NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SOSOK DI BALIK GORDENG

# PELET LAKNAT 2

## Bab 20: Sosok di Balik Gorden

Keheningan di dapur rumah Kiki makin terasa mengimpit. Isakan pilu seorang wanita itu tak lagi terdengar di kejauhan, melainkan berembus tepat di sekeliling telinga Kiki, membawa aroma anyir darah bercampur minyak melati yang menusuk hidung.

Kiki mulai sadar kalau suara itu jelas bukan milik ibunya. Namun, rasa penasarannya akhirnya mengalahkan rasa takut. Kiki menarik napas panjang, menahannya di dada. Tangannya perlahan terulur ke depan, meraih ujung gorden kain yang menjadi pembatas ruang tengah dan dapur. Jemarinya yang bergetar memegang lipatan kain itu serapi mungkin, berusaha tidak menimbulkan bisikan gesekan kain agar tak memancing bahaya.

Dengan tubuh merinding hebat, Kiki memberanikan diri dengan gerakan perlahan menyibakkan gorden tersebut.

Mata Kiki membelalak tajam saat pandangannya menembus kegelapan dapur yang ternyata kosong melompong.

Tak ada satu pun jiwa di sana. Ruangan itu tampak muram, bisu, dan dingin. Meja dan peralatan dapur terdiam kaku di tempatnya, seolah tak pernah tersentuh kehidupan.

"Lah... tidak ada orang?" desis Kiki, napasnya tersengal kebingungan dengan rahang terkulai sedikit. "Terus tadi yang menangis siapa? Apa... suara tetangga sebelah?"

Melihat ruangan yang kosong itu, rasa lega mulai menjalar ke seluruh tubuh Kiki, sedikit mengobati rasa penasaran yang masih tersisa.

"Ah, kenapa aku jadi penakut begini?! Mungkin itu cuma halusinasi aku saja," gerutu Kiki menepis semua pikiran negatif yang terus mengganggunya. Ia lantas membalikkan badan dan bermaksud melangkah kembali ke kamarnya.

Tiba-tiba, udara di sekitar lorong dapur menyusut drastis. Suasana berubah menjadi jauh lebih menusuk, begitu pekat dan berat. Hawa dingin yang mengalir dari celah-celah ventilasi seolah sanggup menembus jaket kulit yang membalut tubuh Kiki, menusuk langsung ke tulang sumsum.

Saat berjalan di koridor dapur, tiba-tiba Kiki menghentikan langkahnya.

Sensasi aneh mulai merayap di punggungnya—sebuah tekanan gaib yang terasa begitu dekat, seolah ada sepasang mata tak terlihat yang berdiri persis beberapa inci di belakang tengkuknya, mengawasinya dengan lekat.

"Sepertinya... ada yang sedang mengawasi aku dari belakang..." bisik Kiki dalam hati. Kalimat itu tertahan di tenggorokan, terhenti bersama dengan napasnya.

Keberanian yang tersisa memaksa Kiki memutar kepalanya perlahan, melirik dari sudut matanya ke arah kegelapan dapur di belakangnya.

Lagi-lagi hasilnya tetap kosong. Tak ada sosok, wujud, atau bayangan yang berdiri di ambang pintu dapur.

Namun, saat Kiki membalikkan badannya kembali—

Wusss...

Sosok tinggi besar berbulu tiba-tiba berdiri tegak tepat di depannya. Mata merahnya menatap tajam, sementara gigi bertaring yang menyeringai tampak meneteskan air liur pekat, memandang lurus ke arah Kiki seolah tengah murka.

"Astagfirullah! Si-siapa kau?! Kenapa... kenapa ada di rumahku?!" teriak Kiki terbata-bata. Tubuhnya gemetar hebat, terkunci kaku tak sanggup bergerak sedikit pun untuk menjauh.

Namun, makhluk itu tak menjawab sedikit pun. Ia hanya memamerkan deretan gigi tajamnya yang siap menerkam Kiki kapan saja—seolah memberi peringatan keras agar Kiki tak lagi berniat main-main dengan Mbah Usman. Detik berikutnya, makhluk mengerikan itu lenyap begitu saja ditelan kegelapan.

Saking menahan rasa takut yang luar biasa, Kiki sampai mengompol tanpa sadar. Tubuhnya mendadak lemas tak berdaya, seakan-akan seluruh tulang di tubuhnya hilang dan tak sanggup lagi menopang berat badannya.

Kiki ambruk dan terhuyung lesu di atas lantai koridor rumah. "I-ini pasti perbuatan Simbah, aku yakin! Dia pasti sudah tahu kalau selama ini aku berbuat curang," gumam Kiki lirih. Karena tak sanggup lagi berdiri, Kiki terpaksa merangkak perlahan hanya untuk bisa sampai ke kamarnya sendiri.

"Nah, begitu cerita sebenarnya, Jak! Makanya aku tidak mau berurusan lagi sama Simbah Usman. Aku takut, Jak! Kejadian seperti itu bukan cuma sekali, tapi hampir setiap malam!" jelas Kiki dengan napas memburu dan trauma yang masih berbekas jelas di wajahnya.

Mendengar cerita Kiki, Jaka semakin waswas.

"Kalau sama Kiki yang cuma mengantar aku saja bisa segitunya, apalagi aku yang meminta langsung sama Mbah Usman..." gumam Jaka merinding dalam hati.

"Aku tidak mau kalau setiap malam diganggu makhluk seperti itu! Aku tidak mau mati konyol karena ketakutan!" lanjut Kiki emosional. "Sudah, mending kamu pulang saja sekarang. Jangan ke sini lagi! Itu urusanmu, aku tidak mau terlibat lagi!" usir Kiki tegas tanpa memberi celah.

"Tapi, Ki! Masa kamu tega sama aku? Kamu sendiri yang menyuruh aku menempuh jalur ini!" protes Jaka, berusaha mengingatkan Kiki kembali.

Mendengar itu, Kiki kembali termenung. Ia sadar betul bahwa semua ini bermula dari campur tangannya.

"Oke, aku akan pinjamkan uang sama kamu! Tapi ingat, kamu jangan pernah lagi libatkan aku dengan ide gilamu itu!" ujar Kiki akhirnya. "Kamu tunggu di sini, aku ambil uangnya dulu," lanjut Kiki seraya bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Tak butuh waktu lama, Kiki sudah kembali dari dalam rumah.

"Nih, Jak! Ingat ya, jangan libatkan aku lagi!" seru Kiki seraya menyodorkan beberapa lembar uang bernilai total lima ratus ribu rupiah.

"Lah, Ki! Kok cuma lima ratus ribu? Aku kan mau pinjamnya tiga juta?" protes Jaka terbelalak.

"Hah? Tiga juta?! Gila ya kamu, memangnya aku bank apa? Sudah, kasih saja segitu sama Simbah. Lagipula ini kan kali kedua kamu menemui dia, pasti tarifnya beda sama yang pertama," elak Kiki, masih enggan jujur kepada Jaka.

"Gitu ya, Ki... ya sudah, terima kasih. Tapi di mana aku bisa dapatkan ayam cemani, Ki?" tanya Jaka lagi.

"Ayam cemani?! Buat apa lagi sih, Jak? Sudah uang, sekarang ayam cemani pula! Sudah, kamu cari saja sendiri. Aku mau tidur, semalaman aku belum tidur, ngantuk!" sahut Kiki ketus seraya berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!