Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30
“Adrian...” panggil Rani pelan setelah pelukan mereka terlepas. Suaranya bergetar, sementara wajahnya masih basah oleh air mata. Tangannya tetap menggenggam tangan Adrian erat, seolah takut jika ia melepaskannya, pria itu akan kembali menghilang dari hidupnya.
Adrian menatap Rani dalam-dalam. Senyum tipis terukir di bibirnya, meskipun wajahnya terlihat jauh lebih pucat dibandingkan sebelumnya. Ada kelegaan yang begitu besar di matanya setelah sekian lama menunggu Rani mengingatnya kembali.
“Aku senang kamu akhirnya mengingatku,” ucap Adrian lirih.
Tatapannya tidak pernah beralih dari wajah Rani. Namun, di balik senyum yang dipaksakan itu, napas Adrian mulai terdengar berat. Dadanya naik turun lebih cepat, sementara tubuhnya perlahan kehilangan kekuatan.
Rani yang menyadari perubahan itu langsung mengerutkan kening.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya cemas.
Tatapan Rani menyapu wajah Adrian. Ia melihat bibir pria itu mulai kehilangan warna dan keringat dingin muncul di pelipisnya.
Adrian mengangguk pelan.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya.
Ia mencoba tersenyum kembali, seolah ingin meyakinkan Rani bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, senyum itu justru membuat Rani semakin curiga.
“Jangan berbohong kepadaku,” ujar Rani lirih.
Alis Rani berkerut. Setelah kehilangan ingatannya begitu lama, ia baru saja menemukan kembali seseorang yang selama ini begitu berarti dalam hidupnya. Ia tidak ingin kebahagiaan itu kembali berubah menjadi ketakutan.
Adrian hendak menjawab, tetapi tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Ia berkedip beberapa kali. Tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Rani perlahan kehilangan kekuatan.
“Adrian?” panggil Rani.
Rani menatap tangan mereka. Genggaman Adrian semakin melemah.
Adrian tidak menjawab.
“Adrian?” panggil Rani sekali lagi dengan suara lebih keras.
Tubuh Adrian tiba-tiba oleng.
“Adrian!”
Rani dengan cepat menangkap tubuh pria itu sebelum kepalanya membentur lantai. Tubuh Adrian terasa begitu berat di pelukannya.
Wajah Rani seketika pucat.
“Adrian! Bangun!”
Rani menopang kepala Adrian dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menepuk pipinya perlahan. Air matanya kembali mengalir deras.
“Jangan bercanda seperti ini! Tolong buka matamu!”
Tidak ada jawaban.
Kelopak mata Adrian tetap tertutup. Tubuhnya tidak bergerak, hanya napas tipis yang masih terdengar.
“Adrian!” Suara teriakan Rani terdengar hingga ke luar ruangan.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki berlari terdengar mendekat.
Pintu ruangan terbuka dengan cepat. Nathan dan Leonard langsung masuk. Keduanya terkejut melihat Rani sedang menopang tubuh Adrian yang tidak sadarkan diri.
“Ada apa, Bu Rani?” tanya Nathan panik.
Wajah Nathan langsung berubah tegang. Ia segera berjongkok di samping Rani dan melihat kondisi Adrian.
“Dia pingsan!” jawab Rani terbata-bata. Tangannya gemetar ketika menunjuk wajah Adrian. “Tolong... bawa Tuan Adrian ke rumah sakit sekarang!”
Nathan langsung menoleh kepada Leonard. Tidak ada waktu untuk bertanya lebih jauh.
Leonard segera memeriksa denyut nadi Adrian. Wajahnya yang biasanya tenang berubah serius.
“Bu Rani, tenanglah,” ujar Leonard tegas.
Leonard menempelkan dua jarinya pada pergelangan tangan Adrian dan memperhatikan napasnya. Meski terlihat berusaha tetap tenang, sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
“Dia masih bernapas,” lanjut Leonard.
Rani menatap Leonard dengan mata berkaca-kaca.
“Dia kenapa?”
Suara Rani hampir tidak terdengar. Ia menggenggam tangan Adrian semakin erat, seolah genggaman itu bisa membuat pria tersebut tetap bertahan.
Leonard menarik napas pendek.
“Saya belum tahu penyebabnya, Bu Rani. Tapi kondisi Tuan Adrian tidak boleh dibiarkan.”
Ucapan Leonard membuat jantung Rani semakin berdebar.
Nathan segera berdiri.
“Saya siapkan mobil,” katanya cepat.
Nathan langsung berbalik menuju pintu. Langkahnya tergesa-gesa, menunjukkan bahwa ia benar-benar khawatir terhadap kondisi atasannya.
“Leonard, bantu saya mengangkat Tuan Adrian.” ucap Nathan cepat.
“Baik.” jawab Leonard singkat.
Leonard segera membantu Nathan. Mereka mengangkat tubuh Adrian dengan hati-hati.
Rani ikut berdiri. Air mata masih membasahi wajahnya.
“Saya ikut!”
Rani hendak berjalan mendekat, tetapi kakinya sempat goyah karena terlalu panik.
Nathan menoleh kepadanya.
“Tentu, Bu Rani. Jangan jauh-jauh dari Tuan Adrian.”
Nathan berbicara dengan nada tegas, tetapi tatapannya sedikit melunak ketika melihat wajah Rani yang begitu ketakutan.
Rani mengangguk cepat.
“Saya tidak akan meninggalkannya.”
Suara Rani bergetar, tetapi ada tekad kuat di dalamnya.
Mereka segera membawa Adrian keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian, mobil melaju kencang membelah jalan menuju rumah sakit.
Nathan berada di balik kemudi. Kedua tangannya mencengkeram setir erat, sementara matanya terus memperhatikan jalan di depan.
Leonard duduk di kursi penumpang.
Di kursi belakang, Rani memangku kepala Adrian. Satu tangannya terus menggenggam tangan pria itu, sedangkan tangan lainnya mengusap rambut Adrian perlahan.
“Adrian...” bisik Rani.
Suaranya begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh suara mesin mobil.
Tidak ada jawaban.
Rani menunduk. Air mata kembali jatuh dari sudut matanya dan membasahi pipi Adrian.
“Kamu tadi bilang tidak akan melepaskanku,” ucap Rani dengan suara bergetar. Dadanya terasa sesak.“Jadi, jangan pergi sekarang.”
Jari-jari Rani mengerat di tangan Adrian.
“Aku baru saja mengingat semuanya.” Ia menelan tangis yang semakin sulit ditahan. “Aku baru saja menemukanmu kembali setelah sekian lama.”
Rani mengusap pipi Adrian dengan tangan yang gemetar.
“Aku tidak mau kehilanganmu lagi.” lanjutnya lirih.
Tangis Rani pecah.
Nathan yang mendengar ucapan itu dari depan hanya bisa terdiam. Tatapannya sesekali mengarah ke kaca spion untuk memastikan kondisi Tuan Adrian.
“Bu Rani, tenanglah,” ujar Nathan akhirnya.
Nada suaranya dibuat setenang mungkin, meskipun kecemasan juga terlihat jelas di wajahnya.
“Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit.”
Rani menggeleng sambil menangis.
“Aku takut, Nathan.” Ia menunduk menatap wajah Adrian.“Aku sudah kehilangan dia sekali. Aku tidak sanggup kehilangan dia untuk kedua kalinya.”
Suara Rani semakin pelan. Air matanya jatuh satu per satu tanpa bisa dihentikan.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia memahami bahwa tidak ada kata-kata sederhana yang mampu menghilangkan ketakutan Rani saat ini.
Leonard akhirnya berbicara.
“Tuan Adrian kuat, Bu Rani.” Leonard menoleh sebentar ke arah kursi belakang. Tatapannya tertuju pada Adrian yang masih tidak sadarkan diri. “Beliau sudah melewati banyak hal. Saya yakin Tuan Adrian tidak akan menyerah semudah itu.”
Ucapan Leonard sedikit membuat Rani terdiam.
Ia mengusap rambut Adrian dengan lembut.
“Dia memang selalu seperti itu sejak kecil?”
Rani menatap Leonard dengan mata sembap. Di tengah kecemasannya, muncul rasa penasaran tentang kehidupan Adrian yang selama ini tidak ia ketahui.
Leonard terdiam beberapa saat.
Ia saling bertukar pandang dengan Nathan melalui kaca spion.
“Sejak kecil, Tuan Adrian memang bukan orang yang mudah menyerah,” jawab Leonard akhirnya.
Nada suaranya terdengar lebih lembut.
“Beliau terbiasa menghadapi semuanya sendiri.”
Rani terdiam. Tangannya berhenti mengusap rambut Adrian untuk sesaat.
“Sendiri...?”
Satu kata itu membuat hati Rani terasa semakin sakit.
Leonard mengangguk pelan.
“Ya. Bahkan ketika sedang terluka, Tuan Adrian selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang lain.”
Rani menatap wajah Adrian lama. Kini ia mengerti mengapa pria itu tadi terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal tubuhnya sudah menunjukkan sebaliknya.
Rani menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
“Kenapa dia selalu seperti itu?” tanyanya lirih.
Leonard menghela napas panjang.
“Karena Tuan Adrian tidak ingin orang-orang yang dia sayangi ikut merasa khawatir.”
Rani menunduk. Air matanya kembali jatuh.
“Bodoh...” gumamnya pelan. Jemarinya menggenggam tangan Adrian semakin erat.
“Kalau kamu sakit, katakan padaku.” Rani menatap wajah Adrian dengan penuh kesedihan.“Jangan selalu berpura-pura kuat di depanku.”
Mobil terus melaju. Dari kejauhan, gedung rumah sakit mulai terlihat. Nathan segera mempercepat laju mobil setelah memastikan kondisi jalan aman.
“Tuan Adrian, bertahanlah,” gumam Nathan dalam hati.
Sementara itu, Rani terus memeluk kepala Adrian di pangkuannya. Untuk pertama kalinya setelah ingatannya kembali, ia menyadari satu hal yang paling ia takuti.
Ia tidak takut kehilangan ingatannya lagi. Ia takut kehilangan Adrian.