NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 – Kursi yang Bergeser

“Tidak semua kehilangan dimulai dengan perpisahan. Ada yang dimulai dari satu kursi yang bergeser beberapa langkah.”

--

Pagi pertama setelah Keira sadar benar-benar membawa keheningan yang terasa begitu berbeda. Rumah Sakit Harapan Mulia tetap sibuk seperti biasanya. Perawat berganti shift, dokter keluar masuk ruang rawat, dan roda brankar masih berderit menyusuri lorong yang sama. Namun bagi keluarga Maheswari, pagi itu terasa seperti memasuki dunia yang aturannya telah berubah tanpa sempat meminta izin.

Keira mulai dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawat VIP menjelang pukul sembilan. Dokter Arman mengatakan kondisinya cukup stabil. Luka di kepalanya mulai menunjukkan perkembangan baik, tekanan darahnya normal, dan tubuhnya merespons obat dengan positif. Hanya satu hal yang belum membaik—pikirannya.

Alina berdiri di luar pintu kamar seraya mengembuskan napas panjang sebelum masuk. Di tangannya ada termos kecil berisi sup hangat yang dimasak Hendra sebelum berangkat dari rumah, dan ayahnya memang sengaja memasaknya sendiri.

"Kalau Keira belum mau makan banyak, paling nggak coba kasih kuahnya," begitu kata Hendra pagi tadi. Mengingat kalimat sederhana itu membuat Alina sadar bahwa setiap orang sedang berusaha mencintai Keira dengan caranya masing-masing.

Alina mendorong pintu dihadapannya secara perlahan, ruangan itu jauh lebih tenang dibanding ruang intensif. Jendela besar menghadap taman rumah sakit, tirai putih bergoyang pelan tertiup hembusan pendingin ruangan. Cahaya matahari masuk dengan lembut, membuat kamar itu tampak hangat meski aroma antiseptik masih mendominasi.

Keira sedang terjaga. Wanita itu tampak lebih segar dibanding malam sebelumnya, wajahnya memang masih pucat, tetapi sorot matanya sudah mulai mengikuti setiap gerakan di dalam ruangan, begitu melihat Alina, bibirnya membentuk sebuah senyum tipis.

“Alin,” suara itu membuat dada Alina menghangat.

“Kak.” Ia segera mendekat dan menggenggam tangan kakaknya, dan tangan itu masih terasa dingin nan lemah, namun setidaknya hidup. “Ayah masak sup.” Lanjut Alina yang membuat Keira mengangguk pelan.

“Ayah pasti capek.” Alina hanya berdeham membalas ucapan kakaknya, lalu ia menyuapi sang kakak. Beberapa sendok pertama berhasil masuk tanpa kesulitan, dan untuk beberapa menit semuanya terasa hampir normal, sampai Keira mendongak sedikit. “Mas Raka kemana?” Tanyanya.

DEG~ Jantung Alina berdetak lebih cepat, sendok di tangan Alina berhenti di udara mendengar pertanyaan tersebut, dan sebelum ia sempat mencari jawaban, pintu kamar pun terbuka. Birendra datang dengan membawa kantung berisi obat yang baru ia ambil dari farmasi.

Melihat kedatangan pria itu membuat tatapan Keira langsung berubah, wajah yang sejak tadi tampak lelah mendadak berbinar, dan senyum pun terlukis di bibirnya.

“Mas.” Senyum lega itu kembali muncul, dan lagi-lagi Alina harus menyaksikannya dari jarak yang begitu dekat.

Mendengar panggilan itu membuat Birendra berhenti melangkah, dan tatapannya bertemu dengan Alina untuk sejenak. Dalam tatapan itu terdapat permintaan maaf, rasa bingung, hingga ketidakberdayaan, namun ia mengingat ucapan dokter semalam.

“Yang paling penting sekarang adalah membuat pasien merasa aman.” Dengan langkah pelan, Birendra mendekat ke sisi ranjang.

“Iya.” Hanya satu kata yang Birendra ucapkan, namun kata itu mampu membuat Keira menghembuskan napas lega.

“Kupikir Mas pergi lagi.”

“Nggak.” Jawaban itu keluar sangat pelan, begitu pelan hingga hanya Alina yang menangkap betapa beratnya Birendra mengucapkannya. Alina menundukkan kepalanya, ia terus menyuapi Keira hingga mangkuk sup itu kosong.

Siang harinya dokter mengizinkan Keira duduk lebih lama di kursi dekat jendela, Hendra datang membawa pakaian ganti, beberapa perlengkapan pribadi, dan sajadah kecil milik Keira, melihat ayahnya masuk, Keira langsung tersenyum.

“Ayah.” Hendra menghampiri putri sulungnya dan mengusap kepalanya lama sekali. Tidak ada kata-kata, karena ia takut suaranya bergetar.

“Udah mendingan?” Keira mengangguk pelan. “Lapar?” Keira menggeleng.

“Tadi Alina udah suapin, Yah.” Hendra menoleh kepada Alina, tatapan yang tersirat rasa terima kasih, dan Alina hanya membalas dengan senyum kecil.

Untuk sesaat, keluarga itu kembali terlihat utuh, seolah hanya tinggal menunggu Raka masuk membawa kopi favorit Keira, padahal kursi itu akan selamanya kosong dan tidak akan pernah terisi lagi sampai kapan pun.

Menjelang sore, Keira mulai terlihat lebih banyak bicara. Ia bercerita tentang hotel tempat mereka menginap saat bulan madu, tentang udara dingin di pegunungan, hingga tentang Raka yang berkali-kali salah membaca peta dalam ponselnya.

Alina mendengarkan seraya terus tersenyum, namun ia merasa setiap cerita itu seperti pisau kecil, karena semua cerita berhenti tepat sebelum kecelakaan terjadi. Ingatan Keira seolah membeku di sana, waktu seakan berhenti berjalan, sedangkan bagi orang lain, waktu terus berjalan.

Ketika makan malam tiba, perawat mengizinkan keluarga menemani Keira makan di dalam kamar. Sebuah meja lipat kecil dipasang di atas tempat tidur, Alina membantu menyusun sendok, Hendra menuangkan air, dan Birendra membuka kotak makanan. Semua bergerak otomatis seperti keluarga yang sudah lama terbiasa bekerja sama. Lalu, Keira menoleh ke arah Birendra.

“Mas,” Birendra mengangkat kepalanya pelan. “Duduk disini.” Ia menunjuk kursi di sisi kanan ranjangnya, dan ruangan mendadak sunyi. Bagi orang lain, itu hanyalah sebuah kursi, namun bagi Alina, posisi itu terasa begitu akrab.

Selama mereka berpacaran, Birendra hampir selalu duduk di sampingnya setiap kali mereka makan—di rumah, di restoran, bahkan saat lembur di kantor. Itu kebiasaan yang tumbuh begitu alami hingga tak pernah mereka sadari, dan malam itu untuk pertama kalinya, tempat di sisi Birendra harus diberikan kepada orang lain.

“Mas, ayo duduk.” Pintanya lagi dan membuat Birendra berdiri kaku.

Tatapan Birendra mencari Alina, bukan mau meminta jawaban, melainkan mencari kekuatan. Kemudian Alina menarik napas panjang, dan Alina tersenyum lembut, sebuah senyum yang ia buat dengan susah payah.

“Duduk aja.” Suara itu terdengar tenang, Birendra akhirnya menarik kursi itu perlahan untuk duduk di sisi Keira, bukan di sisi Alina.

“Nah.” Kalimat sederhana itu membuat suasana sedikit mencair baginya. Namun tidak bagi Alina, ia pun mengambil kursi lain di seberang meja.

Saat makan berlangsung, Keira kesulitan membuka bungkus sendok plastik, dan tanpa pikir panjang, Birendra langsung membantunya. Gerakan itu mungkin terlihat sederhana, namun Alina langsung mengenali gerakan tersebut.

Gerakan yang sama ketika Birendra selalu membukakan sedotan minumannya, membuka bungkus sendok miliknya, mengambilkan tisu sebelum ia meminta, lalu Alina menundukkan kepalanya mengaduk nasi yang sebenarnya sudah dingin.

Tak seorang pun menyadari matanya mulai berkaca-kaca, kecuali Birendra. Pria itu berulang kali mengangkat wajahnya dan saat tatapan mereka bertemu, untuk kali pertama Birendra melihat senyum Alina tidak lagi sampai ke matanya.

Malam semakin larut ketika Hendra pulang sebentar untuk mengambil beberapa keperluan rumah. Alina berniat untuk tetap tinggal di rumah sakit, begitu pula dengan Birendra, karena mereka akan bergantian untuk berjaga.

Sebelum duduk di sofa ruang tunggu, Alina menghembuskan napas panjang. Birendra menghampirinya seraya membawa dua gelas teh hangat dari mesin minuman rumah sakit, dan satunya ia sodorkan pada Alina.

“Hati-hati masih panas.” Alina menerima gelas itu dan jemari keduanya bersentuhan. Refleks, Birendra langsung menggenggam tangan Alina untuk sejenak. “Capek?” Pertanyaan itu membuat Alina mengangguk kecil.

“Iya.”

“Ada aku,” kalimat itu terdengar sama seperti biasanya, namun entah kenapa malam itu Alina merasa ia harus mengingatnya baik-baik, karena di dalam kamar rawat, seseorang sedang tertidur dengan keyakinan bahwa lelaki itu adalah suaminya. Sementara di luar kamar, seseorang sedang berusaha mempertahankan keyakinan bahwa lelaki itu masih akan pulang kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!