NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu

Hari berganti malam, namun kedamaian belum sepenuhnya kembali. Arya duduk di ruang kerjanya, menatap peta kawasan Semarang yang dipenuhi tanda merah penanda wilayah musuh. Cerita yang ia sampaikan pada Nayara tadi seolah membuka kembali luka yang sudah lama ia jahat rapat, namun di saat yang sama terasa melegakan—akhirnya ada seseorang yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya, bukan sekadar bayangan mengerikan yang diciptakan orang lain.

Belum lama ia merenung, pintu ruang kerja terbuka pelan. Bima masuk dengan wajah serius namun bingung. "Tuan... ada seseorang yang ingin bertemu. Dia bilang dia kenal mendiang Ibu dan Ayah Tuan. Dia datang sendirian, tanpa senjata, dan meminta agar hanya Tuan yang menemui dia."

Arya mengernyit. Hampir tak ada orang yang masih hidup yang mengenal keluarganya secara dekat selain kerabat jauh yang sudah ia hubungi sebentar. "Bawa dia ke ruang tamu utama. Jangan tinggalkan dia sedetik pun."

Tak lama kemudian, Arya melangkah masuk ke ruangan itu. Di sana berdiri seorang pria tua berambut putih perak, namun tatapan matanya masih tajam dan penuh kebijaksanaan. Saat melihat Arya, mata pria itu berkaca-kaca.

"Kau benar-benar mirip dengan ayahmu," suaranya parau namun lembut. "Wajah tegasnya, tatapan matanya... tak ada yang berubah."

"Siapa Anda?" tanya Arya waspada, tak melonggarkan kewaspadaannya sedikit pun.

"Nama saya Wijaya. Saya adalah rekan bisnis pertama ayahmu. Saya yang bekerja bersamanya saat ia baru memulai semuanya dari gudang kecil di pinggir kota," pria itu menunduk, menyeka air mata yang jatuh. "Saya menghilang setelah kejadian mengerikan itu. Saya takut, saya lemah. Saya pikir jika saya ikut campur, keluarga saya juga akan habis. Tapi hari ini... saya mendengar kabar bahwa kelompok yang membunuh keluargamu kembali bergerak mencoba menyerangmu. Dan saya tak bisa lagi diam."

Arya diam terpaku. Ingatan samar muncul—ayahnya sering menyebut nama Wijaya dengan penuh hormat, sebagai sahabat yang paling setia. "Kenapa baru sekarang Anda datang? Tujuh tahun sudah berlalu..."

"Saya tahu saya pengecut, Arya. Saya tahu saya tak pantas meminta maaf," Wijaya mengeluarkan sebuah amplop lusuh dari saku jaketnya. "Tapi sebelum ayahmu meninggal, dia sempat menyelipkan ini padaku. Dia berpesan, jika suatu saat kau memilih jalan yang gelap demi membalas dendam, berikan ini padamu. Dia tak ingin kau menjadi apa yang mereka tuduhkan padamu."

Arya mengambil amplop itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ayahnya yang masih rapi, dan sebuah foto tua—keluarga kecil mereka yang bahagia, lengkap dengan senyum tulus yang kini terasa begitu jauh.

"Anakku tersayang Arya," bacanya dalam hati, "jika kau membaca ini, berarti kau sudah berjalan di jalan yang berat. Ingatlah satu hal: keadilan tidak harus ditegakkan dengan menumpahkan darah. Kekuatan yang sebenarnya bukanlah yang membuat orang takut padamu, tapi yang membuat orang percaya padamu. Jangan biarkan dendam mengubahmu menjadi seperti mereka yang telah menghancurkan kita. Jadilah pelindung, bukan penakluk."

Surat itu jatuh dari genggamannya. Selama ini ia berpikir jalan yang ia tempuh adalah satu-satunya cara. Namun kata-kata ayahnya seolah menamparnya sadar. Ia telah menjadi pemimpin yang ditakuti, tapi apakah ia masih menjadi orang yang dicintai seperti yang ayahnya harapkan?

Saat itu juga, pintu ruangan terbuka sedikit. Nayara berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang penuh pengertian. Ia tak menyela, tak bertanya, hanya berdiri diam seolah memberi tahu bahwa ia ada di sana untuk mendukung apa pun keputusan yang diambil Arya.

Arya menatapnya, lalu kembali menatap surat ayahnya. Perlahan sebuah tekad baru terbentuk di hatinya. Masa lalu tak bisa diubah, tapi masa depan masih bisa ia tentukan. Ia tak akan membiarkan dirinya hancur oleh dendam, apalagi sekarang ada Nayara yang memberinya alasan untuk berharap pada hal yang lebih baik.

"Terima kasih sudah datang, Pak Wijaya," ucap Arya mantap. "Dan terima kasih sudah mengingatkanku pada siapa aku seharusnya."

 

Lanjut ke Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!