NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUNGA MEKAR

Tiga bulan setelah ATG, bunga kuning di belakang rumah mekar 12 kuntum. Tepat seperti kata penjual, 14 hari mekar.

Pagi jam 5.30, Alya siram bunga pakai gembor kecil. Ia sudah tidak pakai N95, cuma masker kain tipis. Rambutnya tumbuh lagi, tipis, tapi tumbuh. Ia sudah kembali ngajar setengah hari di SD.

Hari itu kontrol 3 bulan. Hasil lab keluar jam 8 pagi di email, sebelum berangkat.

Arga buka HP di meja makan.

Leukosit: 4,1 - Normal pertama kali

Hemoglobin: 10,8

Trombosit: 165.000 - Normal

Alya duduk, baca angka 165 ribu itu lama. Dari 16 ribu di ICU.

"Normal, Mas?" tanya Alya.

"Normal, Al. Lewat 150 ribu."

Bu Ratna video call nangis. Kepala sekolah peluk Alya di SD. Siang itu dokter bilang, "Bu Alya remisi. Bulan depan siklosporin kita stop."

Sore, Arga bawa map cokelat ke teras belakang, tempat bunga kuning mekar.

"Al, aku resign dari kantor lama. Pindah cabang dekat rumah. Jam 5 udah pulang."

Alya kaget. "Kenapa?"

"Karena aku mau pastiin kamu sembuh dulu. Sekarang 165 ribu, aku berani pindah."

Malam, Alya tulis di buku biru muda:

Hari ini 165 ribu. Normal pertama kali. Bunga mekar 12 kuntum. Mas Arga pulang jam 5.

Arga tulis di bawahnya: Sampai penuh.

Mereka tidur dengan jendela terbuka, angin masuk bawa wangi bunga kuning.

Itu adalah malam terakhir Alya merasa normal.

Dua minggu setelah itu, alarm siram bunga jam 5.30 tetap bunyi, tapi Alya tidak bangun.

Arga bangun duluan, lihat Alya masih tidur, pucat. Bukan pucat biasa.

"Al, bangun, siram bunga," panggil Arga.

Alya bangun pelan, pegang kepala. "Mas, pusing."

"Pusing gimana?"

"Kayak dulu, waktu awal-awal masuk RS. Kunang-kunang."

Arga diam. Kunang-kunang itu adalah tanda hemoglobin turun. Tanda yang dulu di Bab 2.

Alya ke kamar mandi, sikat gigi, dan saat buang ludah, ada darah. Gusi berdarah. Bukan banyak, tapi ada bintik merah.

Ia keluar kamar mandi, lihat lengannya. Ada bintik merah kecil-kecil di lengan, seperti dulu waktu trombosit 16 ribu. Petekie.

"Mas..." panggilnya pelan, tunjuk lengannya.

Arga lihat bintik itu, langsung ingat ICU. Langsung ingat malam ATG menggigil.

"Jangan panik dulu. Mungkin kecapekan ngajar," kata Arga, tapi suaranya gemetar.

Siang itu mereka ke RS tanpa janji kontrol. Langsung IGD, langsung lab cito.

Hasil keluar 1 jam, bukan 2 jam.

Dokter tidak senyum seperti 2 minggu lalu waktu 165 ribu.

"Bu Alya, Pak Arga, duduk dulu."

Ia putar kertas.

Leukosit: 2,1 - Turun dari 4,1

Hemoglobin: 8,2 - Turun dari 10,8

Trombosit: 47.000 - Turun dari 165.000

Ruangan sepi.

47 ribu. Jatuh lagi ke angka waktu HCU.

Alya lihat angka itu, tidak nangis. Hanya diam.

"Ini kenapa, Dok? Kan kemarin normal?" tanya Arga, suara agak tinggi.

"Ini yang kita takutkan di Aplastic Anemia, Pak. ATG itu bekerja di 60% pasien. 40% gagal atau responnya cuma sementara lalu turun lagi. Bu Alya termasuk yang responnya sementara. Kita sebut relaps."

Relaps. Kata yang tidak pernah Alya dengar selama 3 bulan.

"Terus gimana, Dok?" tanya Alya pelan.

"Opsi satu-satunya sekarang transplantasi sumsum tulang belakang. Cari donor yang cocok 100%. Biasanya saudara kandung."

Alya langsung ingat: ia anak tunggal. Tidak punya saudara kandung.

"Kalau tidak ada saudara?" tanya Arga.

"Cari donor dari bank donor. Tapi kemungkinan cocoknya kecil, dan biayanya besar, dan harus ke Jakarta."

Di mobil pulang, tidak ada yang bicara. Bunga kuning di belakang rumah masih mekar 12 kuntum, tapi Alya tidak siram sore itu.

Malam, Alya demam lagi. 38,5. Bukan demam ATG, tapi demam karena leukosit turun, imun turun lagi.

Arga kompres, kasih obat, tapi tangannya dingin.

"Mas," panggil Alya jam 11 malam, dengan suara seperti di HCU dulu.

"Iya?"

"Bunganya siapa yang siram besok kalau aku di RS lagi?"

Arga tidak jawab. Ia lihat ke jendela belakang, 12 kuntum bunga kuning masih ada di gelap, diterangi lampu teras.

"Biar aku yang siram," kata Arga akhirnya.

Alya angguk, lalu tidur dengan demam.

Di meja rias, buku biru muda terbuka di halaman terakhir yang tulisannya "Sampai penuh."

Di bawah tulisan Arga "Sampai penuh", Alya malam itu nulis lagi dengan tulisan gemetar karena demam:

Hari ini 47 ribu lagi. Turun lagi. Dokter bilang relaps.

Aku nggak mau transplant. Aku capek.

Arga baca tulisan itu jam 1 pagi, setelah Alya tidur, sambil genggam tangan Alya yang ada bintik merahnya lagi.

Dan alarm jam 5.30 pagi besok tetap nyala: siram bunga kuning.

Tapi besok yang siram bukan Alya lagi.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!