chen Xiang yang mendadak sehijau daun saat Tetua Yan menghukum mereka?"
Gongsun Zhi yang berjalan tegak di sisi kanan mengangguk pelan. "Penjelasanmu soal titik saraf dan pasal aturan akademi sangat tepat sasaran. Mereka tidak punya celah sedikit pun untuk membantah."
"Di tempat seperti ini, emosi tidak akan memenangkan argumen," pungkasi Shen Jue tenang sambil merapikan lipatan lengan jubah linen abu-abunya. "Aturan akademi diciptakan oleh para tetua untuk menjaga ketertiban. Menggunakan aturan mereka sendiri adalah cara paling bersih untuk mematahkan serangan politik klan besar."
Mereka bertiga berbelok ke arah percabangan jalur Asrama Barat. Di bawah naungan pohon cemara tua yang remang-remang, Xi'er menghentikan langkahnya untuk berpamitan menuju kompleks asrama putri.
"Aku pulang ke kamar dulu ya," kata Xi'er sambil melambaikan tangannya. "Besok pagi kita latihan bersama lagi di pelataran rumput!"
"Hati-hati di jalan, Xi'er," sahut Shen Jue lembut.
Setelah bayangan Xi'er menghilang di belokan lorong, Shen Jue dan Gongsun Zhi melanjutkan langkah menuju Kamar Nomor Sembilan. Suasana asrama tampak agak lengang; rumor tentang kekalahan delapan murid senior di tangan kelompok mereka rupanya sudah menyebar luas, membuat murid-murid baru yang melintas di koridor memilih menunduk segan ketimbang menyapa.
Di dalam Kamar Nomor Sembilan, cahaya lentera minyak berkerlip temaram, membiaskan bayangan dua pemuda di dinding kayu jati. Gongsun Zhi menyandarkan Tombak Besi Hitam miliknya di sudut ruangan, lalu duduk bersila di atas balai-balai kayu.
"Shen Jue," panggil Gongsun Zhi dengan suara beratnya yang ragu-ragu.
"Ada apa?" tanya Shen Jue sambil menyalakan lilin aromaterapi kecil di atas meja.
"Soal titik Shousanli dan Neiguan yang kau sebutkan di balai disiplin tadi..." Gongsun Zhi menatap jemarinya sendiri. "Apakah pemahaman alur saraf itu bisa diterapkan untuk memperkuat cengkeraman tombakku?"
Shen Jue tersenyum tipis, menduduki tepi tempat tidurnya. "Tentu saja. Kebanyakan petarung hanya memikirkan cara memompa energi spiritual sebanyak-banyaknya ke dalam senjata, tapi mereka lupa bahwa lengan manusia hanyalah perantara. Jika kau bisa menyalurkan energimu melewati titik Jianjing di bahu tanpa menahannya di siku, sabetan tombakmu bisa dua kali lebih cepat tanpa membuang stamina."
Mata Gongsun Zhi berbinar tipis. Ia mengangguk takjub, mencerna kata-kata itu secara mendalam sebelum akhirnya memejamkan mata untuk memulai meditasi malamnya.
Waktu terus bergulir. Tengah malam tiba, menyelimuti Akademi Canglan dalam keheningan total. Hanya tersisa derak jangkrik dan tiupan angin malam yang berhembus menembus celah jendela kayu Kamar Nomor Sembilan.
Melihat Gongsun Zhi sudah tertidur lelap dengan napas teratur, Shen Jue bergeser perlahan menuju sudut kamar yang paling gelap. Ia duduk bersila di atas tikar pandan, menyilangkan kedua kakinya dalam posisi lotus sempurna.
Shen Jue merogoh saku jubahnya, menarik keluar belati kecil berkarat sepanjang satu jengkal. Di bawah pendar remang sinar rembulan yang menyusup dari celah atap, senjata itu tampak teramat biasa—hampir mirip besi buangan yang tidak berharga. Namun, ingatan masa lalu dan peristiwa hancurnya Batu Uji Energi di Lapangan Bintang menegaskan satu hal pada batin Shen Jue: senjata ini jauh dari kata biasa.
"Selama ini aku hanya menggunakannya untuk memotong aliran energi di permukaan," gumam Shen Jue dalam batinnya. "Mari kita lihat seberapa dalam rongga energi yang tersembunyi di balik karat ini."
Shen Jue memejamkan mata, mengatur ritme pernapasan perutnya hingga denyut jantungnya melambat konstan. Dari dalam Dantian-nya yang masih dangkal, ia memancing seutas benang energi spiritual berwarna bening murni, mengalirkannya secara perlahan menembus lengan kanan dan menyuntikkannya langsung ke dalam gagang belati.
Pada detik pertama, energi spiritual milik Shen Jue mengalir lancar melintasi lapisan karat luar. Namun, begitu benang energi itu mencoba menembus lebih dalam ke inti logam di bagian tengah belati—
Bzzzt!
Sensasi aneh yang tak terbayangkan mendadak meledak!
Bukan ledakan panas atau dorongan energi spiritual yang umum, melainkan sebuah hawa dingin yang teramat asing dan menusuk tulang! Hawa dingin itu tersembunyi di balik ketebalan karat, seolah-olah sebuah jurang es abadi yang telah tersegel selama ribuan tahun mendadak terkejut oleh sentuhan energi spiritual Shen Jue.
Cahaya hitam tipis yang teramat pekat—hampir tak kasat mata—berkedip halus di sepanjang mata belati.
"Khhh!" desis Shen Jue tertahan.
Rasa dingin yang merasuk itu tidak mengalir di udara ruangan, melainkan menjalar hebat melalui saraf lengan kanannya, merambat lurus menuju Dantian! Pembuluh darah di sepanjang pergelangan tangan Shen Jue seketika membeku tipis, memunculkan lapisan embun es halus di atas kulit mulusnya. Gigi Shen Jue gemetaran hebat, badannya menggigil saat hawa dingin asing itu mencoba mengikis batinnya dengan aura kematian yang sangat pekat.
Itu bukan hawa dingin elemen es biasa. Itu adalah hawa dingin maut—sebuah keputusasaan absolut yang sanggup membekukan jiwa petarung!
"Tenang... kendalikan!" batin Shen Jue menyemangati dirinya sendiri.
Sebagai sesosok jiwa kuat yang pernah menapak puncak dunia di kehidupan lalunya, Shen Jue tidak membiarkan kesadarannya goyah oleh rasa sakit fisik. Ia memaksakan fokus pikirannya, memutar alur pernapasan Jiwa Terlarang untuk mengunci hawa dingin asing tersebut agar tidak menjalar ke jantungnya.
Shen Jue menahan getaran hebat di dadanya selama belasan hembusan napas. Ia tidak memaksakan diri untuk menguasai hawa dingin itu, melainkan mengalirkannya secara perlahan melingkari mata belati, membentuk putaran tertutup.
Slingg...
Perlahan tapi pasti, aura hitam pekat dan lapisan embun es di lengan Shen Jue mulai menyurut kembali, tersedot masuk kembali ke dalam rongga tersembunyi belati berkarat tersebut. Kesunyian kembali melingkupi sudut kamar.
Shen Jue membuka matanya perlahan, menghembuskan napas panjang yang memancarkan kabut putih dingin di udara malam. Dahinya dipenuhi bulir keringat dingin, dan lengan kanannya terasa agak kebas, namun matanya memancarkan binar tajam yang penuh kepuasan.
Ia menatap belati di tangannya dengan pandangan mendalam. Bagian karat di dekat gagangnya tampak sedikit memudar, memperlihatkan guratan pola kuno berwarna hitam kelam yang teramat samar.
"Hawa dingin yang sangat mengerikan..." pungkasi Shen Jue pelan sambil mengelus mata belati tersebut. "Tubuh fana ini masih terlalu lemah. Jika aku memaksa membuka segel energinya lebih dalam sekarang, jiwaku yang akan membeku terlebih dahulu."
Shen Jue mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sebelum ujian luar ruangan di Hutan Roh dimulai, ia harus segera melatih ketahanan fisiknya agar sanggup menampung kekuatan tersembunyi dari belati ajaib ini.