Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
~Halo! Saat ini novel ini masih dalam tahap merintis, jadi cover sementara dibuat menggunakan bantuan AI. Jika novel ini berkembang baik, penulis berkomitmen untuk menggantinya dengan karya ilustrator manusia asli. Terima kasih atas dukungannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Selyne
Pertanyaan Ilsa masih menggantung di udara ketika Arden akhirnya duduk kembali, kakinya terasa lebih berat dari biasa saat menekuk lutut ke kursi. Sesak di dadanya sudah mereda, tapi sesuatu yang lain menggantikannya, sesuatu yang sudah lama ia tahan di balik kalimat-kalimat pendek dan alasan seadanya.
Ruangan itu sunyi, semua mata tertuju padanya, menunggu. Lentera di atas meja masih berkedip pelan, bayangan-bayangan kecil bergerak di wajah setiap orang yang berdiri mengelilingi meja panjang itu.
Ilsa berdiri paling dekat dengannya, lengan bersedekap seperti biasa, tapi matanya jauh lebih lembut dari nada tajam yang baru saja ia gunakan untuk menghentikan pertengkaran.
"Tiga belas tahun lalu," Arden memulai, suaranya rendah, "kami baru delapan orang. Aku, Corym, Ilsa, Halden, dan beberapa lainnya yang sudah tidak bersama kami lagi. Dan Selyne Voss."
Corym menegakkan tubuhnya mendengar nama itu, wajahnya berubah pucat, rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang belum siap ia rasakan lagi.
"Selyne salah satu pendiri kelompok ini," lanjut Arden. "Lebih dari itu. Ia yang mengajariku memegang pedang dengan benar, yang meyakinkanku aku bisa jadi lebih dari sekadar anak yatim piatu dari distrik miskin Aldenmere. Ia sosok kakak yang tidak pernah kupunya."
Petra menahan napas, tidak menyangka cerita ini akan dimulai sejauh itu, dari akar yang begitu personal.
Ilena duduk diam, tangannya berhenti menggenggam liontinnya sendiri, seluruh perhatiannya kini tertuju pada Arden.
"Selyne yakin ia menemukan petunjuk nyata soal Menara Pertama," kata Arden, matanya menatap kosong ke arah meja. "Bukan mitos akademis seperti yang selalu diyakini orang lain. Petunjuk nyata, katanya, dari catatan tua yang ia temukan lewat kenalannya. Ia yakin bisa mencapai ambangnya, bukan masuk, hanya sampai di ambangnya, cukup untuk membuktikan keberadaannya pada Dewan Petualang."
"Kenapa itu penting baginya?" tanya Petra, suaranya kini jauh lebih pelan dari sebelumnya.
"Karena ia ingin lebih," jawab Arden. "Ia tidak puas jadi petualang biasa yang mengurus kontrak kecil. Ia ingin namanya diingat karena sesuatu yang benar-benar berarti, bukan sekadar nama lain di antara ratusan petualang kecil kota ini. Aku waktu itu masih dua puluh tahun, dan aku memujanya seperti pahlawan. Ketika ia mengumpulkan tim kecil untuk ekspedisi tak resmi, aku ingin ikut."
Ia berhenti sebentar, tangannya meraih liontin di balik kerah baju, menggenggamnya erat tanpa membukanya, ibu jarinya bergerak di atas permukaannya yang sudah nyaris licin.
"Aku memohon padanya untuk membawaku serta. Ia menolak berkali-kali, bilang aku belum siap, bilang jalur menuju ambang Menara Pertama terlalu berbahaya untuk pemula sepertiku. Tapi aku terus memaksa, merengek seperti anak kecil yang tidak diajak bermain, sampai akhirnya ia menyerah."
Halden, yang berdiri diam di dekat perapian sejak awal cerita dimulai, menutup matanya sesaat, seolah mengingat kembali sesuatu yang sama dari sudut pandangnya sendiri, tangannya mengepal longgar di sisi tubuh.
"Kami berangkat berlima," lanjut Arden. "Selyne, aku, dan tiga anggota lain, termasuk salah satu pendiri kelompok yang sudah bersama Selyne sejak awal. Perjalanan menuju ambang Menara Pertama tidak seperti Menara mana pun yang pernah kami masuki. Medannya salah, waktu terasa bergerak aneh, dan di titik tertentu, aku mulai ketakutan."
Suaranya mulai bergetar, tapi ia memaksa dirinya melanjutkan.
"Aku memohon padanya untuk kembali. Aku bilang aku takut, bahwa ini terasa salah, bahwa kita seharusnya tidak melangkah lebih jauh." Arden menutup mata sesaat, seolah kembali berdiri di tempat itu, merasakan udara asing yang menekan dari segala arah. "Selyne bilang kami sudah terlalu dekat untuk berhenti sekarang. Kami bertengkar, tepat di ambang sesuatu yang bahkan sekarang aku tidak bisa jelaskan dengan kata-kata."
"Seperti apa rasanya di sana?" tanya Brann pelan, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya meski sadar ini bukan saat yang tepat, suaranya lebih hati-hati dari biasanya.
Arden menatapnya sesaat, tidak marah, hanya lelah. "Seperti berdiri di ambang mimpi buruk orang lain. Udara terasa lebih tebal dari seharusnya. Suara-suara kami sendiri terdengar terlambat, seolah butuh waktu lebih lama untuk sampai ke telinga. Aku tidak pernah merasakan hal serupa lagi sejak itu, dan aku bersyukur untuk itu."
Arden menatap tangannya sendiri, seolah masih bisa melihat sisa-sisa momen itu terukir di kulitnya.
"Aku memutuskan mundur sendirian. Aku pengecut waktu itu, aku tahu itu. Aku meninggalkan mereka dan berlari kembali ke titik aman terdekat. Ketika aku menunggu, berharap mereka menyusul, tidak ada yang datang. Aku menunggu berjam-jam." Suara Arden mulai retak di kata-kata terakhir, tapi ia menahan diri, memaksa dirinya melanjutkan sebelum air matanya sempat jatuh. "Akhirnya aku kembali mencari, tapi jalur yang tadi kami lalui sudah berubah, seolah medan itu sendiri menutup dirinya."
"Kau mencari mereka?" tanya Ilena pelan, suaranya sendiri sudah mulai bergetar mendengar cerita ini, meski masalahnya sendiri sekarang begitu mirip dengan yang dulu dialami Arden.
"Tiga hari," jawab Arden. "Aku mencari selama tiga hari, sampai persediaanku habis dan aku nyaris mati kelaparan sebelum akhirnya dipaksa kembali oleh anggota lain yang menyusul mencariku. Selyne dan satu anggota lain tidak pernah ditemukan. Tidak ada jasad. Tidak ada bekas. Seolah medan itu menelan mereka bulat-bulat."
Ilsa menunduk, matanya berkaca-kaca meski ia berusaha keras menyembunyikannya di balik lengan yang masih bersedekap. Ia sudah mendengar sebagian cerita ini bertahun-tahun lalu, tapi tidak pernah selengkap ini, tidak pernah dengan detail yang membuatnya terasa begitu nyata, begitu dekat dengan situasi yang mereka hadapi malam ini.
Ruangan itu hening total, hanya suara napas berat yang mengisi jeda panjang, dan derak kayu perapian yang mulai kehabisan bahan bakar.
"Sejak itu," lanjut Arden, suaranya nyaris berbisik, "aku bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan ambisi mendorong siapa pun ke tempat yang tidak bisa mereka kembali. Prinsipku, cukup dan hidup, bukan filosofi yang kupikirkan matang-matang. Itu satu-satunya cara aku bisa terus bangun setiap pagi tanpa dihantui bahwa akulah yang seharusnya tidak pulang, bukan mereka."
Petra menatap lantai, wajahnya pucat, air mata yang tadi muncul karena marah kini berubah jadi sesuatu yang jauh lebih berat, jauh lebih memalukan bagi dirinya sendiri.
"Aku menyebutmu pengecut," katanya, suaranya kecil, hampir tidak terdengar. "Aku menyebutmu terlalu takut mengambil risiko."
"Kau tidak salah sepenuhnya," jawab Arden, mencoba tersenyum meski tidak berhasil sempurna, sudut bibirnya gemetar sedikit di tengah usahanya. "Aku memang takut. Aku selalu takut."
"Tapi kau bertahan," kata Petra, mendongak menatapnya, matanya penuh sesal. "Kau membangun ini semua. Kau menjaga kami semua selama tujuh tahun, meski membawa beban seperti itu setiap hari. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, aku cuma melihat permukaannya saja."
"Kau tidak seharusnya berpikir sejauh itu," jawab Arden. "Aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun secara utuh, bahkan pada Corym sekalipun. Kesalahan itu ada padaku, bukan padamu karena tidak tahu apa yang tidak pernah kubagikan."
Corym mendekat, berlutut di samping kursi Arden, tangannya diletakkan di bahu sahabatnya, matanya sendiri berkaca-kaca meski ia menahannya keras-keras. "Kenapa kau tidak pernah bilang? Tujuh tahun, Arden. Kita membangun ini bersama, dan aku tidak pernah tahu separuh dari apa yang kau tanggung sendirian."
"Karena mengatakannya keras-keras membuatnya terasa nyata," jawab Arden. "Dan aku sudah menghabiskan tiga belas tahun mencoba membuatnya tidak nyata."
Corym menggenggam bahu Arden lebih erat, tidak berkata apa-apa lagi, hanya membiarkan sentuhan itu bicara lebih banyak dari kata-kata yang bisa ia susun saat ini, tujuh tahun persahabatan mereka terasa lebih dalam dari sebelumnya dalam keheningan itu.
Yuna, dari sudut ruangan, mengusap matanya sendiri diam-diam, terharu oleh kejujuran yang baru saja mereka saksikan, doa kecil bergumam pelan di bibirnya tanpa ia sadari. Doran duduk diam memeluk Ashe lebih erat, familiarnya mendengus pelan seolah ikut merasakan berat suasana di ruangan itu. Tomas menunduk, matanya menatap lantai kayu, tidak yakin bagaimana harus menempatkan diri di tengah momen sepribadi ini.
Pintu markas terbanting terbuka dengan keras, mengejutkan semua orang di ruangan.
Ness berlari masuk, napasnya tersengal hebat, wajahnya putih pucat, sepucuk surat kumal tergenggam erat di tangannya, rambut abu-abunya berantakan seolah ia berlari sejauh mungkin secepat mungkin, jubah cokelatnya pun masih setengah terlepas dari bahunya.
"Ini," katanya, suaranya nyaris tidak bisa keluar. "Seseorang menyelipkannya di bawah pintu depan. Aku baru memeriksa gerbang sekali lagi sebelum tidur, dan aku menemukannya tergeletak begitu saja di sana."
Arden berdiri cepat, kursi di belakangnya terdorong menjauh, mengambil surat itu dari tangan Ness yang gemetar. Tulisannya kasar, tinta merah tua yang terlihat mengerikan di bawah cahaya lentera, seperti ditulis terburu-buru atau sengaja dibuat mengintimidasi, setiap goresan hurufnya seolah membawa ancaman tersendiri.
Ilena maju cepat, berdiri di samping Arden, matanya membaca surat itu bersamaan dengannya, tubuhnya menegang setiap kata yang terlewati, tangannya mencengkeram lengan Arden tanpa sadar untuk menahan keseimbangannya sendiri.
Wick ada bersama kami. Ia masih hidup, untuk sekarang. Jika kalian ingin ia tetap begitu, kirim Arden Voss seorang diri ke Sanktuari Ashgrave sebelum fajar. Tanpa senjata. Tanpa pengikut. Ordo Menara Sunyi menunggu.
Ruangan itu membeku, dan untuk kedua kalinya malam itu, Arden merasakan sesuatu yang dingin dan berat menetap di dadanya, jauh lebih berat dari sebelumnya, jauh berbeda dari sesak yang ia rasakan sebelumnya saat bertengkar dengan Petra dan Corym, sebuah beban baru yang menuntut jawaban segera.
Ilena mengangkat wajahnya dari surat itu, menatap Arden dengan mata yang penuh ketakutan sekaligus permohonan yang tidak perlu diucapkan, bibirnya bergerak tanpa suara seolah mencoba mengatakan sesuatu yang tidak sanggup keluar.
Petra sudah berdiri, tangannya kembali mencengkeram gagang pedang, tapi kali ini bukan karena kemarahan, melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam, ketakutan murni bagi seseorang yang mereka semua sayangi, wajahnya sekarang jauh lebih pucat dari sebelumnya.