Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Observasi
"Ega!"
Angga mengangkat tangannya.
Remaja bertubuh pendek itu berlari kecil menghampiri mereka. Napasnya sedikit memburu, seolah memang datang dengan tergesa-gesa.
Setelah sampai dihadapan Angga dan Yuna, napasnya sampai terdengar ngos-ngosan saking bersemangatnya.
"Jangan terlalu terburu-buru," ujar Yuna dengan alis mengernyit.
"Halo, Yun."
Ega membalas singkat.
Tanpa banyak basa-basi, ia langsung mengangkat ponselnya.
"Langsung fotoin gue sekarang, Ga."
Angga berkedip.
"Hah? Sekarang?"
"Iya cepet. Ntar gue ditinggal."
Sambil berbicara, Ega sudah berjalan menuju lukisan pertama yang dipajang tepat di dekat pintu masuk galeri.
Lukisan itu cukup besar. Didominasi sapuan warna biru tua dan jingga, dengan siluet pepohonan yang memanjang seperti bayangan senja.
Belum sempat Angga mengaguminya...
"Disini aja dah."
Ega berdiri di samping lukisan dengan tangan bersedekap.
Pose normal. Terlalu biasa saja bagi kebiasaan cowok.
Angga sampai tertawa kecil.
"Gercep banget lu."
"Cepetan woi! Keburu ditelpon nyokap."
Angga akhirnya mengangkat ponsel Ega.
"Oke, oke."
Angga memfokuskan layar.
"Senyum."
Ega langsung memasang ekspresi paling serius.
"Malah cemberut, Kocak. Sok keren banget," ujar Angga tanpa mengalihkan fokusnya pada layar.
"Biarin ah."
Meskipun begitu, sudut bibir Ega langsung dipaksa naik. Namun hasilnya justru lebih aneh.
Yuna yang sedari tadi memperhatikan tanpa suara akhirnya berkomentar datar.
"Eee... memangnya mau dipajang dengan ekspresi seperti itu, Ega?" tegurnya sembari bersedekap. Ekspresinya bahkan nampak seperti seorang penata foto profesional.
Ega spontan merubah posenya cepat-cepat.
"Serius?"
Yuna mengangguk mantab.
"Senyummu bahkan sedang terlihat menahan sesuatu."
Angga tak kuasa menahan tawanya.
"Pftt hahaha! Makanya ayo ganti!"
Ega mendesah panjang, sembari merubah posenya lagi.
"Yaudah. Gini aja."
Ia kembali berdiri santai. Satu tangan masuk ke saki celana. Tubuh sedikit miring dengan satu kaki berpose seperti berjalan. Dan mali ini benar-benar membiarkan ekspresinya apa adanya.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
"Oke."
"Sip!"
Angga menyerahkan kembali ponselnya. Ega langsung mengecek hasil fotonya satu per satu.
"Cakep juga gue," gumamnya sembari mengangguk puas.
Angga dan Yuna yang berdiri di depannya hanya bisa saling pandang. Lalu meringis bersamaan melihat tingkah sok kepedean itu.
"Oke deh. Gue mau cabut dulu."
Ucapnya sembari bersalaman khas gaya panco kepada Angga. Kemudian salaman biasa kepada Yuna dengan genggaman tangan yang lebih lembut padanya.
"Sorry ya, Guys. Beneran gak bisa lama ini gue."
"Jadi..."
Ia menoleh bergantian kepada Angga dan Yuna.
"Observasinya titip ke kalian ya. Nanti semua foto kirim ke grup. Hasil catatan juga jangan lupa."
Angga hanya tersenyum maklum.
"Nanti kalo perlu presentasi atau nge-print dan semuanya, biar gue beresin."
"Iya, iya. Semoga lancar ya, Ga," ucap Angga sembari menepuk bahunya pelan.
"Yoi. Lu berdua juga."
Ega berbalik. Lalu berlari kecil menuju pintu keluar.
Beberapa detik kemudian, sosoknya menghilang di balik keramaian halaman galeri. Suasana mendadak terasa jauh lebih tenang.
Kini...
Di tengah luasnya galeri seni yang dipenuhi lukisan dan para pengunjung...
Hanya tersisa dua anggota kelompok yang benar-benar melakukan observasi.
Angga pun tersenyum hangat kepada Yuna.
"Yuk! Lanjut."
Angga memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ntar kalo ketemu yang bagus, baru catet bareng-bareng."
Yuna mengangguk.
Mereka pun melangkah memasuki ruang pamer utama.
.....
Suasana di sini jauh lebih hening dibandingkan lobi depan.
Sesekali hanya terdengar suara langkah kaki para pengunjung yang bergema pelan di atas lantai granit. Beberapa orang berdiri cukup lama di depan sebuah lukisan, sedangkan yang lain sibuk mencatat pada buku observasi masing-masing.
Dinding-dinding putih membentang panjang.
Di setiap sisi, puluhan lukisan dipasang dengan pencahayaan yang berbeda-beda. Ada yang diterangi lampu hangat sehingga warna kanvas tampak lebih hidup. Ada pula yang menggunakan sorot putih agar setiap sapuan kuas terlihat jelas.
Yuna berhenti pada lukisan pertama yang menampilkan sesosok wajah terpejam dengan beberapa bidang bangun datar yang nampak menembus wajahnya. Yang tiap warna bangun datar itu—segitiga, persegi, bahkan heksagonal—nampak bervariasi warna.
Matanya bergerak perlahan.
Dari sudut kiri atas.
Turun ke bagian tengah.
Lalu berakhir pada tanda tangan kecil sang pelukis di sudut bawah.
"Hm..."
Angga ikut berdiri di sampingnya.
"Mau observasi yang ini?"
"Tunggu..."
Yuna menggeleng.
"Ini... cukup aneh untuk diteliti."
Angga ikut memperhatikan.
"Iya juga...."
"Terkesan absurd untuk dijabarkan."
Yuna kembali melangkah. Kini mereka melewati beberapa patung yang beraneka rupa.
Ada sosok penari yang mengangkat kedua lengannya dengan rok yang seolah tertiup angin dengan bahan batu andesit.
Ada patung petani berbahan jerami yang dianyam dengan wajah bolong ditengah.
Ada pula patung lilin berwujud kepala manusia yang menutup pelipis, dengan ekspresi berteriak histeris meski dia tak memiliki telinga.
Yuna mengitari salah satunya perlahan. Sampai benar-benar mengelilinginya satu putaran penuh.
"Kenapa..."
Ia hampir bergidik ngeri melihat semuanya.
"Bentuknya seperti ini?"
Angga yang memperhatikan dari belakang kemudian bertanya dengan suara lirih.
"Kurang nyaman ya disini?"
Yuna menggeleng pelan.
"Tidak. Cuma..."
Angga sedikit mendekat. Turut ikut memperhatikan rupa patung lilin itu.
"Rupa tiap patung terlalu membingungkan. Dan sepertinya, bahan dasar pun akan ikut berpengaruh hingga membuat data yang harus ditulis berpotensi tak terhingga."
Belum sempat Angga menyela, Yuna nampak berjalan lebih dulu ke depan. Meninggalkan dirinya yang baru saja membuka mulut, terpaksa mengurungkan pernyataannya terhadap patung-patung yang baru saja Yuna lewati.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Karena dalam hati ia mulai menyadari satu hal bahwa Yuna benar-benar menikmati tempat ini. Bukan sekadar datang demi tugas sekolah.
....
Mereka kembali berjalan memasuki ruang yang menampilkan seni modern.
Di kanan-kiri, sebuah instalasi memenuhi hampir seluruh sudut ruangan.
Puluhan lempengan logam tipis digantung menggunakan kawat transparan. Saat terkena hembusan pendingin ruangan, lempengan-lempengan itu bergerak perlahan hingga memantulkan cahaya ke segala arah.
Beberapa pengunjung terlihat kebingungan.
"Ini maksudnya apa?"
"Katanya seni."
"Tapi kok cuma besi digantung?"
Bisik-bisik itu terdengar samar.
Sedangkan Yuna justru memiringkan kepalanya.
"Refleksi cahaya?" gumamnya tertegun. Seolah baru menyadari dimana letak seninya.
"Sang seniman mencoba memanfaatkan pantulan cahaya yang merambat lurus sebagai bagian dari karya ini."
Ia melangkah sedikit ke samping.
Kilauan logam mendadak berubah. Juga bayangan di lantai ikut bergeser.
"Jadi..."
"...pengunjung sebenarnya ikut menjadi bagian dari komposisi?"
Angga ikut mencoba berpindah posisi.
Dan benar saja.
Pantulan cahaya berubah mengikuti keberadaan mereka.
"Wahh keren!"
Yuna mengangguk kecil.
"Sungguh menarik."
Mereka melanjutkan langkah.
Di ujung ruangan, lorong pendek menghubungkan ruang pamer dengan aula berikutnya.
Pilar-pilar tinggi berdiri berjajar di kedua sisi. Warnanya putih gading. Bagian kepalanya dipenuhi ukiran daun yang melingkar.
Yuna tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sorot matanya naik perlahan mengikuti tinggi pilar.
"Seperti gaya ionic..." gumamnya hampir tak terdengar.
"Lalu proporsi lorongnya dibuat simetris."
Ia berjalan sembari memutar tubuhnya untuk memperhatikan langit-langit. Bibirnya sampai membulat tanpa sadar.
"Dengan lengkungan seperti ini..."
"...gema suara akan terdengar lebih lembut."
Angga ikut mendongak.
"Kamu tahu soal arsitektur juga?"
Yuna terdiam. Baru sekarang ia sadar bahwa sejak beberapa menit lalu, mulutnya terus berbicara.
Tentang cahaya.
Tentang bentuk.
Tentang ruang.
Bahkan tentang arsitektur.
Ia pun segera mengatupkan bibir.
Terlalu banyak.
Seharusnya ia tidak perlu menjelaskan semuanya.
"H-hanya sedikit teringat akan penjelasan dari Pak Mustofa guru sejarah."
Ia pun melanjutkan langkahnya kembali.
Namun ketika beberapa langkah saja ia berjalan, pandangannya kembali terhenti akan ukiran diatas salah satu pilar. Hasrat untuk tak ingin tahu lagi-lagi mengalahkan pikirannya.
Ia berdiri diam tanpa berkomentar. Bibirnya yang terkatup rapat nampak bergetar seolah sedang menahan sesuatu.
Angga yang baru saja datang dibelakangnya, ikut memperhatikan ukiran itu beberapa saat. Lalu tersenyum kecil.
"Aneh ya."
Yuna hanya melirik.
"Sejauh kita berjalan, aku baru sadar kalau ternyata banyak detail yang menarik."
Yuna tidak langsung menjawab. Tatapannya terus mengarah ke ukiran pilar itu.
Di matanya...
Galeri itu bukan sekadar tempat memajang lukisan. Melainkan kumpulan gagasan yang dibangun dari warna, bentuk, cahaya, hingga ruang itu sendiri.
Ia menggigit bibir bawahnya.
Karena selain perpustakaan yang penuh buku dan informasi, galeri seni pun turut menyajikan hal yang serupa.
Meski tanpa harus membuka halaman demi halaman untuk mengetahui tiap penjelasannya.
sebelumnya lebar lapangan