Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : KAMP PENGUNGSIAN CIKADU
BAB 16: PENGUNGSIAN CIKADU
Fajar menyingsing perlahan, sinar matahari pertama menembus celah rimbunan pohon, menyinari tanah lembap yang masih menempel butiran embun. Hening menyelimuti tempat persembunyian, namun di dalam hati setiap orang yang berkumpul ada harapan yang mulai tumbuh.
Kapten Wirayuda berdiri di tengah tengah mereka, pakaiannya sudah diganti agar terlihat seperti biasa, seolah ia hanya seorang petani yang berkeliling memantau keadaan wilayah. Di sampingnya, Bayu dan Karta berdiri siap mendengarkan setiap kata yang akan diucapkan.
"Ada dua hal penting yang harus kita selesaikan dalam waktu dekat," buka Kapten dengan suara tenang namun tegas.
"Pertama, aku akan pergi ke Banjar untuk bertemu Bupati Adiningrat. Kita perlu memastikan dukungannya benar-benar ada dan siap membantu. Namun selain itu, aku akan membawa Astri dan Ningsih ke Kamp Pengungsian Cikadu."
Mendengar nama kedua gadis itu disebut, beberapa orang menoleh sekilas. Embek Gombloh mengerutkan kening sedikit, sementara Pak Somad mengangguk perlahan seolah sudah memahami tujuan tersebut.
"Kamp Cikadu itu tempat sekumpulan warga yang lari dari daerah lain ya, Kapten?" tanya Karta pelan.
"Betul sekali. Di sana ada rumah sakit lapangan dan dapur umum yang dikelola oleh relawan dan petugas perawatan. Di sana mereka belajar cara merawat luka, menyiapkan makanan yang bergizi, dan cara menjaga agar penyakit tidak menyebar di antara orang yang berdekatan," jelaskan Kapten.
"Astri dan Ningsih sudah menunjukkan keinginan dan hati tulus sejak awal. Mereka yang paling cocok untuk belajar dan membawa kembali ilmu itu ke sini. Peran mereka di belakang layar ini sama pentingnya dengan peran kita yang memegang senjata di depan."
Astri dan Ningsih yang sedari tadi berdiri di barisan belakang maju selangkah, wajah mereka tampak gugup namun penuh semangat.
"Kami siap, Kapten. Kami akan belajar sebaik mungkin dan membawa apa saja yang berguna untuk warga Rancagaok," ucap Astri dengan tegas, meski suaranya sedikit bergetar menahan rasa ingin tahu.
"Jangan takut, kalian tidak akan sendirian di sana. Aku akan menjaga keselamatan kalian, dan kalian akan bertemu banyak orang baik yang juga sedang berjuang dengan cara mereka sendiri," kata Kapten menenangkan.
"Ingat!...apa yang kalian pelajari di sana, itu akan menjadi kekuatan bagi kita semua. Kesehatan dan keselamatan warga adalah pondasi utama perjuangan ini."
Bayu menatap kedua gadis itu dengan pandangan yang penuh kepercayaan. "Jaga diri baik-baik ya. Belajarlah dengan tekun, karena di sini kami akan membutuhkan bantuan kalian."
"Kami janji akan membawa pulang ilmu yang bermanfaat," jawab Ningsih mantap.
Setelah tugas dan tujuan sudah disampaikan, Kapten segera membagi tugas yang harus dijalankan sementara ia pergi.
"Bayu, Karta, kalian berdua yang memimpin latihan di sini. Fokus pada penggunaan senjata yang sudah kita dapatkan, serta cara memasang jebakan yang lebih canggih. Jangan sampai ada yang lengah, karena musuh bisa datang kapan saja."
"Siap, Kapten. Kami akan pastikan semuanya berjalan teratur," jawab Bayu dan Karta serempak.
"Wadana Raksapati tetap akan masuk ke kota secara berkala untuk mengumpulkan informasi. Kita harus tahu setiap gerak-gerik mereka tanpa diketahui orang lain," tambah Kapten sambil menoleh ke arah Wadana yang berdiri tenang di sisi lain.
"Aku akan melakukannya sebaik mungkin, Kapten. Kebenaran sudah mulai terlihat, aku takkan membiarkan menyia-nyiakan kepercayaan ini," jawab Wadana yakin.
"Dan Mbah Kartareja, kalian tetap menjaga tempat ini sebagai tempat aman. Jangan biarkan siapa pun yang tidak dikenal mendekat, dan siapkan juga tempat persembunyian kedua untuk barang-barang penting," tutup Kapten.
Segera setelah semua tugas sudah disampaikan, mereka bersiap berangkat. Kapten, Astri, dan Ningsih menyelinap keluar dari hutan lebat, mengikuti jalan setapak yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Mereka bergerak dengan senyap, memanfaatkan semak dan bukit untuk menutupi jejak langkah.
Sepanjang perjalanan, Astri dan Ningsih melihat pemandangan yang berbeda dari yang biasa mereka lihat. Di sepanjang jalan, sesekali mereka bertemu kelompok pengungsi yang berjalan perlahan membawa barang-barang berharga, atau ibu-ibu yang menggendong anak kecil dengan wajah letih namun tetap berharap. Tidak banyak suara tertawa, namun tak ada juga suara tangis yang menyedihkan. Semua berjalan dengan satu tujuan: mencari tempat aman.
"Apakah di sana benar-benar aman, Kapten?" tanya Ningsih pelan sambil menatap sekeliling dengan hati-hati.
"Tempat aman itu bukan hanya tentang tembok atau pagar, Nak. Itu tentang orang-orang yang saling menjaga dan membantu satu sama lain. Di Cikadu, itulah yang mereka lakukan. Banyak orang yang kehilangan rumah, tapi mereka tidak kehilangan semangat untuk saling menolong," jawab Kapten lembut.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh melewati bukit dan sungai kecil, akhirnya mereka mulai melihat pemandangan yang berbeda. Di hadapan mereka terbentang hamparan tanah yang sudah dibersihkan, didirikan gubuk-gubuk sederhana yang teratur, dan ada asap tipis mengepul dari beberapa titik, menandakan ada yang sedang memasak. Di pinggir sungai yang jernih, banyak orang sedang mencuci dan merapikan diri.
"Inilah Cikadu," ucap Kapten sambil tersenyum.
"Tempat di mana banyak nyawa sedang diselamatkan, dan banyak harapan sedang ditanam."
Mereka masuk perlahan, dan segera disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana namun rapi, yang sedang mengatur tumpukan daun obat dan kain bersih.
Ia bernama Bu Marsinah, pemimpin kelompok perawat dan dapur umum di sana. Begitu mendengar bahwa mereka datang atas perintah Kapten Wirayuda, Bu Marsinah menyambut mereka dengan hangat.
"Kapten sudah memberitahu kami sebelumnya. Selamat datang, kalian berdua pasti Astri dan Ningsih ya," ucap Bu Marsinah ramah.
"Mari saya tunjukkan apa yang sudah kami siapkan dan apa yang akan kalian pelajari."
Pertama mereka diajak melihat area dapur umum yang sudah berjalan. Di sana, puluhan wanita sedang bekerja sama menyiapkan nasi dan sayur dari bahan makanan yang terkumpul dari sumbangan warga. Tidak ada yang berebut, tapi semua dibagi sama rata.
"Kita tidak bisa memberi berlebihan, tapi kita bisa memberi yang cukup untuk semua orang yang ada di sini," jelaskan Bu Marsinah sambil menunjukkan wadah-wadah tanah yang sudah diisi makanan.
"Ini bukan sekadar memasak untuk mengisi perut. Ini cara kita menjaga agar semangat mereka tetap menyala, karena perut yang kenyang akan memberi kekuatan untuk bertahan."
Astri dan Ningsih menyimak dengan saksama, mencatat setiap cara menyiapkan makanan agar awet, cara mengatur porsi agar cukup untuk waktu yang lama, dan bagaimana menjaga kebersihan agar tidak ada penyakit yang menyebar. Mereka merasa hati mereka semakin penuh, menyadari bahwa ada banyak cara untuk berjuang selain dengan senjata.
Setelah itu, mereka dibawa ke area perawatan yang diberi tanda kain putih dengan lambang merah sederhana—simbol tempat di mana setiap orang diterima tanpa memandang status. Di sana terdapat gubuk-gubuk kecil tempat orang yang terluka atau sakit dirawat.
"Ini yang paling penting," kata Bu Marsinah sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang diobati lukanya.
"Kita belajar mengenali tanaman obat dari hutan, cara membersihkan luka dengan benar, dan cara membalut agar tidak terinfeksi. Kita tidak punya banyak obat kimia, tapi alam sudah memberikan apa yang kita butuhkan selama kita tahu cara mengambilnya dengan bijak."
Ia memperlihatkan kepada mereka berbagai jenis daun, akar, dan kulit pohon yang sudah dikeringkan dengan baik.
"Ini daun sirih untuk membersihkan luka, ini akar kucing untuk mengurangi demam, dan ini getah gambir yang sama yang sudah kalian gunakan di Rancagaok, tapi di sini kami gunakan juga untuk menyembuhkan dan mencegah infeksi," jelas Bu Marsinah.
Astri dan Ningsih memegang dan mencium setiap tanaman itu dengan penuh perhatian. Mereka bertanya satu per satu, mencatat dalam hati dan mengerti bahwa pengetahuan ini sangat berharga dan bisa menyelamatkan banyak nyawa.
"Kalau kalian bisa menguasai ini, saat kalian kembali ke kampung kalian, kalian tidak hanya menjadi penjaga, tapi juga pelindung kesehatan bagi semua orang di sana," ucap Bu Marsinah tersenyum bangga.
Selama beberapa hari mereka tinggal di sana, waktu dihabiskan dengan belajar dan bekerja. Mereka membantu menyiapkan makanan, membersihkan area tempat tinggal, dan membantu merawat orang yang terluka. Mereka melihat bagaimana orang-orang dari berbagai daerah berkumpul, meninggalkan perbedaan asal usul, dan bersatu demi satu tujuan: tetap hidup dan menjaga tanah air.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk beristirahat sejenak setelah membantu membagikan makanan, Kapten Wirayuda mendekat. Wajahnya tampak puas melihat kedua gadis itu yang sudah mulai paham dan terampil.
"Bagaimana? Apakah kalian mendapatkan apa yang kalian cari?" tanyanya lembut.
"Sangat banyak, Kapten. Kami tidak menyangka ada begitu banyak hal yang bisa kami pelajari," jawab Ningsih dengan mata berbinar.
"Sekarang kami mengerti, bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang berani menyerang, tapi juga tentang berani merawat, berani berbagi, dan berani menjaga satu sama lain."
"Benar sekali. Hari ini kalian belajar di sini, tapi besok saat kalian kembali ke Rancagaok, kalian akan membawa kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar parang atau bambu runcing," kata Kapten.
"Waktunya sudah hampir tiba. Kita harus kembali ke tempat kalian, mereka sedang menunggu kabar dan kepulangan kalian."
Mereka pun bersiap kembali. Bu Marsinah menyerahkan sekantong berisi benih tanaman obat yang sudah dikeringkan, serta catatan sederhana tentang cara menyiapkan ramuan dan merawat luka.
"Simpanlah ini dengan baik. Gunakan untuk kebaikan, dan ingat: di mana pun kalian berada, kalian adalah bagian dari keluarga besar yang sedang berjuang," pesannya.
Perjalanan pulang terasa ringan. Astri dan Ningsih berjalan di belakang Kapten, membayangkan hari di mana mereka akan bisa menggunakan apa yang baru saja mereka pelajari. Bukan lagi hanya membantu menyiapkan perban sederhana, tapi mereka akan bisa merawat yang terluka, menyiapkan makanan yang bergizi, dan menjadi kekuatan baru bagi Rancagaok.
Saat kabut mulai turun kembali menyelimuti lembah tempat mereka tinggal, mereka melihat Bayu dan Karta yang sudah menunggu di batas hutan. Wajah kedua pemuda itu tampak lega melihat kedatangan mereka selamat dan membawa harapan baru.
"Selamat kembali. Bagaimana di sana?" tanya Bayu segera.
"Jauh lebih besar dari yang kami bayangkan, Yu. Dan kami belajar banyak hal yang akan sangat berguna untuk kita semua nanti," jawab Astri sambil tersenyum penuh arti.
Malam itu, di tempat persembunyian, selain rencana perjuangan yang terus disusun, kini juga tertanam satu hal baru: persiapan untuk menjaga nyawa dan kesehatan warga, yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan Rancagaok Tak Kan Luntur.