Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KARYAWAN BARU YANG DICURIGAI
Keesokan harinya, suasana di lokasi proyek pembangunan perumahan terasa lebih hidup. Rian datang lebih awal, memeriksa setiap sudut dengan teliti—seolah ingin membuktikan bahwa ia layak dipercaya, sekaligus berusaha menyingkirkan rasa bersalah yang terus menghantui setiap kali teringat percakapan kemarin.
Siang harinya, seorang staf administrasi baru yang dikirim langsung dari kantor pusat Grup Arka tiba di lokasi. Namanya Sari, gadis muda yang sopan namun cekatan. Tugasnya mencatat setiap kemajuan, melaporkan pengeluaran, dan memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur yang ditetapkan Nadia.
Di mata Rian, kehadiran Sari terasa janggal. Setiap kali ia berbicara, gadis itu sesekali menatapnya dengan tatapan penuh selidik, seolah sedang membandingkan sesuatu. Belum lagi cara Sari bekerja—sangat teliti, rapi, dan terbiasa dengan gaya kerja yang tak jauh berbeda dari kebiasaan Nadia dulu.
"Kau bekerja di Grup Arka sudah lama?" tanya Rian saat mereka sedang meninjau denah bangunan bersama.
"Belum terlalu lama, Pak. Saya direkrut tak lama setelah Nona Nadia kembali memimpin," jawab Sari santai sambil mencatat angka di buku catatannya. "Sebelumnya saya bekerja di kediaman pribadi keluarga Arka."
Jantung Rian berdegup lebih kencang. "Kau... pernah melihat Nona Nadia saat dia belum menjadi pemimpin seperti sekarang?"
Sari mengangkat bahu pelan. "Kebetulan saya belum. Tapi orang-orang lama di sana sering bercerita. Katanya dulu Nona sangat sederhana, suka membantu pekerjaan rumah sendiri, dan selalu menempatkan orang lain di atas dirinya. Sayangnya..." Sari berhenti sejenak, menatap Rian sekilas sebelum melanjutkan, "Sayangnya kebaikan itu sering disalahartikan sebagai kelemahan oleh orang yang tak tahu diri."
Kata-kata itu menghantam perasaan Rian. Ia tahu betul siapa yang dimaksud. Ia tahu betul bahwa dialah orang yang dianggap tak tahu diri itu.
"Apakah Nona Nadia pernah bercerita... tentang masa lalunya?" tanyanya lagi, suaranya bergetar pelan.
"Sangat jarang, Pak. Beliau lebih suka melihat ke depan. Tapi saya sering mendengar beliau berpesan: 'Jangan menilai seseorang dari apa yang ia miliki saat bersamamu, tapi lihatlah seberapa setia ia saat kau belum memiliki apa-apa'. Rasanya ada kisah sedih di balik kalimat itu."
Rian diam terpaku. Ia tak sanggup menyangkalnya, tak sanggup membelai diri sendiri. Semua yang dikatakan Sari adalah cermin dari apa yang dulu terjadi. Nadia setia menemaninya saat ia belum punya apa-apa, namun ia justru mengusirnya saat peluang mulai terbuka.
Sore itu, saat Rian harus melapor ke kantor pusat, langkahnya terasa semakin berat. Saat ia masuk ke ruangan kerja Nadia, wanita itu sedang memandangi foto lama yang tergeletak di meja—foto ayahnya yang dulu selalu mengajarkannya untuk jujur dan menghargai kesetiaan. Saat mendengar langkah kaki Rian, Nadia segera menyembunyikan foto itu, kembali memasang wajah tenang dan profesional.
"Ada laporan apa?" tanyanya singkat.
"Semuanya berjalan lancar, Ibu. Dan... saya bertemu staf baru yang dikirim Ibu," ucap Rian pelan. "Dia bercerita banyak hal tentang Ibu yang dulu."
Nadia menghentikan gerakannya sejenak, lalu melanjutkan menyusun berkas. "Dia hanya berbicara apa yang ia dengar. Tapi masa lalu adalah masa lalu, Tuan Rian. Tak ada gunanya diungkit lagi jika tak ada perubahan yang terjadi."
"Bagaimana jika ada yang ingin berubah?" tanya Rian memberanikan diri. "Bagaimana jika ada yang baru sadar bahwa apa yang ia buang adalah hal paling berharga yang pernah ia miliki?"
Nadia mendongak, menatapnya tajam namun matanya berkilat emosi yang tertahan. "Perubahan tidak terjadi dalam semalam, Tuan Rian. Dan luka yang sudah menganga lebar tidak akan sembuh hanya dengan kata-kata penyesalan. Sekarang, fokuslah pada pekerjaanmu. Atau saya khawatir kau akan kehilangan kesempatan ini juga, sama seperti kau pernah kehilangan hal yang lebih besar."
Kalimat itu menjadi peringatan sekaligus kenyataan pahit yang harus Rian terima: ia masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dalam urusan bisnis, namun kesempatan untuk memiliki kembali hati Nadia—mungkin sudah hilang selamanya.
(Lanjut ke Bab 12?)