NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Teen
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Baru 11.

Pintu gerbang SMA Wijaya masih menyisakan sisa-sisa embun pagi saat Livy melangkah masuk.

Hari pertama semester genap kelas tiga dimulai hari ini. Koridor sekolah yang biasanya bising oleh gelak tawa mendadak senyap, seolah-out memberi jalan bagi pemandangan yang tak masuk akal di awal tahun.

Tidak ada lagi Livy dengan seragam sengaja dikeluarkan. Tidak ada lagi rambut yang dikuncir berantakan dengan jepit badai warna-warni yang mencolok.

Hari ini, rambut hitam panjangnya tergerai lurus, disisir rapi hingga jatuh melewati bahu. Almamater birunya terkancing sempurna. Wajahnya polos tanpa polesan lipstik merah menyala yang biasa ia pakai demi menarik perhatian seseorang.

Dan yang paling mengerikan bagi siapa pun yang melihatnya pagi itu: wajah Livy sangat tenang. Tidak ada binar obsesif, tidak ada senyum lebar mengerikan khas cegil—cewek gila—yang biasa meneriakkan nama Galang di sepanjang koridor.

"Livy? Kamu... sehat?" sapa Fanya, dia teman sebangkunya, hampir berbisik saat Livy meletakkan tas di kursinya.

Livy tidak menoleh dengan heboh seperti biasanya. Ia hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir terlihat dingin. "Sehat, Fa. Pagi."

Satu kalimat pendek. Tanpa embel-embel, "Eh, kamu tahu gak semalem Galang bales chat saya apa belum?" atau "Saya sengaja dateng pagi biar bisa naruh susu kotak di meja Galang!"

Tyas menelan ludah. Atmosfer di sekitar Livy berubah total. Kejadian di acara ulang tahun Galang dua minggu lalu ternyata bukan sekadar rumor.

Malam itu, di hadapan hampir setengah anak SMA Wijaya, Livy menyatakan cintanya dengan membawa hadiah syal rajutannya sendiri yang hancur oleh suatu keadaan. Alih-alih diterima, Galang justru membuang dan menatapnya dengan tatapan paling jijik yang pernah ada.

"Setiap detik kamu ada di sekitar saya, saya merasa muak. Kehadiran kamu itu sampah di hidup saya. Kamu pikir kamu berharga? Enggak, Liv. Kamu itu cuma pengganggu, parasit yang numpang tenar lewat nama saya di sekolah. Jangankan buat cinta, buat kasihan aja, kamu gak layak" kata-kata Galang malam itu, yang diucapkan dengan pelan namun tajam lewat mikrofon yang masih menyala, sukses meremukkan seluruh harga diri Livy hingga tak bersisa.

Saat bel masuk berbunyi, langkah kaki yang sangat familier terdengar di depan kelas.

Galang berjalan masuk bersama gerombolannya. Cowok tinggi berwajah tegas dengan ban kapten basket di lengannya itu langsung mengedarkan pandangan ke sudut kelas—tempat Livy biasanya sudah siap siaga dengan tatapan memuja yang agresif.

Namun, hari ini, saat netra Galang menangkap sosok Livy, cowok itu terpaku sejenak di ambang pintu.

Livy sedang membaca buku paket Biologi. Pandangannya lurus ke halaman buku. Ketika Galang berjalan melewati mejanya, Livy bahkan tidak mengangkat kepalanya barang satu senti pun.

Ia terus membalik halaman buku dengan gerakan tenang, seolah-olah Galang hanyalah embusan angin lalu yang tidak berarti.

Perubahan itu tidak hanya berlangsung sejam dua jam.

Sepanjang jam pelajaran, Livy bertransformasi menjadi murid teladan yang tak tersentuh. Ia mencatat materi, menjawab pertanyaan guru dengan suara datar berwibawa, dan mengabaikan bisik-bisik di sekelilingnya.

Saat istirahat tiba, kantin SMA Wijaya dipadati murid. Livy duduk di pojok bersama Fanya dan Mayang, gadis itu hanya menghadapi semangkuk bakso. Di meja seberang, Galang duduk bersama teman-temannya.

"Eh, Lang, si Livy kesambet setan apa?" bisik Rian, teman sekelas Galang, cukup keras hingga beberapa orang menoleh. "Rapi amat. Biasanya jam segini udah gelendotan di lengan kamu kayak orang utan."

Galang tidak menjawab. Matanya justru tidak bisa lepas dari sosok Livy yang duduk tegak di ujung kantin. Biasanya, ia harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengusir Livy, membentaknya, atau menghindarinya setengah mati.

Namun sekarang, ketika cewek itu benar-benar menjauh dan menganggapnya tidak ada, atmosfer di sekitarnya terasa kosong dan asing.

Tiba-tiba, seorang cowok dari kelas sebelah menghampiri meja Livy, membawa segelas es teh manis. "Livy, ini... buat kamu. Boleh kenalan?"

Fanya menahan napas, sementara seisi kantin mendadak senyap, menunggu ledakan dari Livy. Biasanya, Livy akan berteriak, Saya gak mau! saya cuma mau pemberian dari Kak Galang! sambil melempar minuman itu ke pria tersebut.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Livy mendongak, menatap cowok itu, lalu tersenyum sopan. "Makasih ya. Tapi maaf, saya lagi gak pengen minum es. Buat kamu aja."

Penolakan yang halus, anggun, dan sangat waras.

Galang yang menyembunyikan tangannya di bawah meja tanpa sadar mengepalkan tangan hingga kuku-kuku jarinya memutih.

Saat Livy berdiri untuk kembali ke kelas, langkahnya berpapasan langsung dengan Galang di jalur keluar kantin.

Ruang di antara mereka menyempit. Galang sengaja memperlambat langkahnya, menunggu reaksi, menunggu tatapan bersalah, atau setidaknya kilat amarah dari mata cewek itu.

Namun, Livy hanya berjalan lurus. Ketika mata mereka bertemu selama satu detik, netra Livy terasa kosong.

Tidak ada cinta, tidak ada benci, tidak ada obsesi. Hanya ada kekosongan mutlak. Livy menggeser tubuhnya sedikit demi memberi jalan bagi Galang, lalu berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun.

Livy telah menuruti kemauan Galang. Dia telah menjauh.

......................

...****************...

To be continue,

1
Luna
pasangan terbaik itu bukan seorang CEO tapi yg bikin kamu nyaman dan semangat ngadepin hidup tanpa kita minta sekalipun,
falea sezi
lanjutt
penggemar_Uangkecil?!
👍
falea sezi
🤣 gk ada bakat gk ada uang sok jd perancang
penggemar_Uangkecil?!
👍
Luna
semoga mereka berdua bisa terus berjodoh sampai sukses,
falea sezi
livi katanya anak orang kaya masak. peralatan desain baju aja harus nahan pengen beli🤣
falea sezi
gk ada bakat desain🤣 np maksa masuk desain 🤣🤣 aneh lu
falea sezi
moga jodoh soalnya q pernah kaya gini ehh putus karena dia selingkuh🤭
falea sezi
moga gk ada orang ketiga ya galang🤣 awas q getok lu
falea sezi
🤣🤣🤣 yg baca senyum2 liat anak anak kuliahan pacaran yg baca ini uda sepuh🤭
falea sezi
lanjjttt👍
falea sezi
moga galang setia ya🤣 gk. plin plan awas aja lu
falea sezi
livy jangan serakah ya 🤣 pilih mana lu
falea sezi
🤣🤣🤣 emank enakk apa yg di rasain livy di bales kontan🤭 kapok lu galang
falea sezi
sekarang di obral ya lang🤣 dulu sok jual. mahal bangsatt🤣
falea sezi
🤣🤣 hehh cmburu nahh elu siapa galang pacar bukan suami bukan sok ngatur
falea sezi
🤣🤣 galang galang g usah sok ganteng deh loh sekarang
falea sezi
bodoh di tolak pergi jauh lah
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!